
Saat Pelajar SMA Itu Jual Diri
Bab 7
" Kita bahas masalah ini di Apartemen," bisik Alden seraya menarik undur langkahnya. Binar menghembuskan nafas yang sempat tertahan beberapa detik. Ia merasa separuh beban hidupnya hilang seketika. Dan entah dimulai sejak kapan perasaan aneh itu, tiap kali ia berdekatan dengan Alden dunianya seakan jungkir balik, fokusnya kacau dan lidahnya terasa kelu. Pria itu telah membuat jiwa polosnya bertanya tanya, menerka nerka arah setiap bentuk perhatiannya.
'Apa aku Jatuh cinta sungguhan?' batin Binar.
Hingga sesi tanya jawab itu usai, Binar terus saja memandangi punggung Pria tampan itu hingga hilang di balik pintu dan anehnya, ia tiba tiba merasa kehilangan sesuatu, seperti separuh jiwanya ikut terbawa pergi bersama sosok itu.
" Uh, tadi itu adalah pemandangan yang sangat manis tapi itu menyakitiku!" Arumi mencolek pinggang sahabatnya. Binar masih membatu seiring dengan langkah kakinya yang terus menelusuri koridor.
" Jangan cuci muka sampai tiga hari itu akan melunturkan bekas jarinya pada wajahmu," bisik Arumi sembari terkekeh.
" Itu berlebihan, Arumi ... aku biasa aja," Binar berkilah.
" Ok deh! Mari kuantar ke UKS, wajahmu Masih pucat," ajak Arumi kemudian.
Keduanya lantas berjalan beriringan melewati kelas demi kelas yang sebagian siswanya masih berkeliaran di luar ruangan.
" Mari berbaring sejenak," Seorang guru lantas menuntun Binar untuk merebahkan diri.
" Wajahmu pucat sekali," lirih sosok wanita dalam balutan seragam batik itu.
Di lain tempat, Alden menyempatkan diri untuk mengecek berbagai pembangunan yang baru saja rampung, diantaranya merupakan taman cemara serta kolam ikan yang berada di sudut sekolah.
" Aku menambahkan stok buku untuk perpustakaan serta beberapa puluh unit laptop untuk dipakai bersama sama, semuanya adalah produksi dari DWA ( Digital world Access)," tambah Alden kemudian.
" Terima kasih, Pak Alden. Bapak begitu murah hati." Sang Kepala Sekolah memuji. Alden tersenyum.
" Oh ya Pak Alden, jika Bapak bersedia agar kiranya menghadiri acara perlombaan antar sekolah yang akan di adakan dua minggu lagi," Sang Kepala Sekolah mengajak dengan santun.
" Oh baiklah, jika tidak ada urusan penting di kantor tentu saya akan bersedia datang, Ada berapa siswa yang dikirim untuk mengikuti lomba?" Alden penasaran.
" Untuk bidang studi MIPA, kami mengirim 2 orang, 5 orang untuk mewakili lomba bela diri karate dan satu orang mewakili lomba pidato berbahasa inggris," terang Sang Kepala Sekolah.
" Hanya satu orang yang mewakili lomba pidato bahasa inggris?" Alden mengulang.
__ADS_1
" Benar, Pak. Binar Kinasih Ahmad yang mewakili sekolah ini," tambahnya lagi.
" Binar? Bukankah akhir-akhir ini kondisinya kurang baik?" Alden penasaran.
" Benar sekali, Pak. Seminggu belakangan nilai akademisnya berantakan sekali tapi setelah kami melakukan beberapa tes speaking dan listening, dia lolos, nilainya paling baik bahkan mengalahkan Arumi,"
Alden lantas tersenyum, langkah keduanya berakhir di parkiran mobil. Pria dalam balutan jas hitam itu lantas memasuki mobil setelah berpamitan pada pihak sekolah terlebih dahulu.
" Mari ku antar pulang?" pinta Arumi pada sosok Binar yang baru saja keluar dari ruangan UKS.
" Tidak usah, aku baik baik saja," Binar lantas membuka tutup minyak kayu putih dan menghirupnya sejenak.
" Kau yakin?" Arumi tak yakin.
Binar mengangguk.
" Boleh aku tahu, Apa penyebab memar di lengan dan di lehermu?" Arumi menatap, meminta penjelasan.
Binar tak menyahut, keduanya lantas menuju ruang kelas untuk mengambil perlengkapan sekolah mengingat kalau 5 menit lagi sesi belajar mengajar di kelas akan segera berakhir.
" Aku baik baik saja, Arumi ...." Binar kembali menyakinkan.
" Baiklah kalau begitu ... Aku duluan ya," Arumi lantas berlari sembari melambaikan tangan ke arah Binar yang masih menatap dengan tersenyum.
Beberapa meter dari gerbang sekolah, seorang Pria yang tentu saja sudah amat sangat dikenalnya membuka kaca mobil dan menarik tas sekolahnya.
Binar kaget kemudian menoleh ke arah sosok itu.
" Tuan ..." Binar tak menyangka bahwa sosok itu ternyata menunggunya tak begitu jauh dari sekolah.
" Jangan berdiri saja! Ayo cepat masuk kecuali kau ingin membiarkan semua siswa mengetahui hubungan terlarang kita," Alden lantas tersenyum geli menyaksikan sosok Binar yang mulai celingak celinguk.
Beberapa menit kemudian, keduanya lantas berada dalam mobil yang sama, sebuah mobil mewah yang baru kali ini ia naiki.
" Jangan coba coba kabur dariku!" Alden menatap Binar yang hanya bisa menunduk.
Menempuh perjalanan hampir 30 menit lamannya, keduanya lantas berhenti di sebuah bangunan tinggi dimana tempat Alden biasa beristirahat sepulang dari kantor. Apartemen pribadinya.
__ADS_1
" Ganti pakaianmu terlebih dahulu," Alden lantas meletakkan kotak makanan beserta paper bag berisi pakaian wanita yang baru saja dibelinya.
" Aku tidak bisa memakainya," Binar kembali meletakkan paper bag itu setelah mengamati sejenak.
" Kenapa? Kau tidak suka?" Alden lantas duduk di samping Binar seraya merenggangkan kerah kemejanya.
" Tidak cocok untukku,"
" Jangan menolak permintaanku! Ingat kau punya banyak hutang padaku," Alden mengancam, kata katanya selalu saja mengintimidasi Binar hingga membuat gadis itu beranjak menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
5 menit berlalu, Binar belum juga keluar dari kamar mandi sedangkan suara air tak henti hentinya mengalir, Alden yang merupakan tipe Pria tak sabaran lantas berdiri mondar mandir di depan pintu.
Tok tok tok
" Binar ...." Alden memanggil. Sepi tak ada jawaban yang terdengar hanyalah gemericik air yang terus mengalir.
" Aku tak suka menunggu lama!" Alden meninggikan nada suaranya.
10 menit berlalu, Alden kembali mengetuk pintu seraya memanggil sosok pelajar SMA yang beberapa hari ini telah mengisi hatinya.
20 menit berlalu, Alden merasa bahwa ada yang tidak beres dengan Pelajar SMA itu, ia lantas memutar knop pintu dan mendapati Binar basah kuyup serta tergeletak diantara genangan air.
" Astaga! Kenapa malah tiduran di kamar mandi!" Alden buru-buru mengangkat tubuh ramping itu dan membaringkannya di sofa.
" Ada apa dengan mu?"
Alden tampak cemas, ia segera menelepon sekretaris Han untuk membawa dokter secepatnya.
" Kenapa tidak bilang kalau sakit? Argh ...." Alden mulai bingung terlebih saat mendapati seluruh seragam sekolah Binar basah.
" Haruskah ku buka? Aiihh... Tidak boleh! Aku bukan Pria hidung belang!" Alden lantas mondar mandir.
" Badannya panas, dia demam! Aku merasa bersalah karena terus terusan mengancamnya," Alden terpaku menatap sekujur tubuh Binar yang basah.
" Memar?" Alden menyentuh lengan bagian atas milik gadis itu. Ia semakin keheranan lantaran bukan hanya ada satu memar di tubuh gadis itu melainkan di leher dan di betis juga tercetak bekas biru tanda tanda kekerasan fisik.
" Sebenarnya ada apa denganmu?" Alden menatap iba kemudian mengeringkan rambut Binar yang masih belum sadarkan diri dengan handuk miliknya. .
__ADS_1