
Bab 18
Hari-hari menjelang perlombaan berlalu dengan mulus. Meski sampai hari ini Binar masih bertanya-tanya Siapa yang mendalangi semua teror yang terjadi padanya beberapa hari belakangan. Jujur, ia masih penasaran. Masih sesekali khawatir bila teror itu tiba-tiba datang kembali dan membuat kekacauan saat acara perlombaan nanti.
Besok pagi adalah hari dimana perlombaan akan di mulai, Binar membaca beberapa informasi di mading sekolah bahwa lomba ini akan di nilai oleh orang-orang yang mampuni di bidangnya. Ia juga membaca sekilas tentang dua orang tamu istimewa yang di undang dalam acara tersebut. Satu diantaranya tentu sudah tak begitu asing lagi baginya, Alden Alexander selaku penyalur dana terbesar dan yang mensponsori berbagai hadiah dalam perlombaan, satu lagi merupakan sosok Wanita cantik berwajah oval yang terlihat begitu manis dalam balutan dress bewarna Moka. Wanita itu sering di juluki triple A atau Andine Alga Alexander tapi Binar belum pernah melihat wanita itu sebelum ini jadi ia tidak begitu tahu banyak tentang identitasnya.
Binar kembali menatap majalah dinding itu lekat, menatap foto Sang Tuan Muda dalam balutan jas hitam rapi lengkap dengan senyum manisnya. Sungguh Pria yang sempurna, tak ada satupun kurangnya dari sosok itu, wajah dan hatinya seirama. Mempesona.
'Bagaimana mungkin aku menaruh hati pada sosok luar biasa seperti, Tuan?' Binar membatin, merasa kehilangan percaya diri tiap kali bertemu sosok itu.
" Lihat itu, foto pacarku!" Arumi muncul dengan tiba-tiba, membuat Binar terlonjak sembari mengusap dada. Kaget.
"Siapa?" tanya Binar kemudian.
" Itu ..., Alden Alexander. Kami sering menghabiskan malam dengan bertukar cerita via chatting," lirih Arumi. Binar lantas menunduk, tiba-tiba ia merasakan pedih dengan setiap penuturan sahabatnya itu.
'Benarkah demikian?' batin Binar seraya menatap Arumi yang tampak bahagia.
'Jadi ternyata Tuan baik kepada semua orang' Binar membatin kecewa. Ia lantas tersenyum, berusaha melerai kekecewaannya.
" Besok adalah hari mu, sobat. Semangat!" Arumi menyemangati Binar kemudian mencolek hidungnya seraya tertawa. Keduanya lantas berjalan beriringan menuju kantin.
***
Selesai makan siang, Alden lantas meninggalkan kantor menuju kediaman keluarga besarnya yang sudah lama sekali tak ia sambangi. Semenjak putus dari Leony, ia lebih suka tinggal di Apartemennya ketimbang pulang ke rumah. Meskipun demikian, baik di rumah atau di Apartemen baginya sama saja, ia tetap kesepian, malam-malamnya tetap sunyi. Sampai hari itu, hari pertama ia bertemu dengan gadis SMA yang membuat hidupnya berubah, mencair dan bewarna kembali seperti dulu.
Alden dikagetkan oleh getar postel yang masih berada dalam saku, ia lantas meraih benda pipih itu kemudian mengamati layar sejenak. Sebuah panggilan telepon masuk untuk ketiga kalinya dari orang sama yaitu Sang Ibu.
Alden memilih untuk mengabaikannya dengan alasan sedang menyetir juga karena sebentar lagi akan tiba di rumah.
__ADS_1
Menempuh satu jam perjalanan, mobil mewah itu memperlambat lajunya dan segera memasuki lingkungan rumah mewah bergaya eropa lengkap dengan sebuah taman hijau yang terletak di tengah-tengah halaman. Mobil itu tetap melaju meski dengan perlahan. Alden menepikan mobil sejenak kemudian menatap bangunan besar di depan sana. Tiba-tiba muncul rasa rindu di hatinya, terlebih saat melihat Sang Ibu yang tengah melambaikan tangan di kejauhan.
" Oh, akhirnya putraku pulang!" Seru Bu Andine seraya memeluk putra semata wayangnya itu.
" Mom, Alden bukan anak kecil lagi, cepat lepaskan pelukannya," pinta Alden. Ia merasa sedikit canggung dengan tatapan para pelayan yang berdiri tak begitu jauh dari mereka.
" Tapi bagi mami, kau tetap putra kecilku," balas Bu Andine seraya merenggangkan pelukannya.
" Ayo kita masuk," ajak wanita cantik itu kemudian.
Keduanya lantas melangkah mendekati pintu utama. Bu Andine mendorong pintu perlahan lahan. Saat pintu itu terbuka, Alden mematung, wangi aroma mawar terbawa angin menerpa wajahnya, membuat sosok itu merasa terbawa lagi pada masa-masa dimana ia masih remaja. Ornamen-ornamen indah di dalam rumah itu, lampu-lampu kristal yang menggantung serta berbagai lukisan dengan ukuran raksasa yang bertengger di atas sofa mewah itu membuatnya teringat mendiang Sang Ayah saat masih hidup. Tawa dan setiap ucapan semangat dari sosok itu masih terasa segar dalam ingatan. Alden terpaku.
'Sudah begitu lamanya aku tidak pulang tapi kenangan beberapa tahun yang lewat terasa masih segar' batinnya kemudian.
" Mami sengaja tidak mengubah setiap bagian rumah ini karena dengan demikian, mami masih bisa merasa berada dalam keluarga yang utuh walau kenyataannya sudah tidak," lirih Wanita itu dengan netra berkaca-kaca. Alden lantas memeluk sosok itu, sosok yang sudah begitu lama jauh darinya.
" Maafkan Alden, Mom. Alden membuat mommy terlalu lama menunggu," bisik Alden, hatinya terasa pedih, terasa menyesal telah membiarkan Wanita yang telah membesarkannya dengan susah payah itu kesepian. Bu Andine menggeleng lemah.
" Aku merindukanmu, Alden Alexander. Putra terbaik ku ...,"
Alden lantas mengeratkan pelukannya, membiarkan Sang Ibu menangis, menumpahkan setiap rindu dengan tetesan air mata.
Usai pertemuan yang begitu mengharu biru, Alden menyusuri setiap ruangan yang benar-benar tidak berubah sama sekali. Tangga melingkar dengan ukiran-ukiran mawar bewarna keemasan itu masih sama, masih terlihat mewah meski telah lama tidak dalam pandangan. Alden lantas memasuki lift menuju lantai tiga, lantai dimana menyimpan lebih banyak kisah remajanya bersama Leony.
Alden kemudian membuka sebuah pintu, pintu kamar tidurnya dahulu. Pria itu kembali mematung di ambang pintu. Semua yang berada dalam penglihatannya tetaplah sama seperti dahulu. Foto-foto kenangan waktu masih SMA bersama Leony membuat Pria itu berkaca-kaca. Ia begitu tak menyangka, nyaris seluruh masa sekolahnya hanya di isi oleh satu wanita saja, Leony seorang.
" Oh ...,"
Alden mengusap wajah sejenak, merebahkan diri pada tempat tidur. Ia mengutuki diri sendiri!
__ADS_1
" Ck! Bagaimana mungkin separuh hidupku hanya di isi oleh Leony seorang?" Alden berdecak kesal.
Alden lantas memencet tombol merah di dinding. Tak berselang lama, seorang pelayan wanita datang dan menanyakan keperluannya.
" Tuan Muda, Ada yang bisa saya bantu?" Pelayan itu tampak menunduk saat Alden menoleh ke arahnya.
" Singkirkan semua benda yang ada di kamar ini! ganti dengan yang baru!" perintah Alden kemudian. Pelayan itu lantas mengangguk dan berpamitan. Alden kemudian beranjak, membuka sebuah pintu yang akan membawanya pada sebuah balkon. Balkon yang menjadi jalan untuknya dan Leony melarikan diri jika Sang Ayah melarang mereka menonton konser dahulu.
" Ais ..., lagi-lagi Leony! Kenapa semuanya hanya tentang dia! Enyah lah penghianat!" Alden memaki Leony! memaki dirinya sendiri yang begitu bodoh telah mempercayai orang yang salah.
Mendapat laporan dari sang pelayan, Bu Andine segera menyusul Alden menuju lantai tiga. Ia lantas memasuki ruang kamar tidur Alden saat Pria itu masih betah berada di balkon. Wanita itu tampak begitu hati-hati dengan perasaan putranya yang sering kali berubah tak terkendali. Ia menatap bahu putranya yang tengah berdiri di balkon dengan perasaan tak menentu, hendak bertanya namun takut membuat sosok itu kembali pergi dari rumah. Suara high hell Bu Andine membuyarkan lamunan Alden, Pria itu lantas menoleh dan membiarkan Sang Ibu mendekat ke arahnya.
" Ku dengar kau ingin mengganti ...,"
" Itu benar!" sahut Alden cepat.
" Aku tidak suka dengan design kamar yang begitu-begitu saja!" balas Alden lagi. Bu Andine menarik nafas dalam-dalam, menatap Sang Putra, berusaha mengeja kalimat apa yang hendak ia ucapkan agar tidak menyinggung perasaan Sang Putra.
" Kau sudah berubah, Alden. Kau semakin dewasa," Bu Andine tersenyum. Berusaha membuang kenangan tentang masa lalu Alden yang begitu dibencinya.
" Besok kita akan menghadiri acara perlombaan di sekolah dan Mommy sudah siapkan setelan jas terbaik untu mu, ku pesan langsung dari designer kepercayaan ku," Bu Andine memecah sunyi, melerai perang batin yang tengah menguasai hati putranya.
"Apa sungguh yakin ingin ikut?" balas Alden. Bu Andine menarik nafas lega, akhirnya Sang Putra merespon dengan lembut.
" Tentu! Aku suka melihat lomba yang di isi oleh anak-anak yang berprestasi," Bu Andine tersenyum, dalam hati ia berharap agar sosok Pria tampan di sampingnya itu mau menyebutkan satu nama, satu nama gadis yang telah mengisi hatinya.
" Really? Tanpa ada alasan lain?" Alden menatap. Bu Andine merasa terpojok dengan tatapan itu. Alden benar-benar mirip Ayahnya, kata-katanya tajam, tak banyak basa-basi dan selalu bisa menebak ujung dari setiap pembicaraan.
" Ah! Tentu saja!" sahut Bu Andine singkat. Ia lantas menoleh ke arah taman, menatap air mancur dari lantai tiga rumahnya. Alden lantas tersenyum, bukan tak ingin berbicara masalah hati tapi untuk memberitahu Sang Ibu sekarang bukanlah perkara mudah terlebih saat ini Binar masih dalam proses menjadi lebih baik.
__ADS_1
'Ibu boleh menunggu, sampai aku berhasil memperjuangkannya,' batin Alden kemudian.