
Bab 25
" Pak Abimanyu, saya berharap Bapak bisa memberikan tindakan tegas untuk tindakan asusila yang terjadi. Jika tidak, ini tentu akan menjadi contoh yang tidak baik bagi para pelajar lainnya!"
Belum sampai 12 jam sejak beredarnya video serta foto-foto itu. Sang Kepala Sekolah mulai dibuat pusing dengan berbagai komplain yang datang padanya dari para Wali Murid. Lagi-lagi ia harus menghubungi Alden guna memberitahukan berita yang sangat tidak mengenakkan ini. Ia berharap Alden lantas mengambil jalan tengah untuk berbagai masalah yang tiba-tiba muncul usai isu itu merebak. Beruntungnya, berita itu langsung di take down pihak Perusahaan sehingga tidak sampai menyebar ke luar sekolah, tapi walau demikian, beragam komentar pedas sudah berkali kali di terima pihak Sekolah semenjak kejadian pagi itu.
" Biar aku yang datang ke Sekolah!" Bu Andine lantas menyambar Tas mahal miliknya kemudian membawa serta Binar bersamanya. Pak Handika lantas menyusul dari belakang sesaat setelah mengirimkan deretan angka privat milik Apartemen nya.
Alden bergegas meninggalkan Rumah di ikuti tiga bodyguard yang selalu menemaninya. Tujuan utamanya adalah Apartemen, tempat dimana video itu diambil secara diam-diam. Ia tak peduli jika ternyata harus mengobrak abrik seluruh isi Apartemen miliknya asal kamera sialan itu bisa cepat ditemukan. Seseorang sudah pasti memantau dari jarak jauh.
" Sial!"
Gerutu Alden seraya memukul stir berkali-kali.
" Siapa yang berani bermain-main denganku!" Sosok itu semakin geram. Ia lantas memacu cepat kendaraannya menuju gedung pencakar langit itu.
" Lihat, dia pasti gagal mendidik putranya sehingga putranya melakukan tindakan tidak bermoral seperti itu!"
Baru saja tiba di sekolah, Bu Andine nyaris terbakar emosi saat berpapasan dengan beberapa wali murid yang berdiri di koridor kelas.
" Tutup mulutmu!" Bu Andine merasa darahnya seketika mendidih saat dihadapkan dengan tuduhan menyakitkan itu.
" Mentang-mentang orang berkuasa jadi dia seenaknya memperlakukan orang lain ...," Ucapan itu lantas membuat langkah kaki Bu Andine terhenti. Ia mendekati sosok yang sejak tadi berbicara asal tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu.
" Tutup mulut mu atau akan ku tendang putrimu dari sekolah ini!"
__ADS_1
" Nyonya .... Jangan seperti ini," Sang Sekretaris lantas melerai pertengkaran yang nyaris saja meledak di depan Ruang Kepala Sekolah itu.
" Pak Abimanyu! Aku bisa menjamin bahwa Putraku dan Binar tidak melakukan tindakan asusila seperti yang orang-orang ini tuduhkan!" Bu Andine muncul, kemudian meletakkan tas dengan cukup keras tepat di atas meja.
" Video yang beredar sudah cukup jelas lalu apa yang membuat anda begitu keras kepala membela Putramu yang sudah jelas-jelas salah itu!" Celoteh Seorang Wali murid membuat Bu Andine harus mengusap dada berulang kali.
" Video apa maksud Anda? Video berdurasi 1 menit yang berisi Putraku tengah merangkul seorang Pelajar SMA di balkon Apartemen nya? Tindakan mana yang membuat Anda yakin bahwa keduanya berbuat asusila?" Bu Andine balas menentang tuduhan-tuduhan keji tak beralasan itu.
" Dua orang berlainan jenis berada dalam satu Apartemen tidak mungkin tidak terjadi apa-apa?" Wanita itu keras kepala mempertahankan argumennya.
" Memang tidak terjadi apa-apa! Binar membutuhkan uang untuk biaya pengobatan Ibunya dan ia meminta pada Putraku, Alden Alexander untuk memberikannya pekerjaan! Apa salah jika dua orang berada dalam satu tempat karena terikat pekerjaan?" Debat panjang itu belum usai. Pak Abimanyu dan para guru yang berada dalam ruangan itu hanya manggut-manggut.
" Pekerjaan apa yang Anda maksud?" Sebuah pertanyaan muncul dari wali murid yang lainnya.
" Binar .... bekerja sebagai ART di Apartemen putraku," Bu Andine menggigit bibir. Sungguh rasanya amat tak tega menyebutkan kalimat yang demikian. Tapi apalah daya, demi kebaikan bersama maka apapun harus ia lakukan.
" Itu semua benar," Lirihnya.
Seisi ruangan menjadi hening.
" Keluarkan Binar dari sekolah! Setiap Ibu pasti akan membela putranya, kami tidak serta merta percaya pada ucapanmu,"
Beberapa wali murid lantas saling berbisik, wanita-wanita dari kalangan sosialita itu tampak berdiskusi singkat.
" Hm, berdasarkan penilaian para guru selama ini. Binar memang sosok yang tidak pernah terlibat kasus-kasus asusila seperti yang Ibu-Ibu tuduhkan itu. Selain berprestasi, dia juga Pelajar yang berbakat. Penilaian di sekolah ini tidak ditentukan oleh siapa dan apa latar belakang siswanya, semuanya murni hasil IQ, EQ dan SQ. Jadi jika para wali murid meminta kepada saya untuk mengeluarkan Binar dari Sekolah maka saya tidak akan memutuskan secara terburu-buru," Pak Abimanyu menutup laptopnya.
__ADS_1
" Baiklah. Jika kalian bilang bahwa tidak mungkin dua orang berlainan jenis berada dalam satu Apartemen itu tidak terjadi apa-apa, maka mari kita lakukan prosedur medis Tes keperawanan pada Binar. Bukankah Jika Binar dan Putraku pernah melakukan hubungan intim sudah pasti gadis ini tidak suci lagi," Bu Andine mengusulkan sesuatu yang membuat seisi ruangan kembali hening.
" Baiklah kalau begitu, tapi pihak sekolah yang harus mengurus tes ini. Biarkan Kepala Sekolah menentukan Rumah Sakit mana yang akan mereka minta untuk melakukan tindakan medis ini," Salah Seorang Wali Murid memberikan persetujuan meski dengan syarat. Atas usul tersebut, maka di sepakati bahwa Binar harus melakukan tes keperawanan guna membuktikan bahwa sebagai seorang Pelajar ia masih memiliki harga diri dan sebagai seorang pemimpin, Alden tetap dengan citra baiknya.
Pak Abimanyu beserta wakil diikuti oleh dua orang Staf dari sekolah membawa Binar menuju Rumah Sakit yang berada cukup jauh dari Sekolah. Sedangkan Bu Andine, Pak Handika serta para dewan guru dan beberapa wali murid masih berada dalam ruangan yang sama.
Pernah dengar bahwa menunggu adalah hal yang sangat membosankan? Benar sekali. Bu Andine telah menghabiskan dua botol air mineral selama menunggu Proses Tes itu dilakukan. Meski masih bersitegang dengan para Wali Murid, wanita itu masih tetap tenang, ia percaya bahwa dalam kasus ini Putranya tidak bersalah.
Sekretaris Han tampak merogoh saku saat benda pipih itu berdering. Sebuah panggilan dari Sang Tuan Muda. Ia lantas mengangkat panggilan itu dan berkomunikasi sejenak.
" Jika sudah selesai dengan urusanmu, bawa guru olahraga yang bernama Arya!" Alden lantas menutup telepon.
Pak Handika mendekati Bu Andine dan tampak berbisik. Keduanya lantas kompak melirik ke arah jam tangan. Sudah nyaris 2 jam berlalu. Ia berharap pihak sekolah bisa segera tiba dan memberikan kabar baik untuk penantiannya.
Ucapan salam dari depan pintu membuat seisi ruangan menoleh, sebagian orang kemudian menjawab salam. Seorang Wanita berseragam putih masuk mengikuti langkah kaki Sang Kepala Sekolah. Kedua staf tampak duduk pada tempat yang telah disediakan. Sedangkan Binar duduk tepat berada di sisi sebelah kiri wanita dengan seragam putih itu.
Setelah mengucapkan salam dan memperkenalkan diri. Wanita dalam balutan seragam putih itu mengeluarkan selembar kertas dari dalam Map putih yang ia bawa.
" Mengenai hasil tes selaput dara ( hymen) pada saudari Binar Kinasih Ahmad. Pada tanggal 7 Februari 2023. Saya mewakili lembaga kesehatan dari Rumah Sakit Citra Medika ingin memberitahukan bahwa berdasarkan keputusan instansi kesehatan terkait menyatakan bahwa Saudari Binar Kinasih Ahmad dinyatakan belum pernah melakukan aktivitas seksual atau dalam kata lain masih perawan.
Demikian keputusan dari kami, agar kiranya bisa dipahami. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih,"
Sang Dokter lantas meletakkan Mic dan menyalami Pak Abimanyu serta para tenaga pendidik yang ada di ruangan itu.
Para staf juga mengambil foto bukti medis itu untuk dijadikan bahan bukti digital serta membagikan selembaran hasil tes dari Rumah Sakit kepada para wali murid.
__ADS_1
" Demikian hasil tes ini kami lakukan dengan sebenar-benarnya. Saya selaku Kepala Sekolah memutuskan bahwa kasus ini telah usai dan saudari Binar Kinasih Ahmad dan Pak Alden Alexander tidak melakukan tindakan Asusila seperti yang telah dituduhkan. Saya juga menghimbau agar Ibu-Ibu tidak serta merta percaya dengan informasi palsu yang telah beredar. Terima kasih.
Pertemuan sore itu berakhir damai, meski kasus pencemaran nama baik yang dilakukan seseorang terhadap Sang Tuan Muda masih terus ditelusuri tapi paling tidak Binar akhirnya bisa kembali bersekolah seperti biasanya.