
Bab 35
Kepulangan kedua orang tua Leony ke indonesia atas kabar yang kurang begitu mengenakkan yang diberitahukan oleh Leony tadi malam. Arumi baru saja siuman tadi pagi. Kondisi tubuhnya sudah cukup membaik walau masih sedikit lemah.
" Kenapa Arumi bisa melakukan hal nekat seperti itu?" Wanita berpakaian serba putih itu lantas duduk di samping Leony.
" Dia patah hati, Bu. Seseorang menolak cintanya lalu dia patah hati," balas Leony.
" Anak bodoh." Lirih Bu Dellin kesal.
" Kau bilang dia juga di keluarkan dari sekolah?" tanyanya kemudian. Leony mengangguk.
" Dia terlibat masalah dengan Alden, Bu. Kesalahannya amat fatal dan Alden tidak akan merubah keputusannya," balas Leony.
" Alden Alexander? Oh, kenapa harus melibatkan dia lagi?" Bu Dellin tampak memijit pelipis.
" Bu, jangan terlalu memanjakan Arumi. Lihatlah, tingkahnya sangat memalukan! Aku bahkan harus mengemis pada Alden agar dia tidak dikeluarkan dari sekolah." Leony memelas.
" Oh ..., ini mungkin karena kami terlalu sibuk jadi dia sibuk mencari perhatian di luar sana. By the way, kau sudah bertemu dengan nya?" tanya Bu Dellin kemudian.
Leony mengangguk.
" Bagaimana reaksinya?" Bu Dellin terlihat penasaran.
" Dia berubah banyak. Dia bahkan mem-blacklist dataku sehingga aku tak diizinkan masuk ke perusahaan nya," jelas Leony.
" Yah ..., wajar jika dia begitu. Dulu kau sangat keterlaluan padanya dan sekarang justru Arumi ikut bertingkah. Perusahaan miliknya maju pesat tiga tahun belakangan ini. Ayahmu juga sangat mewanti-wanti agar tidak bersenggolan dengan bisnisnya. Pengaruhnya sangat luar biasa di kalangan pembisnis. Ayahmu bahkan sangat kagum padanya ...," Terang Bu Dellin seraya menatap sang suami yang masih berada di dalam kamar.
" Bu ..., untuk itulah, katakan pada Ayah untuk tidak memperpanjang persoalan ini. Aku takut kalau nantinya Alden melakukan sesuatu yang akan membuat kita semua menyesal," bujuk Leony.
" Tentu. Aku yakin Ayahmu tidak akan punya nyali sebesar itu untuk melawannya. Melawan mereka sama dengan bunuh diri," Bu Dellin menghela nafas.
" Pada akhirnya bisnis lebih penting dibanding memikirkan perasaan. Ayahmu tidak akan mengambil keputusan bodoh dalam hal seperti ini," tambah Bu Dellin.
Sungguh, Leony menarik nafas lega. Ini tak sesulit yang ia bayangkan. Ia tak bisa membayangkan jika bisnis keluarganya harus hancur hanya karena meladeni masalah cinta remaja bau kencur seperti Arumi. Leony memasang wajah cerah dengan senyuman mengembang di kedua sisi bibirnya.
" Tapi Arumi tidak salah memilih laki-laki. Dia jatuh cinta pada Pria yang tepat. Justru yang bodoh itu kau. Kau meninggalkannya demi pria bule pilihan mu itu!"
" Ah, Ibu. Mungkin inilah yang dinamakan tidak berjodoh. Ngomong-ngomong, Alden menolak Arumi karena dia telah jatuh cinta pada orang lain, harusnya Arumi bisa menerima itu, ya kan?" Leony menatap, meminta persetujuan.
" Dia masih kecil. Tahu apa tentang cinta. Jika dia mencintai Alden harusnya dia berusaha agar pantas bersanding dengan Pria itu," Bu Dellin tersenyum.
__ADS_1
" Ibu mendukungnya?" tanya Leony.
" Aku akan mendukungnya jika Arumi memang sudah layak,"
Lagi-lagi Leony menghela nafas lega.
" Segera bereskan berkas-berkas Arumi. Setelah pulih, Ibu akan mengurusnya agar bisa bersekolah di luar negeri. Disana tentu pendidikan nya lebih terjamin." Bu Dellin lantas beranjak menuju ruangan dimana Arumi di rawat. Ia menatap bahu sang suami yang masih sibuk mengelus rambut putri bungsunya.
" Alden sangat keterlaluan! Beraninya dia mengeluarkan Arumi dari sekolah?" Pria itu menatap istrinya dengan tangan kanan tampak mengepal.
" Lantas? Kita bisa apa? Melawannya? Oh, jika sampai kau mengambil keputusan untuk menentangnya maka aku akan pergi, sudah pasti kau akan kalah dan bangkrut. Aku tak mau hidup miskin!" Bu Dellin melipat kedua tangan di dada.
" Apa yang kau katakan! Lihat, putrimu nyaris mati karenanya!"
" Arumi yang berulah! Ini kesalahan Arumi karena kau terlalu memanjakannya!"
Kedua orang itu lantas beradu argumen di rumah sakit. Leony yang menatap lantas beranjak pergi. Ia sudah tahu bahwa ujung perdebatan itu pasti akhirnya dimenangkan oleh Ibunya. 'Bangkrut dan miskin' adalah dua kata yang begitu ditakuti wanita itu. Ia lebih baik memilih pergi jika harus dihadapkan dengan kedua kata-kata Kramat itu.
Di tempat terpisah, Sekretaris Han dan Sang Tuan Muda masih berada di kantor. Keduanya masih was-was dengan persoalan yang baru-baru ini terjadi.
" Pak Han, sepertinya aku butuh liburan. Menghadapi banyak persoalan justru membuatku terasa lebih cepat tua," lirih Alden. Sang sekretaris hanya tersenyum.
" Kemana saja yang terpenting bersama Binar," sahut Alden pendek.
" Tak ada jadwal libur untuk anak sekolah Minggu ini atau Tuan memintanya untuk bolos?" Selidik Sang Sekretaris.
" Tentu tidak! Sebentar lagi anak kelas dua akan naik ke kelas tiga dan dia akan semakin sibuk belajar," sahut Alden.
" Tapi Pak Handika, berapa persen kemungkinan kita akan menang bila ternyata harus menghadapi Perusahaan milik Atmajaya?" tanya Alden tiba-tiba.
" 80 % bisa menang. Kita pakai cara lama saja, kita tarik investor yang menanam saham pada perusahaannya lalu kita ajak bekerja sama dengan perusahaan kita, mereka tidak akan menolak terlebih sekarang ini perusahaan kita sadang maju pesat. Setelah itu, kita hanya tunggu berita kebangkrutannya dan demo besar-besaran karyawan di depan gedung-gedung miliknya." Balas Sang Sekretaris yakin.
" Haruskah seperti itu hasil akhirnya?" tanya Alden.
" Keputusan ada di tangan Tuan Muda. Aku hanya menjalankan perintah," sahut Sang Sekretaris pendek.
" Tak ada cara lain?" tanya Alden.
" Cara kedua ialah berdamai. Kedua belah pihak bernegosiasi dan mengambil jalan tengah. Akan lebih baik jika ada kata maaf setelah kejadian ini," ujar Sang Sekretaris lagi.
" Ck! Tentu bukan aku yang harus meminta maaf!"
__ADS_1
" Kaki tangan kita akan melaporkan segera jika ada pergerakan yang tidak wajar dalam perusahaan, kita tunggu saja." Sang Sekretaris santai. Alden manatap.
" Apa kau sudah biasa menghadapi persoalan seperti ini?" tanya Alden.
" Pernah. Dulu waktu bersama mendiang Tuan Antonio. Kami pernah merobohkan satu perusahaan milik Hexan.
" Benarkah?" Alden tampak tertarik.
" Benar. Tapi pada akhirnya setiap perselisihan tidak akan berakhir dengan baik-baik saja. Pak Hexan terkena serangan jantung dan meninggal. Air mata dan sumpah serapah karyawan terdengar dimana mana. Dan Tuan Alden ..., sungguh, aku tak pernah menginginkan kisah yang seperti ini terjadi dalam hidup tuan," lirih Sang Sekretaris kemudian. Alden membisu.
" Tidak akan ada pemenang dalam sebuah perselisihan. Jika ada yang menang itu adalah ego!" Tambah Sang Sekretaris kemudian. Alden menghela nafas.
" Jika bisa memilih, aku tentu tidak akan memilih jalan hidup yang seperti ini. Tuan Antonio mendidikku dengan baik, mencukupi kebutuhan keluargaku dan melindungi mereka. Untuk itulah, aku mengabdi padamu saat ini, aku mengamati setiap langkahmu, menasehatimu dan melindungi keluarga yang masih tersisa tapi pada akhirnya keputusan terakhir ada padamu, Tuan Alden Alexander," terang Sang Sekretaris lagi.
Alden berfikir sejenak.
" Tentu kau cukup lelah menghadapi sikapku, Pak Handika."
Sang sekretaris lantas tersenyum.
" Ada satu masalah yang tidak bisa aku campuri, yaitu masalah pribadimu. Kepada siapa dan untuk siapa hatimu berlabuh itu sepenuhnya wewenang Tuan," ujar Sang Sekretaris lagi.
" Ah, kau lebih mirip teman curhatku dibanding Sekretaris. Aku malah bingung berapa aku harus menggajimu dengan pekerjaan sebanyak ini!"
" Bagaimana kalau kau menikah saja dengan Dokter Larisa? Ku rasa kalian cocok," tambah Alden.
" Sebaiknya Tuan menjemput Binar saat pulang sekolah nanti. Aku lihat suasana hati Tuan berubah lebih baik saat bersamanya,"
Sang Sekretaris tersenyum lantas segera berpamitan untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.
" Kira-kira dia akan mengambil kuliah jurusan apa saat lulus SMA nanti?" tanya Alden. Ia lantas tersenyum." Akan kutanyakan langsung padanya saat pulang sekolah nanti,"
Catatan :
Hai ... Yang masih setia membaca. Apa kabar kalian semua? Semoga sehat. Yuk di kawal ceritanya sebentar lagi tamat Lo.
Oh, ya. Kira-kira pembaca pengennya ending yang seperti apa?
Kalau endingnya sampai menikah, Author gak sanggup kalau harus nulis adegan malam pertamanya😂
Terima kasih.
__ADS_1