KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 13


__ADS_3

BAB 13


" Lihatlah, setelah seminggu dalam perawatan ku wajahmu jauh lebih cantik," Alden berdiri di belakang Binar yang masih betah menatap pantulan dirinya pada cermin besar itu. Pria itu lantas menyisipkan pita merah jambu pada rambut gadis itu dan merapikannya.


" Masih ada satu minggu lagi menuju perlombaan, lakukan yang terbaik," Alden menyemangati.


Binar tersenyum senang, sepasang mata bulat itu berbinar dan Alden sangat menyukai tatapan itu, manis sekali.


" Apa Tuan akan hadir?" tanya Binar.


" Hm ... Jika ada waktu mungkin aku akan hadir untuk memberikan sambutan singkat dan akan menyematkan penghargaan untuk para peserta yang menang," ujar Alden sembari merapikan kemejanya.


" Tuan ...." Binar menatap, hendak mengutarakan sesuatu.


" Katakan saja ..." balas Alden sembari memakai jam tangan dan sesekali menatap cermin.


" Jangan beri sambutan yang bertema moral," Binar tampak ragu-ragu.


" Lantas?" Alden tampak acuh namun sebenarnya ia sudah bisa menebak ujung dari pembicaraan mereka.


" Ah ... maksud ku, aku sedikit tersindir dengan pidato Tuan yang kemarin." Binar menekuk wajah. Alden lantas terkekeh, sungguh ia tak bisa menyembunyikan tawa tiap kali mendengar penuturan gadis itu.


" Jangan tertawa, aku serius ..." Binar menutup wajah, malu.


" Ok, ok, baiklah ... Akan ku coba memberi sambutan dengan tema lain, kira-kira apa judulnya?" Alden meraih bahu pelajar SMA itu dan membiarkan gadis itu menatapnya.


" Bagaimana kalau judulnya " Gagal jual diri berujung main hati atau Pelajar SMA di kamar Tuan Muda? Ah ... tiba-tiba aku pusing memikirkan judulnya?" Alden menggigit Bibir, menahan geli saat menatap wajah Binar yang merah padam.


" Tuan mengerjai ku ... Hah!" Binar lantas mencubit pinggang Pria tampan yang begitu ia kagumi.


" Baiklah ... Kalau begitu, Apa kira-kira judulnya?" Alden meletakkan kedua tangannya tepat di atas bahu gadis itu. Binar perlahan mengangkat wajahnya dan balas menatap sosok tampan yang setiap inci wajahnya nyaris tanpa cela, sempurna.


" Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah, kau masih muda dan banyak-banyaklah belajar," nasehat Alden kemudian. Binar lantas tersenyum dan ....


Cup!

__ADS_1


Binar lantas mendaratkan satu kecupan tepat pada pipi Pria itu dan memutar langkah menuju pintu. Sekretaris Handika yang tiba di depan pintu tampak mengulum senyum dan segera berpamitan. Alden mematung sembari meraba pipi sebelah kanannya kemudian kembali menatap wajah tampannya pada cermin.


" Ah, kenapa wajahku jadi merah begini?" gumam Alden sembari menyentuh bekas bibir Binar yang serasa masih menempel meski sosok itu sudah berada di dalam lift.


" Seminggu mengasuh Pelajar SMA ternyata membuatku sudah gila, entah gila atau tergila gila, aku nyaris tak bisa membedakannya," Alden lantas beranjak menuju nakas, meraih laptop dan beranjak menuju pintu.


" Ah, akhirnya ke kantor lagi," Alden lantas menutup pintu dan berlalu dengan santai. Ia pergi dengan serta membawa hatinya yang tengah berbunga. Sepanjang berada di dalam lift yang ada di pikirannya hanyalah kenangan yang terukir seminggu belakangan.


' Jatuh cinta kah aku padanya?' batin Alden sembari mendongak ke atas, menepuk pipinya secara bergantian serta menatap pantulan dirinya pada dinding.


" Pelajar SMA itu ternyata bisa mencuri hatiku!" Alden tersenyum simpul.


***


" Kau kemana saja, ku dengar kau sakit parah?" Arumi yang baru saja tiba di depan kelas lantas mencerca Binar dengan berbagai pertanyaan.


" Kemarin aku ke rumah mu dan kau tak ada di sana?" tanya Arumi lagi.


" Hei, aku bertanya pada mu, see? Kau membuatku khawatir?" Arumi mencegat Binar dan menghentikan langkahnya, Binar lantas tertawa.


" Tapi wajahmu merona? Kau sedang jatuh cinta?" Arumi menambahkan lagi meski Binar belum menjawab sepatah kata pun.


" Huh ! Sekarang kau main rahasia-rahasian ya?" Arumi menekuk wajah, kecewa.


Keduanya lantas menuju ruang kelas, sebagian kelas telah di bersihkan dan di dekor dengan berbagai bentuk kesenian. Tanaman hias tampak berjajar rapi dan mewarnai koridor setiap kelas. Beberapa poster terpampang berisi wajah-wajah para peserta lomba.


" Kaget, kan?" Arumi tersenyum sembari menunjuk ke arah Baliho yang berisi foto Binar dan beberapa peserta lomba.


" Sejak kapan ini dibuat?" Binar tak mempu menyembunyikan rasa takjubnya.


" Sejak kau tidak masuk sekolah dan membuatku khawatir," Arumi memasang wajah acuhnya kemudian terkekeh.


" Lihat wajah manis mu itu, wajah remaja yang begitu polos," Arumi kembali menunjuk ke arah foto Binar yang bertengger di Mading Sekolah.


" Anyway, thanks ... kamu baik banget," Binar lantas mencolek hidung Arumi dan menggandengnya menuju kelas.

__ADS_1


Tak lama berselang, bel tanda pelajaran akan segera di mulai berdering nyaring. Sebagian siswa yang masih berada di luar kelas lantas buru-buru masuk dan menyiapkan berbagai perlengkapan belajar.


" Bagaimana dengan pidato bahasa inggris mu?" Arumi menoleh ke arah Binar yang baru saja meletakkan buku di atas meja.


" Aku masih berusaha," balas Binar. Ia kemudian membuka buku pelajaran yang baru saja di ambilnya dalam loker kelas sebelum bel berbunyi tadi.


HEI GADIS SOK POLOS! JANGAN BERSEMBUNYI DI BALIK WAJAH LUGU MU ITU!


Binar mengerjab beberapa kali bahkan kembali mengulang kalimat berhuruf kapital yang tertera di depan buku tulisnya. Ia lantas membuka halaman selanjutnya dan mendapati tulisan serupa namun lebih mengancam.


SIMPANAN OM OM! MURAHAN DAN AKAN KU BUAT KAU MALU!


Deg!


Binar menyentuh tulisan itu perlahan, tulisan bertinta merah yang di tulis dengan berantakan namun isinya begitu membuat Binar tersentak.


" Apa yang kau baca? Kenapa wajahmu jadi tegang begitu?" Arumi mengintip dari celah-celah jemari Binar. Binar langsung menutup buku itu dan menyimpannya di dalam tas.


" Kau kenapa?" Arumi menatap penasaran.


" Aku tidak apa-apa ...." Binar meremas jemarinya sendiri serta mengusap wajahnya hingga beberapa kali.


" Apa penyakit mu kambuh lagi?" Arumi menatap heran. Binar menggeleng kemudian menatap lurus ke depan. Pelajaran Bahasa Indonesia baru saja di mulai. Ketua kelas tampak berdiri memberi salam di susul oleh ucapan salam dari seluruh siswa tak terkecuali Binar dan Arumi.


"Hari ini kita akan belajar mengenai majas personifikasi yaitu majas yang mengumpamakan benda mati seolah olah bernyawa seperti mahkluk hidup.


Ibu akan menunjuk salah satu siswa untuk memberikan contoh.


"Arumi! berikan contoh!"


Arumi yang masih sibuk mencari tahu tentang perubahan sikap Binar lantas keget dan berdiri.


" Pena itu menari nari di atas kertas ..." Arumi menyahut cepat meski wajahnya berubah pucat dan gemetar.


" Biasakan untuk fokus pada saat jam pelajaran!"

__ADS_1


Guru Bahasa Indonesia itu tampak melotot dan mengomeli Arumi meski jawaban yang di berikan pelajar itu benar.


" His ... Dia lebih cocok menjadi guru karate ketimbang guru bahasa!" Arumi menatap dongkol sosok guru yang nyaris saja membuat jantungnya lepas.


__ADS_2