KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 28


__ADS_3

Bab 28


Setelah terungkap siapa dalang penyebar video fitnah yang nyaris saja membuat Binar dikeluarkan dari Sekolah. Bu Andine beserta Sekretaris Han tidak ingin ikut campur mengenai keputusan apa yang akan di ambil Alden dan Binar dalam mengakhiri kasus ini. Kemarin malam, Bu Andine memilih pulang dan membiarkan Alden dan Sang Sekretaris memikirkan langkah apa yang sebaiknya mereka ambil.


" Arumi baru berusia 16 tahun. Ini salah satu bentuk kenakalan remaja, Tuan,"


Demikian pesan Sang Sekretaris kemarin malam yang masih terngiang-ngiang di telinga Alden. Sosok itu lantas menarik nafas panjang. Ah, sungguh tidak mudah menyelesaikan masalah seperti ini. Walau demikian, Alden rasanya ingin bertanya langsung mengenai alasan Arumi melakukan hal senekat ini. Untuk ukuran remaja berusia 16 tahun, sungguh ini tindakan yang begitu berani dan sangat terencana.


Pagi ini, Alden memutuskan kembali ke kantor. Ada berbagai proposal yang harus ia periksa ulang, adapula meeting penting dengan para pemegang saham yang sama sekali tidak bisa di tunda.


Sosok Pria matang yang sebentar lagi berusia genap 28 tahun itu melangkah cepat meninggalkan ruang meeting. Sang Sekretaris yang tidak bisa berada


jauh-jauh dari Sang CEO lantas mengekor tepat di sisi sebelah kiri sosok itu.


Keduanya memasuki kantor dan memeriksa kembali proposal pembangunan gedung produksi terbaru yang hendak di bangun dalam sebulan ke depan.


" Kita masih harus bernegosiasi dengan pemilik lahan, Tuan. Bagaimanapun juga, izin dari pemilik lahan sangat diperlukan agar proses pembangunan berjalan lancar." Sang Sekretaris menuturkan. Ia lantas menjabarkan mengenai proses ganti rugi dengan pemilik bangunan sebelumnya serta tahap-tahap Pembangunan yang baru saja selesai dirancang.


" Pak Handika ...."


Alden lantas menutup berkas berisi rancangan pembangunan yang akan dimulai pada bulan depan.


" Iya, Tuan," balas Sang Sekretaris.


" Mengenai masalah kemarin sore, aku ingin kau bawakan data-data Arumi padaku secepatnya." ujar Alden seraya menatap Sang Sekretaris yang tengah duduk di depannya sembari mengetik sebuah email yang akan segera ia kirimkan pada Pak Abimanyu.


" Tuan akan memperpanjang masalah itu?" tanya Sang Sekretaris.


" Entah kenakalan remaja atau apalah namanya. Bagiku, aku harus mendengar penjelasan langsung darinya. Dia harus ditegur atas perbuatannya," Alden lantas membuka laptopnya dan memutar kembali video berdurasi 1 menit berisi dirinya yang tengah merangkul Binar.


" Selain Spycam, Arumi juga memasang penyadap suara pada boneka Doraemon yang ia berikan pada Binar tempo hari. Aku yakin ia masih menyimpan beberapa video di ponsel nya,"


" Remaja jaman sekarang sangat cerdas namun EQ mereka sangat rendah. Ini sangat mengkhawatirkan," tambah Alden lagi.


" Pak Abimanyu sudah mengirim file berisi data-data Arumi. Silahkan Pak Alden periksa," Sang Sekretaris lantas meletakkan laptop putih miliknya di sisi sebelah kanan laptop milik Alden.


" Arumi Atmajaya. Sydney, 10 November 2006 ...," Alden membaca file berisi data-data milik Arumi.


" Arumi Atmajaya ... Atmajaya ...," Alden mengulang nama itu hingga beberapa kali.


"At ma ja ya ..., Apa menurutmu ini hanya kebetulan saja?" Alden lantas menatap Sang Sekretaris yang mulai mengingat-ingat sesuatu.


" Maksud Tuan, mirip dengan nama besar keluarga Leony Atmajaya?" Sang Sekretaris tentu paham apa maksud pertanyaan Sang Tuan Muda.


" Iya. Sebagian identitas dikosongkan. Hobby, sibling, dan wise word juga kosong," Alden meneliti lagi.


" Bagaimana dengan nama orang tua?" Pak Handika mulai penasaran.


Alden mulai menggeser kursor, meneliti tiap data yang tercantum pada file itu.


" Diwan Atmajaya dan Dellin Asih,"


Usai menyebutkan kedua nama itu, hening seketika. Kedua Pria dewasa itu saling menatap tak percaya.


" Apakah Arumi saudara perempuan Leony?"


Alden tak menyahut. Hanya saja, satu masalah sudah pasti kembali muncul di depan mata.

__ADS_1


" Leony punya adik perempuan? Ah, bagaimana mungkin? 5 tahun menjadi kekasihnya justru aku tidak tahu kalau dia mempunyai adik perempuan!"


Sang Sekretaris lantas kembali meneliti data-data inti milik pelajar itu. Mengamatinya dengan begitu seksama.


" Tuan ... Apa yang harus saya lakukan untuk, Tuan?" Sang Sekretaris menunggu perintah.


" Bawa Arumi ke Apartemenku!"


" Baik, Tuan. Adalagi?"


" Ku beri waktu seminggu, lekas keluarkan dia dari sekolah!" Alden menyambar jas bewarna navy yang berada di kursi kerjanya kemudian melangkah cepat meninggalkan ruangan.


" Bagaimana mungkin kakak beradik itu nyaris saja menghancurkan hidupku!"


***


" Binar ...," Arumi muncul, bel istirahat baru saja berbunyi. Nyaris setengah hari keduanya tidak bertegur sapa. Binar lantas menoleh tapi kemudian melangkah pergi tanpa merespon Arumi yang berada tak begitu jauh darinya.


Arumi lantas mengejar, membuntuti Binar yang hendak menuju ke kantin sekolah.


" Binar ..., Aku ..., dengarkan aku dulu!"


PLAK!


Satu tamparan mendarat pada pipi remaja berambut sebahu itu. Arumi lantas menyentuh pipinya, terasa panas.


" Apa yang ingin kau katakan!"


Binar menatap, sorot mata itu tajam dan penuh luka.


" Aku ... aku tidak tahu ... Apa maksudmu ...," Arumi berkilah. Ia lantas menggerakkan tangannya menyentuh lengan kanan Binar. Binar langsung menepis.


" Binar ...!" Arumi kembali mengejar. Hingga aksi saling kejar itu membuat para siswa yang tengah berada di koridor kelas menatap.


" Lihatlah ..., Katanya sahabat, dia justru menikam sahabatnya sendiri!" Bisik-bisik itu terdengar lirih. Membuat Binar semakin tak mampu lagi menahan air matanya. Entah siapa yang telah membocorkan informasi itu tapi sudah jelas bahwa pihak sekolah sudah tahu mengenai keterlibatan Arumi dalam masalah ini. Alden? Rasanya tidak mungkin. Justru Binar merasa informasi ini berasal dari Bu Andine. Dia wanita baik tapi tegas dalam mengambil keputusan. Sudah pasti ada campur tangan Bu Andine dalam masalah ini. Mungkin juga Sekretaris Han? Atau siapapun itu Binar sungguh tak peduli. Sejak kapan ia harus begitu memperhatikan Arumi yang sudah jelas-jelas menusuknya. Sahabat macam apa ini? Dan lagi-lagi ia harus menyebut kata sahabat? Sungguh persetan dengan sahabat seperti itu!


" Aku salah ..., maafkan aku," lirih Arumi. Beberapa siswa yang berada di koridor kelas lantas bersorak. Mengejek Arumi untuk kesekian kalinya.


" Sudah selesai?? Kau minta maaf tapi aku tidak melihat penyesalan di matamu! Oh, ayolah buang semua omong kosong ini!"


Dan untuk ketiga kalinya, Binar melangkah cepat meninggalkan Arumi yang hanya terdiam.


Seperti cinta maka persahabatan pun tidak ada yang sempurna.


Sepulang sekolah, Arumi memenuhi panggilan Alden untuk bertemu di Apartemen nya. Binarpun tahu akan hal itu. Karena tak berselang lama setelah Sekretaris menjemput Arumi, Bu Andine muncul tak begitu jauh dari gerbang Sekolah. Wanita itu lantas memberi kode pada Binar untuk segera memasuki mobilnya. Mereka menyusul mobil Sang Sekretaris yang melaju cepat selang beberapa meter dari mobil mereka.


" Orang bilang dikhianati sahabat lebih menyakitkan dibanding patah hati," Bu Andine memecah sunyi. Binar lantas menyapu air matanya.


" Aku tak tahu apa salahku padanya," lirih Binar. Remaja cantik itu lantas memandang keluar jendela. Menatap taman-taman kota yang menghijau, membawanya kembali pada masa-masa MOS ( Masa Orientasi Siswa) dulu, awal ia mengenal Arumi. Seseorang yang pertama kali mengulurkan tangan saat ia terjatuh dan seseorang yang kerap menghabiskan bekal makan siang yang ia bawa dari rumah.


" Sudahlah jangan menangis, setelah ini kau akan tahu kenapa ia melakukan ini padamu," Bu Andine kembali fokus menyetir, tapi sesekali melirik ke arah Binar yang tengah mengusap air matanya.


" Nona ditunggu Tuan di kamarnya," Pak Handika lantas membiarkan Arumi memasuki ruang kamar Alden. Ia lantas mengekor dari belakang.


Arumi berdiri hanya beberapa langkah dari sosok itu. Sosok yang berdiri di depan sana dengan melipat kedua tangan di dada. Melihat Alden yang tengah memandang lekat ke arahnya menimbulkan desir hangat di hati remaja itu. Hatinya tiba-tiba berbunga, bermekaran indah terlebih saat Alden mempersilahkannya duduk dengan begitu lembut.


" Selamat datang di Apartemenku. Kau pasti sudah lama sekali ingin menginjakkan kaki di tempat peristirahatan ku ini," Alden menghempaskan tubuh pada sofa putih di depannya, tepat di depan Arumi. Arumi tampak tersenyum malu-malu.

__ADS_1


" Pak, aku sudah menunggu lama sekali untuk bisa berbicara berdua seperti ini, aku begitu menyukai Pak Alden," Arumi lantas merubah posisi duduknya, lebih dekat ke arah Alden. Alden menggeleng lemah. Sang sekretaris justru melangkah keluar, membukakan pintu untuk Bu Andine dan Binar yang baru saja tiba.


" Tetaplah di ruangan ini, biarkan Tuan Muda menyelesaikan masalahnya,"


Binar dan Bu Andine mengangguk, memilih duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


" Kau teman baik Binar, kan? Bagaimana hubungan mu dengannya?" Alden melepas jas navy yang ia kenakan, meletakkannya di atas meja.


" Tidak begitu baik. Hari ini dia menamparku. Dia tempramen dan sangat emosional," Arumi mengerucut. Membuat Alden harus menghela nafas sejenak. Kenapa harus menjelek-jelekan teman sendiri!


" Apa kau benar-benar suka padaku?" tanya Alden kemudian. Arumi lantas mengangguk.


" Aku sudah begitu lama menyukai Pak Alden. Tapi Pak Alden tak pernah sedikitpun memberikan waktu pada ku untuk menunjukkannya," Arumi lantas tersenyum.


" Benarkah? Kenapa tidak berkata terus terang saja," Balas Alden tersenyum.


" Apakah Bapak tidak keberatan?" Arumi menatap, berbinar bahagia.


" Tidak. Semua orang boleh menyukaiku. Termasuk Binar," Alden tersenyum.


" Termasuk Binar? Oh tidak, Pak. Hanya aku yang boleh menyukai,Pak Alden. Binar tidak layak untuk Bapak," Arumi lantas menggenggam jemari Alden dan meremasnya lembut. Alden tiba-tiba merinding dibuatnya.


" Tidak layak? Kenapa?" Alden bertanya lagi. Meski ia sebenarnya sudah tahu kemana arah setiap pertanyaan nya.


" Dia tidak sama seperti kita. Dia memang cantik tapi aku lebih cantik darinya. Lihatlah aku, aku selalu berharap ada dalam setiap tatapan matamu."


Alden kembali menghela nafas. Ia sungguh tak paham. Entah Drama Korea mana yang menginspirasi remaja SMA itu hingga mampu mengucapkan kata-kata menggelikan seperti itu.


" Kau pasti sudah tahu kalau sebenarnya aku sangat menyukai Binar?" Alden tersenyum sinis. Membuat Arumi seketika kehilangan harapananya.


" Karena itu aku mencoba menyingkirkannya .... Dia mencoba merebutmu dariku padahal dia sendiri tahu bahwa aku sangat menyukai mu!" Daru nafas Arumi berhembus lebih cepat. Ia mulai terbawa emosi saat mendengar pengakuan Alden yang begitu menyakitkan baginya.


" Tapi entahlah ..., sampai saat ini hanya Binar yang ada di hatiku! Aku benar-benar jatuh cinta padanya," Alden membuat pengakuan. Dalam hati ia sangat berharap bahwa Binar yang berada di ruang tamu akan mendengar ucapannya.


" Tolong jangan katakan itu! Aku tidak sanggup kehilangan mu!" Arumi memelas dan berlutut di depan sosok itu. Alden justru membuang muka. Sungguh ini adalah pemandangan paling aneh yang baru saja ia temui sepanjang hidupnya.


" Arumi, aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintai mu. Belajarlah dengan tekun kelak kau akan mendapatkan Pria yang layak untukmu," Alden menasehati gadis 16 tahun yang tengah tersedu di hadapannya.


" Tidak. Tolong jangan katakan itu. Aku sudah melakukan banyak hal hanya demi bersamamu. Tolong ...," Arumi merasa patah hati.


Ah, lagi-lagi Alden harus menggeleng lemah.


" Kau melakukan banyak hal yang justru akan merugikan diri mu sendiri, minta maaflah pada Binar," Alden melepas genggaman tangan Arumi padanya.


" Tidak! Yang kulakukan itu benar. Aku memperjuangkan perasaanku padamu. Aku tidak salah!" Arumi menangis. Teriakannya sontak membuat Bu Andine meremas botol minuman yang tengah ia pegang. Ia menggeleng, Putranya terlibat cinta segitiga meski belum benar-benar menyatakan cinta. Perasaan cinta yang ekstrim.


" Yang kau perjuangan kan itu perasaan mu sendiri dan tanpa sadar kau nyaris menghancurkan hidup orang lain, Arumi!" Alden geram, Arumi benar-benar di luar kendali. Bagaimana mungkin gadis yang terlihat amat ceria itu tiba-tiba menjadi emosional dan begitu egois.


" Kau yang menyebarkan video serta foto-foto kemarin, kan?" Alden menatap sosok itu. Arumi masih terus menangis.


" Iya. Aku sangat tersiksa saat melihat kalian berdua begitu dekat. Aku sakit hati ..., Apa kurangnya aku dibanding dia?" lirih Arumi.


Alden lantas menggeleng. Benar-benar tidak bisa dipercaya remaja berumur 16 tahun bisa melakukan hal senekat ini. Jaman memang sudah berubah, etika dan moral mulai bergeser jauh seiring dengan berkembangnya teknologi.


" Tidak ada. Tindakan mu diluar batas Arumi. Pihak sekolah akan mengambil keputusan tegas untuk ini. Pulanglah ..." pinta Alden. Pria itu lantas berdiri dari duduknya. Arumi menolak, ia masih berharap Alden akan berubah pikiran.


" Aku akan menunggumu. Aku yakin suatu saat kau akan menerima ku," Arumi lantas berdiri dan memeluk sosok gagah itu sejenak.

__ADS_1


" Nona! Sudah selesai. Mari aku antar pulang,"


__ADS_2