KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 5


__ADS_3

Bab 5


Insiden pecahnya vas bunga itu menjadi pekerjaan pertama yang harus dibereskan Binar. Ia berjongkok memunguti serpihan demi serpihan kaca yang kini berserakan.


Alden yang masih bersantai sembari menikmati cappucino hangat hanya melirik sesekali, meski terkadang sorot matanya menatap lekat setiap inci tubuh pelajar SMA yang kini ada dihadapannya.


' Hidung yang mancung, bentuk wajah oval dengan gigi gingsul yang terlihat lucu. Ah .... Perasaan macam apa ini!' batin Alden seraya menepuk kening perlahan.


" Vas bunga yang kau pecahkan aku tambahkan dalam catatan hutang!" Alden berujar santai sembari menatap sosok yang tengah berjongkok.


"Terserah Tuan saja, aku akan berusaha mencicilnya," Binar pasrah dan enggan menatap sosok itu meski ia tahu sorot mata Pria di depannya itu tak pernah berpaling darinya.


"Hm .... Apa kau punya pacar di sekolah?" tanya Alden tiba tiba. Binar mengerjab, memastikan sosok itu benar-benar menanyakan hal menyangkut privasinya.


" Tidak punya, Tuan. Aku tidak punya waktu untuk pacaran," terang Binar kemudian.


" Baguslah ...." Alden tersenyum senang.


" Kau bisa menggunakan laptop, kan?" tanya Alden lagi.


" Tidak begitu mahir, Tuan." Sahut Binar setelah meletakkan pecahan kaca dalam kotak sampah.


" Kemarilah .... Akan ku ajari," Alden lantas beranjak menuju nakas lalu mengambil sebuah berkas dan sebuah laptop.


" Duduklah disini," pinta Alden serius.

__ADS_1


" Buatlah dokumen dengan data yang ada di berkas ini," Alden lantas menuntun Binar mengoperasikan laptop miliknya. Keduanya lantas terlibat percakapan yang penting, mengenai bisnis, keuangan dan berbagai data data penting dalam perusahaan. Sesekali Alden menyentuh jemari Pelajar itu, menuntunnya mengarahkan kursor dan mengklik beberapa dokumen.


Binar berdebar debar terlebih saat wajah mereka sesekali bertemu dan saling menatap.


" Maaf ..." Binar segera menarik jemarinya yang tidak sengaja saling bersentuhan. Rasa hangat dari sentuhan jemari sang CEO membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Nafasnya tiba tiba terasa berat terlebih saat deru nafas Pria tampan itu sesekali mengenai lehernya.


" Tuan, bisa geser sedikit, aku .... aku ... tiba tiba tidak bisa bernafas," lirih gadis belia itu yang seketika membuat Alden salah tingkah.


" Kau gugup? Astaga! Aku bahkan bisa mendengar degup jantungmu!" Alden terkekeh. Padahal dalam hati ia juga tengah menyembunyikan hasrat yang tiba tiba menggebu.


" Dasar bocah!" Alden lantas bergeser dan menyandarkan tubuh pada sofa mewah di belakangnya.


" Aku belum pernah sedekat ini dengan laki laki jadi perasaanku tiba-tiba tidak enak," terang Binar perlahan.


" Em ... Itu bearti jika kau jatuh cinta padaku bearti aku adalah cinta pertamamu?" Alden kembali terkekeh memperlihatkan deretan gigi putih dan rapi miliknya.


" Jadi kau tidak serius dengan janjimu semalam?" Alden tampak kecewa.


"Janji?" Binar mengulang pertanyaan yang sama mengenai janji yang dimaksud sang Tuan Muda.


" Sudahlah lupakan ... Senja hampir tenggelam, sekretarisku akan mengantarmu pulang, ingat apa yang aku ajarkan padamu, esok aku akan evaluasi," ujar Alden datar. Binar mengangguk sopan.


" Satu lagi, tidurlah lebih awal, wajahmu terlihat sangat lelah," Alden tersenyum seraya mengusap rambut gadis belia di sampingnya.


' Dan entah perasaan macam apa ini?

__ADS_1


Dua orang dengan latar belakang hidup yang berbeda, usia yang terpaut jauh serta pola pikir yang tidak sama tapi mengapa dia hadir di sisiku? Bukan! Dia tidak hadir di sisiku dengan sendirinya, malam itu hanya ada 15 menit waktu dimana kami bertemu di Apartemen ini dan sisanya akulah yang membawanya ke sisiku dengan kata lain aku sendiri menjadi penyebab keberadaannya dalam hidupku' Alden Alexander membatin. Menatap lambaian tangan Binar yang mulai hilang di balik pintu. Senyumnya, senyum perpisahan sore itu masih membekas dalam ingatan.


" Hei bocah SMA, Apakah aku diam diam menyukaimu?" Alden bergumam lirih. Raut wajah tampan itu bersemu, tak bisa bersembunyi dari hatinya yang tengah berbunga.


" Aku tahu perasaan ini akan menjadi rumit tapi setidaknya akan kubiarkan kau dekat denganku setiap hari, jika perasaan ini cinta maka ia akan tumbuh semakin subur, apabila perasaan ini hanya empati maka rasa ini akan menguap begitu saja." Alden Alexander menutup rapat sepasang netra tajamnya walau bayangan Binar tetap bermain di benaknya.


Alden membuka mata perlahan, tirai putih itu masih terbuka meski sore telah berganti malam, ia berdiri sejenak, melangkah ke arah pintu kemudian membukanya. Semilir malam berhembus menerpa wajah tampannya. Ia berdiri di balkon itu, berharap masih bisa melihat mobil sekretarisnya yang tengah melaju membawa serta Binar bersamanya.


Dahulu, Alden pernah jatuh cinta pada seorang wanita waktu mereka masih sama sama menuntut ilmu di bangku sekolah menengah atas.


Tiga tahun bersama, keduanya berpisah saat sama sama harus meneruskan pendidikan di luar negeri. Walau demikian, saat libur semester mereka kerap kali bertemu di balkon ini. Pada awalnya, jarak bukan penghalang bagi mereka tapi lama kelamaan jarak ternyata mampu membawa Pria lain dalam hidup mereka. Leony jatuh cinta pada orang lain. Dan meski keduanya masih bersama dan kerap kali bertemu, ternyata senyum gadis itu bukan untuknya lagi. Setelah menyelesaikan pendidikan, Leony memutuskan untuk menikah dan Alden bukanlah Pria pilihannya lagi. Alden patah hati.


Sejak saat itu, balkon ini selalu sepi, Sang CEO enggan menjamahnya. Sampai sore itu seseorang datang dan kembali membuka pintu serta membawanya kembali berdiri di situ seperti 5 tahun yang silam.


" Leony ...." Alden Alexander kembali menyebut nama wanita itu. Ia menarik nafas panjang, meski ia berteriak ratusan kali sang pemilik nama tidak akan pernah kembali ke sisinya.


Pria itu lantas memutar tubuh, hendak melangkah meninggalkan balkon namun langkah kaki itu seketika terhenti saat secarik kertas tergeletak di lantai begitu menarik perhatiannya. Alden berjongkok meraih kertas itu dan mengamati sejenak.


" Binar Kinasih Ahmad, Ulangan harian mata pelajaran Bahasa Inggris dan .... Astaga! Bagaimana mungkin dengan nilai 5,0 ! Dia pergi begitu saja setelah meninggalkan aibnya sendiri!" Alden menggerutu. Melangkah meninggalkan balkon dan menutup pintu itu rapat-rapat.


Masih dengan secarik kertas di tangan kanannya ia meraih handuk dan hendak mandi tapi tiba tiba sepasang netranya menangkap beberapa baris kalimat di bagian belakang kertas itu.


Tiga tahun lagi, aku akan menjadi cantik dan pintar seperti yang kau harapkan ... Tunggulah saat itu tiba dan berjanjilah untuk tetap di sisiku


Love : Binar Kinasih Ahmad.

__ADS_1


Alden terkekeh, beberapa baris kalimat itu sontak menggelitik hatinya.


" Dasar bocah ..." lirihnya kemudian.


__ADS_2