KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 27


__ADS_3

Bab 27


Matahari mulai memancarkan sinar kemerahan, membias pada kaca Apartemen milik Alden. Di sofa melingkar itu, kelima orang itu masih sibuk memecah teka-teki mengenai penyebar video itu. Sang Sekretaris tengah sibuk membuka file yang baru saja di kirim oleh orang-orang kepercayaan mereka di dalam perusahaan. Alden yang duduk tak begitu jauh dari Sekretarisnya lantas meneliti deretan pembeli yang mengorder Spycam dalam seminggu belakangan. Pria itu menunjuk tiap deretan nama yang masuk, nyaris sebagian besar pengorder Spycam berasal dari pihak kepolisian, dibeli dengan tujuan untuk menyelidiki kasus tertentu. Memang sesuai dugaan, bahwa perusahaan nya memang tidak pernah memasarkan camera pengintai seperti itu secara bebas. Paling tidak, harus ada identitas resmi yang ditinggalkan oleh setiap orang yang mengordernya.


"Tuan Alden ...," Sang Sekretaris menghentikan kursor tepat pada sebuah nama. Kedua sosok itu lantas saling memandang tanpa mengucap sepatah katapun.


" Mini spycam, di order secara pribadi pada tanggal 6 Februari 2023 atas nama Bapak Dirga Santoso dengan id resmi. Keterangan penggunaan untuk bahan penelitian." Sang Sekretaris menuturkan informasi yang baru saja ia baca.


" Siapa Dirga Santoso? Apa kalian mengenal Dirga Santoso?" Alden lantas bertanya kepada semua orang yang berada di dalam ruangan seraya memperlihatkan id dari sosok yang bernama Dirga Santoso itu.


" Aku pernah mendengar nama itu," lirih Binar.


" Bukankah itu sopir pribadi Arumi?" Pak Arya menambahkan setelah mengamati id resmi pada layar laptop milik Alden. Seluruh mata lantas tertuju padanya.


" Itu benar. Arumi dan aku pernah pulang bersama. Aku pernah bertemu sosok itu beberapa kali di depan gerbang sekolah," Binar menuturkan sebuah fakta penting.


" Bawa padaku supir itu sekarang juga!" Untuk kesekian kalinya Alden harus merenggangkan kerah kemejanya. Darahnya terasa memanas saat menghadapi situasi berbelit seperti ini.


" Tenanglah, bukankah kita punya mata dan telinga yang tajam untuk mengurus masalah seperti ini? Biarkan mereka bekerja untuk kita!" Bu Andine lantas meminta Sang Putra untuk kembali duduk.


" Aku tidak bisa tenang, Mom." Alden lantas meraih botol minuman yang berada di atas meja kemudian meneguknya sampai habis. Pak Handika beserta para bodyguard nya sudah berangkat menuju alamat Sang Sopir yang mereka dapat melalui data-data resmi yang tercantum dalam catatan order.


" Arumi ..., Adakah keterkaitan dia dalam masalah ini? Oh apa salahku padanya?" lirih Binar sedih. Meski masalah ini belum menemui titik terang tapi Binar merasa sesuatu yang lebih menyakitkan akan segera datang dalam hidupnya.


Ruangan itu kembali hening. Alden lantas berdiri, membuka pintu penghubung antara balkon dan kamar. Kemilau cahaya senja di kejauhan melesat masuk. Menembus hingga ke setiap sudut kamar. Pria dengan postur tubuh tinggi itu lekas menuju balkon dan berdiri disana seperti kebiasaannya sebelum ini.

__ADS_1


" Binar .... Apa kalian biasa berduan di Apartemen ini?" Bu Andine menggeser posisi duduknya. Mendekati Binar yang beberapa kali menghela nafas lelah. Binar lantas menoleh.


" Setiap Tuan memintaku datang maka aku akan datang, Bu." Balas Binar pelan.


" Oh begitu, itu bearti kalian bisa bertemu kapan saja. Oh ya, Apa putraku pernah menyatakan perasaannya padamu?" Bu Andine rasanya tak perlu berbasa-basi lagi mengenai rasa penasaran nya.


" Perasaan seperti apa maksud Ibu?" tanya Binar kemudian.


" Ya .... semacam rasa tertarik, jatuh cinta atau perhatian yang sangat berkesan untukmu?" bisik Bu Andine, ia lantas buru-buru melirik Alden. Berjaga-jaga agar sosok itu tidak mendengar pembicaraan mereka.


" Tidak pernah Bu. Hanya saja, dia sosok yang sangat baik dan perhatian kepada semua orang," jelas Binar.


" Perhatikan kepada semua orang?? Ah, inilah masalahnya. Aku benar-benar berharap agar Alden cepat menikah kemudian memberi ku banyak cucu yang lucu. Aku merasa kesepian di rumah sebesar itu." Keluh wanita dalam balutan setelan jas merah muda itu dengan tatapan sendu.


" Ya ..., Punya 3 atau 4 cucu misalkan," Bu Andine tersenyum. Fikirannya melayang, membayangkan bahwa rumahnya akan begitu ramai oleh suara anak kecil setiap harinya.


" Siapa yang ingin punya 3 sampai 4 cucu?"


Pertanyaan Alden lantas membuyarkan lamunan indah milik Sang Ibu. Entah sejak kapan Sang Putra sudah berdiri di depan pintu. Hanya saja, Bu Andine langsung dibuat kaget oleh pertanyaan yang begitu mendadak itu.


" Ah bukan siapa-siapa ....," Sang Ibu langsung memperlihatkan senyum palsunya, senyum yang terkesan dibuat buat.


" Kenapa sekretaris ku lama sekali? Mencari satu alamat saja harus berjam-jam," Alden menggerutu, mondar-mandir di depan pintu dengan raut wajah cemas.


Tepat pada pukul 17:20 WIB, Sang Sekretaris tiba di Apartemen dengan serta membawa sosok Pria yang jika di tafsir berumur sekitar 50 tahun dengan postur tubuh berisi dan tidak terlalu tinggi. Pria itu lantas duduk berhadapan langsung dengan Sang CEO beserta Sekretarisnya.

__ADS_1


" Pada tanggal 6 Februari 2023, seseorang bernama lengkap Dirga Santoso mengorder Spycam dari perusahaan DWA untuk keperluan penelitian. Benar itu Anda?" Alden bertanya lantang seraya menatap tajam sosok yang terlihat menunduk di depannya.


" Itu ... itu bukan saya, Tuan," ujar Pria itu seraya *******-***** jemarinya sendiri.


" Pak Dirga Santoso, aku tidak suka dibohongi!" Alden lantas memutar laptopnya menghadap ke arah sosok itu. Pria itu menatap sejenak kemudian kembali menunduk.


" Dalam perusahaan ku, Spycam tidak dipasarkan secara bebas. Setiap orang yang mengorder harus meninggalkan identitas resmi dalam catatan order. Bukankah itu adalah identitas resmimu?" Alden menunjuk foto yang ada pada layar.


Sosok itu tak menyahut. Keringat dingin tampak mengalir membasahi pelipisnya.


" Pak Dirga Santoso! Katakan sejujurnya sebelum aku bertindak kasar!" Alden lantas menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Memperlihatkan lengan kanannya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar.


" Tuan ..., Itu benar aku, tapi aku mengordernya bukan untuk keperluan ku, melainkan atas perintah nona Arumi," Pak Dirga Santoso menuturkan kebenaran yang tadi sempat ia tutup-tutupi.


" Lantas kenapa kau takut sekali?" Alden menarik nafas berat kemudian menggeleng lemah.


" Nona memintaku merahasiakan ini, Tuan," tambah sosok itu lagi.


" Tadinya Nona Arumi ingin mengorder kamera itu sendiri tapi karena nona masih berusia 16 tahun dan belum memiliki identitas resmi jadi ia memintaku untuk melakukan nya," sosok itu kembali menuturkan.


Ah, Alden nyaris saja memukul meja saat dihadapkan dengan kenyataan seperti ini. Terlebih Binar, remaja berusia 16 tahun ini membeku, tak mampu mengatakan sepatah katapun meski rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya.


" Apa Pak Dirga tahu untuk keperluan apa Arumi mengorder Spycam itu?" tanya Alden lagi.


" Dia tidak bilang untuk apa dan akupun tidak diperbolehkan untuk terlalu banyak bertanya."

__ADS_1


__ADS_2