
Bab 31
Siang itu, Pak Handika memutuskan untuk mengantar Leony pulang terlebih dahulu. Tadinya, Leony memang ingin mengajak Alden untuk bicara empat mata, namun sosok yang hendak di ajak berbicara tampaknya tengah berada dalam situasi hati yang tidak baik. Dan lagi lagi, Leony harus menerima penolakan Alden.
Mobil mewah bewarna hitam itu lantas menepi di depan rumah mewah bergaya Eropa milik keluarga besar Alexander. Bu Andine sudah sejak tadi berada di meja makan. Sebelumnya, mereka memang berjanji untuk makan siang bersama di rumah. Alden mempercepat langkahnya menuju meja makan diikuti Sang Sekretaris yang tak pernah bisa jauh dari sosok itu. Tak jauh dari meja makan, seorang wanita dalam balutan dress merah muda tampak tersenyum dan memberi kode pada mereka untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Alden yang tiba di meja makan lantas menatap berbagai hidangan yang terlihat masih hangat dan sangat menggugah selera.
"Mommy yang masak semuanya?" Alden bertanya seraya meraih sumpit dan perlahan mendekatkan benda itu pada salah satu hidangan yang tengah tersaji.
Belum sempat sumpit itu menyentuh menu Bu Andine lantas memukul lengan putranya, Alden keget.
" Bersihkan diri terlebih dahulu. Kau bisa saja membawa virus ke meja makan!" ujar Bu Andine seraya melipat kedua tangan di dada.
" Ok baiklah ..., meja makan memang wilayah kekuasaan seorang Ibu." Alden tersenyum kemudian berlalu meninggalkan ruangan. Selang beberapa meter melangkah, kedua netra tajam itu menangkap pemandangan yang agak lain dari atas tangga melingkar yang berada tak begitu jauh darinya. Alden mengamati sosok itu, sosok yang terlihat lain dari biasanya. Pemandangan indah itu sontak membuat Alden terpaku hingga beberapa detik. Seorang gadis dengan bentuk tubuh tinggi, ramping terbalut dress mahal berwarna peach tengah menuruni tangga. Sosok itu terlihat anggun dengan rambut tertata rapi lengkap dengan sapuan make up natural yang sama sekali tidak mengurangi sisi kecantikan alami dari seorang remaja. Tiap gerakan langkahnya membuat lekut tubuh itu terasa begitu memanjakan mata. Alden terpana.
" Mom, apa mommy mengundang seseorang untuk makan siang bersama?" tanya Alden. Bu Andine yang berada di meja makan lantas tersenyum mendengar seruan Putranya yang cukup keras.
" Tentu. Apa kau suka?" Bu Andine membalas seruan sang putra dengan wajah berseri. Sepi sejenak, tak ada balasan dari sang putra.
" Jangan melihatku seperti itu?" Binar mencubit pinggang Pria tampan yang kini berada di depannya. Alden terlihat salah tingkah, ia lantas buru-buru merapikan jasnya serta mengerjab beberapa kali.
" Ah tidak, mataku sedikit perih lantaran terlalu sibuk di depan laptop," balas Alden. Binar terlihat canggung dengan dress yang ia kenakan.
" Kenapa?" tanya Alden.
" Bulu-bulu halus ini membuatku sedikit geli," lirih Binar seraya menyentuh pundak sebelah kirinya. Alden lantas tersenyum.
" Apa Mommy yang memilihkan untukmu?" tanya Alden. Binar mengangguk.
" Tapi kau sangat cantik, dress-nya terlihat cocok untukmu," puji Alden. Binar lantas bersemu. Tiba-tiba ada debar aneh yang seketika menggelitik hatinya. Seperti biasa, tiap kali sosok itu memberikan pujian selalu saja berhasil membuat Binar malu. Untuk saat ini, Alden merupakan sosok yang spesial di hatinya begitupun sebaliknya.
Alden perlahan menyentuh pinggang ramping milik gadis belia yang ada di depannya, menarik tubuh itu lembut agar selangkah lebih dekat ke arahnya. Binar tersentak kaget, ia merasa tubuhnya seketika menghangat, terlebih saat Alden menggerakkan tangan kirinya menyentuh rambut lurus yang tengah menutupi bagian bahu kanannya yang terbuka.
" Tu..Tuan ...," Binar terlihat gugup. Ia merasa ingin mengucapkan banyak hal namun tiba-tiba lidahnya berubah kelu.
" Tu ...Tuan, tolong jangan begini ...," Binar terbata, detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya dan itu membuatnya semakin gelisah.
" Kenapa?" bisik Alden lembut.
" Tuan .... kaki ku tiba-tiba lemas," Binar lantas beberapa kali menarik nafas. Mengontrol jantung yang berdegup tak menentu. Alden lantas tersenyum, tak sedikitpun menghiraukan setiap ucapan yang keluar dari bibir remaja 16 tahun itu.
Sepersekian detik, wajah sosok itu sudah berada hanya beberapa senti saja dari wajahnya.
" Tu ...Tuan, jangan menciumku! Jangan ..." Binar rasanya ingin berteriak namun tenggorokan nya terasa kering.
" Tunggu aku di meja makan," bisik Alden kemudian. Alden lantas tersenyum dan melepaskan rangkulannya pada tubuh ramping yang ada di depannya kemudian beranjak pergi.
Binar menarik nafas panjang, " Oh nyaris saja ...," lirihnya.
" Kenapa sih dia selalu membuatku deg-deg an? wangi tubuhnya sangat menggoda," Binar lantas menggigit bibir kemudian melangkah menuju meja makan. Pak Handika baru saja tiba disana. Pria itu tampak duduk tak begitu jauh dari Bu Andine. Keduanya terlihat sangat akrab, seperti anggota keluarga sendiri.
Sebenarnya, Binar begitu penasaran dengan kehidupan sosok Sang Sekretaris yang selalu siap siaga melayani keluarga ini. Pernah bertanya, namun Alden tak pernah membahas kisah hidup Pria itu secara lengkap. Sosok itu memang punya kehidupan yang sedikit disembunyikan oleh keluarga Alden. Mungkin ini ada hubungannya dengan pekerjaan nya sebagai Sekretaris dan juga orang kepercayaan dalam keluarga ini. Mengingat bahwa tak ada orang lain yang bisa berinteraksi secara langsung dengan Sang Tuan Muda kecuali atas izinnya.
" Silahkan duduk," Bu Andine tersenyum dan mempersilahkan Binar duduk.
__ADS_1
" Sang Tuan Muda akan segera menyusul. Santai saja ... orang-orang yang berada dalam lingkungan keluarga ini selalu diperlakukan dengan istimewa," Sang Sekretaris tersenyum. Binar hanya menurut.
" Kau terlihat sempurna," puji Bu Andine dengan senyum mengembang dari kedua sudut bibirnya.
" Oh ya, Ada berita apa hari ini?" tanya Bu Andine.
" Berita hari ini? Tidak terlalu penting. Hanya saja, kita kedatangan tamu lama dari Australia," terang Pak Handika.
" Tamu lama? Dari Australia?" Bu Andine mengulang.
" Iya. Nona Leony datang ke perusahaan siang ini,"
" Oh My God ! Are you kidding me?" Kedua netra itu membulat. Merasa sangsi dengan apa yang baru saja ia dengar. Binar tak kalah kaget.
' Leony, wanita yang begitu dicintai Sang Tuan Muda dulu ...' batin Binar. Ia tak berkomentar. Hanya saja, ia pernah melihat sosok itu di laptop Sang Tuan Muda walau hanya fotonya saja. Alden sangat mencintainya dulu. Binar lantas menarik nafas lemah, 'cinta pertamanya Sang Tuan Muda ....' batin gadis itu.
" Tidak, Nyonya. Dia datang sendirian dan memaksa masuk ke kantor meski aksesnya telah kami blokir." Terang Sang Sekretaris lagi.
" Apa dia berhasil menemui putraku?" Bu Andine menatap sang Sekretaris serius. Raut wajahnya terlihat tegang. Pak Handika mengangguk.
" Lantas? Bagaimana dengan putraku?" Bu Andine tampak tidak sabar ingin mendengar penuturan selanjutnya.
" Sedikit emosional, Nyonya,"
" Emosional? Apa dia marah?" tanya Bu Andine lagi.
" Marah sekali,"
" Huh ..., Apa dia melakukan sesuatu yang memalukan disana? Maksudku sesuatu yang merugikan dirinya ?" Bu Andine terlihat Khawatir.
" Nyaris, Nyonya ..."
" Apa tujuannya pulang ke Indonesia?" tanya Bu Andine kemudian.
" Belum jelas, Nyonya. Hanya saja, menurut pengakuannya, dia pulang ke Indonesia atas permintaan adik perempuannya."
" Lalu apa hubungannya dengan putraku, Pak Handika?" Bu Andine masih tak paham dengan ujung pembicaraan ini.
" Nyonya ..., Menurut dugaan kami, Leony pulang ke Indonesia atas permintaan adik perempuannya yang baru saja dikeluarkan dari sekolah," Jelas Pak Handika lagi.
" Arumi maksudmu?? Mereka bersaudara?" Bu Andine terbelalak. Benar-benar tak menyangka dengan semua yang baru saja ia dengar. Sang Sekretaris mengangguk.
Binar mematung, tak tahu harus berkomentar apa.
" Jadi dua beradik ini punya tipe Pria yang sama? Dan dua-duanya nyaris menghancurkan hidup putraku?" Bu Andine memejamkan mata sejenak. Sungguh ini di luar dugaannya. Jika Arumi memang adik Leony maka sudah jelas, ini akan menyulut perang lama. Mengingat hubungan dua keluarga besar ini sudah begitu lama berselisih semenjak kandasnya hubungan Alden dan Leony beberapa tahun yang lalu.
" Pak Han ..., cari jalan tengahnya. Putraku tidak akan mendengar nasehat siapapun. Jangan biarkan dia mengambil keputusan sendiri," Bu Andine tiba-tiba kehilangan selera makannya.
" Baik, Nyonya."
Pembicaraan keduanya lantas terhenti saat melihat kedatangan Alden menuju ke arah mereka. Bu Andine menatap sosok itu, Ah, sungguh ini akan menjadi masalah baru dalam kehidupan Sang Putra.
" Hai, Alden putraku, silahkan duduk," Bu Andine tersenyum. Mempersilahkan Alden duduk tepat di sebelah Binar.
" Sudah lama sekali kita tidak makan bersama, aku harap akan selalu ada makan bersama yang seperti ini," pinta wanita itu kemudian.
__ADS_1
Binar manatap semua hidangan yang ada di atas meja. Ia bingung harus memilih makanan yang mana dulu. Ia lantas menoleh ke arah Alden, manatap sosok yang tengah memotong steak, ia lantas memperhatikannya sejenak kemudian hendak mencontoh caranya. Merasa berada dalam pengawasan, Alden lantas menoleh. Kedua pasang netra itu kembali saling beradu.
" Kesulitan ?" tanya Alden. Binar Mengangguk. Oh, Alden nyaris saja lupa bahwa Binar mungkin tidak terbiasa dengan cara makan yang seperti itu. Alden tersenyum.
" Lain kali, bicaralah kalau butuh bantuan," lirih Alden. Ia lantas memotong steak perlahan kemudian mengambil sepotong kecil untuk diberikan kepada Binar.
" Cobalah, akan ku suapi ...," Alden tersenyum. Bu Andine dan Sang Sekretaris kemudian saling memandang lalu tersenyum.
" Tuan ..., aku malu," lirih Binar. Ia paham bahwa saat ini dua orang yang berada di depan mereka tengah memperhatikan.
" Ah, santai saja. Aku sudah lama tidak melakukan hal-hal romantis seperti ini. Kebetulan momennya tepat," balas Alden santai. Entah kenapa hari ini ia terlihat lebih aktif melakukan pendekatan pada Binar dan ini untuk pertama kalinya ia lakukan tepat di depan Sang Ibu.
Perlakuan Alden yang demikian mau tak mau membuat Bu Andine harus memamerkan senyum tipisnya, sedikit terhibur dengan kedekatan dua orang yang ada di depan nya. Meski ia tahu betul badai apa yang tengah melanda hati dan fikiran putranya itu, tapi paling tidak, keberadaan gadis berusia 16 tahun menjadi obat termanjur dalam mengobati kegalauan hati sang putra.
" Aku berharap ..., Kalian akan benar- benar menjadi sepasang kekasih." Lirih Wanita itu kemudian.
" Jika waktunya tepat, kami akan langsung menikah bukan hanya menjadi sepasang kekasih," balas Alden.
" Bicara apa sih ...," Binar berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
Alden hanya tersenyum. Dari awal bertemu, Binar selalu saja menyembunyikan perasaan nya meski ia sendiri tahu bahwa sosok itu juga menyimpan perasaan yang sama untuknya. Perbedaan status sosial terkadang membuat seseorang menjadi minder walau sebenarnya keluarga Alden sendiri tidak mempermasalahkannya.
Usai menikmati makan siang spesial itu, Alden mengajak Binar untuk berkiling di rumahnya. Berjalan di rumah seluas itu membuat Binar terpaksa melepas high heels nya dan mengganti nya dengan flat shoes, kakinya terasa kram dan tidak sanggup jika harus berjalan dengan kondisi seperti itu. Keduanya berjalan berdampingan. Melihat ruang demi ruang yang berisi begitu banyak kenangan masa lalu.
" Itu foto mendiang Ayah," ujar Alden saat memperhatikan Binar yang tengah berdiri di depan sebuah foto berukuran cukup besar yang tengah bertengger di dinding.
" Terlihat sangat berwibawa ...," lirih Binar. Alden tersenyum seraya berdiri lebih dekat ke samping Binar.
" Dia adalah sosok yang sangat sederhana. Meski memiliki segalanya tapi dia selalu mengajarkan kepada kami untuk bisa hidup dengan sewajarnya, tidak untuk berfoya-foya," kenang Alden.
" Maaf, membuatmu sedih ...,"
" Tidak apa-apa, santai saja ...," balas Alden.
Binar lantas membuka lembar demi lembar foto yang masih tersimpan di dalam ruangan itu. Sebagian berisi foto-foto waktu Alden masih kecil ada juga foto waktu Alden sudah menempuh pendidikan. Memang jika dilihat sekilas, wajahnya tidak berubah. Dia masih tampan seperti dulu, hanya saja sekarang sosok itu terlihat lebih dewasa dan tegas mungkin itu tuntutan sebagai seorang pewaris dalam keluarga ini.
Binar lantas membuka kotak demi kotak yang berisi lebih banyak lagi foto kenangan dari masa lalu.
" Ini siapa?" Binar menunjuk salah satu foto. Alden menatap sejenak.
" Itu Leony. Foto itu diambil waktu kami masih SMA, aku dan Leony tergabung dalam salah satu grup musik. Dia sangat pandai bermain piano," balas Alden.
" Dia cantik sekali ...," puji Binar. Alden tak berkomentar. Ia lantas berjalan keluar ruangan.
" Hei ... mau kemana, aku belum selesai!" Binar berteriak seraya menyusul Alden dari belakang.
" Moodku berubah jelek saat harus membahas tentang wanita itu," balas Alden.
" Tuan bilang sudah move on? lantas kenapa masih kesal?" Binar menyindir.
" Ini bukan masalah move on atau belum. Hari ini dia datang ke kantorku secara tiba-tiba dan berbicara mengenai kehamilannya. Apa maksudnya? Apa dia menyindirku karena sampai saat ini aku belum menikah juga?" Alden tampak kesal.
Binar nyaris tertawa, Benar kata orang, Pria yang telat menikah terkadang sedikit emosional dan mudah tersinggung.
" Lantas kenapa? putus bukan berarti kalian harus menjadi musuh, kan?"
__ADS_1
" Ah, jangan menasehatiku. Kau bertengkar dengan Arumi saja sampai harus menampar wajahnya," sahut Alden. Binar tak menyahut karena jika berdebat dengan Sang Tuan Muda sudah pasti dia akan kalah.
" Dan jangan membelanya karena kita berdua berada dalam team yang sama. Kau dikhianati adiknya, aku dikhianati kakaknya," ujar Alden lagi. Binar membisu, berjalan berdampingan dengan sosok itu membuatnya cukup menjadi pendengar yang baik saja. Kalau tidak, maka sosok itu pasti akan marah dan mengintimidasi.