KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH

KETIKA PELAJAR SMA JUAL DIRI DEMI BIAYA SEKOLAH
ANK PELAJAR SMA JUAL DIRI BAB 20


__ADS_3

Bab 20


' Tatapan Tuan membuatku semakin gugup' batin Binar sesaat setelah membalas senyuman Sang Tuan Muda yang sudah jelas ditujukan padanya. Pria tampan itu memang memiliki semua yang diinginkan wanita. Dia tampan, kaya, sukses, terpelajar dan sangat murah hati. Meskipun terkadang kata-katanya sedikit kasar tapi ia yakin dahulu Pria itu pernah menjadi sosok yang lembut dan penyayang namun telah dikecewakan seseorang.


Binar lantas menatap deretan kursi peserta lomba yang ada di samping kirinya, beberapa kursi yang kosong sudah terisi penuh oleh para peserta lomba.


Beberapa dari mereka tampak tersenyum dan mengulurkan tangan kepada Binar. Binar dengan senang hati berkenalan.


Usai memberikan sambutan, acara kembali dilanjutkan dengan pembacaan doa guna meminta perlindungan serta kelancaran dalam setiap acara yang akan dilangsungkan.


Setelah itu, acara mulai memasuki tahapan inti yaitu pengenalan nama-nama siswa dari setiap peserta lomba yang terpilih. Acara perlombaan dimulai dengan pengambilan nomor urutan peserta lomba dalam sebuah kotak bewarna merah putih yang akan menentukan siapa yang akan berdiri lebih dulu di depan dewan juri.


Di tempat terpisah, beberapa lomba juga di adakan di luar ruangan dengan masing-masing juri yang kompeten di bidangnya.


" Binar Kinasih Ahmad, perwakilan dari SMAN 1 CEMPAKA di persilahkan untuk mengambil tempat."


Binar sedikit terlonjak dengan panggilan atas nama dirinya yang disebut setelah seorang siswi perwakilan dari sekolah lain telah lebih dulu mengambil nomor urut.


Binar lantas berdiri, melangkah menuju kotak merah putih yang berada di tengah-tengah ruangan. Ia lantas mengambil satu dari lipatan kertas bewarna keemasan yang berada di dalam kotak dan memperlihatkannya di depan semua juri yang tengah menyorot lekat ke arahnya.


" What number did you get, Miss? ( Nomor berapa yang kamu dapat, nona?)" tanya seorang juri saat melihat Binar memperlihatkan lipatan kertas yang telah ia buka.


" I got first, Mr,"( aku yang pertama, pak )


balas Binar.


" Good luck!" Juri itu lantas tersenyum dan mempersilahkan Binar untuk kembali ke kursi peserta.


Ternyata Binar mendapat urutan yang pertama dalam menyampaikan pidato bahasa inggrisnya hari itu. Jujur, ia merasa sangat gugup. Terlebih Alden pernah bilang bahwa urutan pertama dalam lomba akan menjadi pusat perhatian semua orang.

__ADS_1


Ah, tiba-tiba Binar menjadi panas dingin. Ia menatap satu persatu peserta lomba yang mulai kembali duduk setelah mengambil nomor urut. Ia merasa tengah menghitung detak jantungnya sendiri. Benar-benar tak menyangka dengan angka nomor satu yang ada dalam genggaman tangannya.


Sebagai tamu istimewa, Alden dan Sang Ibu serta para petinggi perusahaan mendapat tempat istimewa yaitu duduk di sofa yang berada pada posisi lebih tinggi dari tempat sekitarnya hingga jangkauan matanya dapat melihat dengan jelas setiap peserta yang telah ikut memeriahkan lomba hari ini. Namun berapa pun jumlah pesertanya, Alden sama sekali tak peduli, yang ada dalam tatapan matanya hanyalah sosok Pelajar SMA dengan rambut terurai rapi yang tengah *******-***** jemarinya sendiri.


" Jangan gugup, kau pasti bisa!" lirih Alden. Walaupun demikian, Sang Ibu tetap mendengar lirih suaranya dan hanya merespon dengan senyuman.


Tak lama setelah pengambilan nomor urut peserta, perlombaan itu segera di mulai dan itu artinya detik-detik yang dinanti semua orang akan segera tiba.


" Peserta lomba pidato berbahasa inggris urutan pertama, atas nama Binar Kinasih Ahmad perwakilan dari SMAN I CEMPAKA diharapkan untuk berdiri di podium yang telah di persiapkan!"


Riuh tepuk tangan seketika memenuhi seluruh ruangan, tak terkecuali Arumi yang tengah menonton acara itu dengan penuh semangat dan begitu antusias.


Binar menarik nafas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, mengucapkan doa dan meminta restu pada sang Ibu yang kini tengah berada di rumah.


Pelajar itu lantar berdiri dari kursinya, menyatukan kedua telapak tangan di dada sebagai isyarat ucapan terima kasih untuk setiap semangat yang telah diberikan teman-temannya, terutama untuk dia. Binar lantas melangkah, menebar sebanyak mungkin senyuman yang ia punya demi menutupi degup jantungnya yang mulai berperang.


Entah secepat apakah ia melangkah, yang ia tahu kini ia telah berdiri di belakang podium dengan lampu bersinar terang menerangi separuh tubuhnya. Ia mengidarkan pandangan ke seluruh ruangan, menatap satu persatu wajah-wajah yang mulai terpaku menatapnya.


" Pak Han, kenapa aku merasa panas-dingin?" Alden lantas merenggangkan kancing kemejanya seraya menatap Sekretaris Han yang tengah tersenyum.


" Apa kau punya minuman?" tanya Alden lagi. Ia sama sekali tak menyadari bahwa sejak tadi ada beberapa botol air mineral telah tersaji di atas meja.


Sang Sekretaris lantas meraih satu botol dan membukakan untuk sosok itu.


" Minumlah dan nikmati lombanya," lirih Sang Sekretaris kemudian. Alden tampak canggung dengan situasi saat ini.


Binar memulai pidatonya,


" Peace be upon you, and Allah mercy and blessings.

__ADS_1


Ladies and gentlemen,


Good morning, on this happy occasion, I want to deliver a speech about education.


As we know, education plays an important role for the progress of a nation ...,


If the education of the people is left behind, then the population will experience difficulties in adapting and facing pressure from the outside world ...."


Alden meneguk habis sebotol air mineral yang di sodorkan sekretarisnya terlebih saat mendengar suara Binar mulai bergema memenuhi seisi ruangan. Ia bahkan tak sanggup menatap sosok yang tengah berpidato di depan sana.


"Tuan ..., tenanglah. Kenapa justru Tuan yang gugup?" Sang sekretaris tersenyum lagi sembari mengunyah permen karet yang baru saja ia rogoh dari saku.


" Diam kau!" Mendapati ucapan sekretarisnya yang demikian, membuat perasaan Alden semakin tak menentu. Ia perlahan lahan mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Binar yang masih berdiri di belakang podiumnya lengkap dengan pidato yang masih berlanjut.


" Semangat!" ujar Alden yang seketika membuat Sang Ibu menoleh ke arahnya.


" Kau keringatan, sayang," Bu Andine lantas mengambil tisu dan mengusap pelipis putranya. Alden tiba-tiba merasa sangat malu dihadapan sosok wanita yang telah melahirkannya itu.


" Peserta yang mewakili sekolah sangat cantik dan juga berbakat," puji Bu Andine, menatap raut wajah putranya yang tampak serba salah.


"Benarkan Alden?" Sang Ibu meminta pendapat sedangkan Alden tampak salah tingkah dan mulai menggerak gerakan sepatunya, tiba-tiba merasa keram.


" Tuan ...," ujar Sang Sekretaris tiba-tiba.


" Apalagi, Pak Han. Tolong jangan bercanda dalam situasi seperti ini!" Alden lantas menggerutu.


" Tuan ...,"


" Apalagi ?" Alden tampak kesal.

__ADS_1


" Tuan ..., sedang menginjak sepatu saya," lirih Sang Sekretaris sembari menunjuk ke arah sepatu Alden yang berada tepat di atas sepatu miliknya.


" Ais ..., Astaga! kenapa tidak bilang dari tadi!"


__ADS_2