
Bab 33
" Siapa dia, Alden? Siapa wanita yang telah menggantikan posisi ku itu?" tanya Leony dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap punggung Pria yang dulunya amat dikasihinya itu berlalu dari dari pandangan mata.
" Namanya Binar. Jika kau rasa perlu banyak tahu tentangnya segera tanyakan langsung pada adikmu," jawab Alden. Ia lantas mempercepat langkahnya menuju parkiran dan segera meninggalkan lokasi pertemuan mereka sore itu.
" Tadinya aku kira bahwa aku masih berada dalam setiap tatapan matamu, tapi ternyata yang kau katakan itu benar, semuanya memang sudah berubah, benar-benar berubah bahkan caramu menatapku sungguh tidak sama lagi." Leony mengusap bulir bening yang jatuh membasahi pipi.
Pertemuan sore itu tak menyisakan apapun kecuali kenangan usang yang nyaris tenggelam bersama senja sore itu. Keduanya memang tidak berjodoh. Tuhan maha mengatur skenario kehidupan, meski terasa pahit awalnya namun itulah cara terbaik yang Tuhan berikan agar manusia mendewasa dan lebih bijak memaknai setiap pertemuan.
Alden merasa setengah beban hidupnya pergi. Semua rasa kecewa, rasa dendam yang dahulu menghantuinya selama bertahun-tahun akhirnya menguap. Alden menarik nafas panjang kemudian menghembuskan perlahan-lahan. Ia menyandarkan tubuh pada headboard tempat tidur seraya menatap wallpaper pada layar ponselnya. Seseorang tampak tersenyum manis di layar itu. Alden lantas menggerakkan jemarinya menyentuh wajah gadis itu.
" Kau benar-benar candu ku, hanya dengan menatap foto mu saja suasana hatiku menjadi lebih baik," lirih Alden.
Di tempat terpisah, Leony yang baru saja tiba usai bertemu dengan Alden lantas mempercepat langkahnya menuju kamar Arumi. Berdasarkan penuturan seorang pelayan bahwa Arumi terdengar beberapa kali berteriak histeris dari dalam kamarnya. Leony benar-benar khawatir dengan kondisi adik perempuannya itu.
" Arumi ! Buka pintunya, Sayang! Ini kakak ...!" Teriak Leony dari luar pintu. Ia Iantas kembali mengetuk pintu berulang kali, berharap Arumi mau di ajak bicara.
" Arumi! buka pintunya. Ini kakak ...," bujuk Leony lagi. Sepi, Arumi tak merespon sama sekali.
Semakin khawatir dengan kondisi sang adik, Leony lantas kembali mengetuk pintu semakin keras, ia bahkan memanggil supir kepercayaan dan berniat akan mendobrak pintu bila Arumi tetap tidak memberikan respon.
" ARUMI !" Leony berteriak lagi.
Tak lama kemudian terdengar langkah lemah seseorang mendekati pintu dan membukanya. Leony Manarik nafas lega. Sang adik berdiri di depan pintu dengan wajah pucat dan terlihat sangat berantakan. Leony lantas memeluknya cepat.
" Kumohon jangan seperti ini ..., Kakak sangat mengkhawatirkan mu," lirih Leony. Ia lantas menuntun sosok itu kembali ke dalam kamar dan membantu nya merebahkan diri di tempat tidur.
" Apa kakak sudah menemuinya?" tanya Arumi.
" Sudah ...," lirih Leony.
" Apa dia berubah pikiran?" tanya Arumi cepat. Leony manatap wajah berantakan itu sejenak, sungguh ia merasa tak tega harus mengatakan yang sejujurnya.
" Kak, Apa Alden berubah fikiran?" tanya Arumi lagi. Leony lantas menggeleng lemah.
" Dia menolak, Arumi ...," balas Leony lemah.
Arumi terdiam untuk beberapa saat, raut wajahnya terlihat begitu menyedihkan.
" Tapi tenanglah, Adikku. Kakak akan membawamu ke Australia, kau akan bersekolah disana," ujar Leony bersemangat.
__ADS_1
" Aku tidak mau! Aku hanya ingin bersekolah di sekolah itu. Aku ingin melihat Pak Alden setiap saat. Aku tak mau jauh darinya," balas Arumi.
" Arumi ..., tolong jangan kekanak-kanakan seperti ini. Dia sudah menolakmu ..., Dia tidak sama sekali mencintaimu!" terang Leony. Arumi lantas menatap lekat wajah sang kakak dan tersenyum.
" Kalau begitu buat dia mencintaiku, kak? Lakukan sesuatu agar dia bersimpati padaku," pinta Arumi.
" Astaga !" Leony menghela nafas, benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
" Kak, lakukan sesuatu ..., agar dia berubah fikiran," bisik Arumi kemudian.
" Tidak, Arumi! Jangan konyol ..., Seharian ini aku sudah mengemis padanya dan jangan minta aku melakukan hal rendah lainnya!" tolak Leony.
" Kak ..., Aku sungguh jatuh cinta padanya. Seharian ini aku tidak makan tapi aku merasa kenyang hanya dengan melihat foto nya saja," Arumi lantas tersenyum seraya menatap layar ponsel nya.
" Oh, please ... Arumi. Jangan gila. Kau akan sakit jika begini terus ...,"
" Aku tak peduli, kak! Jika dia tetap menolak ku maka akan kubuat tak ada satu orangpun yang bisa memiliki nya," lirih Arumi.
" Bodoh! Kau bodoh, Arumi! Semakin kau melakukan tindakan bodoh maka Alden akan semakin membencimu!" Leony garam.
" Kakak bilang aku bodoh? Aku jatuh cinta padanya, Kak. Aku sedang memperjuangkan perasaanku!" teriak Arumi.
" Aku juga pernah jatuh cinta padanya tapi aku tidak bodoh seperti mu! Berhenti mengemis cinta padanya! Itu memalukan!" Leony balas berteriak.
" Benar, Kak?" tanya Arumi lagi.
" Iya, itu benar. Aku dan Alden adalah sepasang kekasih dulunya. Hubungan kami kandas saat aku memutuskan untuk menikah dengan orang lain," terang Leony sedih.
Arumi menghela nafas. Rasanya ia ingin menjerit sekeras-kerasnya. Sungguh, penuturan sang kakak membuatnya seperti bermimpi. Bagaimana mungkin ia dan kakaknya bisa jatuh cinta dengan laki-laki yang sama?
" Kalau begitu bearti aku meminta tolong pada orang yang salah."
" Apa maksudmu, Arumi?" Leony menatap.
" Maksudku bisa saja kakak diam-diam masih menaruh hati padanya," Arumi menerka. Leony lantas membulatkan kedua netranya.
" Itu jelas tidak mungkin, aku wanita bersuami dan itu mustahil, Arumi!" Leony manatap adiknya dengan raut wajah bingung. Ia tak menyangka kalau adiknya bisa bertindak keterlaluan seperti itu.
" Kalau begitu silahkan keluar dari kamarku," pinta Arumi, Leony lantas beranjak pergi. Rasanya sungguh percuma menasehati remaja kepala batu seperti Arumi.
" Apa nona Arumi baik-baik saja?" tanya seorang pelayan yang berdiri tak begitu jauh dari pintu kamar saat melihat Leony yang baru saja keluar.
__ADS_1
" Dia baik-baik saja. Siapkan makan malam untuknya dan letakan saja di kamarnya." balas Leony pendek. Berbicara dengan Arumi membuat moodnya semakin jelek saja. Sungguh sial baginya, seharian ini dia harus dihadapkan dengan dua orang berkepala batu yang sama-sama tidak mau dinasehati. Rasanya kepulangan nya ke Indonesia justru sia-sia. Bertemu Alden, membuatnya justru terbawa lagi dalam kenangan masa lalu dan itu amat menyakitkan. Sedangkan Arumi, semakin bertambah usia, adiknya itu semakin manja dan kekanak-kanakan. Benar-benar menguras emosi menghadapi kedua orang itu.
***
Binar yang nyaris saja terlelap dikagetkan oleh dering ponselnya yang nyaring. Ia tersadar sejenak, meraih benda pipih itu dan mengamati layar dengan tatapan sayu. Sebuah nama tertera di layar. Ia lantas menyentuh layar ponselnya sejenak dan tak lama sebuah panggilan video terhubung.
" Hallo ...," Binar manatap sosok yang tengah tersenyum di layar ponselnya.
" Hallo juga, Apa kau sudah tidur?" tanya Alden.
" Baru saja terlelap, justru terbangun karena dering telepon. Memangnya ada perlu apa Tuan menelepon ku malam-malam?" tanya Binar.
Sosok yang berada di seberang sana tampak tersenyum.
" Aku rindu ...," sahut Alden. Binar bersemu.
" Tadi siang kan kita baru saja bertemu, Tuan Alden. Kenapa masih rindu?" balas Binar.
" Ya ... tapi kan tetap Rindu." balas Alden.
Binar tersenyum sembari menatap lekat sosok berpiyama navy itu.
" BINAR .... SIAPA YANG RINDU?" Bu Widia berteriak dari kamarnya yang berada di sebelah kamar Binar.
" Ah, Bukan siapa-siapa, Bu!" sahut Binar. Ia lantas menyembunyikan ponselnya dibawah bantal setelah mematikan panggilan video terlebih dahulu.
" Beraninya dia mematikan panggilan video dariku!" Alden menggerutu. Meletakkan benda pipih itu tepat disamping bantalnya. Alden lantas menarik selimut, menenggelamkan separuh tubuhnya dalam balutan kain berbulu itu membuat tubuhnya lebih hangat. Meski tak sehangat saat ia memeluk Binar tapi paling tidak untuk saat ini hanya selimut tebal itu yang boleh menemaninya tidur.
Baru saja hendak terlelap, dering ponsel disamping bantalnya membuat Alden terlonjak. Ia memijit pelipis sejenak, kepalanya seketika berdenyut, merespon tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba. Ia meraba sisi kirinya kemudian meraih benda pipih itu. Sebuah panggilan masuk dari Sang Sekretaris. Ia lantas mengangkat panggilan itu. Sedikit bingung dengan sosok yang tiba-tiba menelepon saat malam, mungkin ada sesuatu yang amat penting yang membuat sosok itu harus menghubunginya malam-malam begini.
" Hallo, Pak Han ...," Alden menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
" Tuan, ada berita yang kurang mengenakkan ...," ujar sosok itu sayup-sayup dari seberang telepon.
" Katakan, Pak Han?" Alden tampak bersiap mendengar berita yang akan segera Sekretaris nya sampaikan.
" Baru saja, nona Leony memberi kabar bahwa Arumi dilarikan ke rumah sakit," jelas Sang Sekretaris.
" Dia sakit?" tanya Alden.
" Tidak, Tuan. Arumi mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya sendiri!"
__ADS_1
" Astaga! Benar- benar anak ini!" Alden mendesis. Nyaris saja melempar ponselnya ke dinding.
" Kenapa sih kakak beradik ini selalu saja ada merepotkan ku!" gerutu Alden kemudian.