
Bab 15
" Siapa orang yang diam-diam mengetahui semua ini?"
Puluhan pertanyaan sontak memenuhi pikiran Pelajar SMA itu, foto-foto yang baru saja ia temukan segera ia sembunyikan dengan begitu hati-hati. Masih ada enam hari lagi menuju perlombaan, jika sampai foto-foto itu tersebar maka bisa dipastikan ia akan gagal dan bisa jadi akan dikeluarkan dari sekolah.
Binar melangkah perlahan, pada setiap langkahnya ia berharap akan ada keajaiban sekali lagi. Sebuah konsekuensi dari keputusan yang keliru nyatanya akan merusak nama baik banyak orang.
" Ibu ..., semoga foto-foto itu justru tidak sampai padanya," gumam Binar dalam kerisauannya.
" Oh, kaki ku terasa lemas," Binar menekuk lutut sejenak, menatap koridor panjang di ujung sana, entah mengapa ia merasa bahwa setiap tembok kelas yang ia lewati seolah menertawakan nya. Baliho besar di sudut sana seakan berubah menjadi deretan foto-foto dirinya bersama para lelaki seperti yang baru saja ia dapatkan.
" Tuan, tak pernah terjadi apapun di antara malam itu tapi mengapa justru ada fitnah seperti ini," lirihnya kemudian.
" Tiga tahun lagi, Bisakah aku menjadi seperti yang Tuan harapkan?" Binar menarik nafas panjang, berusaha menguasai perasaannya sendiri. Walau demikian, dua bulir bening itu melesat jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Wanita adalah mahkluk yang tak pernah pandai mengemas luka dengan baik.
Hanya ada dua meter lagi untuk mencapai pintu kelas namun ia merasa enggan untuk memasukinya. Tiba-tiba ia merasa malu dengan dirinya sendiri. Ia lantas memutuskan untuk bertolak arah menuju ruang UKS.
" Binar ..., wajahmu pucat sekali?"
Hari itu Bu Rini menjadi petugas UKS menggantikan seorang petugas yang tidak masuk. Binar menatap sosok itu, berpegangan erat pada knop pintu. Mentalnya benar-benar hancur, jelas sudah teror ini berupaya merusak mentalnya secara perlahan lahan.
" Mari Ibu bantu? Akhir-akhir ini kondisi mu tidak baik," Bu Rini lantas membantu Binar duduk. Sesekali menatap raut cemas dari sosok pelajar di depannya.
" Sudah sarapan tadi pagi?" Bu Rini bertanya dan Binar hanya bisa menggeleng lemah.
Fikirannya kacau dan tak terarah. Yang ia harapkan saat ini adalah Alden, Pria yang senantiasa memberikan bahu untuk bersandar, tumpuan harapannya semenjak malam memalukan itu.
" Istirahat lah dahulu, Ibu akan ke kantin untuk memesan bubur," ujar Bu Rini seraya memberikan botol minyak kayu putih padanya. Binar mengangguk, menatap kepergian Bu Rini dengan hati yang tak terarah.
Bel istirahat pertama berdering, suara gemuruh siswa tampak memenuhi koridor. Derap langkah kaki terasa begitu ramai, suara tawa para remaja yang riang membuat Binar iri. Di dunia seluas ini mengapa justru ia menjadi satu-satunya orang yang mengalami kejadian sial secara beruntun.
Saat semangkuk bubur masih di racik, Bu Rini menyempatkan diri menuju ruang kepala sekolah sebentar. Ia mengetuk pintu seraya mengucap salam terlebih dahulu.
" Silahkan duduk, Bu Rini." Sang Kepala Sekolah mempersilahkan.
" Beberapa hari belakangan, saya mendapati Binar selalu ke UKS, termasuk hari ini juga," Bu Rini tampak menerangkan maksud dan tujuan kedatangan nya dengan begitu hati-hati.
" Binar sakit lagi? Hari ia baru saja masuk sekolah setelah tidak masuk selama seminggu. Apa keluhannya, Bu?" Sang Kepala Sekolah merespon berbagai laporan yang sering muncul beberapa hari belakangan.
"Wajahnya pucat sekali, Pak. Dia juga berkeringat dingin dan terlihat tidak fokus," Bu Rini menambahkan. Sang Kepala Sekolah melepas kaca matanya sebentar, mengusap kedua netranya yang terlihat lelah.
" Akhir-akhir ini aku sibuk sekali tapi aku selalu merespon setiap laporan yang masuk. Begini ..., maksudku, Bagaimana kalau Bu Rini bawa Binar ke Klinik sebentar, pastikan apa sebenarnya penyakit yang di deritanya," tambah sosok itu seraya kembali memakai kaca matanya.
__ADS_1
" Kalau saran Bapak demikian, akan segera saya laksanakan," Bu Rini segera berpamitan dan segera meninggalkan ruang Kepala Sekolah. Ia melangkah cepat menuju ruang UKS dan mendapati Binar sedang bersama Arumi di sana.
" Arumi juga di sini?" Bu Rini menatap sosok itu sejenak kemudian menutup pintu ruangan.
" Iya, Bu. Binar izin ke toilet tapi tidak kembali sampai bel istirahat jadi aku putuskan untuk menyusul," balas Arumi santai. Bu Rini hanya tersenyum seraya mencatat nama Binar dalam buku kunjungan hari ini.
" Memang kau tahu darimana kalau aku sedang di UKS?" tanya Binar kemudian. Arumi buru-buru meneguk air minum dari botol mineral yang sedang di ganggaman nya.
" Insting seorang teman, lagi pula tadi di kelas wajah tiba-tiba berubah pucat," ujarnya kemudian. Binar tersenyum, menatap raut wajah cantik itu.
" Wajahmu semakin hari semakin cantik, kau bahkan mengecat kuku mu sekarang," Binar memperhatikan dengan seksama setiap inci dari tubuh Arumi. Arumi hanya tersenyum seraya memamerkan jemarinya.
" Aku harus menjadi cantik agar terlihat menarik, kau boleh bangga dengan otak cerdas mu itu tapi aku akan menjadi lebih cantik dari mu,"
Binar tampak kaget dengan penuturan Arumi namun Arumi malah tertawa, menertawakan raut wajah bingung dari teman sekelasnya itu.
" Aku bercanda, jangan terlalu serius," tambah Arumi kemudian. Binar lantas mencoba tersenyum meski terlihat canggung.
" Mari Ibu antar ke klinik," pinta Bu Rini kemudian. Binar lantas beranjak mengekor sosok itu, sekilas ia melirik Arumi yang berdiri di depan pintu seraya melambaikan tangan.
" Semoga cepat sembuh," lirih Arumi seraya menatap punggung Binar yang mulai menghilang dari pandangan.
***
Sekretaris Han melirik arloji beberapa kali, akhir-akhir ini ia punya pekerjaan baru selain menjadi sekretaris yaitu menjadi supir antar jemput Pelajar SMA kesayangan Sang Tuan Muda. Sudah hampir 15 menit dari bel pulang tapi seseorang yang ditunggu tak jua muncul. Sekretaris Han lantas bertanya pada seseorang sekuriti penjaga sekolah.
" Sudah pulang lebih awal, Pak. Dia pulang bersama teman sekelasnya," ujar Sosok itu. Sekretaris Han lantas berbalik arah menuju mobil dan segera meninggalkan sekolah guna menyusul Binar ke rumahnya. Meski belum pernah berkunjung sebelumnya tapi bagi sekretaris Han menemukan sebuah alamat hanya semudah membalikkan telapak tangan.
Tok Tok Tok
Binar yang baru saja menyelesaikan makan siangnya lantas di kaget kan dengan sebuah ketukan dari pintu depan, ia lantas berlari menuju ruang tamu, mengira bahwa Sang Ayah akan pulang ke rumah.
" Sekretaris Han," Binar yang baru saja membuka pintu di kagetkan dengan kedatangan sosok yang akhir-akhir ini selalu menjemputnya.
" Boleh aku masuk?" tanya Sang Sekretaris kemudian. Binar lantas menatap ke sekeliling rumah, memastikan bahwa tidak ada orang yang melihat kedatangan Sang Sekretaris ke rumahnya.
" Maaf, Tuan. Kita duduk di teras saja," tolak Binar, ia tak ingin mengambil resiko jika seseorang mengambil foto atau video dirinya yang tengah berduan di dalam rumah.
" Baik," balas Sang Sekretaris singkat.
" Tuan Muda memintaku untuk menjemp ...,"
" Maaf tapi aku tidak bisa, sampaikan maaf ku untuk nya." potong Binar cepat. Ia menunduk, enggan menatap wajah sosok Pria yang duduk tak begitu jauh darinya.
__ADS_1
" Baik akan saya sampaikan," Sekretaris Han lantas berpamitan kemudian segera meninggalkan kediaman Pelajar SMA itu. Binar mematung dalam diam, tak ada cara lain selain menghindari setiap pertemuan dengan Sang Tuan Muda.
' Maaf, Tuan. Aku tak ingin melibatkan mu dalam masalah ini!' batin Binar kemudian.
***
" Tuan, dia menolak untuk ke Apartemen."terang Sang Sekretaris setelah sampai di ruang kerja Sang CEO.
" Apa?? sudah punya nyali menolak permintaanku!" Alden lantas meraih jas hitam yang berada tak begitu jauh darinya kemudian melangkah meninggalkan kantor sesegera mungkin.
" Apa dia sudah lupa kalau punya banyak hutang padaku!" gumam Alden sembari memacu cepat kendaraannya.
Tak memerlukan waktu lama, mobil itu langsung menepi, menepi tepat di depan teras rumah petak itu. Alden menatap sejenak pada pintu rumah yang baru saja di ganti, warnanya sedikit lebih cerah dari pada pintu rumah yang dulu ia tendang.
Tok tok tok!
Binar beranjak dengan malas, membuka kunci pada pintu dan mendorongnya perlahan.
" Tuan ...," Kedua netra itu membulat sempurna, menatap sosok tampan yang berdiri tepat di depan pintu. Sosok itu lantas menerobos masuk meskipun belum di persilahkan.
" Mengapa menolak datang ke Apartemenku?" Tanpa basa basi sosok itu lantas duduk di sofa kemudian melipat kedua tangan di dada.
" Tuan ...," Binar tampak gugup dan bingung hendak menjelaskan apa.
" Aku paling tidak suka ditolak!" Alden menatap. Binar menunduk takut.
" Aku ..., aku tidak bisa," lirih Binar.
" Kenapa?" balas Alden cepat.
Alden lantas beranjak mendekati sosok itu, membiarkan sosok itu terus melangkah mundur hingga terpojok di sudut ruangan.
" Tuan ..., tolong menjauh lah sedikit ...." pinta Binar.
" Kalau aku tidak mau?"
" Tuan, bagaimana kalau ada orang yang melihat?" lirih Binar kemudian.
" Aku tak peduli! Ayo ikut ke Apartemenku!" balas Alden acuh.
" Tuan ...," Binar hendak menolak namun Alden lantas menggenggam jemari gadis itu kemudian membawanya keluar. Langkah keduanya seketika terhenti saat mendapati seseorang berdiri tepat di ambang pintu.
" Aku baru saja ingin memberikan ini, maaf mengganggu kalian," ujar Arumi dengan wajah kaget sembari memperlihatkan boneka doraemon yang ada di tangannya.
__ADS_1
" Ah, tidak apa apa!" Binar lantas melepaskan genggaman tangan Alden dan menjauh.
" Apa kalian berpacaran?" Arumi menatap Binar, meminta penjelasan.