
Buggh...!!!
Satu pukulan mendarat di perut sixpacknya.
Buggh...!!! Buggh...!!!
Satu pukulan lagi, dan lagi.
Restu hanya bisa meringis merasakan sakit di perutnya. Beruntung wajah tampannya tak terkena pukulan sedikitpun. Ia menatap nanar orang yang telah melakukan ini padanya. Bukan marah ataupun membalasnya, namun ia tersenyum senang. Ia tahu ini akan terjadi padanya. Terdengar kekehan Restu membuat Gilang mengernyit.
“Gila lo?” cibir Gilang saat melihat sahabatnya terkekeh karena pukulannya. Gilang duduk di sofa ruangan itu.
“Gilang, Gilang. Gue tau lo bakal ngelakuin ini ke gue. Gue bisa nebak pasti Zahra udah ninggalin lo.” Ujar Restu masih dalam senyumnya.
“Dugaan gue bener. Apa yang udah lo aduin sama Ara sampe Ara ninggalin gue?” tanya Gilang datar pada sahabatnya itu. Restu hanya terkekeh, ia mengambil minuman soda dalam kulkas dan memberikannya pada Gilang. Gilangpun menerimanya. Dengan santai Restu duduk di hadapan Gilang.
“Gue udah pernah bilang kan sama lo? Gue bakal buat Zahra benci sama Lo.” Ujar Restu lalu menegak minumannya. Gilang melempar kaleng yang telah kosong itu pada kepala Restu. Restu meringis merasakan sakit di kepalanya.
“Sialan lo!” dengus Restu mengusap kepalanya yang sakit karena kaleng itu.
“Lo yang sialan!” Balas Gilang dengan tatapan tajam.
“Udah deh ngga usah ganggu hubungan gue sama Ara. Mau lo apaan sih? Gue tau lo sakit hati karena Nesya mau married. Sadar diri aja kenapa sih? Malah ganggu hubungan gue sama Ara.” sambung Gilang menatap sahabatnya dingin.
“Gue pengen lo ngerasain apa yang gue rasain sob.” Ujar Restu tersenyum smirk, Restu menghabiskan minumannya dan meletakkan kaleng itu di atas meja.
“Lo bener-bener pengen bonyok di tangan gue ya!” umpat Gilang, tangannya mengepal geram karena sahabatnya yang sudah tidak waras itu. Ia menghela nafasnya berat.
__ADS_1
“Udah lah move on aja, lupain Nesya.” Sambung Gilang. Ia menatap sahabatnya yang tampak menyedihkan itu.
“Gue ngga bisa kehilangan dia.” Gumam Restu lirih. Ia terlihat sangat rapuh.
Flashback on
Tahun ajaran pertama, Gilang dipertemukan lagi dengan teman SMPnya dulu. Cowok yang pernah mencoba mendekati Zahra. Gilang tampak sangat membenci dia. Hingga suatu hari, seorang mahasiswi berasal dari negara yang sama dengan mereka, Indonesia. Nesya Gishelia Putri, dia hadir dan menjadi penengah di antara Gilang dan Restu.
Nesya, sikapnya yang manja, membuat Gilang dan Restu menjadi dekat dengannya. Mereka bertiga bersahabat dekat. Seperti kata orang, tidak ada persahabatan di antara perempuan dan laki-laki. Dan itu terjadi pada Restu yang diam-diam menyukai Nesya. Namun lambat laun perasaannya diketahui oleh Gilang.
Gilang yang paling dekat dengan Nesya, apalagi setelah Gilang mengetahui bahwa Nesya adik dari sahabatnya, Reza. Gilang bahkan menceritakan bahwa ia menyukai seorang gadis yang mungkin saja disukai juga oleh Reza. Dan oleh Restu, oleh karena itu kebencian mulai hadir dalam diri Gilang untuk Restu. Namun rasa benci itu seketika diruntuhkan oleh kehadiran Nesya. Dan saat Restu mulai curi pandang pada Nesya, Gilang pun mengetahuinya dan bisa bernafas lega karena saingannya untuk mendapatkan Zahra berkurang satu.
Dengan bantuan Gilang kala itu, Restu memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya pada Nesya. Restu mengajak Nesya ke taman. Mereka duduk di salah satu bangku taman.
“Sa?” panggil Restu, Nesya menoleh.
“Gue,- gue ngga bisa sahabatan sama lo.” Ujar Restu, ia tidak tahu harus memulainya dari mana. Kata-kata yang telah ia susun bersama Gilang, seketika hilang hanya dengan menatap paras cantik Nesya. Ah, mungkin sedikit berlebihan, namun seperti itu kenyataannya.
“Maksud lo apa sih? Gue ngga ngerti. Ngomong yang jelas donk Res.” Ujar Nesya sedikit geram. Restu menghela nafasnya perlahan, mengontrol detak jantungnya.
“Gue ngga bisa mendam ini lagi Sa, gue sayang sama lo. Gue ngga bisa lanjutin persahabatan kita, karena gue mau lo jadi kekasih gue “ ujar Restu. Restu menghela nafas lega, akhirnya ia mampu mengungkapkannya. Nesya terdiam sesaat.
“Gue,-“
“Gue tau, gue bukan tipe orang yang lo mau. Gue tau di mata lo, gue hanya cowok yang suka mempermainkan cewek. Ya, mungkin lo bener, tapi setelah gue kenal sama lo, gue ngerasa hanya ada lo di hati gue. Tanpa sadar hanya ada lo di pikiran gue, gue ngga yakin karena lo sahabat gue. Tapi semakin lama, gue semakin terbayang sama wajah lo Sa. Setiap kali pertemuan kita, perasaan aneh itu selalu ada. Bahkan gue selalu gugup hanya dengan natap wajah lo.” Potong Restu, Nesya terdiam.
Nesya memang memiliki perasaan pada Restu, namun ia tidak yakin Restu akan membalas perasaannya. Dia juga takut akan dicampakkan seperti cewek-cewek lain di luar sana yang sudah dicampakkan oleh Restu setelah Restu bosan.
__ADS_1
Restu meraih tangan Nesya, ia menatap mata Nesya dalam.
“Gue janji sama lo, gue bakalan berubah. Percaya sama gue. Lo mau kan jadi cewek gue?” Ujar Restu tulus. Akhir ya Nesyapun mengangguk tersenyum pada Restu. Dengan senang Restu memeluknya.
Di tengah romantisnya hubungan Restu dan Nesya, Restu mendapat tawaran untuk terjun di dunia modeling. Nesya selalu mendukungnya. Hingga suatu hari dalam sebuah pertemuan sesama model, Restu terlihat mabuk dan mencumbu salah satu rekan sesama modeling. Nesya melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia tidak sanggup, ia memutuskan hubungannya dengan Restu.
“Gue mohon percaya sama gue Sa! Lo salah paham! Gue mabuk semalem. Gue ngga tau apapun. Please jangan putusin gue.” Pinta Restu. Namun Nesya tak mempedulikannya. Nesya yang kalut berlari meninggalkan Restu tanpa mengatakan apapun. Pada saat yang bersamaan, Gilang yang akan menemui merekapun terkejut saat melihat Nesya berlari ke arahnya dengan air mata di pipinya. Nesya menghampiri Gilang dan memeluknya. Ia menangis dalam pelukan Gilang. Sejak saat itu, Gilang selalu menjaga Nesya. Ia tidak rela Nesya disakiti oleh Restu, meskipun dia sahabatnya sendiri.
Beberapa bulan berlalu, Nesya telah menemukan cintanya. Ia melupakan kejadian itu. Ia pun tidak pernah lagi berurusan dengan Restu. Sebaliknya, hubungan persahabatan antara Nesya dan Gilang jauh lebih baik.
Flashback off
Gilang menepuk pundak Restu, mencoba memberikan semangat untuknya. Restu menoleh.
"Gue cuma main-main soal Zahra. Gue cuma pengen tahu seberapa besar ketulusannya sama lo, ternyata dia lebih sayang sama lo. Walaupun gue udah nawarin dia buat terjun bareng gue di dunia entertainment." ujar Restu tersenyum tipis, mengingat usahanya mendekati Zahra. Tetap sama seperti dulu, penolakan yang ia terima.
"Gue ngga serius soal perjanjian bodoh itu. Zahra datengin gue, dia nyuruh gue batalin perjanjian kita waktu itu, gue kasih penawaran sama kayak penawaran gue ke lo. Dia nolak, gue nunjukin kedekatan lo sama Nesya. Dia percaya kalo lo patah hati ditinggal married Nesya, dan jadiin Zahra pelampiasan." sambungnya. Gilang menatapnya heran. Dia memahami situasi ini. Namun ia tersenyum, ia memahami suasana hati Restu yang sedang kacau.
"Seharusnya gue puas, tapi tetep aja gue ngga bisa milikin Zahra sepenuhnya, mungkin gue bisa milikin raganya,tapi gue ngga bisa milikin hatinya. Karena hatinya sepenuhnya buat lo." lanjut Restu, sebuah senyum terukir di wajah Gilang. Ia berterimakasih, berkat Restu ia tahu, Zahra benar-benar mencintainya.
***
Gilang melenggang memasuki pesawatnya. Ia menoleh pada kaca di sebelahnya, menatap bandara yang tampak kosong tanpa Zahra. Sebelum Gilang berangkat, ia menyempatkan diri untuk menemui Zahra namun Zahra tidak mau menemuinya. Akhirnya ia hanya memberikan sebuah buku hariannya pada Reza untuk diberikan pada Zahra.
Pesawat yang Gilang tumpangi pun mulai meninggalkan bandara. Gilang menghembuskan nafas berat, hatinya merasa sesak, entah apa yang akan terjadi. Gilang memejamkan matanya, mengontrol hatinya yang gelisah.
“Aku sayang sama kamu Ra!” gumam Gilang lirih sesaat sebelum kecelakaan itu terjadi. Pesawat yang Gilang tumpangi kehilangan kendali hingga terjatuh.
__ADS_1