KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANAK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 3


__ADS_3

Bab 3


" Apa kotak makannya sudah kau antarkan, Pak Handika?" Alden buru-buru bertanya pada sang sekretaris setelah menyelesaikan meeting penting mereka.


" Sudah, Tuan muda,"


" Apa kau sudah dapat informasi tentang data data pelajar itu?" tanya Alden lagi.


Sekretaris Han lantas mengeluarkan sebuah Map merah bertuliskan nama sekolah lengkap dengan tahun ajaran pada saat itu.


Ia membuka lembar pertama berisi sebuah foto siswi berseragam SMA dengan rambut terurai rapi.


" Binar Kinasih Ahmad, 1 januari 2006, tidak punya saudara ... Anak tunggal?" Alden lantas menatap sekretarisnya meminta penjelasan.


" Benar, Tuan. Sepulang sekolah ia biasanya menjadi buruh cuci di rumah rumah tetangga." terang Sekretaris Han lagi.


" Bagaimana dengan Ayahnya?" Alden tampak penasaran dengan kisah hidup pelajar yang nyaris saja ia kencani semalam.


" Kudengar Ayahnya pecandu alkohol dan suka melakukan kekerasan padanya," Sekretaris Han menambahkan.


" Ibunya?" Alden bertanya lagi.


" Penderita kanker paru paru akut, masih dalam penangan dokter di rumah sakit terdekat,"


" Menyedihkan .... "


Alden menatap sekretarisnya yang masih setia menunggu pertanyaan darinya,


" Apa menurutmu dia cantik?"

__ADS_1


Entah apa yang ada dalam pikiran Alden, tanpa tahu malu ia menanyakan hal semacam itu pada sekretrisnya pada saat jam kerja.


" Maksud Tuan?" Sekretaris Han balas menatap Pria yang nyaris 10 tahun dalam pengawasannya.


" Ah tidak, lupakan saja ... " Alden mengusap wajah, berusaha melupakan rasa ingin tahunya yang menggebu.


" Aku dapat info bahwa seminggu terakhir nilai akademisnya turun drastis dan Siswi yang bersangkutan sering ketiduran di kelas," Sekretaris Han meneruskan informasi yang ia dapatkan dari pihak sekolah.


" Tidur di kelas?"


Alden mengulang pernyataan Sekretaris Han.


" Iya, Tuan. Sepertinya kelelahan,"


CEO perusahaan digital itu lantas termenung, ia membuka lembar kedua dari kertas yang berisi identitas pelajar yang baginya begitu menyedihkan.


" Cita cita ingin menjadi koki? Apa tidak salah ingin menjadi koki? Telur mata sapi saja sampai gosong," Ejeknya kemudian.


Alden tampak memutar otak, mencari cari cara agar keinginannya bisa terwujud tanpa harus bicara terus terang. Alden merupakan Pria yang sulit berterus terang apalagi menyangkut masalah hati.


" Lalu apa yang bisa saya bantu, Tuan Muda?"


Sekretaris tentu sudah bisa menebak jalan pikiran Pria tampan di depannya itu. Sudah lama ia mengabdi pada keluarga besar Alexander, ia kenal betul siapa sosok CEO yang tengah memimpin perusahaan sekarang.


" Suruh dia bersih bersih Apartemenku!" Alden tampak acuh. Dalam hati ia tengah berusaha mati matian menyembunyikan diri dari perasaannya sendiri.


" Baik, Tuan. Akan saya sampaikan segera," Sekretaris Han lantas berpamitan kemudian melangkah meninggalkan sosok gagah itu yang masih betah membuka lembar demi lembar berisi data diri Binar Kinasih Ahmad.


***

__ADS_1


Mobil mewah berwarna hitam itu berhenti tepat di depan pagar sekolah, 5 menit lagi bel sekolah berbunyi, sekretaris Han sudah siap dengan perintah guna menjemput Binar dari sekolah dan membawanya menemui Alden. Pria berpakaian serba hitam itu menatap lurus keluar kaca, memastikan bahwa sosok yang dicari berada dalam pengawasan dan segera memenuhi keinginan Tuannya.


Tak lama berselang, Binar muncul seorang diri, langkahnya lemah dan jauh dari kata semangat. Secarik kertas di tangan kanannya tampak membuatnya begitu sedih, ia menggenggam kertas itu erat sembari sesekali menatap sedih.


" Nona ..."


Sekretaris Han membuka kaca mobil saat sosok Binar melintas tepat di samping mobilnya.


Binar menatap sayu.


" Sekretaris Han?" Binar tak menyangka akan bertemu sosok penting itu sesering ini.


" Mari ikut saya, Tuan muda menunggu," Terangnya Sekretaris Han seraya membukakan pintu untuk Binar.


" Aku .... Aku takut padanya," Binar terbata.


" Tidak usah khawatir, Tuan Muda adalah Pria yang baik," ujar sekretaris Han kemudian.


Dengan ragu ragu akhirnya Binar memasuki mobil mewah itu dan menuju kediaman Alden Alexander yang saat ini masih berada di kantor.


Pria dalam balutan jas hitam itu masih sibuk mengecek berkas demi berkas sebelum ditanda tangani olehnya. Beberapa berisi data data keuangan dan proposal dari klien.


" Sudah sampaikah Dia?"


Tiba tiba sosok Binar kembali mengganggu fokusnya sore itu, ia melirik jam tangan sejenak, hampir setengah jam berlalu bisa dipastikan sosok yang ia tunggu sudah berada di Apartmennya.


Alden segera menutup berkas terakhir yang ia baca kemudian meninggalkan kantor, pikirannya sudah tidak fokus lagi lantaran sosok pelajar SMA itu sering kali bermain dalam benaknya.


Setelah memasukan beberapa kode, pintu Apartemen itu segera terbuka. Alden menatap setiap sudut ruangan yang hening, sepertinya tak ada tanda tanda kedatangan sosok yang tengah ia tunggu sore itu.

__ADS_1


" Kemana dia?" Alden lantas mengecek tiap ruang yang ada.


" Bukankah sekretaris Han bilang sudah sampai," Alden bergumam.


__ADS_2