KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 23


__ADS_3

Bab 23


" Apa isi bingkisannya?" Alden mengintip. Binar sengaja membelakangi sosok itu agar tidak merebut kembali bingkisan yang masih ia pegang.


" Sepertinya sebuah kotak musik," balas Binar seraya memperlihatkan kotak pesegi empat dengan sebuah boneka cantik yang tengah berdiri di tengah-tengahnya.


Binar lantas menekan tombol merah yang berada di bawah kotak itu dan seketika mengalun suara biola yang terdengar begitu lembut. Boneka cantik yang berada di tengah-tengah kotak itupun ikut berputar dengan warna warni lampu yang menyala dari seluruh tubuhnya.


" Indah ya ...," senyum terkembang menghias wajah pelajar SMA itu.


" Indah apanya!" Alden menatap kotak musik itu dari belakang seraya mendaratkan dagunya pada pundak gadis berumur 16 tahun itu.


" Mawar yang kuberikan justru lebih indah," Alden menyindir, berharap Binar mengingat hadiah pemberiannya tadi siang. Binar lantas menoleh dan keduanya justru saling menatap dari jarak yang begitu dekat.


" Thanks untuk mawarnya, aku suka." ujar Binar. Alden lantas tersenyum seraya mencubit hidung gadis muda di depannya.


" Jika kau suka, aku bisa membelikannya lebih banyak lagi," bisik Alden. Binar lantas menjauhkan wajahnya, ia tak mau ambil resiko jika nanti Pria yang berada di dekatnya itu tiba-tiba mendaratkan sebuah kecupan. Oh itu tentu akan menodai kesucian bibirnya.


" Ok kalau begitu akan kita letakkan dimana kotak musik ini?" tanya Alden.


" Di atas nakas saja, di dekat tempat tidur," pinta Binar.


" Baiklah kalau mau mu begitu. Semoga nanti malam aku tidak bermimpi buruk !" Alden lantas mengekor dari belakang.


Kotak musik berbentuk persegi empat itu segera mendarat di atas nakas. Suara biola masih mengalun, menemani sore berganti malam. Bahkan Binar tetap membiarkan musik itu mengalun, menemaninya yang sedang merapikan kamar tidur milik Sang Tuan Muda.


***


Binar sudah rapi dari pagi. Seragam SMA yang ia kenakan juga sudah ia ganti dengan yang baru. Aroma parfum menguar sesaat setelah ia menyemprotkan cairan bening dari botol kaca itu. Menurut penuturan Sang CEO galak, parfum yang ia pakai adalah parfum mahal untuk itu Binar harus memakainya setiap bertemu dengannya. Entah untuk apa, Binar pun tak paham. Hanya saja, semenjak menerima hadiah bunga mawar itu, Sang Tuan Muda lebih sering memberikannya hadiah, semakin sering memperhatikan nya.


Taksi bewarna biru itu berhenti tepat di sisi pagar sekolah. Binar melangkah, memasuki gerbang yang tengah terbuka.


" Aduh artis kita sudah tiba,"


Seruan dari beberapa pelajar seusianya membuat Binar kaget. Ia lantas tersenyum, meski dalam hati bertanya tanya mengapa setiap siswa yang ia temui memandangnya dengan tatapan sinis, tak ramah dan terkesan mengejek.


Satu lagi, kata artis yang mereka sebutkan membuat Binar harus berfikir keras, mencoba memahami apa maksud serupa ucapan mereka.


" Bintangnya sudah datang, Tuh!"


Dan untuk yang keberapa kalinya Binar harus menerima seruan dari setiap Pelajar yang tengah ia temui di sepanjang koridor kelas.

__ADS_1


" Bintang Apa sih maksudnya?" Sungguh, Binar tak mampu menyembunyikan rasa ketidaktahuannya.


Ia melangkah gontai. Pagi ini seperti nya tidak terlalu ramah padanya, beberapa Pelajar justru saling berbisik, saling melempar pandang ke arahnya lalu kemudian tertawa bersama-sama. Merasa tidak nyaman, Binar lantas melangkah lebih cepat, meski tawa mengejek yang ia dapatkan justru lebih keras dan menyakitkan.


" Arumi!" Binar mendapati Arumi yang tengah berada di antara kerumunan para Pelajar yang tengah memadati koridor di depan ruang kelasnya.


" Arumi!" Binar mengulang panggilannya. Namun anehnya, sosok itu justru menghindar, sedikit menjauh dari jangkauan pandangan Binar.


" Ada apa sih ini?" Binar benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi. Meski terus mencoba berfikir positif tapi lagi-lagi ia harus mengakui bahwa ada yang tidak beres hari ini.


Merasa asing dengan keadaan Sekolahnya, Binar lantas keluar dari kelas. Ia mempercepat langkahnya menuju papan majalah dinding, mungkin ada informasi penting yang telah ia lewatkan. Namun, baru saja melangkah beberapa meter ia justru di kagetkan dengan Baliho yang terpampang berisi fotonya saat menjadi peserta lomba. Foto itu terlihat penuh coretan spidol merah, bahkan ada ia mencium bau anyir dari jarak yang semakin dekat.


" Ada apa sih ini!!"


Entah punya keberanian dari mana, Binar berteriak, memutar tubuhnya. Balas menatap para pelajar yang berkerumun, mengelilinginya.


PLAK !


Satu tomat busuk mendarat pada baliho yang tengah berisi foto dirinya.


" Hei, kalian kenapa sih?" Binar masih belum menyadari.


Seorang remaja lelaki justru berteriak kencang, sembari melempar tomat ke arah Binar untuk pertama kalinya.


PLAK!


Satu tomat busuk mendarat pada bagian dada. Jangan di tanya rasanya, sakit dan malu menembus hingga ke jantung.


Melihat satu siswa melakukan tindakan bullying terhadap Binar, seluruh siswa yang tengah berada di situ juga ikut-ikutan membully, melemparinya dengan gumpalan-gumpalan kertas, tomat serta telur busuk. Seluruh bagian tubuh remaja berumur 16 tahun itu memerah terkena cairan tomat yang pecah. Bau amis dan busuk menguar, membuat Binar terbatuk-batuk dan nyaris muntah.


" Apa salahku pada kalian!" teriak Binar sekali lagi.


Tak ada jawaban yang ia dapat malah tawa mengejek semakin ramai dan semakin menusuk hati.


" Kalian seenaknya main hakim sendiri!" Binar kembali berteriak meski suaranya terasa parau, nafasnya naik turun menahan rasa kecewa dan rasa sedih yang tak bisa terlukiskan.


" SEJAK KAPAN DI SEKOLAH INI ADA BULLYING!?"


" KALAU ADA YANG MASIH MELEMPAR, KALIAN BERURUSAN LANGSUNG DENGAN KU!!"


Derap langkah seseorang membuat sebagian siswa menghindar, memberi jalan pada sosok itu untuk memasuki lingkaran para Pelajar yang bertindak seenaknya tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu. Binar menatap sosok itu, sosok yang terlihat samar-samar dalam pandangannya. Air mata yang menggenang itu tentu membuat pandangannya sedikit terhalang. Cairan tomat yang mengalir dari pelipis memasuki mata, membuat sepasang netra itu teramat pedih namun tak sepedih hatinya saat ini.

__ADS_1


" Tuan," lirih Binar.


Alden lantas melepas jas hitam yang ia kenakan untuk kemudian ia gunakan menutupi tubuh Binar yang terlihat amat berantakan.


" Kanapa jadi seperti ini?" Lirih Binar lagi. Alden lantas merangkul sosok itu meninggalkan kerumunan meski beberapa siswa masih terus bersorak, mengejek dan menertawakan mereka.


" Jangan bicara apapun untuk saat ini, cukup ikut aku dan kita selesaikan masalah ini bersama," balas Alden. Binar mengangguk. Keduanya lantas melewati koridor yang dipenuhi para Pelajar yang menatap sinis ke arah mereka. Tiga orang bodyguard yang berada di belakang Alden membuat para Pelajar itu berfikir ulang untuk melakukan tindakan bodoh seperti yang baru saja terjadi.


" Pantas saja nilainya selalu bagus, ternyata dia merayu para petinggi di sekolah!" bisik salah seorang diantaranya.


" Aku tidak seperti itu ..., kalian salah pah ....,"


" Sudah cukup! Jangan merespon apapun untuk saat ini!" Alden lantas mengeratkan rangkulannya. Membuat setiap mata yang menyaksikan itu memandang rendah dan jijik.


" Tak kusangka dia jadi simpanan om-om!"


Tuduhan menohok itu kembali terdengar, menusuk hingga ke jantung. Walau Binar menutup telinga sekalipun kata-kata itu terngiang-ngiang. Merobek rasa percaya diri yang baru saja pulih.


Binar menyadari satu hal, seseorang telah membocorkan foto-foto kemarin. Entah siapapun dia, dia benar-benar telah menebar fitnah yang mungkin akan menjadi kenangan pahit seumur hidupnya.


Karena adanya insiden itu, Alden meminta kepada Pak Abimanyu untuk membubarkan proses belajar-mengajar hari itu dan termasuk acara pengumuman pemenang lomba yang diadakan kemarin harus di tunda terlebih dahulu. Sekolah itu tiba-tiba sepi. Para guru enggan berkomentar dan para petinggi dari perusahaan lebih memilih menutup mulut rapat-rapat.


Sekretaris Han berdiri tepat di belakang Sang Tuan Muda, menyodorkan sebuah laptop dan sebuah tiga buah amplop bewarna coklat yang berisi puluhan foto Binar bersama Alden beserta pria-pria lainnya termasuk Sang Sekretaris itu sendiri.


" Aku akan membawanya untuk membersihkan diri terlebih dahulu," Bu Rini beranjak, mendekati Binar dan membawa remaja berseragam SMA itu meninggalkan ruangan.


Sekretaris Han lantas memutar sebuah video yang membuat heboh seluruh pelajar tadi malam. Alden mengamati video itu, menonton video berdurasi 1 menit itu hingga usai.


" Mohon maaf sebelumnya Pak Alden, kami menerima Video itu dan puluhan foto-foto lainnya tadi malam. Seseorang mengirim nya di grup WhatsApp sekolah dan langsung menyebar di kalangan siswa," Pak Abimanyu menjelaskan asal muasal foto serta video yang meresahkan itu.


" Pak Han, segera take down berita yang tersebar pastikan tidak ada yang masuk ke Apartemen ku selain aku. Segera ubah kata sandinya." Pinta Alden. Pria itu kembali memutar video yang berisi dirinya dan Binar yang tengah berada di Apartemen pribadinya. Memang tak ada yang perbuatan asusila dalam video maupun foto-foto itu tapi jika untuk ukuran dirinya yang merupakan seorang pemimpin tentu ini akan menjadi hal yang memalukan. Orang-orang yang tidak menyukainya tentu akan menjadikan ini sebagai celah untuk merusak citra baiknya, terlebih Binar yang merupakan seorang Pelajar berusia 16 tahun.


" Pak Alden, kami bukan bermaksud mengusik urusan privasi bapak, hanya saja, Mengingat Binar merupakan Pelajar dari sekolah ini, tentu ini akan menjadi berita yang sangat tidak mengenakkan," Pak Abimanyu tampak ragu namun harus tetap mengatakan sejujur-jujurnya.


Bu Andine yang tengah berada dalam ruangan yang sama tampak menarik nafas berat. Wanita itu benar-benar tak menyangka bahwa putra nya akan terseret kasus seperti ini.


" Hubunganku dan Binar memang baik tapi Aku dan Binar tidak terlibat hubungan apapun yang melebihi batas. Aku akan membuktikan nya." Ujar Alden.


" Baik Pak Alden. Pihak sekolah tidak akan mengambil keputusan terburu-buru tentang ini tapi saya mohon agar Pak Alden menyelesaikan masalah ini ssecepatnya. Jangan sampai berita ini menyebar hingga ke luar sekolah," Pak Abimanyu tampak memohon.


" Kita berkumpul di Rumah setelah ini!" Bu Andine melenggang pergi usai mengucapkan beberapa baris kata. Wanita itu tampak enggan membahas masalah ini lebih lanjut di depan para pihak sekolah.

__ADS_1


__ADS_2