KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 12


__ADS_3

Bab 12


" Maaf Tuan, ada sedikit masalah di perjalanan," ujar sekretaris Han menerangkan. Alden tampak tak mau tahu dan tak ingin mendengar apapun alasannya, yang ia tahu saat ini Binar harus secepatnya di tangani.


" Dia shock berat, Tuan. Untuk sementara biarkan ia beristirahat. Jika terus terusan begini kondisi mentalnya akan bermasalah," Dokter Larisa menerangkan. Menatap raut wajah cemas dari sosok tampan di depannya.


" Aku pasti akan menjaganya. Mulai hari ini pastikan Binar berada dalam pengawasan orang-orang kita, Pak Handika!" Alden memberi perintah sembari melangkah menuju balkon dan segera di ikuti oleh Sang Sekretaris.


" Pak Handika, cari tahu informasi mengenai Ayah gadis itu! Beri dia ancaman dengan bagaimana pun caranya. Dia harus di hentikan agar tidak menjadi ancaman untuk putrinya sendiri," tambah Alden.


" Baiklah Tuan, akan segera saya laksanakan," Sekretaris Han lantas menunduk patuh.


Dokter Larisa yang baru saja mengganti pakaian Binar lantas meninggalkan Binar yang masih terbaring lemah. Ia melangkah menuju balkon, bergabung dengan ketiganya.


" Pak Alden, rawatlah dia untuk sementara waktu. Aku harap kondisi psikisnya cepat pulih," Dokter Larisa memberi pesan sebelum keduanya meninggalkan Apartemen kembali.


Dokter Larisa memasuki lift bersama dengan Sekretaris Han, Keduanya berdiri berdampingan sembari menunggu lift sampai ke lantai dasar.


" Kau kenal gadis yang tengah bersama Pak Alden?" Larisa memecah sunyi dengan sebuah pertanyaan yang ia tanyakan langsung pada orang kepercayaan Sang Tuan Muda.


" Siapa pun orangnya jika dia berada di sisi Tuan Muda maka ia adalah sosok yang begitu penting baginya," Sekretaris Han enggan menjelaskan lebih jauh mengenai sosok Binar meski ia tahu dengan jelas seperti apa awal hubungan keduanya bisa terjadi. Ia menolak membahas hal yang seharusnya tetap menjadi rahasia pribadi Tuan Mudanya itu.


" Iya, Kau benar, Pak Han. Sepertinya gadis itu akan menggantikan posisi leony di hati Tuan Muda," Larisa tersenyum, mengingat sekilas bayangan masa lalu Alden saat ia benar-benar hancur di tinggal sosok Leony, wanita cantik dengan postur tubuh bak model yang berhasil menempati hati Sang CEO dalam waktu yang lama namun kemudian, mematahkannya begitu saja.


" Tidak usah menyebut nama wanita itu! Hubungan mereka telah berakhir lama sekali. Tuan Muda telah mem-blacklist semua akses yang berhubungan dengan keluarga besar Leony Atmajaya," Sekretaris Han melipat kedua tangan di dada, menaikan dagu lebih tinggi. Memperlihatkan kekuasaannya dalam melindungi keluarga besar Alexander.


"Hm ... aku tahu, Bagaimana dengan mu sendiri? akan tetap bertahan dengan status single parent mu itu?" Larisa lantas menoleh ke arah sosok yang hanya diam membisu.


" Itu bukan urusanmu!" Sekretaris Han buru-buru melangkah ke luar saat pintu lift itu baru saja terbuka.


" Selalu saja menghindar ..." Dokter Larisa mengekor dari belakang, mengikuti sosok Pria kaku yang sama sekali tak punya waktu walau sekedar menikmati manisnya cappucino hangat.

__ADS_1


" Apa sebaiknya kita makan dulu, aku lapar sekali," Dokter Larisa menatap Sekretaris Han yang buru-buru memasuki mobil tanpa memperdulikannya yang tengah berlari mengejarnya.


***


Alden menutup tirai saat cahaya mentari menerobos memasuki kamar tidurnya. Ia sedang berada dalam kondisi siap siaga, menjaga sosok pelajar yang baru-baru ini bergelar 'gadis kecilku'.


Alden lantas duduk di sisi tempat tidur, menatap lekat wajah gadis belia yang akhir-akhir ini selalu saja mengganggu waktu kerjanya, tapi walaupun demikian, ia menyukainya. Binar Kinasih Ahmad, remaja kelas dua SMA yang berhasil mengalihkan dunianya.


" Malam ini aku akan tetap tidur di sampingmu meski kau melarang sekalipun!" bisik Alden. Wangi Aroma mint dari hembusan nafasnya seketika menerpa pipi pelajar SMA itu dan membuat gadis itu mengerjab beberapa kali.


" Sudah bangun?" Alden tersenyum seraya membantu Binar bersandar pada headboard tempat tidur.


" Tuan, terima kasih ...." lirih Binar. Sorot mata yang sayu dengan pelipis terbalut kapas itu seketika membuat Alden bersedih, tak tega melihat Binar dengan kondisi yang seperti itu.


" Lain kali beri tahu aku jika kau dalam masalah. Aku tidak sanggup jika harus melihatmu seperti ini," ujar Alden sembari merapikan rambut Binar yang terlihat berantakan.


" Tuan ..., " Binar menatap dan hendak mengutarakan sesuatu.


" Aku mohon ... walau apapun yang terjadi padaku, Tuan tidak boleh menyakiti Ayah ..." lirih Binar lagi, sepasang netra sayu itu mengembun dan entah mengapa Alden begitu tersiksa melihatnya.


" Jika aku tidak bisa ...." Alden menolak permintaan Binar yang baginya terlalu baik dan sangat tidak cocok dengan kepribadiannya yang tegas dan arogan.


" Tuan pasti bisa .... aku percaya," ujar gadis itu kemudian. Alden lantas menarik nafas berat dan menghembuskan nya dengan lemah.


" kau tahu, kadang kata orang .... baik dan bodoh itu beda tipis," Alden berkomentar.


" Dan semenjak bertemu dengan mu, aku banyak melakukan hal-hal bodoh hanya demi kebaikanmu," Alden menambahkan, Binar tersenyum tipis meski harus sedikit merintih karena bibir yang memar.


" Tuan ...." Binar menatap lagi.


" Iya ... katakan saja," pinta Alden.

__ADS_1


" Apakah Tuan yang mengganti bajuku?" tanya Binar.


" Astaga! Jangan bertanya sesuatu yang bermakna menuduh! Bukan aku yang melakukannya, Dokter Larisa baru saja pergi dari Apartemen ini," Alden mengusap dada.


" Ngomong-ngomong, cepatlah pulih, aku rindu bertengkar dengan mu," Alden tersenyum simpul, manatap wajah Binar yang menyedihkan.


" Tuan ... Apa aku kelihatan jelek?" tanya Binar.


" Jelek sekali ..." Alden menyahut, acuh.


" Ah ...," Binar tampak putus asa.


" Tapi anehnya, aku malah kecanduan dengan wajah jelekmu. Wajah mu yang lugu itu kadang membuat ku terjaga hingga pagi," Alden menggombal, meski baginya itu adalah kalimat yang begitu menodai gengsinya.


Binar tersenyum sembari menepuk nepuk tempat tidur di sebelah kirinya.


" Bersandar lah di sebelah kiri ku, aku butuh bahu," ujar Binar kemudian yang seketika membuat Alden tersenyum malu-malu namun dengan cepat melakukan apa yang Binar pinta.


" Seperti ini?" Alden merangkul sosok itu dan membenamkan tubuh itu dalam pelukannya. Binar tak menyahut hanya sesekali mendongak ke atas, menatap wajah Pria tampan yang sudah beberapa kali menyelamatkan hidupnya.


" Jika tak ada Tuan, entah apa jadinya aku," lirih Binar, Alden lantas membelai rambut Binar dan membiarkan sosok itu merasa nyaman di dekatnya.


" Aku bisa melakukan apa saja untukmu, percaya lah padaku ..." Alden menyakinkan.


" Untuk sementara tinggal lah di sini, di Apartemen kita," tambah Alden. Binar menatap lagi.


" Apartemen kita?" tanya Binar.


" Iya ... tapi bukan bearti kau boleh menjualnya!" Alden lantas mencolek hidung gadis itu dan tertawa.


" Tuan selalu saja asal dalam berbicara," Binar mengerucut, Alden kembali terkekeh.

__ADS_1


" Itu salah satu keahlian ku! untuk itu berhati hatilah dengan ku!" Alden kembali mengeratkan pelukannya.


__ADS_2