KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 29


__ADS_3

Bab 29


" Apa keputusan yang akan Tuan ambil setelah ini?" Sang Sekretaris duduk tepat di samping Sang Tuan Muda. Rasa kesal masih terlihat jelas pada raut wajah pria itu.


" Keluarkan Arumi dari sekolah! Katakan pada Pak Abimanyu agar memproses masalah ini dengan cepat." Ujar sosok itu pendek. Ia tak ingin berlarut-larut dalam masalah yang sama.


" Baiklah jika itu keinginan, Tuan." Sang Sekretaris segera berpamitan. Memberikan ruang yang cukup lama pada Alden untuk berfikir. Untuk berdamai dengan hatinya sendiri.


" Tuan, aku minta maaf ..., tak seharusnya masalah ini melibatkan, Tuan." Binar memecah keheningan. Sebenarnya jauh di dalam hatinya, ia berharap agar Alden hanya memberikan skorsing pada Arumi, tapi rupanya keputusan sang CEO sudah benar-benar tidak bisa diganggu gugat.


" Ini adalah masalah Arumi dan perasaan nya sendiri. Seseorang yang terbakar cemburu kadang sukar mengontrol emosinya dengan benar. Demikianpun dengan Arumi. Hanya saja, tadinya aku berharap ia datang dan meminta maaf padaku dan padamu tapi sayangnya ..., ia justru konsisten dengan keras kepalanya dan justru menyalahkan orang lain," ujar Alden seraya melepas jam tangan bewarna hitam yang ada pada lengan kirinya.


" Tuan .... haruskah Arumi dikeluarkan dari sekolah?" Binar tampak ragu namun Alden mulai sibuk dengan laptopnya.


" Harus!" jawab Alden singkat.


" Aku dan Arumi berteman sudah cukup lama dan hubungan kami sangat baik, Tuan ..." Binar mencoba mengutarakan sesuatu.


" Lalu?" Alden menyahut. Membiarkan Binar berterus terang dengan keinginannya.


" Tidakkah sebaiknya ..., masalah ini diselesaikan dengan cara yang baik?"


" Tidak! Persahabatan kalian adalah persahabatan dua orang wanita yang penuh kepalsuan. Dalam dunia bisnis, itu disebut hubungan yang tidak menguntungkan! Untuk itu, lupakan niat untuk membuatku berubah pikiran karena pada kenyataannya keputusan yang kubuat tidak akan berubah!" Alden menutup laptopnya. Menatap Binar yang duduk dengan wajah tertekuk.


" Paham Binar Kinasih Alexander?" Alden menatap angkuh. Binar tak berani menyahut meski ia tidak begitu suka dengan nama belakangnya yang tiba-tiba berubah tanpa konfirmasi dirinya terlebih dahulu. Alden lantas terkekeh.


" Lucu sekali ya, kita belum resmi berpacaran tapi sudah memicu kasus seheboh ini," Lagi-lagi Alden tertawa.


" Apa yang Tuan tertawakan? Sungguh ini tidak lucu!" Binar mengerucut. Membuat Alden kembali tertawa.


" Apa Tuan tidak tertarik dengan Arumi? Dia kan cantik dan berasal dari keluarga kaya?" tanya Binar.


" Tidak! Sebagai seorang gadis, Arumi terlalu agresif! Aku tidak suka!" balas Alden kemudian.


" Umurku sudah nyaris 28 tahun. Aku sudah tidak ingin bermain-main dengan kata pacaran! Aku ingin menikah dengan seseorang yang membuatku nyaman, nyaman saat pulang ke rumah," Alden tersenyum.


" Oh ya, Apa kau mendengar kata-kata yang ku ucapkan saat sedang berbicara dengan Arumi?" Alden bertanya kemudian. Binar menggeleng.


"Tidak, Tuan." sahut Binar pendek. Padahal ia mendengar semua pembicaraan kedua orang itu namun enggan mengakuinya. Entah hubungan macam apa yang tengah mereka bangun saat ini? Kadang Binar berfikir Alden benar-benar jatuh cinta padanya tapi di lain sisi ia menyadari sesuatu bahwa benar kata Arumi, ia tak layak berdampingan dengan sosok itu. Jauh sekali dari kata serasi.


" Sungguh?" Alden mengulang.


" Sungguh, Tuan." Binar menatap yakin. Alden justru menghela nafas.


" Memangnya apa yang Tuan katakan?" selidik Binar.

__ADS_1


" Sudah lupakan ..." Alden lantas berdiri. Membuka pintu menuju balkon dan berdiri disana. Binar mengekor dari belakang.


" Besok pagi, bicaralah dengan Arumi." Alden menatap kejauhan. Menatap gedung-gedung pencakar langit milik perusahaan kosmetik yang akhir-akhir ini sangat viral.


" Bukankah Tuan tidak suka?" Binar berdiri tepat disampingnya sosok itu.


" Um ... Aku bukan laki-laki yang suka merusak persahabatan orang! Selesaikan apa yang harus diselesaikan. Waktu mu bertemu Arumi tinggal 5 hari lagi, dimulai besok," Ujar Alden santai.


" Setelah kasus ini, tak ada yang akan mengusik keberadaan mu di Apartemenku! Apartemen kita." Alden tersenyum. Binar lantas menghela nafas panjang 'Dia mulai lagi' batin Binar.


***


Usai mengucap salam pada sekuriti yang berada di gerbang sekolah, Binar lantas buru-buru menuju ruang kelas. Ia ingin bertemu Arumi dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Apapun pengakuan yang dikatakan Sang Tuan Muda, itu tidak mengubah kenyataan apapun bahwa sebenarnya Alden dan dirinya tidak terlibat hubungan apapun. Mereka dekat? Ya memang dekat. Sang Tuan Muda perhatian? Memang perhatian. Tapi cinta tidak cukup hanya dengan itu. Sebuah kalimat pembuktian belum Binar dapatkan secara langsung dari sosok itu sampai saat ini.


Jadi sebenarnya hubungan Apa yang tengah mereka bangun? Entahlah. Cinta dalam diam? Cinta tapi gengsi? Atau teman tapi mesra? Atau justru ini yang dinamakan cinta monyet? Ah, lagi-lagi Binar tak mengerti kenapa primata berbulu itu justru dilibatkan dalam masalah perasaan yang belum jelas ini.


Memasuki pintu kelas, Binar menangkap sosok Arumi yang tengah duduk dengan secarik kertas di tangannya. Binar ingin menyapa, namun ragu. Akhirnya Binar memutuskan duduk tepat di bangku yang berada di belakang Arumi.


" Pagi ...,"


Setelah merangkai puluhan kalimat disepanjang perjalanan menuju kelas, justru kata itu yang bisa lolos dari bibir gadis berseragam SMA itu. Arumi menoleh kemudian tersenyum.


" Pagi ...," balas Arumi. Meskipun terasa canggung, kebekuan ini harus segera dicairkan.


" Sedang membaca apa?" tanya Binar lagi. Arumi lantas menyodorkan selembar kertas ke arahnya.


" Aku .... minta maaf," Binar terbata. Dadanya seketika menghangat. Tiba-tiba ia merasa bersalah akan keputusan ini.


" Pak Alden yang memutuskan. Kau tidak salah. Aku justru malu padamu," Arumi menunduk.


" Binar .... Apapun keputusan yang diberikan Pak Alden. Aku menerimanya, aku tetap menyukainya walau dalam bentuk apapun itu," ujar Arumi lagi. Binar terdiam, sungguh cinta benar-benar membuat seseorang hilang akal dan terkesan bodoh.


" Kemarin, ia membiarkan aku memeluknya. Aku lega, aku lega telah menyatakan isi hatiku padanya meski ia menolak ku mentah-mentah. Kau tahu kan bahwa aku bukan orang yang suka menyimpan rasa suka terlalu lama?" Arumi menambahkan. Binar lagi-lagi tak mengerti dengan jalan fikiran temannya itu.


" Aku dan Pak Alden tidak mempunyai hubungan apa-apa. Harusnya kau tidak melakukan hal senekat ini!" Binar lantas menyerahkan kembali selembar kertas berisi pertanyaan bahwa Arumi dikeluarkan dari sekolah.


" Benarkah? Tapi walau demikian, aku tidak suka melihat kedekatan kalian," raut wajah Arumi berubah, berubah cepat sekali.


" Tapi kenapa? Bukankah sah-sah saja jika Pak Alden berhubungan baik dengan gadis lain?" Binar menatap. Pembicaraan mereka memasuki obrolan yang cukup serius.


" Kau bilang begitu karena kau belum merasakan seperti apa rasanya jatuh cinta? Saat kau jatuh cinta dengan seseorang, kau tidak akan membiarkan ada wanita lain di dekatnya apalagi sahabatmu sendiri, Binar!" Arumi menegaskan, membuat Binar menautkan sepasang alisnya, berfikir dan tak mengerti dengan jalan fikiran Arumi yang begitu aneh.


" Kau terobsesi, Arumi? Itu bukan cinta. Itu obsesi yang berlebihan!" tegas Binar.


" Apapun itu namanya. Bagiku, apapun yang aku inginkan, aku harus mendapatkannya!" Arumi beranjak pergi dengan secarik kertas di tangan kanannya.

__ADS_1


Binar menggeleng.


" Benar-benar gila! Ku pikir Arumi akan meminta maaf dan menunjukan rasa penyesalan padaku? Huh! Benar-benar anak satu ini!" Binar lantas membuka tasnya. Mengeluarkan sebotol air mineral kemudian meneguknya sejenak, mendinginkan dada yang terasa panas terbawa emosi.


Setelah basa-basi yang membuang-buang waktu itu. Arumi menghilang dari pandangan mata. Dia tidak dijumpai di manapun. Binarpun enggan mencari tahu keberadaannya. Tak ada gunanya menasehati seseorang yang tengah kasmaran. Justru akhirnya dirinyalah yang akan disalahkan.


***


" Tuan, seseorang memaksa masuk. Dia berada di depan ruang resepsionis,"


Seorang wanita berdiri di depan meja kerja berlabel CEO itu setelah dipersilahkan masuk oleh Sang Tuan Muda.


" Siapa?" Alden melepas kaca matanya dan menutup laptop sebentar. wanita itu tampak ragu menyebutkan nama dari seseorang yang dimaksud.


" Siapa orangnya?" Alden lantas menautkan jemarinya, menatap karyawannya yang terlihat gugup.


" Tuan ..., Dia ...."


" Nona Leony, Tuan Muda." Pak Handika muncul dari luar pintu dan berdiri diantara keduanya.


Alden membeku beberapa saat. Dunianya terasa berhenti sesaat setelah nama itu disebut oleh Sang Sekretaris. Leony? wanita yang pernah mengisi hatinya dahulu, yang pernah singgah namun meninggalkan luka tanpa penjelasan sepatah katapun.


" Tuan Muda ...?" Sang Sekretaris membuyarkan lamunan Sang CEO yang terdiam.


" Siapa?" Alden lantas mengulang pertanyaan yang sama. Ia sungguh tak percaya dengan nama yang baru saja disebutkan oleh Sekretaris nya itu.


" Nona Leony Atmajaya, Tuan!" ulang Sang Sekretaris kemudian. Alden membisu.


" Tuan ..."


" Usir dia!" sahut Alden kemudian.


" Nona Leony sudah berkali-kali di usir namun tatap berada di ruang tunggu, Tuan." Wanita itu menjelaskan masalah yang membuatnya harus melapor langsung pada Sang CEO.


Alden menarik nafas berat.


" Pak Handika, masalahku menumpuk akhir-akhir ini," Alden lantas berdiri. Mempersilahkan Sang Resepsionis untuk meninggalkan ruangan.


" Tuan, tidakkah menurutmu aneh jika nona Leony tiba-tiba muncul setelah menghilang tanpa kabar beberapa tahun belakangan?" Sang Sekretaris ikut berdiri tepat di samping sosok itu.


" Sesuatu pasti mengusik persembunyiannya! Buat dia menunggu selama mungkin!" jawab Alden santai.


" Apakah kecurigaan kita terbukti, Tuan?" Pak Handika menatap jauh, menembus dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung produksi dikejauhan. Sebuah pertanyaan sontak memenuhi pikirannya, Benarkah keberadaan Leony yang datang secara tiba-tiba untuk membela Arumi, sang adik perempuannya?


" Mari kita lihat, apa yang akan wanita itu lakukan!" Alden lantas menarik sebelah kiri sudut bibirnya, melipat kedua tangan di dada. Bersiap dengan peperangan baru yang diciptakan oleh seseorang yang berasal dari masa lalunya.

__ADS_1


" Leony Atmajaya, welcome to the past!"


__ADS_2