
Bab 11
" Akan ku antar pulang, jangan lupa minum obat dan istirahat," ujar Alden seraya tetap fokus menatap jalanan yang sepi. Binar hanya mengangguk saja. Hari itu dia tidak masuk sekolah, selain karena kondisi tubuhnya yang masih lemah juga karena hari itu ia harus mengunjungi Sang Ibu di Rumah Sakit.
Sebenarnya ada ke khawatiran di dalam hatinya untuk pulang ke rumah terlebih saat ini Sang CEO memaksa akan mengantar sampai rumah. Ia khawatir jika Ayahnya melihat kedatangannya setelah tak pulang semalaman justru akan membuat Pria itu kembali naik pitam dan memukulinya.
Alden menepikan mobil tak begitu jauh dari pekarangan rumah bercat hijau cerah itu. Seluruh pekarangan nyaris di tanami tanaman hias dan beraneka mawar yang aroma wanginya semerbak tertiup angin.
" Kelihatannya rumahmu nyaman," lirih Alden sembari menatap sekeliling. Binar tersenyum senang seraya membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
" Boleh aku masuk?" pinta Alden.
" Tidak, Tuan. Lain kali saja ... Maksudku, tidak enak di lihat tetangga jika Tuan sampai bertamu seorang diri," Binar tampak sibuk mencari cari alasan sedangkan Alden jelas sudah bisa menerka bahwa ada yang tengah disembunyikan pelajar SMA itu.
" Benar ...?" Alden mengernyitkan dahi.
" Benar, Tuan." Binar tampak gugup.
" Yakin?" selidik Alden pada gadis muda itu.
" Ya ... kin, Tuan." Binar lantas terbata. Sepasang jemari itu tampak bertaut erat dan berkeringat.
" Ok baiklah ... Kalau begitu sampai jumpa, gadis kecilku," Alden lantas melambaikan tangan dan segera membawa mobil untuk berputar haluan. Binar tersenyum canggung sembari membalas lambaian tangan Sang CEO.
__ADS_1
Melihat mobil mewah itu telah melesat cukup jauh, Binar lantas melangkah memasuki rumah dengan begitu hati-hati. Ia celingak celinguk saat melihat tumpukan botol minuman keras yang berserakan di ruang tamu.
Alden yang telah mengemudi cukup jauh lantas memutar arah kembali menuju kediaman Binar. Ia mengemudi dengan cepat hingga tak memerlukan waktu lama, mobil itu telah menepi tak jauh dari rumah bercat hijau itu.
" Mari kita lihat, Apa yang tengah disembunyikan gadis kecilku?" gumam Alden sembari tersenyum penuh arti. Ia segera menurunkan kaca mobil dan menatap lekat ke arah rumah petak di depan sana.
" Akan ku tunggu sampai 20 menit jika tak ada tanda-tanda mencurigakan maka aku bisa ke kantor dengan fokus," ujar Alden lagi. Tangan kanannya tampak sibuk mengetik beberapa pesan singkat yang akan ia kirimkan pada sekretaris Han sedangkan sepasang netra tajam itu tak pernah berpaling sedikitpun dari tujuannya.
" Baiklah ... 20 menit berlalu, aku akan per ..."
PRANG !
Alden yang baru saja hendak menaikan kaca mobil lantas buru-buru berhenti. Sebuah suara seperti piring pecah sontak menarik perhatiannya. Ia menatap lurus serta mulai mengepalkan tangan kananya.
" Sialan!"
Alden melangkah cepat menuju rumah Binar dan menendang pintu itu sampai lepas. Ia tak mampu berkata kata lagi saat mendapati Binar di seret oleh seorang Pria bertubuh gemuk dan melemparkannya di atas sofa.
" Siapa kamu!"
Sosok berbadan tambun itu tampak terganggu dengan kedatangan Alden yang secara tiba-tiba.
" Lepaskan dia!" Sepasang netra Alden tampak memerah, menahan amarah yang nyaris meledak.
__ADS_1
" Jangan ikut campur! Ayahnya telah menjual gadis ini padaku!" Sosok itu lantas berpaling dari Binar dan berbalik menantang Alden.
Alden yang terbawa emosi lantas melayangkan satu pukulan tepat menghantam rahang Pria itu. Pria itu tampak terhuyung sedang Binar beringsut mundur ketakutan. Ia berusaha menutupi dress yang robek tepat pada bagian dadanya. Bibirnya memar, sedang lengan kanannya tampak membiru.
Lelaki bertubuh tambun itu lantas berdiri lagi namun Alden dengan cepat melepaskan satu buah tendangan tepat mengenai wajah Pria itu. Tubuh Pria itu lantas membentur tembok dengan mulut mengeluarkan darah. Ia memuntahkan darah segar lengkap dengan dua gigi yang tanggal.
" Jika sekali lagi kau ganggu dia, akan lepas semua gigi mu!" ancam Alden sembari menarik kerah kemeja sosok yang sudah tak berdaya itu dan menjatuhkannya dengan kasar.
" Jangan takut, aku ada disini ..." Alden lantas mendekati Binar yang terlihat gemetar. Air mata gadis itu menetes tanpa henti, suaranya parau bahkan tak sanggup untuk mengatakan sepatah katapun. Alden langsung menggendong tubuh lemah itu dan membawanya memasuki mobil. Binar tampak meringkuk dan menangis tanpa suara.
Alden segera melepaskan jas yang ia kenakan kemudian menutupi tubuh Binar yang terekspos dari bagian baju yang robek.
" Tenanglah ... Jangan menangis. Aku ada disini, kau tak perlu khawatir," Alden lantas memacu cepat kendaraannya, meninggalkan rumah yang telah membawa luka pada gadis yang amat ia sayangi.
" Sudah ku bilang jangan pernah menyimpan beban sendirian,"
Alden yang baru tiba di kamar Apartemennya lantas membaringkan tubuh Binar yang lemah. Fisik dan mentalnya tampak berantakan. Sorot matanya penuh ketakutan dan kekhawatiran.
Alden lantas mengambil kotak P3K dan dan membubuhkan alkohol pada kapas lalu menyapukannya pada setiap luka yang ada. Ia juga mengompres setiap memar yang ada pada tubuh pelajar itu.
" Bisa lepas pakaianmu dan pakailah piyama ini, dress mu robek dan sangat tidak enak di lihat," pinta Alden hati-hati. Binar hanya membisu dan itu membuat Alden menjadi Dilema. Ia lantas menghubungi sekretarisnya dengan cepat dan meminta Pria kepercayaannya itu untuk membawa dokter Larisa ke apartemennya secepat mungkin.
" Tenanglah ..." Alden lantas mengusap kening gadis itu kemudian mengecupnya lembut.
__ADS_1
" Maaf, aku terlambat ... Harusnya aku tak pergi jauh darimu," lirih Alden. Binar hanya menutup mata dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Bibirnya gemetar dan ia begitu terguncang dengan semua kejadian yang baru saja menimpanya.