
Bab 16
Mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Arumi, Alden dan Binar saling menatap, tak lama kemudian Binar menggeleng cepat dengan kedua tangan bergerak, mengisyaratkan kata tidak.
" Itu tidak benar," Binar gugup, terlebih saat Pria tampan yang ada di dekatnya malah merangkul pundaknya dengan santai.
' Ais ..., kenapa laki-laki ini tak bisa di ajak kompromi, sih?' batin Binar seraya kembali melepas lengan berotot yang berada di atas pundaknya.
" Kau teman sekelas Binar, kan? Mari duduk ...," Alden lantas mempersilahkan Arumi duduk. Arumi tampak aktif dan terbuka, ia mulai bercerita banyak hal mengenai kegiatan yang sering mereka lakukan di sekolah. Dan Alden, Pria yang aslinya merupakan sosok CEO galak dan ceplas-ceplos itu malah merespon dengan santai, memberi celah pada Arumi untuk bercerita dengan leluasa hingga membuat Binar mati kutu, ia seolah orang ketiga dalam pembicaraan mereka dan itu sangat menjengkelkan.
" Pak Alden ...," Arumi tiba-tiba menyentuh jemari Pria itu hingga membuat Alden kaget. Baginya, apa yang dilakukan Arumi terbilang berani, menyentuh laki-laki yang baru 10 menit dikenalnya dengan begitu aktif.
" Ada apa?" Alden merespon dengan wajah datar, menyembunyikan rasa tidak suka yang seketika masuk ke dalam hatinya.
" Boleh pinjam ponsel mu?" Arumi menatap, memainkan jemari pada rambut pendeknya dan itu sungguh pemandangan yang begitu liar di mata Pria tampan itu. Alden membatin tidak suka.
" Untuk apa?" Alden lantas bergeser mendekati Binar saat mendapati Arumi yang terus-terusan mendekat ke arahnya.
" Pinjam ...," Arumi lantas meraih ponsel yang ada dalam genggaman Alden kemudian menanyakan kata sandinya. Benar-benar tindakan yang berani!
Setelah Alden mengetik beberapa kode, Arumi lantas meraih ponsel itu lagi dan mengetik beberapa deret angka.
" Ini nomor ponselku, berapa nomor ponsel, Pak Alden?" tanya Arumi. Binar yang menyaksikan tindakan Arumi yang demikian hanya bisa menggeleng tak percaya. Benar-benar sisi lain Arumi yang tak biasa.
Alden lantas menyebutkan beberapa angka yang seketika membuat Binar semakin kaget dan sangat tak percaya.
'Pria mesum' gerutu Binar dalam hati.
Setelah menyimpan nomor ponsel Alden, Arumi menatap Sang Tuan Muda dengan wajah berseri seri, kedua pipinya merah, bersemu malu-malu.
" Aku pamit. Oh ya Binar, bersih-bersih yang rajin ya di tempat Pak Alden," Arumi lantas melambaikan tangan sesaat sebelum hilang di balik pintu.
" Jangan berteman terlalu dekat dengannya!" Alden lantas memalingkan wajah, menatap Binar yang hanya membisu dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
" Jangan mengatur ngatur hidupku!" Binar balas menatap sosok itu, menyahut dengan ketus hingga membuat Alden semakin kesal.
" Teman macam apa itu! Berani sekali merayu Pria dewasa yang baru saja di kenalnya, liar!" Alden mengoceh, menggerutu panjang lebar, berceramah tentang etika dan moral hingga membuat Binar merasa terpojok oleh setiap ucapannya.
" Anak SMA sekarang benar-benar sudah kehilangan moral, berani sekali menyentuhku!" Alden lantas menuangkan air minum ke dalam gelas lalu segera ia pakai untuk mencuci jemarinya.
" Walau begitu tapi Tuan suka, kan?" Binar menatap jengkel.
" Tidak sama sekali! Aku justru merinding dibuatnya!" Alden kembali menggerutu.
" Lantas kenapa memberikan nomor ponsel padanya?" selidik Binar. Alden lantas tersenyum dan enggan menjawab pertanyaan Binar yang barusan iya tanyakan.
" Huh ! Bilang saja kalau suka ...," Binar mengerucut, menatap Alden yang tengah menahan tawa.
" Kau cemburu??" Alden terkekeh.
" Astaga ..., lihat wajahmu, jadi diam-diam kau cemburu?" Alden kembali terkekeh, menertawakan raut wajah Binar yang tiba-tiba memerah menahan malu.
" Ayo ikut ke Apartemenku, aku sudah memberi solusi untuk kekhawatiran mu, setelah ini tidak ada yang curiga denganmu," Alden lantas berdiri, mengulurkan tangan tepat di depan gadis itu, Binar lantas memberikan tangan kanannya dengan ragu-ragu. Alden kemudian menggenggamnya erat.
Mobil mewah bewarna hitam mengkilat itupun berlalu, meninggalkan pekarangan rumah binar dengan dua vas bunga pecah akibat tersenggol sepatu Sang Tuan Muda. Entah mengapa tiap kali ia berkunjung ke rumah pelajar SMA itu selalu saja menyisakan kerusakan dan ini tentunya akan menjadi pekerjaan sekretaris Han untuk segera mengurus setiap kerusakannya.
***
" Ayo cepat bereskan, itu kotor, itu berdebu dan ini juga!" Alden menghempaskan tubuh di sofa, merenggangkan otot otot yang kaku sedang Binar mulai membereskan apa yang Pria itu perintahkan.
" Setelah membereskan itu semua, aku akan review pidato bahasa inggris mu itu," ujar Alden, Binar hanya membisu, mengambil lap dan air lalu membersihkan jendela kaca yang berada tak begitu jauh dari Alden. Alden memperhatikan sosok itu dengan seksama. Ia lantas berdiri setelah melepas jas yang ia kenakan dan merenggangkan kerah kemeja yang ia pakai.
" Lihat itu masih kotor!" Alden berdiri tepat di samping Binar, menyentuh kaca yang basah sembari curi-curi pandang ke arah Binar. Binar lantas kembali menyemprotkan pembersih kaca dan kembali mengusapnya lembut.
" Bukan begitu caranya!" ujar Alden ketus. Ia masih kesal lantaran Binar menolak untuk datang ke Apartemennya tadi.
" Lalu harus bagaimana, Tuan ...," Binar menatap.
__ADS_1
Alden lantas menyentuh jemari Binar, hingga membuat sepasang jemari itu saling bersentuhan. Alden mengerakkan tangannya menyapu setiap bagian kaca.
" Dasar cari-cari kesempatan!" Binar lantas menarik tangannya hingga membuat Alden menggenggam lap kaca itu seorang diri.
" Hei! Kenapa justru aku yang mengerjakannya?" Alden menatap angkuh, membulatkan sepasang netranya ke arah Binar yang justru duduk di sofa.
Alden lantas mengehentikan pekerjaannya kemudian membasuh kedua tangannya di wastafel.
" Sekarang kau sudah berani padaku, ya?" Alden yang baru kembali lantas melanjutkan ocehannya hingga membuat Binar menutup kedua telinga nya dan menjauh.
" Kenapa sih Tuan marah-marah terus?" Binar menatap sosok itu. Alden menghentikan setiap ucapannya saat pintu Apartemen nya terbuka dengan perlahan. Sang Sekretaris tampak berdiri di depan pintu, melangkah ke arah Sang CEO.
" Tuan ada yang ingin aku bicarakan," ujar Sang Sekretaris seraya melangkah lebih dulu menuju kamar tidur Sang Tuan Muda. Alden segera mengekor, menatap punggung sosok yang amat begitu dipercayainya.
" Ada apa? Kenapa datang tak memberi kabar terlebih dahulu?" Alden berdiri sembari melipat kedua tangan di dada.
" Tuan Muda, Apakah Tuan memberikan nomor ponselku pada seseorang?" tanya Sang Sekretaris serius, wajahnya selalu saja serius tiap kali menyampaikan sebuah informasi. Pria itu lantas menyodorkan ponselnya ke arah Sang CEO yang langsung menerimanya dan mengamati layar ponsel itu.
" Mulai dari setengah jam yang lalu, ada 45 pesan singkat, 10 video call dan puluhan emoji aneh yang tak bisa ku sebutkan satu-satu," lanjut Sekretaris Han datar. Alden lantas membuka puluhan pesan singkat yang tertera di ponsel sekretarisnya itu.
( Pak Alden, ini aku Arumi) ( just read)
(Pak Alden sedang apa? Sudah makan siang?) (just read)
(Pak Alden, kalau ada waktu, kita dinner, yuk?) ( just read)
(Menurut Pak Alden aku lebih cantik pakai baju warna merah atau pink?) setelah itu menyusul dua buah foto gadis dengan belahan baju rendah yang memperlihatkan bagian dadanya.
( Lebih cantikan mana, aku atau Binar) dan bla bla bla and bla .... Alden lantas men scroll puluhan pesan singkat lengkap dengan emoji yang tidak jelas bentuk dan tujuannya.
' Apa apaan ini!' batin Alden.
" Tolong jelaskan, Tuan?" Sang Sekretaris menatap. Ah, Alden benci tatapan itu, tatapan menuduh yang sangat tepat sasaran hingga membuatnya mau tak mau harus mengaku.
__ADS_1
" Pak Han ..., aku ..., aku terpaksa," balas Alden singkat. Ia lantas menyodorkan kembali ponsel itu dan dan tersenyum.
" Akhir-akhir ini aku diganggu oleh anak SMA ..., untuk itu ku berikan satu padamu," ujar Alden santai, Sang Sekretaris hanya bisa menarik nafas berat, seberat bebannya dalam menangani Sang Tuan Muda yang tengah terlibat cinta buta.