KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 32


__ADS_3

Bab 32


Sore itu, setelah menghabiskan cukup waktu di kediaman Alden. Binar diantar pulang oleh Pak Handika. Sedangkan Alden memutuskan untuk kembali ke Apartemennya karena disana ia merasa lebih nyaman untuk berfikir saat harus menyelesaikan banyak masalah yang baru-baru ini begitu menyita waktunya. Ia mengemudi dengan santai, jalanan sore terlihat cukup ramai terlebih saat menjelang malam. Beberapa pasang muda-mudi tampak berboncengan dengan mesra . Alden lantas menekan klakson agar pasangan itu bisa membawa motor lebih santai. Sungguh akan menjadi pemandangan yang tragis jika keduanya harus tertabrak mobil sore itu.


Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam lamanya, mobil itu segera menepi pada bangunan tinggi tempat dimana ia biasa menghabiskan banyak waktu dalam kesendirian. Kesibukan dan jadwal kantor yang cukup padat membuat sosok itu butuh banyak ruang untuk beristirahat, untuk menenangkan hati dan fikiran yang sedang tak seirama. Alden melangkah santai, menatap beberapa penghuni Apartemen yang juga baru saja tiba dari kesibukan mereka. Beberapa langkah lagi menuju lift, Alden lantas berhenti saat seseorang memanggil namanya. Ia menoleh, mengikuti arah sumber suara. Lagi-lagi ia harus dibuat kesal saat kedua netra itu menangkap sosok wanita yang sama, wanita yang tiba-tiba muncul seenaknya dalam hidupnya setelah menghilang selama bertahun-tahun.


" Alden ..., mari bicara untuk kali ini saja," Leony memohon. Alden menghela nafas lagi.


" Kali ini saja, Alden ...," pinta Leony lagi.


Alden menatap sosok itu lekat.


" Kali ini saja, Alden. Aku menunggumu satu jam lebih disini. Ada banyak yang harus kukatakan padamu," ujar Leony lagi.


" Baiklah ..., Kalau begitu ikut aku," Alden rasanya memang tak perlu lagi menghindar dari persoalan ini. Entah apa yang sebenarnya hendak di katakan Leony tapi sepertinya ia memang harus memberi kesempatan pada sosok itu untuk mengutarakan maksudnya. Keduanya lantas kembali memasuki mobil. Mobil itu melaju cepat, membelah jalanan yang mulai padat akan kendaraan. Alden membisu, fokus menatap jalan dikejauhan.


Tak berselang lama, mobil itu menepi di sebuah kafe. Alden bergegas turun diikuti oleh Leony.


" Bicaralah ...," ujar Alden seraya duduk di salah satu kursi pengunjung. Seorang wanita datang ke arah mereka, menanyakan mengenai apa yang hendak keduanya pesan.


" Alden, apa kau ingin minum sesuatu?" tanya Leony.


" Sama seperti yang kau pesan," balas Alden singkat.

__ADS_1


Usai mencatat pesanan keduanya, pelayan itu lantas berpamitan. Leony mengangguk ramah sedang Alden tampak dingin dan tak ingin berlama- lama.


" Kuberi waktu 20 menit untuk bicara ...," ujar Alden. Leony tampak canggung dengan situasi ini. Ia berusaha menata kalimat manakah yang hendak ia utarakan terlebih dahulu.


" Bicaralah ..., Waktumu mulai berjalan," ujar Alden santai.


" Baiklah ..., Sebenarnya, kedatangan ku ke Indonesia atas permintaan adik perempuanku. Arumi namanya. Seorang pelajar berumur 16 tahun yang bersekolah di sekolah menengah atas yang di danai oleh perusahaanmu. Aku yakin kau sudah tahu akan hal ini ...,


Alden, Arumi mengabariku bahwa dia di keluarkan dari sekolah secara tidak hormat karena melakukan sesuatu, sesuatu yang bagimu tentu ini sangat tidak bisa dimaafkan," Leony menarik nafas sejenak. Alden mendengarkan setiap penuturannya.


" Lantas?" Alden berkomentar.


" Aku menemui untuk membahas ini, maksudku agar kau merubah keputusan besar yang telah kau buat, Alden. Aku tahu ..., Aku tahu Arumi salah. Tapi tidakkah kau beri dia kesempatan untuk memperbaiki semua ini. Dia masih anak-anak, Alden. Dia berhak mendapatkan kesempatan kedua," keluh Leony.


" Tapi Alden ..., Ku mohon untuk kali ini saja. Beri Arumi kesempatan untuk belajar lebih dewasa. Bukankah kesalahpahaman ini sudah selesai? Kau dan gadis itu terbukti tidak bersalah. Lantas kenapa harus diperpanjang?" tanya Leony lagi.


" Leony, ini adalah masalahku dan Arumi jadi dalam hal ini hanya aku yang boleh mengambil keputusan! dan kau pasti sudah tahu tentang keputusan ku!" tegas Alden. Leony menggeleng lemah.


" Alden ..., Arumi masih anak-anak. Dia belum dewasa. Ini salah satu bentuk kenakalan remaja. Kau harusnya sudah paham tentang ini!" Leony tak menyerah dengan semua asumsi nya.


" Lantas? Hanya karena dia masih anak-anak, aku harus membiarkannya melakukan kesalahan tanpa sanksi apapun?" Alden balik bertanya.


" Alden ..., kau boleh beri dia hukuman tapi lebih ringan dari itu." jawab Leony. Alden menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


" Tak ada yang boleh merubah keputusan yang telah aku ambil! Siapapun itu orangnya, baik itu kau atau kedua orang tuamu!" Alden manatap lekat wajah itu. Wajah cantik yang dahulu pernah menjadi bagian dari mimpi-mimpi indahnya.


Leony menarik nafas, lelah harus berdebat dengan seseorang yang begitu keras kepala seperti Alden.


" Dulu kau tidak seperti ini, Alden ...," lirih Leony.


" Pada akhirnya semua orang akan berubah, Leony Atmajaya." balas Alden.


" Siang ini, adikku tidak keluar dari kamar, dia tidak makan atau minum apapun sejak pagi ..., Alden, Arumi berbeda dengan diriku, dia begitu dimanja sejak kecil karena itulah tingkahnya kadang di luar batas." jelas Leony.


" Itu bukan urusanku dan aku sama sekali tidak peduli," sahut Alden pendek.


" Kau tahu kenapa Arumi melakukan semua ini? Dia jatuh cinta padamu, Alden ...," lirih Leony. Menyebutkan kalimat itu sungguh membuat dada wanita itu bergemuruh.


" Cinta bukan berarti dia harus mengorbankan orang lain. Sungguh, bahkan aku tak sanggup jika harus membayangkan punya kekasih seperti itu," Alden tersenyum dan melirik arloji di lengan kirinya.


" Masih ada 5 menit lagi, Leony ...," ujar Alden kemudian.


" Aku minta maaf, Alden. Maafkan aku ..., bertahun-tahun aku memendam penyesalan karena meninggalkanmu dulu. Saat mengetahui bahwa Arumi jatuh cinta padamu, hatiku rasanya terluka lagi bahkan lebih sakit dari sebelumya, Alden. Aku benar-benar menyesal, Alden. Setelah menikah, aku justru tidak bahagia dengan pernikahanku. Aku bahkan pernah berniat untuk bercerai saja tapi saat mengingat bahwa ada bayi yang tak berdosa yang dititipkan Tuhan dalam rahimku ini ..., Aku menjadi rapuh, Alden." Sepasang netra itu berembun, sesak di dada itu akhirnya menguar setelah bertahun-tahun membusuk di rongga dada.


Untuk beberapa saat Alden tak berkomentar, ia manatap lekat-lekat wajah wanita yang begitu amat dicintainya dulu. Bahwa seandainya pun Leony tahu bahwa dirinya sama menderitanya dengan sang mantan kekasih. Melupakan wanita itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit, berhari hari, berbulan-bulan bahkan setiap tahun ia berharap sosok itu kembali padanya, tapi sayang, waktu akhirnya membuktikan bahwa keduanya memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Leony adalah pemilik hatinya di masa lalu namun esok dan seterusnya ada gadis lain yang telah menggantikan posisi itu. Dan sekali lagi bahwa Alden harus membangun kembali harapan pada seseorang yang ia yakani akan menjadi bagian hidupnya di masa depan.


5 menit itu terasa bagai setahun, tiap detiknya Alden merasakan pedih. Tiap penuturan wanita itu bagaikan sembilu yang mengiris setiap sisi hatinya yang baru saja sembuh.

__ADS_1


" Leony, akan kuberitahu sesuatu bahwa setelah kau pergi ada seseorang yang diam-diam menyelinap di dalam hatiku. Gadis kedua yang telah berhasil membuka pintu ke balkon Apartemenku dan berdiri disana mengantikan dirimu ... Aku jatuh cinta padanya."


__ADS_2