
Saat Pelajar SMA Itu Jual Diri
Bab 6
" Bibi widia masih di rawat?" Arumi menggeser bangku disebelah Binar yang masih sibuk menghapal pidato berbahasa inggris miliknya.
" Iya, belum pulang," sahut Binar pendek. Ia kembali mengulang beberapa paragrap yang sering lupa.
" Ngomong ngomong selamat ya akhirnya kamu terpilih mewakili sekolah meskipun akhir akhir ini nilai mu anjlok tapi saya yakin kamu pasti akan membawa piala penghargaan untuk sekolah ini," ujar Arumi dengan senyum mengembang. Binar lantas tersenyum.
" Sama-sama, aku akan berusaha sebaik mungkin," balasnya pendek.
" Oh ya, ku lihat kau sering sekali menulis inisial AA di belakang buku mu, siapa dia? Pacarkah? Atau ternyata kau sedang naksir seseorang?" Arumi kembali menodong sosok cantik berkuncir kuda itu dengan berbagai pertanyaan.
" Em ... Bukan siapa-siapa! Hanya inisial seorang penyelamat dalam hidupku," Binar berkilah karena tak ingin berterus terang. Arumi mengerucut.
" Bohong," balas sosok cantik dengan rambut sebahu itu.
" Setelah terpilih mewakili sekolah pasti beban fikiran mu semakin banyak, aku tidak punya sesuatu untuk diberikan sebagai bantuan, tapi ku mohon tetaplah semangat, aku mendukungmu!" Arumi menunjukkan dua jempol terbaiknya ke arah Binar yang masih sibuk menghapal.
" Thanks ... Aku harap kau bisa hadir di hari perlombaan nanti," pinta Binar seraya menggenggam jemari teman terbaiknya itu.
" Aku pasti akan hadir!" Arumi menyakinkan.
Percakapan keduanya lantas terhenti saat mendengar riuh siswi yang berbondong bondong meninggalkan ruang kelas menuju koridor. Arumi dan Binar lantas menyusul dan ikut berdesak desakan diantara para pelajar yang masih bergerombol.
" Ada apa sih?" Arumi mengintip dari celah celah bahu seorang siswi.
" Kita dapat bantuan lagi, lihat itu ..." Siswi itu menunjuk beberapa box dan paper bag yang baru saja dikeluarkan seseorang dari dalam mobil.
" Sekretaris Han?" lirih Binar.
" Iya ... Entah kenapa akhir-akhir ini CEO DIGITAL WORLD sering bersedekah ke sekolah ini," Arumi berkomentar sedang Binar hanya menatap dalam diam.
__ADS_1
" Apa dia juga datang?" tanya Binar kemudian.
" Siapa? CEO tampan itu?" Arumi berujar sembari menunjuk ke arah orang orang berjas hitam di depan sana. Binar menatap lurus ke ujung telunjuk Arumi sedang gadis itu masih sibuk berceloteh.
" Kau tahu, kadang aku berfikir seandainya dia jatuh cinta padaku maka aku akan menjadi orang yang paling bahagia di muka bumi ini!" Arumi menatap Binar dengan sorot mata bercahaya sedang Binar terlihat tegang dan pucat.
" Kau kenapa?" Arumi berusaha menerka nerka namun belum sempat pertanyaan itu terjawab seorang guru lantas datang dan meminta seluruh siswa untuk berkumpul di Aula sekolah. Kabarnya Sang CEO ingin memberikan pidato singkat berisi motivasi dan moral untuk para pelajar di sekolah itu.
Arumi yang bersemangat langsung menarik lengan Binar mendahului siswa dan siswi lainnya. Ia memaksa harus duduk di barisan paling depan tentunya bukan untuk mendengarkan motivasi singkat itu melainkan untuk menatap wajah tampan Sang CEO yang menjadi buah bibir siswi siswi di Sekolah.
" Oh kenapa dia tampan sekali, lihatlah bahkan tak ada cela sedikitpun pada dirinya, wajahnya bak pangeran dari dunia dongeng ...." Arumi yang gemes lantas mencubit kedua pipi Binar yang hanya duduk membeku karena tegang.
" Apa kau bawa topi?" Binar mulai merasa tidak nyaman terutama saat Pria yang sering ia temui itu berdiri dan mulai memberi sambutan singkat.
" Buat apa topi?" Arumi menatap tak mengerti.
" Ah ... Aku ... Aku tiba tiba gerah, lihat aku berkeringat," Binar lantas menunjuk ke arah pelipisnya yang sudah dipenuhi peluh.
" Apa kau sakit? AC nya menyala dan kau malah keringatan!" Lagi lagi Arumi menatap tak mengerti.
" Astaga kau kenapa, Binar? Lihat wajahmu tegang sekali, kita hanya diminta mendengarkan pidato bukan untuk berpidato!" Dan untuk kesekian kalinya Arumi harus menahan Binar agar tidak meninggalkan Aula.
Alden Alexander melayangkan seluruh pandangannya menyisir setiap sudut ruangan, menatap tiap wajah para siswa siswi yang tampak hening dan hanya berfokus pada pidatonya.
" Para pelajar yang sedang sama sama berjuang dalam menuntut ilmu, di era digital ini, teknologi bisa memberikan semua yang kalian inginkan .... Dan tinggal bagaimana kalian memilah mana yang baik dan harus di contoh dan mana yang harus kalian di tinggalkan. Sebagian dampak negatif dari kemajuan era digital ialah rusaknya moral terutama pada pelajar SMA di usia seperti kalian semua .... dan saran saya ....
GUBRAKKK!
Binar yang hendak berdiri keluar tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri hingga membuatnya jatuh terjerembab di lantai.
" Aduhhh!" Binar meratap.
" Ais .... Apa sih yang kau kerjakan!" Arumi menggaruk garuk kepala bingung, seluruh mata menatap ke arah mereka berdua bahkan ada sebagian siswa yang mulai bergaduh, menertawakan tingkah mereka berdua.
__ADS_1
" Ayo bangun kenapa jadi selonjoran disitu!" Arumi celingak celinguk sembari membantu Binar berdiri.
Alden yang menyaksikan kejadian itu lantas menghentikan pidatonya sejenak sedangkan para guru yang berdiri di belakang podium dengan serempak memelototi kedua sahabat itu.
Binar berlahan duduk kembali ke kursi seperti sedia kala, wajahnya memerah bak kepiting rebus terlebih saat sepasang netra Pria tampan di depannya menatap lekat-lekat ke arahnya.
" Terkadang pelajar yang punya nilai akademis baik belum tentu memiliki moral yang baik pula ...." ujar Alden lantang.
Jleb!
Binar merasa kalimat barusan yang ia dengar adalah sindiran pedas kepadanya. Ia semakin menunduk, keringat dingin mulai mengucur membasahi pelipisnya. 20 menit yang ia lalui terasa seperti 1 tahun dan entah mengapa pidato yang katanya hanya singkat itu justru berujung panjang bahkan memasuki sesi tanya jawab.
Beberapa siswa yang ditunjuk harus memberikan penjelasan tentang apa yang baru saja mereka dengar. Dan Binar, salah satu siswi terbaik di sekolah itu tiba-tiba berubah menjadi siswi paling bodoh sejagat raya. Bicaranya gugup, kaku dan nafasnya tiba tiba terasa berat.
" Ais ... Kamu kenapa sih?" Arumi mengusap peluh yang tengah membanjiri pelipis sahabatnya itu.
Binar menggeleng, tak menyahut dan sosok CEO tampan yang tengah berjalan ke arahnya itu hanya bisa menggigit bibir, menahan tawanya agar tidak pecah dihadapan semua orang.
" Siapa namamu?" Alden bertanya lantang ke arah Binar yang pucat pasi.
Binar terdiam, ia nyaris tak bisa mendengar apa yang tengah ditanyakan Alden.
" Huss... Dia bertanya padamu ...." Arumi lantas mencubit pinggang sahabatnya itu.
" Binar ... Tuan, eh ... Maksudku Pak."
Mendengar jawaban Binar yang demikian, sontak seluruh siswa bergaduh lagi.
" Haduh apa apaan sih kau ini ....tidak biasanya begini," lirih Arumi. Ia merasa tak sanggup jika harus mendengar tawa ejekan dari rival rival mereka.
Alden lantas semakin mendekat, ia menundukkan kepala ke arah Binar yang nyaris saja pingsan menahan degup jantungnya yang tak menentu.
" Saat berbicara, biasakan untuk menatap lawan bicara mu ..." lirih Alden seraya mengangkat dagu Binar perlahan. Keduanya lantas saling menatap, jarak wajah mereka yang hanya beberapa senti itu seketika membuat hening seluruh ruangan. Dunia seakan berhenti berputar, jam dinding terasa berhenti berdetak dan yang terdengar hanyalah detak jantung keduanya yang berpacu lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
" Ya Tuhan ...." Arumi menelan ludah. Jika ia berada di posisi Binar mungkin ia akan langsung mengecup bibir Sang CEO tanpa peduli jika ia harus dikeluarkan dari sekolah saat itu juga.