KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 24


__ADS_3

Bab 24


Untuk pertama kalinya sepanjang ia mengenal Alden Alexander, Binar melihat raut kecemasan pada wajah sosok tampan itu. Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, Alden memilih diam. Mobil itu sepi tanpa musik atau obrolan kecil seperti yang biasa mereka lakukan. Semua fokus pada pikiran masing-masing. Hanya sesekali terdengar deru nafas Bu Andine saat menghela nafas berat. Binar merasa bersalah akan hal ini.


Sekretaris Han mempercepat laju kendaraan nya hingga tak membutuhkan waktu yang lama, mobil itu akhirnya memasuki sebuah halaman luas dengan taman bunga berbentuk lingkaran, pohon-pohon Cemara membentuk barisan pagar, rapi dan sangat terawat.


" Ikuti aku," Bu Andine melangkah lebih dulu di ikuti Alden, Binar dan Sang Sekretaris.


Mengingat hal yang akan mereka bahas merupakan hal yang begitu privasi, Bu Andine memilih mengumpulkan orang-orang yang terlibat dalam masalah ini dalam ruang kerja Antonio Alexander, mendiang suaminya dulu.


" Silahkan duduk," pinta Bu Andine serius. Ah kondisi formal seperti ini benar-benar membuat Alden serasa menghadapi sidang besar. Ia tak hanya memikirkan dirinya sendiri, melainkan memikirkan nasib Pelajar SMA yang kini duduk di sampingnya.


" Sudah berapa lama kalian berhubungan?" Bu Andine melontarkan pertanyaan menohok, pertanyaan yang lebih tepatnya disebut tuduhan.


" Alden dan Binar tidak memiliki hubungan apa-apa, Mom!" Alden menerangkan. Binar hanya menunduk. Demikian memang benar adanya, mereka berdua tidak terikat hubungan apapun, terlebih hubungan intim seperti yang di tuduhkan orang-orang.


" Jangan bicara omong kosong, Alden!" Bu Andine menatap putranya tajam.


" Aku serius, Mom. Memang ..., Aku dan Binar cukup dekat akhir-akhir ini tapi hubungan kami hanya rekan. Aku memberi Binar pekerjaan dan dia bekerja untuk ku, itu saja." Alden menambahkan.


" Alden! Mommy bukan anak kecil lagi! Bagaimana mungkin seorang Pria dewasa berada dalam satu kamar Apartemen bersama seorang gadis muda itu tidak terjadi apa-apa? Omong kosong apa ini!" Bu Andine benar-benar tak percaya.


" Bu ..., Aku minta maaf, ini semua salahku," Binar menyela pembicaraan keduanya. Bu Andine lantas memandang gadis itu serius.


" Kalian berdua sama-sama salah!"


" Mom, aku yang salah, aku yang membawanya ke Apartemen malam itu!" Alden seperti nya tidak perlu berkilah lagi.


Sekretaris Han tampak meremas jemarinya sendiri. Pria itu terlihat serba salah.


" Lihat Pak Handika. Mereka berdua justru saling membela. Aku penasaran seperti apa awal mulanya mereka bertemu! Tentu kau terlibat dalam masalah ini," tuduh Bu Andine. Sekretaris Han menarik nafas dalam-dalam.

__ADS_1


" Nyonya, sebenarnya, malam itu Tuan memintaku membawa seorang gadis "virgin" untuk di ajak menghabiskan malam bersamanya," Pak Han menatap Sang Tuan Muda yang sesekali berdecak kesal. Ia bahkan memijit pelipisnya, antara rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu dalam benaknya.


" Wah, benarkah? Cinta satu malam?" Bu Andine terbelalak.


" Mom, sungguh tidak terjadi apa-apa! Alden tidak melakukan apapun padanya, sungguh!" Sela Alden gusar.


" Diam kau anak nakal! Lanjutkan Pak Handika," Bu Andine tidak mau tahu dengan penjelasan putranya itu.


" Setelah itu aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya mengantarkan Binar sampai di kamar Tuan Muda." lirih Sang Sekretaris lagi. Ia lantas memandang Sang Tuan Muda dan sosok itu justru meraup wajah kasar.


" Jika begini fix, akan ada pernikahan dadakan setelah ini!"


" Apa???" Alden dan Binar serempak, menatap Bu Andine yang kini malah melipat kedua tangan di dada.


" Mom, it is not like whatever you think!" Alden tampak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


" Sungguh tak terjadi apa-apa diantara kami! Aku tidak menyentuhnya sedikitpun!" Alden serius menyakinkan Sang Ibu.


" Sungguh Mom, Tanyakan pada Pak Han! Aku bukan laki-laki seperti itu!" Alden lantas manarik nafas dalam-dalam, ia bingung harus menjelaskan bagaimana lagi.


" Benar Nyonya. Selama ini Tuan tidak pernah membawa wanita ke Apartemen untuk bersenang-senang," Sang Sekretaris meyakinkan seraya melempar pandang pada Sang CEO berulang kali. Keduanya saling pandang, berusaha kompak meyakinkan Bu Andine.


" Jika benar tidak terjadi apa-apa justru itu membuatku semakin khawatir ...," Bu Andine menatap Alden dan Pak Handika secara bergantian.


" Jangan-jangan putraku tidak normal!"


" Maksud Mommy??" Alden membulatkan kedua netra, berusaha menepis fikiran negatif yang tiba-tiba muncul.


" Maksud Mommy, setelah putus dari Leony bisa saja kau berbelok!" tuduh Sang Ibu lagi.


" Apa?? Berbelok?? bicaralah yang jelas, Mom!" Alden merasa terpojok oleh kata-kata Sang Ibu yang barusan.

__ADS_1


" Ya bisa saja kau mulai tertarik pada Pak Handika misalnya ...,"


" Apa???"


Kini Sang CEO dan Sang Sekretaris kompak menyahut dan kemudian saling memandang.


" Lihat, kalian bahkan berani saling menatap di depan ku!" respon Bu Andine cepat.


" Astaga! Omong kosong apalagi ini!" Alden merasa darahnya membeku, kaki dan tangannya menjadi dingin saat membayangkan tuduhan ibunya yang teramat menjijikan itu.


" Nyonya, itu tidak mungkin! Aku tidak tertarik sedikitpun dengan Tuan Alden!" terang Pak Handika kemudian.


" Sama akupun demikian. Membayangkannya saja justru membuatku mual!" Alden membuang muka. Harga dirinya nyaris ternoda dengan tuduhan yang demikian.


" Baiklah, kalau memang tidak terjadi apa-apa, kita cari cara lain untuk membuktikan semua ini!" Bu Andine kini menatap Binar yang masih menunduk.


" Hai cantik, Siapa namamu?" Bu Andine memperlihatkan senyum ramahnya.


" Aku .... Aku ...namaku Binar Kinasih, Bu," sahut gadis belia itu terbata.


" Ok. Binar Kinasih, Apa sebelum bertemu putraku, kau benar-benar masih perawan?" Bu Andine menatap tajam, menelisik hingga ke dalam hati gadis muda itu. Binar mengangguk.


" Benar, Bu! Aku belum di sentuh oleh siapapun," balas Binar yakin karena memang demikianlah kenyataannya.


" Ok ... Kalau begitu mari kita lakukan prosedur medis melalui Tes Keperawanan. Apa kau setuju?" Bu Andine menatap satu-persatu wajah-wajah yang kini ada di depannya.


" Aku bersedia, Bu." Sahut Binar yakin.


" Bagus sekali! Jika terbukti kau masih suci maka ini akan membungkam skandal yang sedang beredar dan ini tentunya akan menyelamatkan harga dirimu dan citra baik putraku sendiri," Bu Andine tersenyum puas.


" Pak Handika segera atur waktu untuk masalah ini," tambah Bu Andine lagi.

__ADS_1


__ADS_2