KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 30


__ADS_3

Bab 30


Kehadiran Leony kembali dalam kehidupan Alden tentu mengusik sisi hancurnya Alden yang baru saja sembuh. Untuk apa? Tentu Alden sendiri belum tahu. Hanya saja menurut perkiraan Sang Sekretaris kehadiran Leony kali ini ada hubungannya dengan keputusan Alden yang ternyata harus mengeluarkan Arumi dari sekolah. Alden masih bertanya hingga saat ini, Benarkah Arumi merupakan saudara perempuan Sang mantan kekasih? Jika benar, mengapa ia tidak tahu sedikitpun tentang sosok Arumi meskipun dahulu ia pernah menjalin hubungan kasih dengan Leony hingga lima tahun lamanya? Sebegitu tidak pentingkah ia dalam kehidupan wanita itu dahulu? Ah. Ini adalah masa lalu. Masa lalu yang tiba-tiba muncul kepermukaan dengan tanpa alasan. Seperti dahulu saat ia memutuskan hubungan dengan tanpa alasan! Untuk itu maka Alden akan menyambut kehadirannya dengan tangan terbuka.


" Hai, selamat datang masa lalu!"


" Sudah nyaris 1 jam nona Leony menunggu, Tuan ...," Sang Sekretaris baru saja menutup telepon usai mendapat kabar tentang keberadaan Leony yang masih berada di ruang tunggu meskipun telah di usir berkali-kali.


" Biar saja! Buat dia menunggu selama mungkin! Agar dia paham seperti apa rasanya menunggu!" Alden tetap berdiri tegap. Menatap langit cerah dari balik dinding kaca itu. Sang Sekretaris lantas mengangguk kemudian kembali menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Meski sudah kandas tapi ada banyak penjelasan yang masih menggantung dan itu tentu akan mengusik rasa ingin tahu Alden. Mengapa dahulu Leony meninggalkan Alden? Pertanyaan itu memang sudah tidak penting lagi. Dengan atau tanpa alasan tetap saja itu tidak akan merubah kenyataan apapun. Jadi Alden rasa tak perlu harus mempertanyakannya meskipun ia merasa sangat ingin tahu.


" Leony untuk apa kau datang? Kau hanya semakin memperkeruh keadaan!" Alden menghela nafas panjang. Sungguh lelah dengan masalah yang benar-benar menyita hati dan pikirannya akhir-akhir ini.


" Tuan, sudah waktunya makan siang. Tidakkah Tuan sebaiknya makan terlebih dahulu?" Sang Sekretaris mengetuk jam tangan pada lengan kirinya.


" Aku akan makan siang di rumah," sahut sosok itu pendek. Alden lantas beranjak pergi dan Sang Sekretaris lantas mengekor saat Sang CEO memutuskan untuk pulang lebih awal.


Keduanya lantas memasuki lift menuju lantai dasar. Sebenarnya ada rasa sungkan di hati Alden, terlebih jika ternyata harus berpapasan dengan Leony yang kemungkinan masih menunggu di ruang tunggu. Tapi bagaimanapun juga, ia tetap harus pulang meski nantinya bayangan masa lalu itu hadir kembali setelah sekian lama menghilang. Dan satu hal lagi yang membuat Alden merasa tak harus menghindari pertemuan ini, ia dan Leony sudah lama berakhir. Cinta mereka telah usai dan masing-masing telah menempuh jalan yang berbeda. Itu pilihan dan keduanya telah benar-benar menentukan langkah sendiri. Leony yang datang hari ini tak lain adalah istri dari orang lain dan bukan bagian dari hidupnya lagi.


Sampai di lantai dasar, Alden lantas bergegas menuju parkiran. Itu sedikit mengabaikan ucapan salam dari para karyawan yang tengah berpapasan dengannya siang itu.


" Alden ...!"


Sebuah seruan terdengar dengan nada yang cukup tegas. Alden memperlambat langkahnya. Seseorang di depan sana membuat kedua netranya menatap lurus tanpa berkedip. Suara itu, suara wanita yang begitu dikenalnya.


" Alden ...,"


Sosok itu lantas melangkahkan kaki lebih cepat ke arahnya. Alden menatap wanita dalam balutan dress putih tulang dengan outfit bewarna hitam itu.


Keduanya lantas sama-sama berhenti dengan jarak hanya berkisar dua meter saja. Sang Sekretaris yang berada di sisi sebelah kanan Alden lantas menarik diri hingga beberapa langkah.


Dua orang yang dulunya merupakan sepasang kekasih itu sama-sama mematung. Bingung hendak memulai obrolan dari mana.


" How are you?" Leony memecah sunyi dengan menanyakan kabar dari sosok Pria yang dulu pernah mengisi hatinya.


" Better than before," balas Alden. Ia lantas menatap sosok itu dari ujung rambut hingga ke ujung high hell yang tengah Leony pakai. Ada banyak perubahan pada diri wanita itu. Terutama pada bagian perut, sepertinya Leony sedang mengandung. Alden memasang wajah acuh meski ia tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


" Kau banyak berubah, Alden," lirih Leony dengan senyum manisnya, senyum yang ternyata masih sama seperti dulu.


" Semua orang pasti akan berubah," sahut Alden pendek. Keduanya lantas berjalan beriringan.


" Ya, kau benar. Semua orang akan berubah pada akhirnya, seperti halnya denganku. Tidak lama lagi aku akan menjadi seorang Ibu." ujar Leony seraya mengelus perutnya yang sedikit membesar dengan janin diperkirakan berusia 4 bulan. Alden tak menyahut. Ia lantas mempercepat langkah kakinya.


" Alden!" Leony memanggil lagi.


Alden menghentikan langkahnya lagi saat Leony kembali memanggilnya dengan cukup keras. Ia menghela nafas panjang dan memijit pelipisnya sejenak.

__ADS_1


" Alden ..." Leony mendekati Alden yang berada hanya beberapa langkah di depannya.


" Alden, Ada yang ingin aku bicarakan," ujar Leony kemudian.


Lagi-lagi Alden menghela nafas.


" Sebenarnya apa yang hendak kamu bicarakan? Aku tidak punya waktu walau hanya sekedar membahas tentang kabar apalagi membahas tentang kehamilanmu itu!" ketus Alden.


" Alden ..., aku tahu kau mencoba menghindari pertemuan kita. Tapi sungguh, aku menemuimu hari ini untuk membahas sesuatu yang penting," terang Leony namun Alden sepertinya tidak mau tahu akan hal itu.


" Katakan!" Alden menatap.


" Alden, tidakkah kita bicarakan hal ini di suatu tempat?" pinta Leony. Alden mendengus, kesal.


" Maaf, aku tidak punya waktu!" sahut Alden pendek. Ia lantas kembali melangkah menuju mobil karena Sang Sekretaris sudah menunggu sejak tadi.


" Alden !" Leony memanggil meski sosok ia panggil semakin menjauh dari jangkauan mata.


" Alden, tunggu aku! Mari kita bicara!" teriak Leony lagi. Ia tetap berusaha mengejar sang mantan kekasih meski sosok itu kini telah memasuki mobil.


" Jalan, Pak Han!" pinta Alden cepat. Sang Sekretaris sedikit tidak tega melihat Leony yang tengah mengejar mereka dengan kondisi hamil muda. Sebagai seorang laki-laki dewasa, itu merupakan pemandangan yang amat menyedihkan dan sangat tidak enak dipandang. Kisah cinta mereka memang telah usai dan harusnya keduanya bisa bertindak lebih profesional dan tidak melibatkan dendam lama.


" Jalan, Pak Han!" perintah Alden lagi.


" Tuan ...," Sang Sekretaris terlihat ragu.


" Tuan ..., tidakkah beri Nona Leony waktu untuk berbicara?"


" Berbicara apa? berbicara mengenai kehamilannya? Ia menghilang selama bertahun-tahun lalu datang dengan memamerkan perut besarnya dan mengatakan dengan bangga bahwa dia sebentar lagi akan menjadi seorang ibu??" Alden mengepalkan tangan kanannya. Nyaris saja memukul kaca mobil.


Sang Sekretaris terdiam.


" Untuk apa dia datang! Untuk apa?" Alden meraup wajah kasar.


Leony yang masih berupaya menyusul Alden lantas berhenti sejenak, ia menekuk kedua tangan di lutut. Nafasnya sedikit tersengal. Tak lama ia merasa perutnya tiba-tiba terasa kram.


" Oh, kenapa ini ..." lirih Leony seraya memegang perutnya yang bereaksi.


Alden dan Sang Sekretaris menatap dari kejauhan.


" Tuan ..., Kelihatannya Nona Leony mengalami masalah,"


" Itu bukan urusanku!" sahut Alden ketus.


" Tuan Muda, bermurah hatilah sedikit, Nona Leony sedang hamil," bujuk Sang Sekretaris lagi. Alden lantas mendengus.


" Bukan aku yang menghamilinya!"

__ADS_1


" Tuan ..."


" Cepat jalan!" Alden berteriak lagi. Ah, sungguh Tuan Muda yang cerewet dan sangat emosional.


" Tuan, lihat semua orang menatap ke arah kita. Setidaknya lakukanlah pencitraan yang baik di depan para karyawan mu," bisik Sang Sekretaris kemudian. Ia menunjuk ke arah para karyawan yang menatap ke arah mobil bahkan sebagian mulai berbisik-bisik. Sungguh, Sang Sekretaris tidak mau jika Sang Tuan Muda kembali diterpa rumor tidak mengenakkan seperti yang baru saja terjadi.


" Ck ! Pencitraan katamu! Untuk apa aku berbelas kasih pada penyihir itu? Sungguh membuang-buang waktu!" Alden kembali menggerutu. Terbawa emosi sontak menghilangkan sikap dewasa nya.


" Tuan ..., kali ini saja." Sang Sekretaris memohon dan Alden dengan sangat berat hati akhirnya mengizinkan Pak Handika untuk membawa Leony ikut serta dalam mobil yang mereka tumpangi.


" Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa masih sakit?" tanya Sang Sekretaris.


" Aku baik-baik saja. Ini hanya kram biasa, maklum ini adalah kehamilanku yang pertama," terang Leony. Alden kembali mendengus, sangat amat membenci pembicaraan itu.


" Nona sendirian?" tanya Sang Sekretaris.


" Tadinya Aku diantar supir tapi biar nanti dia yang membawa mobilku," jawab Leony lembut.


" Menyusahkan saja!" lirih Alden seraya memainkan benda pipih kesayangannya.


Leony tak merespon hanya saja ia sedikit kaget dengan perubahan sikap dari sang mantan kekasih. Dahulu, ia sosok yang amat lembut dan penyayang. Leony ingat betul bahwa dulu Alden rela menjaganya sepanjang malam hanya karena dirinya mengalami migrain. Sekarang, sungguh rasanya Leony melihat seseorang yang sama namun dengan karakter yang berbanding terbalik. Semua benar-benar sudah berubah.


" Maafkan aku jika menyusahkan mu ...," lirih Leony kemudian. Alden diam seribu bahasa. Kini sosok itu justru sibuk bermain game pada benda pipih itu.


" Alden, mari bicara. Ada banyak hal yang ingin ku sampaikan," Leony menatap punggung sosok itu yang terlihat acuh dan tidak mau tahu.


" Alden ...," Leony tidak menyerah dan tetap mencoba mencairkan hati sosok yang yang ada bedanya dengan sebongkah es. Dingin dan tak berbelas kasih.


" Sebenarnya apa yang hendak kau bicarakan? Bicaralah sekarang!" sahut Alden ketus. Ia lantas mematikan ponsel nya kemudian memutar musik dengan cukup keras.


" Kau pasti sudah tahu mengenai tujuan kedatanganku yang secara tiba-tiba." Leony benar-benar sulit mencari celah pada sisi beku sosok itu.


" Aku tidak tahu!" sahut Alden ketus.


" Aku datang jauh-jauh dari Australia ke Indonesia demi adik perempuan ku. Kemarin malam, ia meneleponku sambil menangis. dia bilang akan dikeluarkan dari sekolah dengan tidak hormat," terang Leony kemudian. Alden lantas menarik sudut bibirnya, memperlihatkan senyuman angkuh seakan puas telah memenangkan sesuatu.


" Lalu?" tanya Alden.


" Alden, aku yakin kau sudah menebak ujung dari pembicaraan ini. Tolong, jangan seperti ini ...," Leony memelas. Sorot matanya berkaca-kaca saat menghadapi sikap Alden yang dingin dan itu sangat menakutkan baginya.


" Kau punya adik perempuan? Siapa namanya?" tanya Alden santai.


" Alden ..., kau pasti sudah tahu," Leony tampak sulit berterus terang.


" Aku tanya siapa namanya!!" Alden membentak. Nada suaranya yang tinggi sontak mengagetkan Sang Sekretaris yang tengah menyetir. Kaget, Pria itu lantas menginjak rem secara tiba-tiba.


" Ais! Mengemudilah dengan benar!" Alden kembali menggerutu lalu mengoceh tiada henti.

__ADS_1


' Benar-benar sensitif bahkan lebih sensitif dibanding wanita yang tengah datang bulan, ops!' Sang Sekretaris nyaris saja tertawa.


__ADS_2