KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 34


__ADS_3

Bab 34


Sepanjang Alden hidup dan merasakan jatuh cinta, ini adalah kali pertamanya dalam hidup ia mendapati seseorang yang jatuh cinta padanya benar-benar hanya mengandalkan 100 persen perasaannya saja, minus logika. Tadinya, Alden menganggap semua ini akan mudah dan akan berlalu sebagimana mestinya tapi pada kenyataannya tidak. Ini adalah kali keduanya Arumi melakukan sesuatu yang begitu nekat. Pertama ia mengorbankan orang lain dan kedua ia mengorbankan dirinya sendiri.


Entah apa yang sebenarnya ada dalam fikiran pelajar 16 tahun itu? Jatuh cinta? Oh, semua orangpun pernah jatuh cinta. Ia dan Leony juga pernah merasakan jatuh cinta dulu waktu mereka masih berseragam abu-abu. Tapi sungguh, cinta mereka berjalan wajar sebagaimana mestinya dan tidak harus melanggar batas apapun. Binar? gadis sebaya dengan Arumi, sama-sama pelajar belia berusia 16 tahun yang bahkan tak berani menatap matanya meski Alden telah terang-terangan menunjukkan rasa sukanya.


Alden bahkan kini terang-terangan mencari perhatian Binar meski sosok itu tampak malu-malu dan berusaha menghindar. Jual mahal? Alden justru suka itu. Karena pada dasarnya, semua wanita di dunia ini memang mahal.


Malu? Oh benar. Ada satu hal yang tidak dimiliki Arumi dan itu yang membedakan keduanya. Arumi tidak dianugerahi rasa malu seperti gadis pada umumnya. Dia terlalu agresif dan kekanak Kanakan. Sekali lagi, Alden harus mengatakan bahwa dia tidak suka dengan cinta yang seperti itu. Di usianya yang sekarang ini sudah barang tentu ia mencari sosok yang bisa berfikir dan bertindak secara dewasa. Meski kadang tak bisa dipungkiri, sikapnya juga kadang bisa berubah kekanak-kanakan terlebih bila terbawa emosi.


Sebenarnya, Pria seperti Alden sangat mudah mendapatkan wanita di luar sana. Tapi ia tidak tertarik dengan kehidupan yang seperti itu. Ia menjaga jarak meski para kolega bisnisnya kerap kali menggodanya dengan kehidupan bebas di luar sana. Bertemu Binar, ia merasa menemukan kembali kepingan kebahagiaan yang pernah hilang. Meski terpaut usia yang amat jauh tapi cara berfikir Binar dalam memaknai kehidupan sungguh jauh melebihi usianya. Binar mendewasa lebih cepat karena ditempa kerasnya kehidupan begitupula yang pernah Alden alami saat remaja dulu.


Untuk berada disisinya, benar-benar dibutuhkan wanita yang kuat secara mental, tidak posesif dan tidak kekanak-kanakan. Alden pernah menemui sekali tipe wanita seperti itu namun jarak membuatnya harus menelan pahitnya kehilangan.


Alden manatap layar ponselnya, beberapa menit lagi menuju tengah malam. Sang Sekretaris belum memberikan kabar terbaru mengenai kondisi Arumi yang tengah dirawat di rumah sakit dikarenakan kehabisan cukup banyak darah.


" Bunuh diri? Ah, Apa yang sebenarnya ada dalam pikiran anak itu?" tanya Alden. Lirih suaranya memecah sunyi dalam kamar Apartemennya.


" Apakan ini salah satu caranya juga agar bisa menarik simpatiku?" Alden menggeleng, tak mengerti. Ia lantas beranjak meninggalkan tempat tidurnya. Balkon seperti nya akan menjadi salah satu pilihannya.


Alden membuka pintu, semilir malam berhembus, menerobos masuk ke dalam kamar Apartemennya. Ia berdiri disana. Menatap Kilauan cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit dikejauhan. Heningnya malam membawa ketenangan tersendiri baginya. Pernah ada keinginan untuk berkunjung ke sebuah villa milik keluarga besarnya yang ada disebuah pulau namun sampai saat ini ia belum bisa merealisasikannya. Kesibukan benar-benar menyita waktunya bahkan sekedar untuk berlibur pun ia sulit.


Dering ponsel di saku membuyarkan lamunan Alden. Ia merogoh benda pipih itu kemudian menatap layar dengan sebuah panggilan dari Sang Sekretaris.


" Malam, Tuan. Maaf mengganggu waktu istirahat mu." ujar Sang Sekretaris.


" Tidak apa, katakan apa berita terbarunya?" tanya Alden lirih.


" Nona Arumi belum sadarkan diri sampai saat ini. Aku masih berada di rumah sakit bersama Dokter Larisa." ujar Sang Sekretaris.

__ADS_1


Alden menghela nafas.


" Aku tak tahu harus berkomentar apa, Pak Handika ..., Aku bahkan kesulitan untuk sekedar memejamkan mata." lirih Alden.


" Biar aku dan Dokter Larisa yang mengurus masalah ini. Tuan beristirahat lah, jaga kesehatan. Akan ada banyak hal baru yang akan Tuan temui dan itu butuh kondisi fisik yang bagus," Nasehat Sang Sekretaris kemudian. Alden menarik sudut bibirnya.


" Apa Leony juga disitu?" tanya Alden.


" Sedang beristirahat. Ku dengar kedua orang tuanya akan pulang ke Indonesia besok pagi. Tuan ..., tentu Tuan sudah bisa menebak apa maksudku," ujar Sang Sekretaris lagi. Alden membisu untuk sesaat.


" Jika masalahnya merembet ke urusan bisnis maka aku berharap kau sudah siap dengan kartu hitam milik perusahaan mereka. Tidak ada bisnis yang benar-benar berjalan dengan jujur, kita semua tahu tentang itu." Ujar Alden.


Sang sekretaris lantas tersenyum. Dulu sekali, dua keluarga besar ini pernah berdamai saat Leony dan Alden menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun, setelah keduanya putus, hubungan keluarga ini kembali retak.


Mendiang Tuan Antonio merupakan sosok yang sama kerasnya seperti Alden. Caranya memimpin dan menghadapi masalah sungguh tak bisa dianggap remeh. Meskipun berpulang di usia yang masih muda, sampai saat ini kasus kecelakaan yang merenggut nyawanya masih menyisakan tanda tanya. Dan ini bukan masalah yang bisa dilupakan begitu saja.


Usai menerima kabar dari Sang Sekretaris, Alden memilih duduk di sofa yang berada di balkon Apartemen nya. Menikmati segelas cappucino hangat membuat kedua netranya terasa segar. Kantuk enggan menggoda lagi.


" Mungkin dia sudah tidur," lirih Alden seraya menggeser tiap foto Binar yang tersimpan pada handphonenya.


" Semoga dia memimpikan aku dan bukan guru olahraga itu!" tambahnya.


Alden lantas kembali menggeser foto demi foto yang masih berada pada layar ponselnya. Terbesit niat untuk mengungkapkan perasaannya pada Binar secara langsung tapi ia takut di tolak. Sungguh tidak lucu bila nantinya Binar menolak cintanya karena harus fokus belajar. Terlebih sebentar lagi pelajar berusia 16 tahun itu akan naik ke kelas tiga. Tentu fokus belajarnya akan semakin tinggi.


Berfikir cukup lama sembari memperhatikan foto-foto sang pujaan hati justru membuat Alden menguap hingga beberapa kali. Sudah lewat dari tengah malam, udara semakin dingin dan begitu menusuk tulang. Ia lantas kembali ke tempat tidurnya setelah menutup pintu itu rapat.


Beberapa menit berlalu, Alden mulai terlelap.


Di rumah sakit, Leony yang baru saja terbangun dari istirahatnya lantas menghampiri Sekretaris Han yang tengah duduk di ruang tunggu. Keduanya lantas saling melempar senyum meski sedikit canggung. Leony lantas duduk bersebelahan dengan Sekretaris Han. Wanita itu tampak menghela nafas sejenak, matanya terlihat sembab seperti baru saja menangis.

__ADS_1


" Tadinya aku berfikir bahwa semua ini akan baik-baik saja ..., tapi ternyata perkiraanku meleset. Sebelum kejadian ini, aku sempat bersitegang dengan Arumi. Dia begitu keras kepala, aku sampai kewalahan menghadapi sikapnya," keluh Leony.


" Lantas mengapa nona mengabariku? Bukankah Nona Leony sudah tahu bahwa keputusan Tuan Muda tidak akan berubah," balas Pak Handika.


" Aku tahu, Pak Handika. Aku mengabarimu bukan untuk mengemis kepada Alden agar ia merubah keputusan nya tapi untuk mengingatkan kalian bahwa masalah ini tidak hanya melibatkan Alden dan Arumi saja, melainkan seluruh keluarga besar akan terlibat." Jelas Leony.


" Tuan Alden tidak akan main-main jika keluarga mu membawa-bawa bisnis dalam masalah ini! Kau pasti sudah melihat perubahan sikapnya," balas Sang Sekretaris kemudian.


Leony menghela nafas lagi.


" Aku ingin mencegahnya sebelum permasalahan ini semakin rumit, tapi aku harus bagaimana? Aku benar-benar pusing menghadapi semua ini! Jika dulu aku tidak meninggalkannya mungkin dua keluarga besar ini sudah bersatu ... Aku begitu bodoh dulu!" lirih Leony.


" Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana cara merayu Arumi agar dia tidak bicara macam-macam pada Ayah. Arumi terlalu dimanja, semua keinginannya harus dituruti. Aku tidak mengerti mengapa Ayah begitu memanjakannya!" Keluh Leony lagi.


" Pak Handika, aku tahu, mendiang Tuan Antonio memegang banyak kartu penting dalam perusahaan keluargaku. Aku hanya minta satu, agar kau bisa mengendalikannya bukan menghancurkannya," pinta Leony lagi.


" Apabila satu skandal terbuka maka itu akan membuka banyak skandal yang masih tersembunyi. Tinggal tergantung padamu, jika kau bisa mengendalikan keluargamu maka aku akan berusaha menahan Tuan Muda untuk tidak mengambil keputusan yang akan berakibat fatal," acam Sang Sekretaris.


" Pak Handika ..., Aku tengah mencobanya. Aku sedang berusaha. Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya," Leony memejamkan mata sejenak. Kepalanya berdenyut. Stress dan kurang beristirahat membuat kondisi tubuhnya lemah.


" Kalau begitu bicaralah dengan kedua orang tuamu lebih dulu sebelum Arumi melakukan hal bodoh untuk yang ketiga kalinya!" tegas Sang Sekretaris.


" Akan ku coba. Kau masih bijaksana seperti yang dulu ...," lirih Leony.


" Perang tidak akan memenangkan apapun. Perusahaan keluargamu mempunyai 10.000 karyawan. Perusahaan kami terdiri atas 13.000 karyawan. Apabila keduanya berperang maka akan terjadi goncangan dalam perusahaan. Para pemimpin akan melakukan PHK besar-besaran apabila kondisi perusahaan kacau dan itu akan mengakibatkan banyak perut yang kelaparan. Jangan mengorbankan karyawan demi memuaskan ego masing-masing. Aku menjaga prinsip ini dari dulu, untuk itu aku menahan diri!"


" Aku tahu ... Pak Handika. Aku paham," lirih Leony.


" Jika kau paham, segera tutup mulut adik perempuan mu rapat-rapat! Kalau tidak, masalah kecil ini akan merugikan banyak orang!" Sang Sekretaris lantas berlalu. Ia melirik Arlojinya, sudah hampir pagi. Ia lantas mengabari Dokter Larisa agar memberikan informasi terbaru terkait kondisi Arumi.

__ADS_1


Pak Handika tidak begitu menyukai kondisi seperti ini. Akhir-akhir ini ia cukup lelah dengan banyak tekanan yang muncul secara beruntun. Masalah satu belum selesai kemudian merembet ke masalah baru yang lebih rumit.


" Anak sekolah itu benar-benar mengacaukan segalanya!" Pak Handika mengemudi cepat meski ia merasa kepalanya tiba-tiba berdenyut. Tujuannya adalah Apartemen Alden. Sejak fajar ia tak bisa menghubungi Sang Tuan Muda. Mungkin masih tidur atau justru tidak tidur semalaman, ia bahkan tidak tahu.


__ADS_2