
Bab 9
" Besok kita akan ke Rumah Sakit, aku ingin berkenalan dan menjenguk calon mertuaku," Alden Menutup rapat pintu serta membenahi tirai yang terbuka sebagian.
" Calon mertua?" Binar mengulang pernyataan Sang CEO.
" Iya ... Kan sudah jelas bahwa kau jatuh cinta padaku," Alden menambahkan kalimat dengan percaya dirinya dan ikut duduk di samping Binar. Binar menggeser tubuh perlahan.
" Apa Tuan juga jatuh cinta padaku?" Binar memberanikan diri menatap sosok itu.
" Kelihatannya bagaimana?" Alden bertanya balik, keduanya lantas saling menatap.
" Laki laki dewasa tidak perlu banyak omong tentang cinta, cukup lihatlah dari caraku memperlakukanmu," Alden melanjutkan dan tanpa Binar sadari pipinya yang pucat bersemu, merona indah kemudian tersipu malu-malu.
" Aku akan berusaha menjadi pintar dan cantik seperti yang Tuan harapkan," lirih Binar nyaris tak terdengar.
" Aku tak mendengarnya, coba ulangi ..." Alden tersenyum seraya mendekatkan diri ke arah Binar.
Binar terlihat gugup.
" Aku ... Akan menjadi ... pintar dan cantik ...." Binar menghentikan kata katanya.
" Lalu ..." Alden menahan tawa meski sesuatu terasa menggelitik hatinya, membuatnya merasa seperti remaja umur 16 tahun yang tengah terjebak cinta monyet.
" Menjadi .... Pintar dan cantik ... Seperti yang Tuan harapkan," Binar melanjutkan seraya curi-curi pandang ke arah Alden. Ia berharap sosok itu tidak lantas menertawakannya.
" Apa ???" Alden pura pura tidak mendengar dan terus terusan menggodanya.
" Sudahlah ... Lupakan!" Binar menunduk dengan wajah tertekuk.
" Ayo ... Katakan sekali lagi, jangan malu-malu," Alden lantas mengangkat dagu Binar dan membiarkan sosok itu menatapnya dengan berani.
" AKU AKAN MENJADI PINTAR DAN CANTIK SEPERTI YANG KAU INGINKAN ....!!" suara Binar melengking seketika membuat Alden menutup kedua telinganya lalu tertawa terbahak bahak.
" Tuan mengerjai ku?" Binar kembali mengerucut, menyesali tindakan bodohnya yang membuatnya terlihat tak punya harga diri. Alden kembali terkekeh hingga membuat Binar beranjak dan hendak pergi, namun Alden lantas menarik lengan gadis itu hingga membuatnya jatuh tepat dalam pelukan Sang CEO.
" Bagaimana rasanya jika seperti ini ..." bisik Alden. Ia menatap setiap lekuk wajah gadis itu, memandang jauh ke dalam sepasang netranya yang teduh. Hingga ... Alden merasa inilah momen terbaik untuk berciuman, ia lantas mendekatkan wajahnya hingga berjarak beberapa senti saja. Ia memandangi sepasang bibir mungil itu dan ...
__ADS_1
" Tuan, jangan menciumku ...!" Binar berteriak sembari menutup mata kemudian menempelkan telapak tangannya tepat ke arah bibir Sang CEO.
Alden tersentak dan melepaskan pelukannya hingga membuat Binar bisa lolos dan berlari.
" Sudah ku bilang jangan menciumku, aku belum pernah berciuman dengan laki laki manapun!" ujar Binar kemudian.
Keduanya tiba-tiba menjadi canggung, Alden terlihat salah tingkah demikian pula dengan Binar yang bingung harus memulai obrolan dari mana.
" Tuan, sebaiknya aku pulang saja,"
Binar mendekati Alden yang terlihat mengambil laptop dan mulai sibuk dengan laptopnya.
" Tidak untuk malam ini," balas Alden pendek.
" Tuan ...." Panggil Binar lagi.
" Hm ..." balas Alden.
" Aku minta maaf," lirihnya kemudian.
" Tuan marah?" Binar lantas mendekati sosok yang masih betah memandangi layar laptopnya.
" Tidak, hanya ada file yang harus di urus secepatnya," ujar Alden lagi.
" Benar ...?" Binar bertanya penuh selidik.
" Iya .... Sayangku," balas Alden lagi. Binar lantas tersenyum dan mendaratkan dagunya pada bahu Sang CEO.
" Foto siapa itu?" Binar menatap sosok cantik bergaun pengantin yang ada di layar laptop Alden.
" Leony namanya ..." Balas Alden santai.
" Pacar?" tanya Binar kemudian. Alden lantas menatap Binar yang berada tepat di sampingnya.
" Mantan ..." Bisik Alden.
" Aku bukan tipe laki laki yang diam-diam mengencani dua wanita sekaligus," lanjut Alden.
__ADS_1
" Cantik sekali. Tuan masih menyimpan foto fotonya?" selidik Binar. Alden tak menyahut, ia bahkan membuka lebih banyak file yang berisi foto-foto mereka semasa kuliah.
" Aku punya lebih banyak, lebih kurang 200 foto berisi tentang nya," jelas Alden lagi.
" Apa Tuan masih menyukainya ....?" Binar bertanya ragu-ragu.
" Menurutmu?" Alden meletakkan laptopnya sejenak kemudian mengambil ponselnya. Kini Pria bertubuh atletis itu mulai sibuk dengan benda pipih itu. Binar hanya menatap tanpa berani berkomentar lebih jauh.
" Jika seseorang pergi meninggalkan kita, jangan lantas menghapus setiap kenangan yang tertinggal darinya. Terima saja, lihat dan pandang lah terus sampai kau benar-benar bosan untuk mengenangnya, kemudian rasa itu akan memudar dengan sendirinya." Jelas Alden yakin. Demikianlah cara terbaik yang ia pakai agar bisa berdamai dengan masa lalu. Menerima dan melepaskannya.
" Sepertinya, dulu Tuan begitu mencintainya," lirih Binar.
" Aku pernah mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri sampai aku tahu seperti apa sakitnya dikhianati," balas Alden.
" Lalu bagaimana dengan mu, Apa ada seseorang yang pernah kau sukai atau sedang kau sukai di sekolahmu?" Alden balik bertanya.
" Aku tak punya teman laki laki yang disukai tapi ..." Binar tampak ragu meneruskan kalimat selanjutnya.
" Tapi apa?" Alden tampak tertarik dengan penjelasan terpotong yang menggantung rasa ingin tahunya.
" Tapi .... ada seorang guru yang aku sukai," Binar tampak malu-malu menjelaskannya.
" Siapa?" tanya Alden cepat.
" Pak Arya, guru olahraga kami di sekolah," lirih Binar.
Alden tak menyahut, Ia lantas mengambil ponselnya kemudian beranjak menuju kamar mandi. Pria itu lantas membasuh wajahnya sejenak sembari menatap wajah tampannya pada cermin.
Lama terdiam, Alden lantas mengetik beberapa kode pada ponselnya kemudian melakukan panggilan telepon pada sekretaris Han.
" Halo ..."
" Iya, Tuan Muda ... " sahut Sekretaris Han cepat.
" Segera mutasi guru olah raga yang bernama Arya, aku ingin secepatnya!" perintah Alden cepat. Ia kembali menatap lekat wajah tampannya pada cermin dan tersenyum.
" Hanya aku yang boleh kau sukai, Binar ..." lirihnya.
__ADS_1