KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 1


__ADS_3

Bab 1


" Tuan, pesanan sudah tiba,"


Alden Alexander masih sibuk membuka berkas demi berkas yang butuh segera ia tandatangani malam itu. Ia mengabaikan sejenak panggilan berulang dari sekretarisnya yang sejak tadi berdiri di depan pintu tanpa berani melangkah masuk meski hanya sejengkal langkahpun.


"Tuan Alden ...." Sekretaris Han mengulang panggilan lagi.


Alden menoleh sejenak dan segera menutup berkas terakhir yang ia tandatangani.


" Suruh masuk!" Perintah CEO perusahaan digital itu pada sang sekretaris.


Sekretaris Han menggangguk kemudian mempersilahkan pelajar berseragam SMA itu masuk meskipun gadis belia itu terlihat ragu ragu.


" Kenapa hanya berdiri disitu?"


CEO bermata elang itu menatap lekat, menyorot sosok muda yang berdiri tepat di ambang pintu.


" Sekretaris Han, segera tinggalkan kami!" Perintah Alden yang tentu segera akan dilaksanakan oleh sekretaris nya itu.


Setelah kepergian sekretaris Han, tinggalah hanya Alden dan pelajar berseragam SMA itu di dalam kamar milik sang CEO.


" Siapa nama mu?" Alden menatap sosok yang tengah berdiri tertunduk dengan lutut bergetar.


" Kamu takut?" selidik Alden kemudian.


Sosok itu menggangguk tanpa berani mengangkat dagu.


" Kalau kau takut kenapa berani menawarkan diri? kelihatannya kau sama sekali belum berpengalaman," ujar Alden kemudian. Pria bertubuh gagah itu lantas berdiri dari duduknya dan mendekati sosok yang berdiri pucat bak mayat hidup.


" Masih SMA, seharusnya kau lebih banyak di rumah dan belajar tapi kenapa justru menjajakan diri seperti ini," lirih Sang CEO tepat di depan sosok itu.


Sosok itu tetap tak bergeming, ia bahkan menunduk semakin dalam.


" Boleh aku tahu alasannya?"


Alden lantas menyentuh dagu pelajar itu dan mengangkatnya perlahan.


" Kau ...."


Seketika Alden memotong kata katanya sendiri. Alden sama sekali tak menyangka bahwa sosok gadis SMA yang tengah berada dihadapan nya itu adalah sosok pelajar yang kerap kali ia temui saat acara amal seminggu lalu.


" Aku pernah melihatmu! Ah ... benar, aku tidak salah!"


Alden berusaha mengingat ingat sosok yang kini hanya berada beberapa senti darinya.


" Siapa namamu?" tanya Alden lagi meski sosok itu kembali menunduk.


" Binar, namaku Binar, Tuan,"


" Oh iya, benar sekali! Namamu Binar Kinasih kalau tidak salah.Oh ya, Apa yang membuatmu sampai jual diri seperti ini?" Tanpa ragu Alden bertanya terus terang meski ia sadar kata kata itu sudah pasti menghujam jantung sang pemilik tubuh.


" Aku ..." Binar tak sanggup melanjutkan kata katanya, dadanya perih, harga dirinya serasa terinjak injak.


" Ayo bicara, tak masalah. Di jaman seperti ini tentu jual diri adalah hal yang sudah biasa, ketimbang gratis untuk pacar, ya kan?" Alden kembali menyindir sosok yang kini menatapnya dengan mata berembun.


" Aku bukan wanita seperti itu, Tuan ...." Lirih Binar, dua bulir bening melesat jatuh tanpa bisa ia tahan lagi.


" Hm ok, kalau begitu bisa jelaskan kau wanita yang seperti apa?" Alden melipat kedua tangan di dada, hatinya tiba tiba dongkol terutama saat ia telah mengingat dengan jelas bahwa sosok Binar Kinasih yang tengah menjajakan diri padanya adalah sosok pelajar penerima beasiswa yang sudah pasti di danai oleh perusahaan miliknya.

__ADS_1


" Jangan bicara begitu, jangan merendahkan ku ..."


" Lantas? Aku harus bagaimana? Haruskan ku tarik kembali suntikan dana yang telah kuberikan pada sekolah tempatmu menuntut ilmu? Coba kau pikir untuk apa mendanai sekolah yang bahkan salah satu siswa terbaiknya sama sekali tak punya moral," balas Alden tanpa belas kasihan.


" Jangan Tuan! Aku ... Aku butuh uang, Ayahku terlilit hutang dan Ibuku sakit keras, aku tidak tahu lagi harus bagaimana?" tutur Binar dengan suara serak.


Alden menatap sosok itu lekat lantas menuntunnya untuk duduk di sofa mewah yang ada di dalam kamarnya.


" Kau tahu jika sampai perbuatanmu ini di ketahui oleh pihak sekolah, kau justru akan kehilangan segala galanya dan aku akan menjadi orang pertama yang akan menarik semua dana yang telah kuberikan pada sekolahmu," bisik Alden tepat di depan wajah sosok yang kini tak mampu berkata kata.


" Butuh uang bukan berarti kau harus jual tubuh!" Alden kembali berceloteh, kata katanya kasar dan menyakitkan itulah mengapa nyaris semua karyawan di perusahaan nya sangat takut padanya.


" Lantas aku harus bagaimana, Tuan?" Binar menyahut meski ragu ragu.


" Kau kan bisa bekerja paruh waktu, gunakan kecerdasanmu itu jangan jual tubuhmu!" Sosok CEO pemarah itu lantas kembali berceloteh sembari melipat tangan di dada.


" Aku butuh 500 juta dalam waktu 1 bulan, Tuan. Darimana aku harus mendapatkan uang sebanyak itu, meski aku bekerja sepuluh tahun pun belum tentu aku bisa mendapatkan nya," terang Binar seraya menatap sosok yang tengah duduk dihadapannya itu.


" Apa dengan jual diri kau bisa mendapatkan 500 juta dalam waktu satu bulan?" Alden balik bertanya. Binar terkesiap, ia tak menyangka usahanya untuk jual diri justru berujung pada ceramah panjang yang selalu saja menyudutkan harga dirinya.


" Bukankah Tuan mampu membeli ku dengan harga demikian? Aku sudah menjelaskan semuanya sebelum transaksi," sahut Binar, balas menatap sosok CEO yang kini terlihat salah tingkah.


" Bukankah Tuan ingin bercinta dengan anak SMA yang masih perawan?" tanya Binar lagi.


" Ah! Apa apaan ini, siapa yang bilang begitu?"


" Tuan, Han," balas Binar.


Alden lantas membuang muka, wajahnya terasa merah meradang. Dalam hati ia mengutuki sekretaris Han yang telah banyak omong kepada orang yang baru saja dikenalnya.


" Lantas Kenapa Tuan menolakku?" tanya Binar lagi.


" Ck! kenapa justru kau yang ceramah?" Alden memelototi sosok pelajar SMA itu.


Binar lantas berdiri dan hendak berpamitan namun Alden segera menghentikannya.


" Apa kau pikir aku pria hidung belang, hah?" Alden berdiri tegak menghentikan langkah kaki Binar.


" Bukan! Tuan adalah Pria suci yang sedang memesan anak SMA untuk diceramahi!"


" Jangan buang buang waktu ku, satu bulan bukan waktu yang lama," Binar menatap sosok yang masih berdiri gagah menghalanginya.


" Ok silahkan jika mau jual diri, tapi akan ku pastikan besok sekolahmu akan rata dengan tanah!" Alden memutar langkah dan merebahkan diri di tempat tidur.


" Tuan ..." Binar meratap.


Alden tak menyahut, ia bahkan mengambil earphone dan mendengarkan musik. Berpura pura tidak mendengar setiap ucapan yang di berikan gadis SMA pesanannya itu.


' huh Pria hidung belang katanya'


Alden lantas kembali mengutuki sekretaris Han yang sama sekali tidak bisa menjaga rahasia.


Gara gara link video anak SMA yang ia dapatkan kemarin malam lantas membuatnya begitu bergairah hingga melakukan transaksi memalukan seperti ini.


Benar benar Pria hidung belang!


" Aku benci kata-kata itu!"


Alden lantas mencuri curi pandang pada Binar yang kini kembali duduk di sofa dan sesekali memandang ke arahnya.

__ADS_1


" Kau bilang ingin jual diri, Ayo rayu aku!"


Alden berteriak hingga membuat Binar gemetar. Sungguh gadis SMA itu tak punya nyali sebesar itu.


" Ayo ... Butuh 500 juta kan, satu malam saja aku bisa bayar lunas!" tantang Alden sembari terkekeh.


" Betapa sombongnya dia! Dia tidak tahu sedang bermain main dengan hidup dan mati orang lain!"


Meski demikian Binar mencoba memberanikan diri melangkah menuju tempat tidur sang CEO yang sesekali meliriknya nakal.


Sungguh Alden masih mengingat dengan jelas video xxx anak SMA yang ia tonton kemarin malam, ah semoga saja ini tak melanggar Komnas Perlindungan Anak lantaran mengencani pelajar umur 16 tahun.


Dengan langkah perlahan, Binar kini telah duduk di sisi tempat tidur Alden, ia memandangi sosok yang tengah bersantai sembari mendengarkan musik itu.


' Harus mulai dari mana ini, aku belum pernah melakukannya sebelum ini?' batin Binar.


" Mana nomor rekening bankmu, akan ku transfer sekarang Jika kau ragu ragu aku tidak akan membayarmu!" ujar Alden.


Binar lantas memberikan handphonenya dan Alden dengan segera mencatat deretan angka penting itu dan mentransfer uang dengan jumlah yang sontak membuat kedua netra palajar itu membulat dengan sempurna.


" 800 juta, Tuan?" tanya Binar ragu.


" Masih kurang?" Alden lantas mendekat dan menatap nominal yang ada di pemberitahuan Mbanking milik Binar.


" Tidak, Tuan. Ini lebih dari cukup," sahut Binar kemudian.


Keduanya lantas saling menatap, tiba-tiba ada keheningan diantara mereka. Binar yang merasa yakin akan memberikan harta satu satunya kepada sosok pria gagah di depannya lantas melepas ikat rambutnya hingga membuat rambut hitam lurus itu terurai lembut. Dengan perlahan Binar juga melepas kancing seragam SMA yang ia kenakan satu persatu hingga membuat dua buah gundukan kenyal itu meyembul dari balik seragam nya.


Alden yang menyaksikan itu semua hanya bisa menelan ludah. Hanya dengan hitungan menit sosok Binar kini telah bertxxxxxxg dada.


Alden yang masih manatap tanpa berkedip lantas buru-buru menyibak rambut panjang milik Binar dan kembali memasangkan kancing demi kancing yang telah terbuka hingga membuat Binar kembali memakai seragamnya dengan sempurna.


Alden juga kembali mengikat rambut gadis belia itu dan merapikannya seperti sedia kala.


" Tuan ..."


Binar menatap butuh penjelasan.


" Pulang dan belajarlah dengan rajin, aku tidak akan menggusur sekolahmu," jelas Alden.


" Lalu bagaimana dengan transaksi ini?" tanya Binar lirih.


" Transaksi tidak batal sebagai gantinya buatkan aku sarapan dan antar ke apartemen ku setiap pagi. Ingat setiap pagi sebelum aku pergi ke kantor!"


Terang Alden seraya kembali menyandarkan diri pada headboard tempat tidurnya.


Binar yang masih kebingungan merasa tak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh Pria cerewet di depannya.


" Tunggu apa lagi? Menungguku berubah pikiran?" Alden lantas menatap sosok berseragam SMA itu tanpa berkedip.


" Oh, iya ... Baiklah, Tuan. Terima kasih atas kebaikan Tuan. Aku pamit," Binar lantas melangkah mendekati sosok acuh itu, mengulurkan tangan dengan yakin hingga membuat CEO itu terperangah,


" Untuk Apa ?" Alden merasa tak perlu harus bersalaman namun Binar lantas meraih tangan Pria itu lalu mengecupnya.


" Tunggu aku tiga tahun lagi, aku akan layak untuk Tuan. Cup!"


Alden membisu, menatap kepergian pemilik tubuh itu hingga hilang dibalik pintu.


" Tiga tahun lagi? Apa setelah lulus SMA dia masih berniat jual diri padaku? Hah ... benar benar sulit dimengerti!"

__ADS_1


Alden lantas menarik selimut tebalnya, mencoba menenangkan diri dari hasrat yang menggebu dalam dadanya.


" Aku nyaris saja tidur dengan anak di bawah umur! Benar-benar bodoh!"


__ADS_2