
Bab 19
" Jam berapa acaranya dimulai?" Bu Andine yang sudah rapi dari pagi lantas mondar-mandir, menatap Sang Putra yang masih merapikan dasi.
" Jam 8, santai kenapa sih, Mom. Kita akan ke acara lomba bukan ke penghulu," Alden berkomentar seraya menyemprotkan parfum di beberapa bagian tubuhnya.
" Justru itu! Berilah teladan yang baik untuk anak-anak sekolah! Jangan telat!" Bu Andine kembali mondar-mandir. Sekretaris Han yang berdiri di samping pintu hanya bisa mengulum senyum. Ia lega sekali akhirnya Sang Tuan Muda kembali lagi ke rumah walau hanya untuk sesekali saja, sebuah kemajuan.
Merasa sudah cukup puas dengan penampilannya , Alden lantas berdiri, menatap Sang Ibu yang dengan make up tipis yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.
" Sempurna!" puji Alden. Sang Ibu tersenyum senang.
" Kau melupakan sesuatu, Alden?" Bu Andine lantas mengeluarkan setangkai mawar merah dan memberikannya pada Sang Putra.
" Simpanlah. Mawar merah ini pasti akan kau berikan pada seseorang," ujar Bu Andine dengan senyum bahagian nya. Sekarang yang terpenting baginya adalah kebahagian Sang Putra. Seperti apapun wanita pilihan putranya , Bu Andine yakin itu adalah pilihan yang tepat.
Mobil itu melaju cepat membelah jalanan yang yang sepi. Sekretaris Han yang mengekor dari belakang sudah siap untuk ikut memeriahkan perlombaan.
Menempuh lebih kurang satu jam perjalanan, Alden lantas memperlambat laju mobilnya saat mendapati beberapa siswa dan siswi bersorak menyambut kedatangannya. Alden lantas menurunkan kaca mobil dan tersenyum. Ia mengidarkan pandangan ke sekeliling, berharap ada Binar yang ikut menyambut kedatangannya.
" Binar, sebentar lagi acara di mulai. Persiapkan diri mu!" Bu Dwita yang merupakan guru mata pelajaran Bahasa Inggris itu tampak repot, sibuk merapikan seragam sekolah Binar, merapikan rambut remaja itu serta memberi make up tipis di bagian wajahnya.
" See? How beautiful you are!" ujar Bu Dwita seraya menatap wajah fresh Binar pada cermin.
__ADS_1
"Thanks, Miss," balas Binar kemudian. Ia tersenyum meski jantungnya mulai berpacu lebih cepat dari biasanya.
Gemuruh serta sorak sorai para pelajar sontak mengagetkan Binar Dan Bu Dwita, keduanya buru-buru mengintip dari balik pintu.
" Oh, Mr. Alden and Mrs, Andine! Mereka sudah datang," Bu Dwita tersenyum saat menatap sosok itu di kejauhan.
" Mereka adalah bintang dalam acara ini, kau harus melakukan yang terbaik, Binar!" Bu Dwita memberi semangat, melebarkan kedua tangannya dan membiarkan Binar memeluknya.
Penyambutan orang-orang penting dari perusahaan diiringi oleh alunan biola yang di mainkan oleh seorang pelajar perwakilan dari jurusan IPA Sedangkan anak-anak dari jurusan IPS terlihat bersorak sorai, memenuhi setiap sudut ruangan yang akan di pakai untuk acara perlombaan. Anak IPA dan IPS memang kerap kali terlibat perang dingin.
Alden yang baru saja tiba, langsung mendapat sambutan hangat dari Kepala Sekolah serta dewan guru yang hadir dalam acara itu. Tak lupa pula para juri yang hadir tampak sibuk mengambil ponsel guna mengabadikan momen itu. Mereka lantas berdesak- desakan hanya untuk bisa berfoto bersama Alden dan Bu Andine yang tak henti-hentinya menebar senyum dan ucapan terima kasih.
Ah, orang-orang kaya memang berbeda!
Bu Andine yang duduk tak begitu jauh dari Sang Sekretaris lantas memberi kode sosok itu, meminta agar diberi tahu tentang sosok Binar yang sudah dari tadi ingin ia lihat. Sang Sekretaris hanya tersenyum seraya menunjuk ke arah barisan kursi yang berada di sisi sebelah kanan mereka.
"Itu, Nyonya," Bu Andine lantas melayangkan pandangan mengikuti arah telunjuk Sang Sekretaris tapi saat tatapan itu nyaris berhasil menangkap sosok Binar yang masih duduk diantara para peserta lomba, kedatangan Arumi justru menutupi pandangan Bu Andine.
" Boleh minta foto?" Arumi tersenyum seraya melambaikan tangan ke arah Alden. Alden lantas membuang muka saat mendapati Arumi berada di antara kerumunan para guru. Ia nekat masuk ke dalam barisan para tamu hanya demi bisa melihat Alden dan berfoto bersama.
Bu Andine menarik nafas lemah, meski demikian ia tetap berusaha mencari celah agar menatap Binar yang ada di kejauhan walau hanya samar-samar.
Setelah mengambil beberapa foto, Arumi lantas mendekati Alden hanya untuk berjabat tangan dan itu membuat ia harus menerima sorakan dari para pelajar yang tengah memadati lokasi.
__ADS_1
Beberapa kalimat cemoohan segara ditujukan pada Arumi yang terbilang amat berani dan tidak tahu malu.
Sekretaris Han menahan tawa saat menyaksikan kejadian di luar nalar tersebut sedang Alden berusaha tetap tersenyum meski dengan gigi gemeretak, menahan emosi.
Tidak lama setelah drama panjang di ruangan itu, dengung suara mikrofon memenuhi setiap sudut ruangan. Sebuah pembacaan susunan Acara segera di mulai. Aula yang tadinya gaduh berangsur -angsur senyap, yang terdengar hanyalah beberapa kata sambutan dan ucapan terima kasih yang di berikan oleh Kepala Sekolah beserta beberapa kalimat penyemangat untuk para peserta lomba.
" Susunan Acara sambutan yang kedua akan di berikan langsung oleh Bapak Alden Alexander selaku penyalur dana terbesar di sekolah SMAN I CEMPAKA tahun pelajaran 2021/2022, untuk waktu dan tempat, kami persilahkan!"
Dan Entah mengapa tiap kali nama itu Alden disebut sebagian siswi mulai berteriak teriak memanggil namanya serta mengucapkan kata "I Love You" dan itu membuat seisi Aula kembali bergaduh. Sebagian siswi malah berdesak-desakan ingin melihat sosok itu lebih dekat.
Alden Alexander lantas berdiri, melangkah menuju podium dan berdiri di sana. Seperti biasa, sebelum mulai memberi sambutan, Alden biasanya akan melayangkan pandangannya menyisir seluruh ruangan. Menatap wajah demi wajah para pelajar yang di penuhi senyum kegembiraan.
" Selamat siang semua anak-anak didik kami yang sangat kami sayangi, yang terhormat kepada Bapak Abimayu sastro selaku Kepala Sekolah, salam hormat kepada para dewan guru serta para juri dari acara perlombaan ini ....
Dari sisi sebelah kanan podium Binar menatap sosok itu, sosok yang berdiri dengan gagahnya, memberikan sambutan dengan lugas dan bahasa yang jelas. Sosok Pria yang benar-benar luar biasa di mata siapapun yang melihatnya.
Binar masih fokus menatap sosok itu, menatap wajahnya lama-lama membuat Binar semakin deg-degan. Terlebih saat Alden dengan sadar menatap ke arahnya lebih lama bahkan disertai dengan senyuman. Meski pun bibir itu tetap jelas mengucapkan kata sambutan tapi tatapannya tak lekas berpaling dari Binar yang sedang duduk di sisi ruangan di sebelah kanan podium.
' Semangat, gadis kecilku' Demikian batin Alden saat itu, meski kalimat itu tak ia ucapkan langsung tapi ia berharap Binar bisa memahaminya meski hanya lewat senyuman.
" Putraku benar-benar jatuh cinta," lirih Bu Andine seraya menatap ke arah Alden dan Binar secara bergantian.
" Ruangan ini seakan milik kalian berdua bahkan tak ada tempat untuk orang lain dalam setiap tatapan matanya," lirih Bu Andine lagi, sekretari Han hanya tersenyum. Menikmati setiap detik adegan saat Sang CEO dan Pelajar SMA itu kembali saling melempar senyum.
__ADS_1
" Aku rasa, kata sambutannya tidak akan habis jika mereka terus-terusan saling menatap," Seloroh Sang Sekretaris kemudian. Bu Andine mengulum senyum, tiba-tiba teringat akan masa-masa mudanya dahulu.