
Bab 22
Binar mematung. Setangkai mawar merah yang kini berada tepat di depan matanya mengundang sorak sorai para pelajar lainnya. Binar dilema antara harus mengambil mawar itu atau justru mengabaikannya. Namun semenit kemudian lututnya terasa mati rasa.
' Oh, Tuan. Kenapa nekat sekali!' batin Binar. Ia melayangkan seluruh pandangan menyapu setiap sudut ruangan yang di penuhi tatapan dari semua orang.
" Mawarnya untuk mu, selamat atas pidato yang begitu luar biasa," lanjut Alden. Menyusul gemuruh tepuk tangan yang kembali bergema. Pria bertubuh atletis itu tersenyum, menatap wajah pucat gadis berseragam SMA yang terlihat membatu bagai pahatan archa.
" Terima!"
" Terima!
Beberapa siswa berteriak, meminta Binar lekas mengambil setangkai mawar merah yang kini berada tepat di depan matanya. Dengan segenap keberanian yang berhasil ia kumpulkan dalam beberapa menit terpaku, Binar meremas jemarinya sejenak, melerai keraguan yang masih berperang di dalam hati. Dengan yakin, perlahan ia mengulurkan tangan kanannya yang terasa dingin seperti sebongkah es, meraih mawar merah itu dari jemari Sang Tuan Muda dan menggenggamnya erat.
" Terima kasih, Pak."
Binar menunduk, menghindari setiap tatapan yang tertuju padanya. Alden lantas tersenyum sembari memutar langkah menuju tempat dimana ia duduk sebelumnya.
" Tindakan yang cukup berani," Bu Andine tampak sumringah, menatap Sang Putra yang tengah memakai jasnya kembali.
" Aku mengapresiasi pidatonya," balas Alden santai. Sekretaris Han menahan senyum, walau sebenarnya ia nyaris saja tertawa melihat tingkah kekanak Kanakan yang baru saja terjadi.
" Tadinya aku pikir Tuan akan langsung melamarnya hari ini," Sekretaris Han mengangkat sebelah alisnya seraya melipat kedua tangan di dada. Alden menatap Sang Sekretaris kesal.
" Pelankan suaramu itu akan mengundang kecurigaan orang lain," bisik Alden kemudian. Sang Sekretaris lantas tertawa. Ia tak menyangka Pria dingin di sampingnya itu telah mencair begitu cepat. Sepertinya luka beberapa tahun yang lalu sudah sembuh di tangan pelajar berusia 16 tahun itu.
" Benar-benar tidak pandai menjaga rahasia!" gerutu Alden lagi. Sang sekretaris hanya menyengir, memperlihatkan deretan gigi putihnya yang membuat Alden semakin kesal. Tapi walau demikian, ia masih terus memandangi Binar yang berada di depan sana. Remaja berambut panjang itu tampak malu-malu, terlebih saat teman-teman sekelasnya mulai berkerumun, menggodanya dengan tak henti-henti.
Binar menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Pipinya berubah merah merona saat teman-temannya kembali menggodanya, menyanjung dengan berbagai pujian yang membuatnya tak sadar bahwa sejak tadi Arumi sudah tak berada di sampingnya lagi.
" Kalian lihat Arumi?" Binar menatap wajah teman-temannya satu persatu tapi tetap tak menemukan remaja berambut sebahu itu.
" Entah tapi tadi aku sempat melihatnya menangis," sahut salah seorang siswi di antaranya.
" Menangis?" Binar lantas buru-buru meninggalkan kerumunan teman-temannya, mencari keberadaan Arumi yang menghilang tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Binar menyusuri koridor kelas, menatap setiap bangku taman yang ia lewati, berharap ada Arumi disana namun sayang, teman baik sekelasnya itu justru tak terlihat dimana pun. Ia menghampiri beberapa pelajar yang sempat ia temui dan menanyakan keberadaan Arumi namun tak ada yang melihat gadis itu.
" Ah, kemana sih Arumi?" Binar yang mulai lelah lantas berhenti dan duduk di salah satu bangku taman yang berada tak begitu jauh darinya. Ia memandangi setiap pelajar yang tengah keluar dari ruangan dimana lomba di adakan, menatap lekat wajah mereka satu-persatu, mendengarkan gemuruh pujian dari para siswi saat mengiringi Sang Ceo dan para rekan dari perusahaan meninggalkan ruang perlombaan. Binar menatap Pria itu lekat, sekali lagi bahwa ia harus mengakui Alden memang begitu mempesona, sangat mempesona.
Binar tersenyum, menatap setangkai mawar merah yang kini berada dalam genggaman tangannya.
" Tuan .... Tuan begitu baik padaku," lirihnya kemudian.
Memandangi Pria itu terlalu lama membuat Binar nyaris lupa bahwa ia belum menemukan Arumi. Ia lantas buru-buru meninggalkan bangku taman dan menelusuri koridor, mencari Arumi hingga ke dalam kelas, ke ruang UKS serta ke parkiran. Tapi anehnya, sahabat baiknya itu justru tak dijumpai dimana pun.
" Cari Siapa?"
Seorang sekuriti menghampiri Binar yang terlihat celingak-celinguk sembari menyeka peluh yang mulai berjatuhan.
" Oh, aku sedang mencari Arumi, Apa Bapak tahu dia dimana?" tanya Binar.
" Bukannya Arumi sudah pulang lebih dulu, katanya dia sedikit tidak enak badan," terang Sang Sekuriti lagi. Binar terdiam. Tak biasanya Arumi pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu.
__ADS_1
Ia lantas berpamitan dan kembali menuju kelas. Suasana kelas memang sedikit sepi, sebagian siswa lebih memilih berada di kantin. Hari ini dan besok memang kegiatan belajar mengajar sengaja ditiadakan karena adanya kegiatan perlombaan. Sebenarnya, boleh-boleh saja jika harus pulang tapi mengingat bel tanda pulang sekolah belum dibunyikan, Binar terasa enggan untuk pulang lebih dulu.
Masih bertanya-tanya dengan sikap Arumi yang sedikit tidak biasa, derap langkah seseorang terdengar mendekati pintu kelas. Binar lantas berdiri dari duduknya. Menggeser kursi sejenak dan melangkah mendekati sumber suara.
" Pak Han, Kenapa Bapak bisa kesini?" Binar kaget dengan kedatangan Pria berjas hitam itu yang muncul dengan tiba-tiba.
" Tuan memintaku untuk mengantar Nona pulang," Sekretaris Han lantas tersenyum menatap wajah polos di depannya.
" Ke rumah?" Selidik Binar.
" Iya. Tuan Alden sudah lebih dulu meninggalkan sekolah. Beliau sangat sibuk dan kemungkinan akan berada di Apartemen saat sore menjelang," tutur Pria itu lagi. Binar menarik nafas lega. Akhirnya, ia bisa langsung menemui Sang Ibu yang tentu sudah menunggunya di Rumah. Ia lantas melangkah, mengekor tubuh tinggi yang berada tepat di depannya.
Binar meninggalkan sekolah saat acara perlombaan telah usai. Sang Sekretaris mengemudi dengan santai, membelah jalanan yang mulai ramai. Suara klakson kendaraan tampak saling besahutan, memekakkan telinga.
Menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam lamanya, Binar akhirnya tiba di rumah. Sang Ibu yang sudah menunggu tampak menyambut kedatangan putrinya dengan begitu bahagia. Bu Widia juga mempersilahkan Sekretaris Han untuk masuk namun Pria itu justru menolak dengan alasan ada banyak urusan yang harus secepat nya ia urus.
" Kau tidak pulang bersama Arumi?" Bu Widia membubuhkan nasi di piring saat Binar masih mencuci tangan di wastafel.
" Tidak, Bu. Arumi pulang terburu-buru. Ia bahkan tidak berpamitan padaku," ujar Binar seraya melangkah menuju meja makan.
" Benarkah?" tanya Bu Widia kemudian.
" Iya, Bu. Sekuriti bilang dia sedang tidak sehat," balas Binar lagi.
" Ya sudah, nanti tanyakan keadaannya saat selesai makan siang," Bu Widia menambahkan sayuran lebih banyak di piring keramik putih yang tengah berada di hadapan Binar.
****
Sebuah mobil putih berhenti tak begitu jauh dari pekarangan Rumah Bu Widia. Binar yang tengah menyapu teras harus menghentikan kegiatannya sejenak, menatap seseorang yang perlahan lahan membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
" Arumi ...," Binar lantas meletakkan sapunya, buru-buru menghampiri Arumi yang tengah berjalan ke arahnya.
" Hai ...," Arumi menyapa. Wajahnya tidak secerah biasanya, mata dan hidungnya tampak merah, seperti habis menangis cukup lama.
" Kau kemana saja, Kenapa pulang tanpa berpamitan terlebih dahulu," Binar lantas menggandeng teman sekelasnya itu dan mengajaknya duduk tak di teras.
" Aku sedikit kurang sehat, kepala ku pusing," balas Arumi singkat. Ia membuka tas bermerek yang tengah bertengger di tangannya. Mengeluarkan sebuah bingkisan bewarna biru bermotif kartun kesukaan Binar.
" Aku lupa memberikannya padamu," Arumi menyerahkan bingkisan itu sembari tersenyum.
" Untukku? Dari siapa?" Binar meraih bingkisan itu ragu-ragu dan mengamatinya.
" Dari Pak Arya. Pak Arya bangga padamu," Arumi menambahkan.
" Oh begitu ya. Oh ya, aku menghubungimu berkali kali tapi ponsel mu tidak aktif, kau membuatku khawatir," Binar menekuk wajahnya, membuat Arumi terkekeh.
" Ponsel ku rusak, tapi aku baru saja membeli yang baru. Tetap hubungi aku di nomor yang biasa." Arumi memperlihatkan ponsel keluaran terbaru yang tengah ia pegang.
Saat keduanya masih asyik bercanda, mobil Sang Sekretaris justru tiba dan berhenti tak begitu jauh dari mobil Arumi.
" Seperti nya kau dijemput seseorang?" Arumi menatap Pria yang tengah menurunkan kaca mobil di depan sana. Binar menarik nafas panjang.
" Aku harus bekerja, mungkin akan pulang selepas isya," Binar menatap Pria dingin di depan sana. Memandangi langkah Pria itu hingga benar-benar berhenti di depan mereka.
__ADS_1
" Tuan memintaku untuk menjemput, nona." Pak Han tersenyum. Arumi lantas membuang muka. Lekas berdiri dari duduknya dan segera berpamitan untuk pulang. Binar menatap dengan perasaan tak menentu.
" Pamit lah lebih dulu pada Ibu," Pak Han meminta. Binar lantas berdiri, mengayunkan langkah dengan malas untuk berpamitan kepada Sang Ibu yang tengah membuat Teh.
" Aku akan pergi bekerja, Bu," Binar lantas mencium tangan Wanita itu dengan takzim.
" Tidak minum teh dulu?" ajak Bu Widia. Binar menggeleng seraya meninggalkan dapur di ikuti oleh Sang Ibu dari belakang.
Setelah berpamitan, keduanya lantas masuk ke dalam mobil. Binar melambaikan tangan sejenak, menatap Wanita yang telah melahirkannya itu lekat hingga mulai menghilang tertutup pepohonan.
" Kau selalu saja membuatku menunggu lama?" Alden mulai berkomentar saat Binar baru saja tiba di Apartemen miliknya.
" Jalanan sedikit macet, Tuan," Binar menatap sosok itu ragu-ragu. Kejadian tadi siang tiba-tiba membuatnya berdebar debar.
" Um baiklah. Seperti biasa, buatkan aku cappucino hangat dan temani aku duduk di balkon," pinta Alden acuh, ia lantas menutup laptop yang tengah berada di depannya. Memandangi Binar yang mulai menghilang di balik pintu.
" Wajahnya terlihat tidak begitu senang, Apakah setangkai mawar yang ku berikan tidak berarti apa-apa baginya?" Alden melipat kedua tangan di dada, lantas beranjak pergi menuju balkon.
Seperti biasa, bila tidak terhalang mendung, langit akan memerah saat sore menjelang. Pemandangan yang sangat indah, sudah nyaris terlupakan oleh sibuknya rutinitas.
Setelah menunggu beberapa menit, Binar muncul dan berdiri di samping Alden setelah meletakkan segelas cappucino hangat di meja kecil yang tidak begitu jauh darinya. Ia berfikir sejenak, entah sejak kapan di balkon ini ada sofa panjang dan sebuah meja. Biasanya tidak ada.
" Tuan, Kenapa suka sekali berdiri di balkon saat sore begini?" tanya Binar, ia berkali kali harus merapikan rambut panjangnya yang tertiup angin.
" Mengenang mantan!" Alden terkekeh, memperhatikan raut wajah Binar yang seketika berubah.
" Cinta pertama memang sulit di lupakan," lirih Binar.
" Kulihat kau sedang membawa bingkisan, dari siapa?" tanya Alden.
" Dari Pak Arya," balas Binar.
" Hah! Kalian bertemu?" Alden menatap, menyelidik serta menyambar bingkisan yang berada dalam genggaman Binar.
" Tuan apa-apaan sih?" Binar kembali menyambar bingkisan itu. Bingkisan itu lantas berkali kali berpindah tangan.
" Tuan cemburu!" Binar menuduh. Alden lantas menelan ludah, tenggorokan nya tiba-tiba terasa tandus.
" Cemburu darimana?" Alden gengsi dan seakan tak terima dengan apa yang dituduhkan pelajar SMA itu.
" Tuan seharian duduk bersama Wanita cantik tapi aku biasa saja!" Komentar gadis belia itu lagi.
" Wanita cantik?? Maksudmu Mommy?" Alden balas menatap.
" Jangan salah paham, Wanita yang kau maksud itu Mommy," Alden menambahkan lagi.
" Mommy? Tuan terlihat galak tapi ternyata anak Mommy!" gerutu Binar lagi.
" Apa!"
Alden tiba-tiba kehabisan kata-kata. Ia lantas menyambar segelas Cappucino hangat yang berada di atas meja lalu meneguknya tanpa tersisa. Ia malah berfikir akan menelan minuman itu beserta gelas-gelasnya.
" Benar-benar menguras emosi!"
__ADS_1