
Dua minggu kemudian
Sudah dua minggu berlalu, hubungan Kenzo dan Rara tidak begitu baik. Lebih tepatnya saat ini Rara selalu menghindar dari Kenzo yang ingin berbicara dengannya. Setelah dari malam itu Rara benar-benar menghindar dari Kenzo, disekolah Kenzo begitu kesulitan berbicara sama Rara karena gadis itu menghindar bahkan menjauh dari dirinya. Ketika Kenzo berkunjung ke rumah Rara yang ingin dengan cepat menyelesaikan masalah ini agar tidak larut berkepanjangan namun Rara terus menghindarinya dengan alibi bahwa ia ingin fokus belajar dan tidak ingin ada yang menganggunya, dengan pasrah Kenzo menuruti keinginan Rara sebab mereka akan menghadapi ujian semester ganjil kedepannya.
Selama dua minggu ini juga Kenzo terus mengirimkan begitu banyak pesan kepada Rara tapi tak pernah sekalipun dibaca ataupun dibalas oleh Rara, begitu juga ketika Kenzo menelponnya bukannya diangkat sama Rara namun hanya diabaikan saja dan tak berniat mengangkatnya. Pada saat malam itu Kenzo yang mendengar Rara mengungkapkan perasaannya, Kenzo merasa begitu bahagia mendengar bahwa Rara mencintainya sudah sejak lama. Tetap saja Kenzo merasa bimbang apakah ia pantas menjadi suami Rara nanti. Kenzo mulai memantapkan dan meyakinkan hatinya untuk menerima perjodohan ini dari sekarang dan ia akan mencintai Rara dengan sepenuh hatinya, entah sejak kapan Kenzo mulai jatuh cinta pada Rara gadis kecil petakilan itu. Dan setelah ujian selesai ia akan mencoba mengajak Rara untuk berbicara empat mata saja dan tidak ada yang ikut campur untuk membicarakan soal kelanjutan hubungan mereka. Kenzo selalu menahan amarahnya ketika melihat Rara berjalan, berpelukan maupun gandengan tangan dengan laki-laki lain disekolah terutama pada Arvin walaupun ia juga mengenal mereka.
Satu minggu kedepan baik Kenzo maupun Rara akan menghadapi ujian semester ganjil yang diadakan pihak sekolah. Keduanya belajar dengan giat mempelajari semua mata pelajaran yang ada sebelum waktunya ujian.
••••••••••••••••^•^••••••••••••••
Hari ini adalah hari pertama ujian sekolah. Sengaja Rara berangkat ke sekolah lebih pagi karena ia akan mengulang kembali pelajaran yang ia baca semalam, karena ia tidak bisa fokus apalagi handphone terus saja berbunyi dan notifikasi dari Kenzo yang selalu saja mengirimkannya pesan dan telpon. Sedih itu lah yang dirasakan oleh Rara sampai saat ini bila melihat nama Kenzo tertera di notifikasi handphone nya, ia memilih untuk menghindar dan menjauh dari Kenzo karena menurutnya itu lah yang terbaik untuk saat ini.
Seperti biasa Rara dan keluarganya akan sarapan bersama. Sarapan kali ini Rara lah memasaknya, Rara memasak nasi goreng spesial untuk keluarganya. Rara pintar sekali dalam hal memasak karena ia selalu belajar dari mommy dan bik Asri untuk mengajarinya masak, melihat Rara senang memasak daddy nya pun tidak melarang Rara jika ia ingin memasak untuk keluarganya.
Setelah selesai masak dan meletakkan nasi goreng yang ia masak diatas dan kemudian memanggil semua anggota keluarganya.
"Mommy...daddy...oppa ayo kita sarapan Rara udah selesai nih masaknya", teriak Rara menggema diseluruh rumah, tak lama semuanya tiba di meja makan.
"Kayaknya enak banget nih masakannya anak mommy satu ini", ucap mommy Indira
"Iya mom kayaknya enak masakan Panda kesayangan daddy ini", kata daddy Woo Joon sambil mengelus lembut kepala anak gadisnya. Rara pun tersenyum manis kepada daddy nya untuk menutupi kesedihan yang kini tengah dirasakannya.
Tanpa banyak bicara lagi mereka semua pun duduk di meja makan dan memakan hasil masakan dari Rara. 10 menit berlalu mereka telah selesai makan sarapannya, Rara kini sedang membereskan semua piring kotor yang ada di meja dibantu mommy tercinta. Daddy Woo Joon telah lebih dulu berangkat ke kantor dengan diantar oleh pak Anton, Jordan pun telah pergi ke kampus lebih awal. Sekarang tinggal Rara yang akan ke sekolah yang seperti biasa diantar oleh Jayden dengan menaiki motor sport nya.
•••••••••••••••••••^•^•••••••••••••
Setibanya di sekolah Rara langsung saja berjalan menuju kelas nya yang masih terlihat sepi belum banyak teman-teman nya yang datang. Rara pun memanfaatkan keadaan dengan membaca kembali serta memahaminya agar ia bisa dengan mudah menjawab ujian nantinya, hari pertama dimulai dengan ujian bahasa Indonesia, matematika dan Pkn. Dengan ketenangan pagi itu dengan cepat Rara kembali bisa fokus dengan bacaannya.
Selang 10 menit satu persatu sahabatnya berdatangan, dimulai dengan datangnya Bella dan Laura kemudian disusul dengan ketiga lainnya Dina, Dinda dan Kartika. Kelimanya pun duduk berdekatan mengelilingi Rara, menurut mereka Rara terlihat kesedihan dimatanya dan mereka ingin menghiburnya.
"Eh guys coba liat Rara deh kenapa itu anak kelihatan lagi sedih gitu, apalagi tuh muka kayak murung. Apa lagi ada masalah ya?", ucap Bella yang heran dengan Rara, Rara tidak bisa mendengar apa yang sahabatnya bicarakan karena ia memakai headseat ditelinga nya.
"Iya gue perhatiin dari tadi mukanya murung walau lagi belajar buku yang ada didepannya, apa nih anak lagi galau?. Lebih baik kita tanya aja langsung sama orang nya.", Dina memberi saran agar mereka menanyakannya langsung pada Rara.
"Woi Panda", tegur Dinda sambil menepuk pundak Rara sontak membuat Rara terlonjak kaget dan langsung melepaskan headseat nya.
"Akh.. Lo mah kebiasaan buat gue jantungan Din. Kenapa sih kagetin gue pake nepuk pundak gue lagi?", tanya Rara pada sahabatnya tersebut dan menatap tajam pada mereka.
"Ya lo kenapa murung gitu kan kita penasaran, ada apa sama lo. Makanya kita-kita mau tanya sama lo langsung Rara sayang", kata Bella yang duduk di samping Rara.
"Enggak gue lagi galau aja. Gue galau nanti ujian bisa apa kagak gue jawab nya nanti, karena gue lupa belajar semalam ngantuk banget soalnya", Rara berkilah terpaksa membohongi kelima sahabatnya demi menutupi kesedihan hatinya.
__ADS_1
"Ah lo mah Ra, tanpa lo belajar juga nilai lo sempurna dan satu kelas tau kalo lo itu pintar luar biasa gak kayak kita jauh dari lo. Lo kan juara kelas kenapa mesti galau sih, kita kira lo ada masalah apaan", ucap Kartika membuka suara yang sedari tadi hanya menyimak.
Anak-anak yang lain pun telah memasuki kelas. Bel pun berbunyi menandakan ujian hari pertama akan dimulai. Untuk ujian pelajaran bahasa Indonesia diawali dengan sir Edward yang mengawas kelas Rara, guru yang terkenal killer nya.
"Wah gila guys sir Edward yang bakalan ngawas pertama di kelas kita. Gak bisa nyontek deh gue sama lo pada", ujar Bella
"Sama mana gue gak terlalu belajar lagi, gimana dong kan sir Edward keliling kalo ngawas ujian. Mampus sudah kita semua", ucap Laura yang takut akan gurunya yang satu itu.
Ujian pertama pun dimulai dengan tenang tanpa adanya suara sedikit pun dari anak-anak kelas.
Tepat pukul 11.30 semua peserta ujian telah menyelesaikan semua ujian di hari pertama mereka. Rara dan kelima sahabatnya telah pulang ke rumah masing-masing, Rara hari ini dijemput oleh pak Anton dikarekan Jayden tidak bisa menjemput Rara, katanya ia ada jadwal tambahan yang tidak bisa ia tinggalkan dan Rara memakluminya.
20 menit sudah Rara duduk di dalam mobil, dengan sigap sekuriti yang bejaga di gerbang pun langsung membukakan gerbang untuk nona muda nya dan kini ia turun dari dalam mobil saat telah tiba di pelataran rumah nya. Rara menekan tombol bel rumah nya dan langsung dibuka kan oleh bik Asri.
"Assalamu'alaikum bik, mommy ada kan di rumah?", tanya Rara
"Wa'alaikumsalam silahkan masuk non. Iya non, Nyonya ada di dalam lagi duduk diruang keluarga", jawab bik Asri
Rara tanpa ragu melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga menghampiri mommy tercinta.
"Assalamu'alaikum mom", Rara mengucapkan salam
"Wa'alaikumsalam sayang, sini nak duduk sama mommy", titah mommy Indira pada anak gadisnya dan langsung Rara duduk di sampingnya.
"Iya mom lancar kok tanpa kendala. Oh ya mom Rara mau ke kamar dulu mau belajar lagi untuk besok", ucap Rara yang pamit ke kamar pada sang mommy dan langsung diangguki.
Rara langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur Queen size miliknya sambil memejamkan matanya.
•••••••••••••••^•^••••••••••••
Satu minggu sudah siswa-siswi SMA negeri KEBANGSAAN melewatkan ujian semeter ganjil ini. Dan tepat hari terakhir ujian ini Kenzo telah memantapkan hatinya untuk berbicara empat mata saja bersama Rara.
Saat pulang sekolah Kenzo mencoba menghubungi kembali Rara dan berharap akan diangkat oleh Rara. Dan benar saja langsung diangkat oleh Rara, karena Rara juga ingin dengan cepat menyelesaikan permasalahan diantara mereka.
"Assalamu'alaikum Ra, nanti bisa ikut kakak ke suatu tempat gak, karena kakak ingin bicara empat mata sama kamu soal hubungan kita?", ucap Kenzo
"....."
"Ya udah nanti kakak tunggu kamu di parkiran mobil ya"
"....."
__ADS_1
"Oke kakak tunggu kamu ya. assalamualaikum"
Kenzo pun mengakhiri sambungan telpon nya dan langsung berjalan ke parkiran mobil dengan semangat dan menunggu Rara disana.
•••••••••••^•^•••••••••
Rara yang sedang bercanda ria dengan kelima sahabatnya dikagetkan dengan dering handphone yang berbunyi, ia langsung mengambil handphone dari dalam tasnya dan tertera nama Kenzo yang menghubunginya. Tanpa banyak berpikir Rara mengangkat telponnya.
"Assalamu'alaikum Ra, nanti bisa ikut kakak ke suatu tempat gak, karena kakak ingin bicara empat mata sama kamu soal hubungan kita?", ucap Kenzo
"Iya kak Rara bisa kok ikut, soalnya Rara juga mau menyelesaikan masalah diantara kita", jawab Rara
"Ya udah nanti kakak tunggu kamu di parkiran mobil ya"
"Iya Rara bakalan samperin kakak di parkiran"
"Oke kakak tunggu kamu ya. assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam", Rara memutuskan sambungan telponnya.
Rara pamit pada semua sahabatnya dengan alasan ada urusan yang sangat penting. Rara yang mendapat anggukan dari kelimanya pun langsung bangkit menuju parkiran mobil.
Terlihat Kenzo berdiri di samping mobil ferrari F12 Berlinetta kesayangannya yang berwarna hitam. Kenzo melambaikan tangan nya agar Rara menghampirinya dan tak butuh waktu lama mereka telah masuk ke dalam mobil, namun sebelum itu Rara telah menghubungi kedua kakak dan orangtuanya jika ia akan pergi berdua bersama Kenzo. Tanpa aba-aba Kenzo langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Keheningan yang hanya ada di mobil itu. Tidak ada yang ingin memulai percakapan, Rara hanya melihat keluar jendela mobil serasa enggan menatap Kenzo setelah kejadian malam itu.
15 menit menempuh perjalanan, kini Kenzo memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang sepi dan menyuruh Rara turun dari mobil. Kenzo membawa Rara ke sebuah danau kecil namun indah pemandangan nya sontak membuat Rara terkagum melihatnya. Kenzo meraih tangan Rara agar mengikuti langkahnya untuk mendekat ke danau. Setelah sampai di tepian danau Kenzo langsung membuka terlebih dahulu percakapan diantara mereka.
"Ra, mana tangan kanan kamu", pinta Kenzo. Langsung Rara menunjukan tangan kanan nya. Tanpa basa-basi Kenzo langsung memasangkan kembali cincin pertunangan mereka di jari manis Rara dan membuat Rara terkejut tak percaya apa yang dilakukan Kenzo.
"In..ini maksudnya apa kak, kenapa kakak masang cincin ini lagi ke jari Rara. Kan Rara udah bilang sebelumnya, lebih baik kakak pikir dulu sebelum kakak menyesal menikah sama Rara ya walaupun Rara mencintai kakak hiks...hiks", ucap Rara tak percaya apa yang Kenzo lakukan dan ia tak kuasa menahan airmata nya untuk keluar dari matanya seraya menundukkan kepalanya.
Kenzo yang melihat Rara menangis pun dengan cepat dia menyeka airmata tersebut dan kemudian mencium kening Rara begitu lama.
"Kakak udah pikirin semuanya Ra, dan kakak siap menikah sama kamu. Sepertinya kakak udah mulai mencintaimu entah sejak kapan kakak juga gak tau karena itu kakak sudah memantapkan hati kakak untuk siap menikah dengan kamu apalagi pernikahan kita tinggal sebentar lagi dan mulai sekarang kita bisa persiapan nya", ucap Kenzo dengan penuh kesungguhan setelah melepaskan ciumannya dari kening Rara.
"Kak Kenzo yakin dengan ucapan kakak tadi?", tanya Rara mendongakan kepalanya.
"Iya sayang kakak yakin dengan ucapan kakak yang barusan", jawab Kenzo sambil menganggukan kepalanya dan tersenyum.
Rara yang mendengar Kenzo memanggilnya dengan "sayang" membuat pipi chuby merona dan menundukkan kepalanya lagi namun dengan cepat Kenzo menahannya agar gadis cantik itu tak menunduk lagi. Ia pun gemas melihat Rara yang merona karena malu.
__ADS_1
Setelah mengungkapkan semua yang menganjal di dalam hatinya, Kenzo seketika merasa lega tanpa beban. Mereka berdua menikmati pemandangan indah dari danau kecil itu sambil berpelukan dengan erat yang seakan tak ingin terpisahkan.