Kepingan Rindu

Kepingan Rindu
28. Eps 27


__ADS_3

Hari ini Zahra mulai berangkat kerja lagi. Ia tidak mau terlalu lama mengambil cuti, ia tidak enak hati pada karyawan lain. Ia takut mereka akan berpikir bahwa Zahra diperlakukan lebih di perusahaan ini. Ia mengatakan pada Gilang bahwa ia tetap akan membantu memulihkan ingatannya tanpa harus cuti kerja.


“Nya, apa kabar?” sapa Zahra saat melihat sahabatnya di dalam lift.


“Zahra, ya ampun kamu baru berangkat. Gimana kencannya sama bapak Presdir? Lancar kan?” tanya Fanya pada Zahra. Zahra menghela nafasnya.


“Duh Fanya, untung cuma ada kita di sini, coba kalo banyak orang. Bisa-bisa aku dijadiin bahan gosip hari ini.” Dengus Zahra. Fanya hanya meringis saat Zahra menegurnya seperti itu.


“Ya maaf Ra, abis aku kayak seneng aja gitu, akhirnya kalian bisa bersama lagi.” Ujar Fanya tersenyum senang.


“Ya sih, walaupun keadaannya ngga seperti yang kita mau. Tapi aku yakin suatu saat Gilang bakalan inget semuanya.” Ujar Fanya menyemangati Zahra. Zahra tersenyum lembut pada Fanya. Zahra memeluk Fanya.


“Makasih Nya, kamu udah selalu support hubungan aku sama Gilang.” Ujar Zahra lalu melepaskan pelukannya.


“Sama-sama Ra.” Balas Fanya tersenyum. Lift terbuka, Zahra berjalan mendahului Fanya karena ruangan Fanya masih satu lantai lagi. Zahra melambaikan tangannya pada Fanya lalu menuju meja kerjanya.


Zahra menatap rekan kerjanya yang sedari tadi menatapnya penuh tanya. Zahra heran namun ia tidak mau menanyakannya, ia duduk di kursinya.


“Ra?” tegur Nella dari biliknya, Zahra menoleh pada Nella yang menyandarkan dagunya pada sekat antara mejanya dan meja Zahra.


“Kenapa?” tanya Zahra singkat.


“Apa kamu punya hubungan sama Pak Gilang?” tanya Nella tanpa basa basi. Zahra menghela nafasnya, ia mengerti kenapa semua rekannya memandanginya dari tadi.


“Apa yang udah kamu ketahui?” bukan menjawab, Zahra justru balik bertanya pada Nella. Nella tampak berpikir.

__ADS_1


“Semua orang bilang, kamu sama Pak Gilang pacaran. Bener Ra?” tanya Nella. Zahra menatap layar laptopnya dan menghidupkannya.


“Kalo aku bilang ngga ada hubungan apapun, apa kamu bakal percaya?” tanya Zahra. Nella menggeleng.


“Ngga mungkin kalo kalian ngga ada hubungan apapun Ra, udah beberapa kali temen kita ada yang mergokin kamu berangkat bahkan pulang kantor sama Pak Gilang. Bahkan tadi juga aku liat sendiri.” Ujar Nella. Zahra hanya tersenyum.


“Kalo kamu lebih percaya dengan apa yang kamu liat, buat apa kamu tanya lagi sama aku?” tanya Zahra, ia tidak mau mendebatkan ini, ia juga tidak ingin mengatakan iya pada Nella. Biarlah mereka menyimpulkan sendiri.


“Ayo donk Ra, iya apa ngga? Selama ini aku udah curiga sih, kamu koq kayaknya gampang banget dapet ijin dari kantor padahal kamu karyawan baru di sini.” Ujar Nella, mengingat saat Zahra baru bekerja lima bulan sudah diperbolehkan ijin cuti sedangkan dia harus menunggu satu tahun kerja baru dapat ijin dari kantor. Zahra hanya tersenyum menanggapinya.


“Udah ah Nel, aku mau ngerjain file ini dulu buat laporan ke Bu Fia.” Ujar Zahra. Nella hanya mendengus tanpa memprotes lagi, ia kembali duduk di kursinya. Zahra hanya menggeleng dan mulai fokus pada laptopnya.


***


Siang ini, Gilang mengajak Zahra untuk makan siang di restoran depan kantornya. Tak lupa ia juga memesan capuccino yang Zahra janjikan waktu itu. Gilang menikmati cappucino itu, benar saja rasanya sangat enak. Selesai makan siang, mereka berbincang sedikit tentang hal-hal yang mungkin akan Gilang ingat.


"Ngga akan ada apa-apa Ra, percaya sama aku. Nanti aku yang akan jelasin ke mereka." ujar Gilang santai. Zahra kembali menyesap Cappucinonya. Ia menghela nafasnya, berharap semua akan baik-baik saja.


“Oh iya, gimana keadaan Oma?” tanya Zahra, Gilang menatapnya kosong, ia syok Zahra menanyakan hal itu. Gilang terdiam.


“Oma..,” Gilang kembali terdiam ia tampak berpikir. Seakan akan mengatakan hal yang berat untuknya.


“Oma kenapa Lang?” tanya Zahra khawatir melihat perubahan ekspresi wajah Gilang.


“Oma makin kritis Ra. Oma kembali koma. Mungkin setelah sadar Oma akan di operasi.” Ujar Gilang lirih. Zahra tampak terkejut mendengarnya. Zahra mengusap lengan Gilang mencoba menenangkannya.

__ADS_1


“Semoga Oma segera membaik ya Lang. Aku yakin, Oma pasti sembuh.” Ujar Zahra tersenyum. Gilang tersenyum menatap Zahra sedu.


“Andai kamu tau Ra. Maafin aku yang ngga pernah jujur sama kamu.” Batin Gilang.


“Kamu wanita hebat Ra, kamu wanita yang baik. Aku ngga mau bikin kamu sedih terus menerus.” Gumam Gilang. Zahra menatapnya heran. Ia menggeleng menatap Gilang.


“Kamu udah berubah Lang. Kamu udah ngga bikin aku nangis lagi. Bahkan sekarang, kamu selalu bikin aku tersenyum setiap saat.” Ujar Zahra tersenyum.


“Kalau suatu saat aku melakukan kesalahan yang dibenci semua orang termasuk kamu, kamu akan ninggalin aku?” tanya Gilang. Zahra semakin heran. Ia tidak mengerti apa yang Gilang bicarakan.


“Kamu ngomong apa sih Lang?” tanya Zahra heran. Gilang menatapnya sedu.


“Aku ngga akan pernah ninggalin kamu apapun yang terjadi.” Sambung Zahra. Meskipun ia tidak tahu apa maksud dari ucapan Gilang. Gilang menggenggam tangan Zahra.


“Aku sayang sama kamu Ra. Maafin aku. Aku takut kamu benci sama aku setelah aku benar-benar sayang sama kamu, aku ngga sanggup Ra. Aku ngga sanggup kalau kamu benci sama aku.” racau Gilang. Zahra menatap Gilang yang tampak gelisah.


“Aku ngga akan pernah benci sama kamu Lang. Kamu kenapa sih? Aku juga sayang sama kamu.” Ujar Zahra menenangkan Gilang. Gilang tampak gelisah di tempatnya.


“Ada apa sebenarnya?” pikir Zahra.


Selama satu minggu ini Gilang berbeda. Ia tahu, Gilang amnesia. Namun bukan hanya ingatan yang berubah, sikap Gilang pun berubah menurutnya. Ia teringat sebelum kecelakaan itu terjadi, Gilang juga mengucapkan hal yang sama. Zahra merasa cemas sekarang, ia tidak tahu mengapa hatinya berubah khawatir sekarang, seakan akan ada hal buruk yang akan mendatanginya.


"Sebenernya, aku.." ucapannya terhenti saat Zahra menegurnya bahwa jam istirahat akan selesai.


“Lang jam istirahat udah mau selesai. Nanti kita obrolin lagi.” Ujar Zahra sambil menatap jam tangannya.

__ADS_1


Akhirnya Gilang pun mengangguk dan masuk ke kantor lagi. Gilang kembali ke ruangannya dengan perasaannya yang berkecamuk sekarang. Ia tidak ingin menambah rasa bersalahnya pada Zahra. Namun ia tidak tahu bagaimana akan mengakhiri hal bodoh ini. Ia menghubungi merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Ia tampak menghubungi seseorang.


"Besok Lo ada acara ngga? ada yang harus gue bicarakan sama lo. Oke besok gue kasih alamatnya, kita ketemu di sana." ujarnya lalu menutup sambungan telfonnya. Ia menghela nafas berat.


__ADS_2