
Bab 10
Sembari menunggu Alden yang cukup lama di dalam kamar mandi, membuat Binar mulai jenuh, ia lantas menggerakkan kursor pada layar laptop itu kemudian membuka foto-foto yang masih tersimpan rapi. Salah satu foto bahkan diambil saat keduanya berlibur di luar negeri.
" Mereka orang-orang kaya, punya kehidupan yang sempurna meski telah berpisah sekalipun," lirih Binar, Ia lantas mengklik salah satu foto yang di ambil sekitar 4 tahun yang lalu, salah satu foto terbaru yang ada meski mereka telah lebih dulu berpisah 1 tahun sebelumnya. Foto itu berisi seorang wanita cantik dan seorang pria tampan bermata sipit dengan menggunakan pakaian pengantin. Setelah mengamati cukup lama, Binar akhirnya tahu bahwa foto itu adalah foto prewedding Leony dan calon suaminya.
" Mengapa foto ini justru ada padanya?" tanya Binar. Binar lantas mengklik file lainnya yang berisi foto-foto yang diambil dari jarak jauh.
" Aku menyuruh orang untuk menyelidikinya karena setiap kali aku bertanya, Leony selalu bohong!" Alden muncul dengan tiba-tiba hingga membuat Binar terlonjak.
" Ada yang masih ingin kau tahu?" Alden duduk di samping Binar sembari ikut menatap layar laptopnya. Merasa di izinkan, akhirnya Binar dengan leluasa membuka berbagai file, dokumen serta video-video yang tersimpan di laptop tersebut.
Satu klik terakhir sontak membuat Binar menutup layar laptopnya dengan kedua tangan.
" Apa yang kau tutupi?" Alden tampak berusaha mencari celah dari jemari lentik milik gadis belia itu.
" Aku tak menyangka kalau Tuan menyimpan Video seperti ini di laptop, Tuan!" Binar menatap tak percaya.
" Video apa?" Alden berusaha menerka nerka.
" Video mesum anak SMA!" tegas Binar. Alden terbelalak. Wajahnya terasa kaku, lidahnya tiba-tiba tak bisa menjelaskan apapun.
" Tuan ... " Binar menatap dengan rasa takut.
" Siapa suruh membuka video!" Alden lantas mengambil laptopnya dan membawa barang itu menjauh dari jangkauan Binar.
' Ah sial, kenapa aku lupa menghapusnya!' Alden menggerutu sembari menekan keyboard itu asal asalan.
" Tak ku sangka Tuan seperti itu," tuduh Binar. Alden lantas menghindar saat Binar mulai mendekatinya.
" Menjauh lah sebentar dan jangan menuduhku seperti itu!" Alden tak terima. Dengan satu klik akhirnya video itu terhapus namun sayangnya Alden yang kurang fokus justru memformat seluruh filenya hingga membuat semua dokumen blank.
__ADS_1
" Hah ! " Alden berlahan duduk dan menatap layar laptopnya yang tak menyimpan satu file pun.
Ia lantas mengambil ponselnya kemudian menghubungi sekretarisnya lagi.
" Pak Handika, kau punya cadangan file bulan lalu?" Alden bertanya tanpa basa basi. Namun sepi tanpa jawaban, Alden lantas mengulang kata katanya namun tetap sepi tak ada jawaban.
" Bagaimana bisa terhubung, Tuan belum menekan tombol Ok," ujar Binar sembari menatap sosok yang terlihat kebingungan.
" Astaga ! Kenapa aku jadi bodoh begini!" Alden lantas menghubungi sekretaris Han lagi.
" Pak Handika, apa kau menyimpan cadangan file bulan lalu?" Alden kembali bertanya.
" Benar, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Sekretaris Han merespon cepat.
" Tolong kirimkan data datanya besok ke kantorku, laptop ku rusak," ujarnya sembari menggaruk kepala.
" Baik, Tuan. Oh ya mengenai mutasi pak Arya boleh saya tahu alasannya?" Sekretaris Han bertanya. Alden langsung menghindari Binar yang menatapnya penuh tanya.
" Merusak bagaimana, Tuan? " Sekretaris Han mengulang lagi.
" Ah, ini urusan hati! Pokoknya mutasi dia kemana saja yang penting tidak mengajar di sekolah itu lagi!" Alden lantas menutup telepon dan menatap balik ke arah Binar dengan kedua tangan terlipat di dada.
" Menuduhku apa tadi, hah? Aku Pria dewasa dan normal, memang apa salahnya menonton video seperti itu?" Alden maju beberapa langkah dan Binar justru mundur perlahan.
" Tuan, tolong jangan apa apakan aku ...," Binar mulai gugup. Bayangan kotor sontak menguasai seluruh pikirannya hingga membuatnya gemetar.
" Cepat ke tempat tidur!" Alden memberi perintah.
" Untuk apa, Tuan ..." Binar semakin gugup.
" Untuk tidur, memangnya untuk apa? Astaga ... Pikiranmu selalu saja kotor! Sudah ku bilang aku tidak akan menyentuhmu apabila kau tidak memberi izin," Alden lantas mendekati Binar, menggendongnya lalu membaringkan gadis itu di atas tempat tidur.
__ADS_1
" Pakailah selimutmu, selamat malam, cup ..." Alden mengecup kening Binar kemudian melangkah menuju sofa.
" Tuan tidur dimana?" tanya Binar.
" Di sofa." Balas Alden pendek. Tak lama kemudian ia menekan tombol merah pada sebuah remot hingga membuat pencahayaan menjadi redup.
' Ah dasar video sialan! Merusak reputasi ku saja!' batin Alden kemudian.
***
" Ibu, Bagaimana kondisimu?" Alden bertanya sembari mengecup pucuk tangan wanita bertubuh lemah itu.
" Siapa nama mu, Nak? Binar tak pernah membawa laki laki ke rumah sebelum ini," Bu widia memandangi sosok Alden mulai dari ujung rambut sampai pada ujung sepatunya.
" Nama ku Alden, Bu. Aku ....
" Guru Bahasa Inggris Binar, Bu." Sahut Binar cepat. Tak lupa ia langsung mencubit pinggang Alden, memberi kode agar Pria itu tidak berbicara asal.
" Oh iya, Bu. Aku gurunya Binar." Alden tersenyum sembari meletakkan parsel berisi buah buahan.
" Wajahmu tampan sekali, kau pasti orang berada," Puji Bu widia. Alden lantas tersenyum sembari bermain mata dengan Binar.
" Terima kasih, Bu atas pujiannya," balas Alden sopan. Ia lantas mendekati binar dan berbisik.
" Ibu mu punya selera bagus ..." ujar Alden percaya diri sedang Binar hanya tersenyum kecut.
Keduanya lantas mengupas buah dan menatanya di atas piring. Secara bergantian mereka menyuapi Bu Widia yang terlihat amat bahagia.
" Kadang aku berfikir, jika suatu hari nanti aku pergi, Bagaiman nasib anak itu? Ayahnya bukanlah Pria yang bisa diandalkan sedangkan dia hanya sendirian, tak punya saudara," lirih Bu Widia sesaat setelah Binar meninggalkan ruangan untuk mengurus berbagai admistrasi yang belum sempat di selesaikan.
" Jangan bicara seperti itu, Bu. Ibu bisa percayakan Binar padaku, aku berjanji akan menjaganya dengan seluruh hidupku ...." ujar Alden yakin seraya menggenggam jemari Bu Widia erat.
__ADS_1