
Bab 26
" Masalah kita memang sudah selesai tapi bukan berarti kita tidak mencari tahu siapa orang dibalik beredarnya Video serta foto-foto itu." Bu Andine lantas membuka pintu mobil dan membiarkan Binar ikut serta bersamanya. Mereka akan menuju Apartemen Alden lebih dulu. Sedangkan Pak Handika sedang menuju kediaman Pak Arya guna memenuhi perintah Sang Tuan Muda.
" Permisi ...,"
Pak Handika berdiri di depan pintu gerbang rumah minimalis dengan cat berwarna oranye kombinasi hijau pada tiap sisi pilarnya. Sebuah mobil putih terparkir di garasi yang menandakan bahwa sang pemilik mobil sedang ada di Rumah.
" Maaf cari siapa?" Pak Arya lantas tertegun saat mendapati orang kepercayaan Sang Tuan Muda tengah berada di depan pagar rumahnya.
" Pasti ada hal yang penting hingga Bapak harus menemui saya seperti ini," Pak Arya lantas mempersilahkan Pak Handika untuk masuk namun sosok itu langsung menolak.
" Mari ikut saya, Pak Arya. Ada beberapa hal yang ingin ditanyakan Pak Alden kepada Anda." Sang Sekretaris langsung berbicara pada inti persoalan.
" Oh, baiklah kalau begitu, mari ...,"
Keduanya lantas memasuki mobil. Masing-masing hanya berdiam diri di sepanjang perjalanan. Pak Arya tampak menyimpan banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan segera prihal pertemuan yang terkesan mendadak ini tapi Sang Sekretaris tak ingin merespon apapun termasuk pertanyaan yang diajukan Sang Guru Olahraga.
Mobil itu malaju semakin cepat, membelah jalanan yang lenggang saat matahari mulai condong ke arah barat.
***
Bu Andine dan Binar yang datang lebih dulu dikagetkan dengan tiga Pria bertubuh besar yang tengah berjaga di depan pintu. Bu Andine lantas menghubungi putranya agar membiarkan mereka masuk dan ikut memecah teka-teki video yang baru saja menjadi sumber masalah.
Ceklek!
Pintu Apartemen itu terbuka. Alden lantas membiarkan Binar dan Sang Ibu masuk. Baru melangkah beberapa meter, keduanya lantas dikagetkan dengan kondisi Apartemen yang terlihat berantakan. Meja, sofa dan tirai serta beragam benda lainnya tampak menghalangi langkah. Berserak tak tentu arah.
__ADS_1
" Mari ikut Alden ke kamar," Alden lantas berjalan lebih dulu diikuti kedua wanita yang begitu amat penting baginya.
" Berdasarkan sudut pengambilan video, video itu diambil saat posisiku dan Binar ada di balkon. Aku sudah memeriksa setiap bagian balkon tapi tak menemukan apa-apa," Alden melipat kedua tangan di dada.
" Lantas? Ada sesuatu yang membuatmu curiga?" Bu Andine bertanya seraya menatap setiap sudut ruangan.
" Aku menemukan sesuatu dalam kotak musik ini," Alden lantas membuka kotak musik itu dan menunjukkan sesuatu yang terpasang pada mata sebelah kiri milik Sang Boneka. Alden lantas melepas bagian kepala Boneka itu dan mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam kepala boneka itu.
" Apa itu kamera Alden?" Bu Andine mendekat, menyentuh benda pipih yang terlihat menyala merah.
" Benar Mom, ini semacam Spy Cam. Orang-orang sering menggunakan kamera seperti ini untuk memantau atau memata-matai seseorang dari jarak jauh," terang Alden. Binar terlihat gugup, tak menyangka bahwa kotak musik yang ia bawa kemarin sore justru menjadi malapetaka yang nyaris saja menghancurkan hidupnya dan Sang Tuan Muda.
" Bagaimana mungkin benda-benda seperti ini bisa berada dalam Apartemen mu dan bahkan kau tak menyadarinya," Bu Andine menghempaskan tubuh sejenak pada sofa putih yang berada tak jauh darinya.
" Binar mendapatkan kotak musik ini sebagai hadiah dari guru olahraga nya, Mom," terang Alden lagi.
" Selidiki guru olahraga itu. Apa tujuannya melakukan semua ini," Bu Andine tampak memijit pelipisnya. Menghadapi situasi seperti ini membuat kepalanya tiba-tiba sakit.
" Pak Arya tidak memberikan nya secara langsung tapi ia menitipkan bingkisan itu kapada teman sekelas ku, Arumi." Lirih Pelajar SMA itu yakin.
" Itu berarti ada dua nama yang harus kita selidiki. Aku yakin salah satu diantara mereka tahu sesuatu,"
Alden lantas menarik nafas panjang. Masalah seperti ini benar-benar menyita waktunya. Belum lagi persoalan di kantor yang dua hari ini harus di pending karena padatnya jadwal di luar jam kerja. Adapula beberapa meeting untuk esok hari yang benar-benar tidak bisa ditunda.
Alden tersadar saat pintu Apartemen nya terbuka. Sang Sekretaris dan Sang Guru Olahraga tampak melangkah masuk. Tak ada ekspresi ketakutan pada wajah guru olahraga itu. Hanya saja ia tampak sedikit canggung saat harus duduk dan bertatapan langsung dengan Sang CEO.
" Kau pasti bertanya kenapa aku memanggil mu kemari," Alden merenggangkan kerah kemejanya. Menatap sosok yang pernah disukai oleh pelajar SMA di samping nya.
__ADS_1
" Benar, Pak. Ada masalah apakah hingga Bapak harus meminta orang kepercayaan Bapak untuk menjemput saya?" Pak Arya memulai pertanyaan yang sejak tadi diabaikan oleh Sang Sekretaris.
" Apa kau yang memberikan bingkisan berisi kotak musik ini kepada Binar?" tanya Alden. Pak Arya lantas mengangguk.
" Itu benar Pak Alden. Aku menitipkan bingkisan itu pada Arumi," sahut Pak Arya yakin.
" Kalau begitu kau pasti tahu bahwa ada Spy Cam di dalam kepala boneka ini?" Alden mengeluarkan sesuatu dari dalam boneka itu dan meletakkannya di atas meja. Pak Arya tampak kaget kemudian memperhatikan bagian-bagian kotak musik yang berserakan di atas meja termasuk kertas bermotif Doraemon pembungkusnya.
" Bagaimana mungkin ada Spy Cam? Aku membeli kotak musik ini seminggu yang lalu, aku sendiri yang membungkusnya, lalu bagaimana mungkin ada benda seperti ini?" Pak Arya menyentuh lensa kecil itu dan mengamati.
" Mari kuperiksa, Tuan." Pak Handika lantas mengamati lensa kecil itu. Mengamati setiap sisinya.
" Bukankah ini di produksi oleh perusahaan kita sendiri, Pak?"
Alden tersentak mendengar penuturan Sang Sekretaris. Ia lantas menyambar lensa itu lalu mengamatinya sejenak.
" Kalau ini di produksi di perusahaan kita sudah pasti ada tanggal dan kode produksi yang tertera. Bukankah Spy Cam tidak dipasarkan secara bebas. Seseorang pasti mengorder langsung dari perusahaan?" Alden tampak geram. Bagaimana mungkin ia nyaris dihancurkan oleh benda yang di produksi oleh perusahaan nya sendiri.
Pak Arya tak banyak komentar. Sang Guru justru bingung dengan masalah apa yang sebenarnya terjadi. Prihal bingkisan itu memang berasal darinya, ia tidak menyangkal itu.
" Kotak musik ini aku beli di toko musik yang berada tidak begitu jauh dari sekolah. Aku membelinya seminggu yang lalu. Aku membungkusnya dengan kertas bermotif Doraemon bewarna biru sebelum perlombaan di mulai dan satu lagi aku mengikat bagian atasnya dengan pita merah muda." Pak Arya menambahkan. Sungguh ia tak mau berurusan dengan orang-orang berkuasa seperti mereka.
" Pita merah muda? Bukankah tak ada pita saat kita membukanya?" Binar menatap Alden. Tiba-tiba hening, semua orang sibuk memeriksa setiap bagian dari bingkisan itu. Alden bahkan mengambil kotak sampah untuk mencari pita merah muda yang dimaksud Sang Guru Olahraga. Tapi tak ada apapun disana termasuk pita merah muda seperti di katakan Pak Arya.
" Arumi? Your best friend?" Alden lantas menatap Binar. Binar menggeleng.
" Itu tidak mungkin! Dia teman ku yang paling baik,"
__ADS_1
Ruangan tiba-tiba hening. Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing.
" Pak Han, hubungi menajemen pemasaran. Jika spy cam di order langsung dari perusahaan sudah pasti ada pada laporan pembelian seminggu terakhir. Seseorang pasti menyantumkan identitas nya disana," Alden meraup wajah kasar. Haruskah ada remaja SMA lagi yang melibatkan diri dalam masalah hidupnya? Ah, tiba-tiba kepalanya menjadi pusing, bahkan bertambah pusing saat harus membiarkan Sang Guru Olahraga meminta nomor handphone Binar tepat di depan matanya. Benar-benar tidak paham situasi!