
Zahra memasuki kamarnya. Ia meletakkan tasnya di atas meja kerjanya lalu merebahkan tubuhnya pada ranjangnya. Ia terus memikirkan ucapan Gilang di cafe tadi siang. Bahkan saat pulang kantor pun Gilang tidak mengatakan apapun, Gilang tampak dingin. Tidak seperti biasanya.
“Ada apa sama Gilang? Koq tiba-tiba dia berubah. Apa ingatannya udah pulih? Tapi kenapa justru ia sedih setelah ingatannya pulih?” gumam Zahra menatap atap kamarnya.
Tok tok tok.. suara ketukan pintu kamarnya membuat Zahra menoleh.
“Masuk!” seru Zahra. Seseorang pun masuk ke kamarnya.
“Cie yang udah bisa berduaan lagi sama mas pacar.” Ledek Reza. Zahra mendengus menatap kakaknya. Ia mengganti posisi tidurnya menjadi duduk.
“Apaan sih.” Ujar Zahra lesu.
“kenapa nih? Koq lesu gitu.” Ujar Reza heran. Zahra hanya mengedikkan bahunya.
“Gilang koq beda ya?” tanya Zahra tiba-tiba. Ia menoleh pada Reza yang menatapnya heran.
“Beda? Ya kan kamu bilang sendiri Gilang amnesia.” Ujar Reza heran lalu duduk di samping Zahra. Terdengar helaan nafas berat Zahra.
“Yah, emang dia amnesia. Tapi...”
“Udahlah, mungkin perasaan kamu aja kali Ra. Ditungguin mama tuh di bawah, makan malem udah siap. Aku ke bawah dulu ya.” Ujar Reza lalu meninggalkan Zahra.
“Ya, nanti aku nyusul.” Seru Zahra sebelum Reza menghilang di balik pintu kamarnya.
Reza menutup pintu kamar Zahra. Ia menghela nafasnya berat. Ia kembali menatap pintu yang tertutup itu.
“Maaf Ra, aku ngga bisa kasih tau kamu yang sebenernya.” Gumam Reza lirih.
***
Dua hari setelah Zahra memberitahukan bahwa Gilang telah kembali, Reza senang. Akhirnya sahabatnya baik-baik saja. Ia memutuskan untuk mengunjungi rumah Gilang, lebih tepatnya rumah Omanya.
“Assalamu’alaikum” salam Reza sambil sesekali memencet bel. Tidak lama kemudian pintu terbuka.
“Wa’alaikumsalam. Mas Reza? Mari masuk.” Sambut bibi yang telah mengenal Reza. Ia mengajak Reza menemui Gilang yang sedang berada di taman belakang.
__ADS_1
“Mas Reza, dia di sana.” Tunjuk bibi pada seseorang yang tengah duduk di kursi panjang dengan buku di tangannya. Reza mengangguk dan melangkahkan kakinya mendekat.
“Lang?” sapa Reza saat ia berdiri di samping sahabatnya, ia menoleh dan tersenyum tipis.
“Lo Reza?” ujarnya. Reza menghela nafas berat. Benar saja Gilang lupa ingatan. Ia duduk di samping Gilang tanpa disuruh.
“Gue pernah denger nama Lo dari bokap gue. Dan dari cewek itu.” Ujarnya, Reza menoleh heran.
“Cewek?” tanya Reza bingung.
“Zahra.” Ujarnya tanpa menatap Reza. Reza mengangguk. Ia melirik buku harian, satu di tangan Gilang dan dua di sampingnya duduk. Reza mengambil buku harian bernama Reza. Ia mengernyit, ia menoleh pada pemilik buku sebelum membukanya, saat sang pemilik mengangguk, iapun mulai membuka bukunya.
Reza sesekali tersenyum mengingat kenangannya dengan Gilang saat masih duduk di bangku sekolah dasar, bahkan ada beberapa curhatan kekesalannya saat Zahra terus membelanya daripada Gilang. Reza terus membuka satu persatu lembaran buku itu, seakan ia hanyut dalam kenangan itu.
“Rupanya Gilang mempunyai sahabat yang sayang sama dia. Gue salut akan persahabatan kalian.” Ujarnya menoleh pada Reza. Reza berhenti membaca buku itu dan beralih menatap sahabatnya.
“Gue udah baca seluruh buku tentang Lo, mungkin Lo juga minat baca buku tentang gue?” ujarnya lalu memberikan salah satu buku harian itu. Reza menerima buku itu.
“Lo?” Reza terkejut menatap buku itu. Terdapat nama Galang di sana. Reza menatapnya tidak percaya.
“Gue ngasih tau Lo, karena emang cuma Lo yang Gilang percaya selama ini. Dan cuma Lo yang tau kalo gue sama Gilang kembar.” Tambahnya. Reza menggeleng.
“Jadi Lo bohongin Zahra? Bilang sama dia kalo Lo amnesia?” tanya Reza mulai emosi. Ia berdiri dari duduknya. Ia memunggungi Galang. Hatinya berkecamuk.
“Gue ngga mau bohongin dia. Tapi gue udah janji sama adek gue buat nyimpen baik-baik identitas gue sebelum dia yang memberitahukannya sendiri sama Zahra.” Ujar Galang. Galang mengusap wajahnya kasar.
“Pertama kali gue ketemu sama Zahra, Zahra negur gue dengan sebutan Gilang. Bahkan saat gue tanya 'kamu Zahra?’ dia justru bilang, gue lupa sama dia. Dari situ gue mulai merencanakan amnesia ini.” Tambahnya.
Galang frustasi, dia memang telah salah jalan. Namun ia sudah terlanjur berjanji pada adiknya, Gilang. Bahwa dia tidak akan memberitahu siapapun termasuk Zahra bahwa mereka kembar. Gilang yang akan memberitahukannya sendiri suatu saat nanti.
“Jangan permainkan perasaan Zahra.” Ancam Reza. Ia membalikkan tubuhnya menatap Galang. Galang hanya menunduk menatap kedua kakinya.
“Apa yang harus gue perbuat, Zahra pun ngga bisa bedain mana Gilang yang asli mana yang bukan. Dia pegang tangan gue, bahkan dia juga meluk gue, Zahra yakin kalo gue itu Gilang tanpa gue beritahu.” Ujarnya.
“Ck, gue benci jadi orang jahat di sini.” decak Galang.
__ADS_1
“Gimana keadaan sahabat gue?” tanya Reza mengalihkan pembicaraan. Ia juga tidak tahu akan berbuat apa jika ia ada di posisi Galang.
“Sejak keluarga gue nemuin dia, dia dibawa ke rumah sakit. Dia sempet sadar beberapa saat sebelum ia jatuh pingsan dan akhirnya koma sampai sekarang.” Ujarnya. Reza mengernyit heran.
“Rumah sakit? Tapi kenapa gue nyari Gilang ngga ada di setiap rumah sakit?” tanya Reza heran. Galang menatapnya.
“Itu karena identitas Gilang diganti dengan identitas gue.” Ujarnya. Reza mengerti sekarang. Jadi karena itu, Reza tidak bisa menemui Gilang di rumah sakit.
“Gue mohon sama Lo, jangan bilang sama Zahra tentang semua ini. Gue yakin, ini ngga akan lama. Hanya sampai Gilang sadar, gue akan pergi.” Ujarnya.
Reza menghela nafas, mungkin hanya dengan cara ini, ia bisa membuat Zahra bahagia. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Zahra jika tahu yang sebenarnya.
***
Seseorang menepuk pundak Reza hingga ia menoleh. Ia terkejut saat mendapati Zahra di sampingnya.
“Ngapain bengong?” tanya Zahra membawakan nampan berisi camilan dan jus jeruk.
“Ngga ada, cuma kepikiran kantor.” Ujar Reza tersenyum. Ia menghela nafasnya lega saat melihat Zahra mengangguk. Ia menatap Zahra yang tengah menonton televisi. Ia tidak tega terlalu lama menyembunyikan semuanya dari Zahra.
“Oh iya bang. Emang bener ya? Nesya udah mau merried sama orang Australia karena?” tanya Zahra sambil mengunyah camilannya. Reza mengedikkan bahunya, ia juga tidak terlalu tahu tentang adik tirinya itu.
“Kata papa sih iya, cuma ngga tau kapan merried, ngga ada yang tahu siapa cowok itu.” Ujar Reza. Zahra mengangguk menanggapinya.
“Kenapa tanya-tanya Nesya? Tenang aja, dia ngga akan rebut Gilang koq dari kamu. Kamu khawatir ya kalo Nesya suka sama Gilang?” ujar Reza seraya menggoda adiknya. Zahra mendengus dan menimpuk Reza dengan bantal disampingnya.
“Iihh, ngga gitu juga. Kan dia juga saudara aku Bang, jadi aku peduli.” Ujar Zahra menyela. Ia juga masih belum percaya bahwa Nesya dan Gilang tidak pernah ada hubungan apapun.
“Oke kalo itu alasan kamu.” Ujar Reza lalu mengambil cemilan dari Zahra.
“Hayoo lagi pada ngomongin apa nih? Seru kayaknya?” ujar mamanya dari arah kamarnya.
Setelah makan malam selesai, Zahra dan Reza memang lebih suka menonton televisi bersama dengan mamanya.
“Ah ngga koq ma, tadi abis ngomongin mama, cantik banget hari ini.” Timpal Zahra diikuti gelak tawa mereka.
__ADS_1
***