KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 14


__ADS_3

Bab 14


" Hus! dipelototi, Bu Ririn, Tuh!" bisik Binar sembari mengedipkan mata, memberi kode pada Arumi yang malah ikut-ikutan berkomentar. Arumi lantas membalik tubuh, menatap lekat ke depan kelas dengan wajah tertekuk.


Binar menahan tawa, terkadang tingkah Arumi benar-benar menjadi hiburan tersendiri baginya. Ia berusaha fokus belajar meski pikirannya dipenuhi tanda tanya dan rasa khawatir.


'Jika ada yang tahu tentang perbuatan memalukan itu, ah! habis lah aku!' batin Binar. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menguatkan dirinya sendiri.


***


Alden yang baru saja memimpin meeting pagi itu dikejutkan oleh kedatangan Sang Ibu yang baru saja pulang dari luar negeri. Wanita bertubuh ideal dengan kaca mata hitam itu melenggang memasuki ruang CEO dan langsung duduk. Sekretaris Han yang lebih mengetahui kedatangan Bu Andine bergegas mengekor dari belakang, memasuki ruang kerja Sang Tuan Muda dan berdiri tak begitu jauh dari Sang Nyonya Besar.


" Ada kabar baik apa untuk ku, Pak Handika?" Bu Andine mengangkat wajah, menatap Sang Sekretaris yang berdiri patuh akan segala perintahnya.


" Nyonya, Tuan Muda baru saja memimpin meeting penting dengan klien dari Singapura, sebagian proposal yang kami ajukan telah di setujui. Beberapa hari yang lewat, Tuan Muda juga menggelar acara amal pada sekolah yang di danai oleh perusahaan." ujar Sekretaris Handika sembari membuka beberapa berkas berisi laporan kegiantan seminggu terakhir.


Bu Andine tersenyum lega, ia menatap sekretaris Handika lagi, seperti hendak mengutarakan sesuatu yang lebih penting.


" Aku tahu jelas mengenai sepak terjangnya dalam dunia bisnis tapi Pak Handika .... tidak adakah wanita yang akhir-akhir ini dekat dengannya?" Bu Andine tampak bosan dengan informasi tentang perusahaan yang terus-terusan dibahas oleh Sekretarisnya.


" Maksud Nyonya?" Sekretaris Handika menatap, berusaha menerka arah dari pembicaraan keduanya.


" Calon Istri kah, pacar atau teman kencan, atau apalah, Apa belum ada info tentang masalah ini?" Bu Andine meminta penjelasan.


" Um .... Untuk masalah itu, Belakangan ini, Tuan Muda memang sedang dekat dengan seorang gadis, tapi ...." Sang Sekretaris bingung hendak mengutarakan maksud dari ucapannya.


" Teruskan, Pak Han. Itu berita yang sangat bagus," Bu Andine lantas berdiri dan mengajak Sang Sekretaris untuk duduk di sofa yang menghadap langsung dengan dinding kaca yang menjadi pembatas antara perusahaan dan gedung gedung produksi di luar sana.


" Nyonya .... sebaiknya tanyakan langsung pada Tuan Muda?" ujar Sekretaris itu menunduk, hormat.


" Ah ..., sudah beberapa tahun belakangan ini, Alden enggan membahas mengenai masalah pribadinya. Setelah putus dari Leony, ia menjadi kaku, menjadi robot pekerja keras yang bagiku itu sangat mengerikan!" Bu Andine, meremas jemarinya sendiri kemudian memutar mutar cincin berlian di jari manisnya.


" Kalau begitu beri aku beberapa clue tentang sosok yang kita bahas tadi," Bu Andine masih keukeh dengan rasa ingin tahunya.


" Nyonya ... namanya Binar, pelajar kelas dua SMA berprestasi dari sekolah yang di danai langsung oleh perusahaan," Sekretaris Han membocorkan garis besar mengenai urusan pribadi Sang Tuan Muda.

__ADS_1


" Pelajar kelas dua SMA??" Bu Andine tampak tak percaya tapi walau demikian tatapan matanya bercahaya, merasa senang dengan informasi yang baru saja ia dengar.


" Secantik apakah gadis itu? Apa status hubungan mereka?" Bu Andine mencari tahu lebih dalam.


" Apa kau punya fotonya?" Bu Andine menatap Sang Sekretaris lagi.


" Aku tidak punya, Nyonya ...."


" Jangan bohong! Aku tahu kau setia dengan Tuan Muda mu itu tapi aku adalah Ibunya, katakan, jangan takut," Bu Andine menatap lekat-lekat sepasang netra milik Sang Sekretaris.


Sekretaris Han menarik nafas dalam kemudian mengeluarkan ponselnya.


" Ini, Nyonya ...," ujar nya kemudian.


Bu Andine lantas meraih ponsel itu dengan cepat dan menatap layar ponsel itu lekat.


" Apa dia blasteran jepang, Pak Handika?" ujar Bu Andine tetap fokus dengan layar ponsel itu.


" Tanyakan langsung pada Tuan Muda, Nyonya," balas Sekretaris Han pendek.


" Wajahnya mengingatkan ku pada saat aku berusia 17 tahun yang lalu," Bu Andine lantas menyodorkan ponsel itu kembali kepada pemiliknya.


" Apa kabar, Mom?" Alden lantas memeluk sosok itu sembari tersenyum senang.


" Kabar Mommy baik, Sayang. Wajah mu kelihatan lebih cerah," Bu Andin menatap wajah Sang Putra dan mengusap pipi tirus itu. Alden tersenyum senang.


" Kelihatannya banyak berita baik akhir-akhir ini?" Bu Andine menambahkan.


" Yah ..., sangat baik, aku yakin 100% perusahaan akan segera menguasai pasar global dengan berbagai teknologi terbarunya," ujar Alden yakin.


" Aku percaya kemampuan mu, Sayang? Hanya saja boleh mommy minta tolong?" Bu Andine kembali menatap Putranya penuh permohonan.


" Apa itu?" balas Alden cepat.


" Mommy ingin berkunjung ke sekolah yang di danai perusahaan dan kau harus menemani." Raut wajah Alden berubah datar, kedua bola mata itu lantas melirik ke arah Sang Sekretaris dan Sang Sekretaris justru membuang muka, menghindari kedua tatapan itu bertemu.

__ADS_1


" Untuk apa, Mommy?" Alden tersenyum, membungkus rasa kesalnya pada Sekretaris Han yang sudah pasti membocorkan masalah pribadinya.


" Um ... Mommy butuh hiburan, agar tidak kesepian," Bu Andine tampak berfikir, agar Alden tidak curiga dengan niatnya itu.


" Baiklah ..., Alden akan atur waktunya," Alden menyandarkan tubuh sejenak, menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan.


" Terima kasih, Sayang. Kalau begitu Mommy akan pulang lebih dulu," Bu Andine mengusap pelan wajah Sang Putra sebelum meninggalkan ruangan.


" Sepertinya .... masalah pribadiku bocor lagi," Alden lantas menatap Sekretarisnya dengan raut wajah datar. Sang Sekretaris hanya tersenyum, enggan membalas tatapan kesal Tuannya.


" Nyonya besar memaksa, Tuan Muda." Sekretaris Han menjelaskan.


" Sejauh mana informasi yang kau berikan?" tanya Alden.


" Hanya sebatas informasi dasar, Tuan," balas Pak Handika lagi. Alden lantas menarik nafas sejenak sembari melipat kedua tangan di dada.


" Pak Han, Binar butuh sepatu yang tinggi agar bisa sejajar denganku. Ini lah realita dari sebuah hubungan .... Bantu dia agar bisa mencapai posisi itu," Alden menatap Sang Sekretaris yang hanya menunduk patuh.


***


Binar melangkah menuju toilet sekolah. Koridor yang sepi membuat detak sepatu Pelajar SMA itu menggema, memantul di kejauhan. Sepanjang perjalanan ia berfikir, memutar otak mengenai masalah yang ia hadapi akhir-akhir ini. Sebuah kesalahan dalam mengambil keputusan dulu nyatanya mulai menumbuhkan masalah. Meski Sang CEO selalu pasang badan untuknya tapi tidakkah masalah ini juga akan menyeretnya ke dalam skandal yang akan merusak nama baiknya.


' Tuhan ..., Jangan membuatnya terbawa masalah akibat ulahku,' lirih Binar. Ia lantas mempercepat langkahnya dan segera memasuki toilet. Sejenak ia terdiam, menatap pantulan wajahnya pada cermin kotak di depannya.


" Tuan .... Jangan membuatku selalu berharap," Binar lantas menyentuh pita merah jambu pada rambutnya dan tersenyum. Jemari sosok tampan itu masih terasa membelai rambutnya meski sosok itu berada begitu jauh darinya. Binar terkenang.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu hingga membuat Binar terlonjak, ia bergegas membasuh muka kemudian segera membuka pintu. Hening, tak ada seorang pun di sana.


" Siapa?" tanya Binar memecah hening nya suasana.


Merasa ada yang tengah mengerjainya, Binar lantas keluar dan memutuskan kembali ke kelas. Baru beberapa langkah sepatunya menginjak lantai, ia di kejutkan oleh sebuah amplop coklat yang tergeletak tak begitu jauh darinya.


" Apa ini?" Binar lantas memungut amplop itu dan membukanya dengan perlahan.

__ADS_1


" Oh Tuhan ...." Binar menggenggam erat Amplop itu dengan gemetar. Beberapa lembar foto tampak berserakan jatuh dari genggaman tangannya. Kurang lebih ada 10 lembar foto berisi dirinya yang sedang bersama laki-laki. Foto foto itu tampak di ambil dari jarak jauh namun anehnya wajah Pria yang ada di foto itu di blur dan hanya memperlihatkan wajah Binar seorang. Foto foto itu tampak di ambil di rumah, saat kejadian Binar nyaris di nodai oleh Pria gemuk tempo hari, satu foto berisi Binar yang tengah berada di depan Apartemen bersama Sekretaris Han yang tentunya dengan wajah di blur, tapi Binar bisa mengenali dan ingat dengan jelas kapan kejadian itu berlangsung.


" Oh, Apa apaan ini!" Binar lantas memunguti foto-foto yang berserakan dan menyembunyikannya sesegera mungkin.


__ADS_2