
Bab 4
" Dimana dia?"
Seperti biasa Alden melangkah menuju jendela kaca yang terhubung langsung dengan balkon. Alden lantas menyibak tirai putih yang selalu menutupi jendelanya. Sepasang mata tajam itu langsung menangkap sosok beragam SMA yang tengah berdiri di pinggir balkon. Rambut kuncir dua itu tampak beterbangan seiring dengan tiupan angin. Kedua sudut bibir itu lantas melengkung manis, Alden jelas tahu siapa yang tengah ia lihat itu.
Alden melangkah perlahan seraya membuka knop pintu.
" Sedang Apa disitu? Jangan bilang kali ini berencana bunuh diri setelah jual dirimu ku tolak semalam?" Alden lantas mengoceh. Berdiri tepat di samping Binar yang terlonjak kaget.
" Oh Tuan sudah pulang, maaf, Tuan. Aku kira Tuan pulang larut malam," Ujar Pelajar itu sembari mundur beberapa langkah.
" Mundur tiga langkah lagi bisa dipastikan kau loncat dari lantai 30," Alden lantas menarik lengan remaja itu lebih dekat ke sisinya. Keduanya lantas saling menatap, semburat merah di ufuk barat menciftakan siluet indah dari sepasang tubuh manusia berlainan nasib itu.
" Maaf, Tuan," Binar menarik diri. Ada desir aneh di hatinya dan ia berusaha menyembunyikannya serapi mungkin.
Alden tersenyum seraya menatap deretan gedung pencakar langit dikejauhan.
" Dulunya balkon ini milik seseorang, setelah dia pergi, kau menjadi orang kedua yang berdiri disini setelah dia," Alden melempar pandang sejauh mungkin, berusaha meraih jarak terdekat dengan kenangan melalui pikirannya sendiri.
" Seorang gadis?" Binar menelisik ruang hati Sang CEO.
Alden tak menyahut, ia lantas menarik nafas berat dan menghembuskannya dengan perlahan. Terkadang ada hari dimana kenangan hanya harus dikenang dan bukan untuk di ingat ingat.
" Hanya sedikit orang yang bisa mencapai puncak dan sebagian dari mereka membeku dalam kesepian," Alden memutar langkah. Meninggalkan kenangan indah lima tahun silam.
__ADS_1
" Buatkan aku cappucino hangat, semilir sore membuatku merasa tidak enak," perintah Alden. Binar lantas mengekor dari belakang, postur tubuh Alden yang tinggi membuat tubuh ramping binar nyaris tak terlihat.
" Suasana hatinya yang tidak enak," Lirih Binar, ia segera meninggalkan Sang Tuan Muda menuju dapur. Hanya butuh beberapa menit saja, cappucino hangat itu telah tersaji di atas meja. Binar berdiri sembari memandangi sosok tampan itu terlebih saat Pria penyelamat hidupnya itu membuka jas hitam yang ia kenakan.
" Jangan menatapku lebih dari tiga menit, kau akan jatuh cinta," Sang CEO lantas melipat tangan di dada setelah memergoki Binar menatap dirinya diam diam.
Binar lantas menunduk, pipinya merah merona menahan malu.
" Mau berdiri saja disitu? Ayo duduk!" ujar Alden seraya menepuk nepuk sofa di sampingnya.
Binar lantas mendekat, ia membenahi rok abu abu yang ia kenakan kemudian menjatuhkan diri perlahan lahan. Walaupun demikian, ia masih saja risih dengan rok pendek yang dengan jelas memperlihatkan paha putihnya. Alden menatap.
" Merasa tidak nyaman?" tanya Alden kemudian.
" Masih merasa malu setelah aku melihat separuh tubuhmu semalam?" Alden justru semakin memandangi sosok yang kini terlihat celingak celinguk.
" Aku heran kenapa rok anak SMA sekarang semakin hari semakin pendek saja," celotehnya lagi. Binar hanya bisa membisu seraya kembali merapikan rok putih abu abu miliknya.
" Pakailah ...." Alden melempar jas hitam yang baru saja ia lepaskan guna menutupi bagian paha pelajar SMA itu.
" Kalau sudah nyaman, mari kita berbicara," Alden menyandarkan diri di sofa, menatap Binar yang sesekali menunduk.
" Ku dengar akhir akhir ini kau selalu tidur di kelas," Alden kembali menyeruput Cappucino hangat miliknya.
" Aku ketiduran, Tuan," ralat Binar yakin.
__ADS_1
" Apa bedanya? Intinya sama sama tidur!" Alden menatap pelajar itu lagi.
" Kenapa?" Alden meminta penjelasan dari sosok yang bahkan tak berani menatap matanya.
" Aku kelelahan ..." Binar mencoba beradu kontak dengan sosok tampan di depannya.
" Akan ada orangku yang akan merawat Ibu mu mulai besok, dan kau, bekerjalah untukku, nilai akademis mu harus bagus, buktikan padaku bahwa tiga tahun lagi kau akan layak untukku," pinta Alden kemudian. Binar tertegun, kata kata itu adalah kata kata yang ia janjikan semalam.
" Tuan ..." Binar menatap.
" Hm ..." Balas Alden acuh.
" Mengapa Tuan baik sekali padaku?" Lirih Binar.
" Aku mencium bau bau kemiskinan dalam hidupmu dan aku kasihan!" Terang Alden acuh. Binar lantas menelan ludah. Kata kata Pria tampan di depannya ibarat anak panah yang melesat lurus dan tepat mengenai urat malunya.
" Tuan .... Jika aku menolak?" Binar memberanikan diri. Bagaimanapun ia tidak begitu suka dikasihani seperti itu.
Alden mengangkat dagu pelajar itu, memandangi wajahnya yang jauh dari kata terawat.
" Semalam bagian dada maka malam ini bagian paha!" ancam sosok itu yang seketika membuat pelajar SMA itu kaget seraya menyenggol Vas bunga.
BRAKKK
" Hutangmu bertambah!"
__ADS_1