KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 17


__ADS_3

Bab 17


" Kalau begitu akan ku blokir saja," ujar Sekretaris Han santai, ia merasa tidak fokus bekerja lantaran nyaris tiap menit ponselnya bergetar dan pesan yang ia dapatkan juga tak kalah bikin terkejut lagi. " " Huh! Anak SMA ini benar-benar!" lirih Pria itu lagi. Alden hanya menatap namun tiba-tiba ia segera menghentikan tindakan yang hendak dilakukan sekretarisnya itu.


" Jangan di blokir! Biarkan saja ..., respon seadanya," ujar Alden cepat. Sang Sekretaris lantas menghentikan gerakan tangannya kemudian menatap, meminta penjelasan dari tindakan yang demikian.


" Pak Han, anak itu tahu tentang kedekatan ku dengan Binar. Aku tak mau ada gosip yang tidak-tidak di sekolah." Terang Alden, mengutarakan dengan jelas maksud dan tujuannya membiarkan Sekretarisnya dan Arumi tetap menjalin komunikasi walau itu sangat mengganggu.


" Baik lah kalau begitu, akan ku lakukan seperti yang Tuan pinta," Sang Sekretaris menunduk sejenak kemudian berpamitan.


" Beri tahu aku jika ada sesuatu yang penting," pesan Alden singkat. Ia lantas beranjak meninggalkan kamar kemudian menghampiri Binar yang sedang duduk di sofa.


" Kelihatannya Tuan dekat sekali dengan pak handika?" Selidik Binar, menatap sosok itu yang mulai hilang di balik pintu Apartemen.


" Dia orang kepercayaan keluargaku, sejak kecil memang di didik dalam lingkungan keluarga Alexander. Dia bisa merangkap jadi apa saja, Sekretaris, sahabat, teman, rekan bisnis, bodyguard dan berbagai kemampuan lain yang tak bisa ku jelaskan," jelas Alden.


" Apa dia punya keluarga?" Binar tampak tertarik dengan kehidupan Pria yang terlihat begitu kaku dalam setiap tindakannya.


" Dia bercerai tiga tahun yang lalu, seorang single parent." Sahut Alden. Binar mengangguk, mencoba memahami setiap penjelasan yang di utarakan Sang Tuan Muda.


" Oh ya, kalau begitu aku akan review pidato bahasa inggris mu itu, mana naskahnya?" pinta Alden sembari mengulurkan tangan. Binar lantas merogoh saku, mengeluarkan selembar kertas yang telah di lipat dengan bentuk pesawat terbang. Alden mengamati kertas itu sejenak kemudian menggeleng lemah, tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Kenapa?" Binar menatap tak bingung.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya saja merasa sedikit geli dan tak menyangka di usiaku yang sekarang aku masih bisa melihat kertas dengan bentuk seperti ini," balas Alden pendek. Ia lantas membuka lipatan kertas itu dan merapikan setiap bekas lipatan yang tercetak jelas.


" Ini tulisan tangan mu?" Alden menatap. Binar mengangguk.


" Ada yang salah, Tuan?" tanya Binar kemudian.


" Rapi sekali, kau pasti mengerti sastra," sahut Alden seraya menatap paragraf pertama dari naskah pidato itu.


" Umur 16 tahun tapi susunan grammar mu nyaris sempurna," puji Alden. Ia lantas beranjak menuju nakas, mengambil pena merah yang tergeletak tak begitu jauh dari laptopnya. Ia lantas mencoret dan melingkari beberapa bagian yang menurutnya harus diperbaiki.


" Banyak typo, lihat ini untuk penulisan lady harusnya ditulis ladies dan untuk paragraf kedua," ia lantas mengomentari banyak hal yang keliru.


" Nanti sore, sekretaris Han akan mengantar mu pulang, Ibu sudah pulang dari rumah sakit dan baru saja tiba di rumah," ujar Alden setelah mereview berbagai typo yang ada pada naskah pidato itu.


"Benarkah, Tuan?" Binar menatap, kedua sorot mata itu berbinar, penuh kegembiraan. Alden mengangguk.


" Berani sekali memelukku ...," lirih Alden kemudian. Binar tersenyum sembari mendaratkan dagu pada pundak Pria tampan itu. Ia tahu pasti bahwa sosok itu tidak akan mungkin menolak pelukannya.


" Ah, ayo lepaskan ..., tidak baik memeluk Pria dewasa di ruangan tertutup seperti ini," ujar Alden lagi, walau demikian ia membalas pelukan itu, melingkarkan kedua lengannya, mendekap sosok itu erat. Tubuh ramping itu tampak tenggelam dalam rangkulan tangan berotot itu.


" Belajarlah yang rajin, buatlah aku bangga," bisik Alden. Ucapannya tulus, lirih suaranya menerbangkan aroma mint dari setiap hembusan nafasnya. Jangan ditanya bagaimana kondisi hatinya, ia bahagia sekali. Baginya sangat sulit sekali bisa berada dalam situasi dekat seperti ini dan Alden tentu tidak akan menolak apalagi menyia-nyianya.


Dan dalam setiap kata tidak dan penolakan yang Binar ucapkan, Alden justru tertantang untuk mendekatinya, semakin Binar berupaya menjauh, semakin Alden berusaha meraihnya. Sikap polos dan jaim itu membuat Alden suka, membuat Pria itu nyaman berlama lama di dekatnya.

__ADS_1


" Aku menulis nomor ponsel ku di belakang kertas pidato mu, telpon aku jika sudah tiba di rumah," bisik Alden kemudian.


Ah, Tuhan memang punya banyak cara dalam mempertemukan sesuatu, membuat sebuah skenario sederhana dan menumbuhkan perasaan di antara keduanya. Meski tak ada yang tahu kemana takdir akan membawa namun inilah realita cinta, datang dan pergi tanpa bisa kita tahan dan tak bisa memilih kepada siapa cinta kita akan bertumbuh.


***


Malam itu, seusai kepergian Binar, hujan deras justru mengguyur Ibu Kota. Meski demikian, Alden masih berdiri di balkon Apartemennya, menikmati rintik hujan dan hembusan angin malam. Malam ini Alden sendiri, melepaskan Binar untuk kembali ke rumah merupakan perkara berat baginya, tapi apa daya, keberadaan Binar di Apartemen itu saat malam hari akan memicu kesalahpahaman orang-orang yang melihatnya. Bagaimana pun juga, mereka adalah dua orang dengan berlainan jenis dan tengah sama-sama merasakan suka, sangat tidak di anjurkan untuk bersama sama dalam satu atap tanpa adanya ikatan pernikahan. Alden akan menunggu, menunggu tiga tahun lagi seperti yang diucapkan oleh sosok belia itu.


Meski pernah tertipu dengan kata menunggu, tapi Alden justru menaruh harapan sekali lagi, pada seseorang yang padanya pula ia titipkan rasa meski sampai hari ini ia belum mengucapkannya. Perasaannya pada gadis itu begitu sederhana, hanya sebatas jemari bersentuhan, tatapan mata dan sebuah kecupan kecil di pipi yang sampai detik ini ia tidak bisa melupakannya. Sebuah cinta dalam bentuk tindakan, tidak banyak basa-basi dan tidak ada tuntutan.


Walau demikian, ini adalah kisah cinta cinderella modern, gadis miskin yang tak punya apa-apa dan dengan berani menaruh hatinya pada Pria yang memiliki segala-galanya. Untuk itulah, gadis belia itu tak punya cara lain selain memantaskan diri, agar terlihat cocok dan serasi untuk Pria itu, Pria yang padanya pula ia diam-diam menaruh mimpi agar bisa hidup bersama suatu hari nanti, semoga.


Alden beranjak meninggalkan balkon, menutup pintu itu rapat-rapat lalu menguncinya. Ia mengidarkan pandangan menyapu seluruh ruangan, sepi, hanya rintik hujan yang terdengar memecah sunyi. Ia lantas melepas piyama yang terasa lembab terkena rintik hujan dan menggantinya dengan yang baru.


" Mengapa tak ada panggilan video darinya?" Alden berharap. Menatap sofa putih di depannya justru membuatnya merasa seakan-akan melihat Binar tengah tersenyum padanya. Namun, saat ia mencoba mengerjab beberapa kali, tak ada siapa-siapa di sana, yang ada hanyalah sebuah boneka Doraemon pemberian Arumi yang ternyata lupa Binar bawa. Alden menarik nafas panjang, menatap lampu kristal yang menggantung di langit-langit kamarnya.


" Bisa-bisa gila kalau begini terus," lirihnya.


Di lain tempat, Sekretaris Han yang baru saja memarkirkan mobil di garasi rumahnya justru kembali dikagetkan dengan masuknya panggilan video dari Arumi. Ia lantas melirik benda pipih itu sejenak, ada rentetan pesan singkat dari Pelajar SMA itu yang membuatnya harus membanting pintu mobil dengan keras, kesal.


( Pak Alden, disini hujan deras, Arumi kedinginan)


Sekretaris Handika langsung meng-screenshot pesan itu dan mengirimnya pada Sang Tuan Muda. Alden yang menerima pesan singkat itu lantas memuntahkan cappucino hangat yang baru saja ia minum.

__ADS_1


" Astaga, Apa apaan bocah ini!" gerutu Alden kemudian. Ia lantas meraih tisu dan mengusap bibirnya.


"Seandainya Binar yang mengirim pesan itu," lirih Alden. Wajahnya seketika berubah datar dan penuh harap.


__ADS_2