
Bab 21
Alden lantas buru-buru mengangkat sepatunya yang tengah menindih sepatu milik Sang Sekretaris. Ia berusaha tenang meski dengan rasa malu yang begitu menggelitik. Sang Ibu menatap, terlihat tidak percaya dengan apa yang tengah dilakukan putranya, terlebih saat Sang Putra tampak gelisah dan serba salah.
" Are you ok?" Bu Andine menyelidik, berusaha menerka-nerka isi hati Putranya.
" It's ok!" balas Alden pendek. Sekilas, ia melirik ke arah Sang Sekretaris yang tengah membersihkan sepatunya. Ah, Pria itu memang selalu bersih, bahkan tak suka ada sedikitpun noda pada tubuhnya.
Gemuruh tepuk tangan memenuhi seisi ruangan sesaat setelah Binar menutup pidatonya. Dua orang juri langsung berdiri, memberikan standing applause diikuti oleh Alden yang berdiri setelah itu.
" Berikan standing applause!" ujar Alden pada Sekretaris Han yang tengah merapikan jasnya. Sang Sekretaris lantas berdiri dan ikut bertepuk tangan. Dalam hati ia menggerutu, terkadang kesal dengan tindakan konyol yang kerap kali dilakukan Tuannya itu.
" Kurasa pelajar itu pantas mendapatkan beasiswa setelah lulus nanti," Bu Andine menatap wajah Sang Putra yang terlihat begitu lega.
" Sudah pasti, dia adalah murid kesayangan, iyakan, Tuan?" Sekretaris Han menyindir Sang Tuan Muda. Merasa tersindir, Alden lantas memelototi sekretaris nya itu. Benar-benar tidak bisa menjaga rahasia pikir Alden kesal.
Dari kursi penonton, Arumi tak henti-hentinya memandangi Alden, ia bahkan telah mengambil foto hingga puluhan kali namun tetap saja belum puas. Arumi lantas melakukan panggilan telepon melalui ponselnya dan berharap Alden mengangkatnya walau hanya sebentar. Namun sayang, setelah mencoba menelepon nomor yang ia kira adalah nomor ponsel kepunyaan Alden, Arumi justru dibuat kaget lantaran setiap kali panggilan telepon itu terhubung justru yang merogoh saku dan mengeluarkan ponsel adalah Sekretaris Han.
Tak percaya dengan semua kenyataan yang ada di depan matanya, Arumi langsung melakukan panggilan video dan benar saja, panggilan itu langsung di reject dan Sang Sekretaris langsung memasukkan ponsel kembali ke dalam saku.
" Jadi dia membohongi ku?" Arumi menerka nerka meski ia jelas-jelas sudah tahu kenyataan yang sebenarnya. Pria yang beberapa hari belakangan membalas setiap chat darinya ternyata bukanlah sosok Pria yang ia harapkan. Arumi terpaku. Gemuruh di dadanya seakan ingin meledak, perih sekali.
" Jangan bohongi aku, aku tidak suka ...."
Dua bulir bening meluncur bebas mengenai layar ponsel yang masih ia genggam. Remaja dengan rambut sebahu itu tengah merasakan patah untuk yang pertama kali.
" Kau jahat!" Arumi lantas menarik undur langkahnya, menjauhi kerumunan para pelajar yang tengah bersorak, menyambut peserta lomba selanjutnya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa begitu patah, merasa di tipu dan di bodohi seseorang yang padanya pula ia menitip harap, menitip rasa yang yang baru saja tumbuh namun harus layu sebelum berbunga.
"Aku membencimu! membenci kalian semua!" Gadis belia berseragam SMA itu berteriak di sela-sela air matanya yang masih menetes. Ia berlari menerobos deretan siswa yang tengah berdiri memberikan semangat pada para peserta lomba. Sebagian pelajar menatap risih padanya, merendahkan tindakan bodoh yang tengah ia lakukan.
" Apa apaan sih dia!!" geram para siswi yang tak sengaja bertabrakan bahu dengan Arumi. Arumi tak peduli, ia pergi, mengayun langkah kakinya semakin cepat, secepat detak jantungnya yang dipenuhi amarah dan sakit hati.
Entah seberapa jauh Arumi berlari ia sama sekali tak menyadari itu, ia tersadar saat tubuhnya menabrak seseorang dan membuat ponsel yang ia genggam jatuh membentur marmer. Arumi menatap sosok yang berdiri tepat di depannya. Sosok Pria bertubuh tegap dengan lengan berotot, begitu atletis.
" Maaf ..." Arumi buru-buru meminta maaf kemudian memungut ponselnya yang telah mengalami retak pada bagian layarnya.
" Arumi, kamu kenapa?" Sosok itu menatap, sembari membantu Arumi memunguti serpihan-serpihan dari ponselnya yang berserakan.
" Arumi baik- baik saja, Pak," balas Arumi singkat. Buru- buru mengusap air matanya yang masih membasahi pipi.
" Mari duduk ..." Sosok itu menuntun Arumi untuk duduk di bangku taman yang berada tak begitu jauh dari mereka.
__ADS_1
" Pak Arya masih disini?" tanya Arumi. Seingatnya guru olahraga yang baru saja di mutasi itu sudah sibuk mengajar di sekolah yang lain.
" Iya, kebetulan Bapak ingin mengambil beberapa berkas yang diperlukan sebagai bahan ajar di Sekolah yang baru." Pak Arya menuturkan alasan kedatangan pada hari itu.
" Oh ya, Arumi. Bapak punya sesuatu dan agar nantinya diberiakan kepada Binar."
Sosok itu lantas mengeluarkan sebuah bingkisan berbentuk kotak dari ransel yang tengah ia bawa.
" Apa ini, Pak?" Arumi menerima bingkisan bergambar doraemon, kartun kesukaan Binar, sahabatnya.
" Hanya bingkisan kecil sebagai apresiasi untuk pidatonya yang luar biasa," Pak Arya menambahkan.
" Baik, Pak. Akan Arumi berikan pada Binar." ujar Arumi patuh.
Setelah bercerita cukup lama, keduanya lantas berpisah. Seusai bertemu dengan Pak Arya, Arumi tak lantas kembali ke tempat perlombaan, ia memilih mengurung diri di dalam kelas sembari menatap bingkisan hadiah yang di titipkan Sang Guru padanya.
" Kau beruntung sekali, Binar ...."
Arumi menarik nafas dalam-dalam. Menatap jauh pada taman cemara yang berada di luar kelas.
Satu jam bergelut dengan patah hatinya, Arumi memutuskan untuk kembali ke ruangan di mana acara lomba di adakan. Ia melangkah lemah, menghitung suara ketukan sepatunya yang menggema memenuhi koridor kelas.
Tiba di pintu ruangan, Arumi lantas menerobos gerombolan para siswa yang tengah bertepuk tangan. Sorak Sorai para remaja menggema. Teriakan penuh pujian mereka ucapkan berkali-kali pada seseorang, Sang Tuan Muda.
Arumi semakin mempercepat langkahnya hingga ia berada pada deretan kedua kursi para penonton. Ia menatap sekeliling, kedua netra itu segera menangkap sosok Binar yang berada pada deretan kursi paling depan, duduk tak begitu jauh dari para peserta lomba. Arumi menyusup, mendekati Binar kemudian berdiri tepat di sampingnya.
" Hei, Ada acara apa,sih? Kenapa susunan kursinya membentuk setengah lingkaran?" bisik Arumi. Binar menatap.
" Kau dari mana saja? Oh ya kudengar, Pak Alden akan menutup acara dengan sebuah lagu romantis," balas Binar. Arumi tersentak kemudian tersenyum bahagia.
' Aku yakin ini adalah lagu permintaan maafnya padaku,' Arumi membatin dengan raut wajah merona, bahagia.
" Ku dengar ia begitu mahir bermain gitar, aku jadi tidak sabar," Arumi lantas meremas jemarinya, menunggu dengan tidak sabar.
10 menit berlalu, sosok Pria tampan yang di elu-elu kan para siswi itu akhirnya muncul. Alden melepas jasnya sejenak dan memberikannya pada Sang Sekretaris. Senyum Pria gagah itu mengembang indah, membuat siapa saja yang melihatnya terpesona. Dia sungguh Pria yang sempurna. Pria tampan, kaya dan pintar bermain gitar. Benar-benar idola para wanita.
Alden duduk di kursi yang berada di tengah tengah ruangan. Menatap satu-persatu wajah-wajah polos yang tengah menatapnya. Suasana semakin hening terlebih saat petikan gitar itu mulai mengalun lembut, romantis sekali.
" Pak Alden, boleh tanya lagunya untuk siapa?" Seorang siswi mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan yang seketika membuat seluruh mata menatap ke arahnya. Alden tersenyum lantas menghentikan petikan gitarnya.
" Untuk seseorang yang istimewa .... Yang membuatku harus menunggu sampai tiga tahun lagi," balas Alden, sontak seluruh ruangan menjadi riuh, dipenuhi kata Cie, ciri khas remaja masa kini.
Setelah itu, petikan gitar kembali terdengar, mengalun lembut disertai suara merdu dari sosok tampan yang kembali membuat seisi ruangan berseru.
__ADS_1
Kutuliskan kenangan tentang caraku menemukan dirimu
Tentang apa yang membuatku mudah berikan hatiku padamu
Takkan habis sejuta lagu untuk menceritakan cantikmu
Kan teramat panjang puisi tuk menyuratkan cinta ini
Telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini tak lagi tersisa untuk dunia
Karena tlah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
Untukmu hidup dan matiku
Bila musim berganti sampai waktu terhenti
Walau dunia membenci, ku kan tetap disini
Bila habis sudah waktu ini, tak lagi berpijak pada dunia
Telah aku habiskan sisa hidupku hanya untukmu
Dan telah habis sudah cinta ini, tak lagi tersisa untuk dunia
Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
Karena telah kuhabiskan sisa cintaku hanya untukmu
(Song by Virgoun)
Bagai terhipnotis, Binar kehabisan kata kata, terutama saat Alden berkali kali melempar senyum ke arahnya. Lagu romantis milik Virgoun itu mengalun lembut, menyentuh hati setiap yang mendengarnya.
'Tuan .... Jangan membuatku bermimpi terlalu tinggi,' batin Binar. Sepasang netra itu berembun. Setiap lirik lagu yang di nyanyikan sosok itu membuat Binar terbawa pada setiap momen yang mereka habiskan dalam beberapa waktu belakangan. Bayangan itu menari indah, tergambar jelas pada sepasang netra milik remaja SMA itu.
" Jangan buat aku kecewa dengan kata menunggu yang kau janjikan," Alden menutup lagu itu dengan sebuah pesan yang sudah jelas ditujukan untuk Binar. Sang CEO lantas meletakkan gitar, kemudian berdiri dan melangkah mendekat ke arah Binar yang masih terpaku.
' Apa yang akan Tuan lakukan?' Binar membatin. Kedua kakinya bagai terpaku pada lantai. Ia hanya mematung, menatap sosok tampan yang melangkah semakin dekat ke arahnya. Suara langkah nya bergema dalam suasana yang hening. Semua mata menatap, mengikuti kemana langkah kaki Sang CEO akan berhenti. Dan tibalah di depan Binar, langkah kaki itu berhenti sempurna. Sosok itu lantas tersenyum seraya memberikan setangkai mawar merah kepada Binar yang terpaku bagai terhipnotis.
" Untuk mu ...,"
__ADS_1