KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 8


__ADS_3

Bab 8


" Bisa lebih cepat tidak, hah!" Alden menutup panggilan telepon dan meletakkan ponsel itu dengan asal. Wajah pucat Binar membuatnya gelisah, ia tak sabar ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya tengah terjadi.


" Hei gadis kecil, ku mohon bukalah mata mu? Jangan membuatku khawatir," lirih Alden, ia memandangi setiap inci wajah gadis itu dan semakin lama hatinya semakin berdebar.


Dari luar, suara pintu terbuka yang menandakan bahwa sekretaris Han dan seorang dokter sudah tiba. Alden berdiri menanti keduanya dengan tidak sabar.


"Lekas di baringkan ke tempat tidur, Pak Alden." Sang dokter meminta dengan sopan.


Untuk kedua kalinya, Alden kembali menggendong tubuh Binar yang masih tak sadarkan diri. Sang dokter kemudian mengekor dari belakang.


" Mohon untuk tinggalkan ruangan sebentar, saya akan mengganti pakaiannya. Apa Pak Alden punya salinan?" Dokter muda itu segera mengambil piyama navy yang baru saja di sodorkan Alden.


Alden dan sekretaris Handika lantas beranjak menuju balkon. Berdiri di sana dengan rasa khawatir yang terpancar jelas dari raut wajahnya.


" Cari tahu penyebabnya, aku butuh satu nama untuk orang yang telah melakukan tindak kekerasan padanya!" bisik Alden. Sekretaris Han langsung mengangguk patuh.


Setelah menunggu hampir 20 menit lamanya, Dokter Muda itu lantas menemui keduanya yang tengah berdiri di balkon.


" Bagaimana kondisinya?" Alden tidak sabar ingin mendengar penjelasan langsung dari sang dokter.


" Sebentar lagi akan sadar. Dia demam, kelelahan serta mentalnya mengalami tekanan berat." Sahut sang dokter kemudian. Alden membisu.


" Bagaimana dengan memar yang ada di tubuhnya?" Alden bertanya setelah itu.


" Tanda tanda kekerasan fisik yang cukup sering terjadi, bekasnya biru kehitaman yang bearti kekerasan itu terjadi baru baru ini," terang sang dokter lagi.


Alden menatap sekretaris Han lekat-lekat.


" Aku butuh info, Pak Handika," ujarnya pendek.


Usai memberikan beberapa resep obat, sekretaris Han dan sang dokter segera berpamitan untuk mengerjakan urusan lainnya yang lebih penting. Keduanya tak banyak bicara saat dihadapkan dengan situasi seperti itu. Alden Alexander adalah Pria yang tidak pernah main main dalam mengambil keputusan.


Alden menatap Binar yang yang masih terbujur lemah. Remaja umur 16 tahun dengan tubuh kecil itu bagaimana bisa menahan tindak kekerasan yang terus terusan terjadi. Alden mengelus kening pelajar itu sejenak kemudian mengecupnya.

__ADS_1


" Bangunlah ... Aku ingin mendengarnya langsung dari mu," bisik Alden.


Selang beberapa detik, Binar membuka mata perlahan.


" Jangan menciumiku tanpa seizin ku ... Tuan," lirihnya lemah, nyaris tak terdengar. Alden lantas tersenyum lega.


" Kenapa kau selalu menghindar dari perasaan mu sendiri?" Alden tersenyum lagi, membantu sosok itu bersandar pada dua buah bantal yang ditumpuk menjadi satu.


" Tuan, jangan terlalu dekat denganku, aku benar-benar tidak bisa menahan diri," lirih Binar kemudian. Alden terkekeh. Pria itu lantas membuka kotak makanan.


" Mari ku suapi ...." Alden lantas mengambil sesendok nasi dan menyuapi pelajar SMA itu.


" Kenapa Tuan baik sekali padaku?" tanya Binar.


" Karena kau gadis yang baik, malam ini, tidurlah disini. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian," Alden memberanikan diri menyentuh pipi tirus itu, mengelusnya pelan.


" Cepatlah pulih, kau harus membuatku bangga dengan pidato bahasa inggrismu itu," Alden tersenyum lagi seraya menggenggam erat jemari Gadis berambut panjang itu.


Binar mengangguk lemah.


" Bukan apa apa, Tuan. Aku baik baik saja," sahut Binar menunduk, menghindari tatapan tajam dari CEO perusahaan Digital itu.


" Ayolah ... Jangan menyimpan beban seorang diri itu akan membuatmu semakin tertekan," bujuk Alden lagi. Binar menggeleng.


" Apa Tuan yang mengganti seragamku?" Binar mulai menyadari bahwa tubuhnya kini telah berbalut piyama navy yang kebesaran.


" Tentu saja, aku yang melepas seragam mu satu persatu," Alden berbohong.


" Mesum!" Binar melotot.


" Apa? Sudah punya nyali memelototi ku!" Tabiat galak dan ceplas ceplosnya tiba-tiba keluar dengan sendirinya meski ia telah berupaya semanis mungkin.


" Tenang saja, bukan aku yang melakukannya. Aku hanya akan melepas pakaianmu apabila kau yang memintanya," Alden menatap Binar kemudian mengerling nakal. Binar membuang muka.


" Minumlah obat lalu beristirahat." Alden lantas beranjak mengambil handuk kemudian menuju kamar mandi.

__ADS_1


" Walaupun mesum tapi dia manis sekali ," Binar menatap tubuh gagah itu hingga hilang di balik pintu kamar mandi.


Setelah menikmati segarnya guyuran shower, Alden melangkah keluar dari kamar mandi hanya dengan balutan handuk yang menutupi bagian pinggangnya saja. Ia berjalan santai dan berniat mengambil Handphone yang tergeletak di atas nakas.


Binar yang melihatnya sontak menutup wajah dengan kedua tangan.


" Menjauhlah, jangan mendekat!" Binar buru-buru mengusir sosok itu sebelum benar-benar mendekatinya.


" Kau mengusirku dari Apartemenku sendiri?" Alden tak terima dan justru melangkah mendekat.


" Kenapa sih kau selalu tegang saat bersama ku? Kan sudah ku bilang jangan menghindari perasaanmu sendiri," Alden tampak bingung.


" Tuan, kondisikan tubuhmu .... Jangan memberi contoh yang tidak baik untuk anak sekolah!" Binar berusaha bergeser, menjauhi sosok yang terlihat mendekat ke arahnya.


" Baiklah, jadi sekarang terjawab sudah, Siapa yang lebih dulu jatuh cinta," Alden meraih ponsel kemudian beranjak menuju ruang ganti. Ia memilih milih deretan pakaian yang tergantung dengan rapi.


Selang beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Alden manatap layar benda bewarna hitam pipih tersebut.


" Halo, sekretaris Han?" Alden tampak memulai percakapan penting dengan nada bicara yang pelan sekali.


" Apa orang orang kita sudah menemukan Siapa penyebabnya?" Alden berdiri tepat di depan cermin yang memantulkan sosok dirinya.


" Hah ...? Ayahnya? Bagaimana mungkin calon mertuaku bisa berbuat demikian?!" Alden tampak tak percaya namun ia segera menutup panggilan telepon saat mendengar pintu ke arah balkon terbuka. Ia buru- buru keluar dan mendapati Binar yang telah berdiri di sana. Hembusan angin senja, menerbangkan rambut lurus gadis itu. Siluet tubuh yang indah itu tampak menantang membias pada dinding balkon.


" Jangan berdiri disitu, angin sore tidak baik untukmu," Alden lantas memasangkan jaket tebal untuk menutupi tubuh gadis itu.


" Apa seperti ini terasa hangat?" Alden menahan tubuhnya untuk tetap merangkul sosok itu dari belakang. Binar mengerjab gugup. Wangi parfum serta deru nafas Pria itu membuatnya membeku, tak mampu bergerak walau hanya sesenti pun.


" Tuan .... " lirih Binar, seperti biasa, ia merasa nafasnya tiba tiba memburu. Detak jantungnya tiba tiba merespon sentuhan Pria itu dengan rasa yang berbeda.


" Biasakan santai, jangan melawan hatimu sendiri ...." bisik Alden. Wangi tubuh Pria itu menyeruak dan membuat Binar tak mampu mengeluarkan satu patah katapun.


" Jangan pernah pergi saat kau telah berhasil membuat seseorang nyaman," bisik Alden lagi. Kedua tangan kekarnya lantas semakin mendekap erat tubuh remaja belia itu, menenggelamkan tubuh ramping itu dalam pelukannya.


Selamat sore semuanya .......

__ADS_1


__ADS_2