Ketua Osis Dingin Itu Suamiku

Ketua Osis Dingin Itu Suamiku
Memburuk


__ADS_3

"Kakak emang suami terburuk di dunia ini. Kakak gak percaya omongan kamu apalagi kakak gak bisa melindungi kamu. Jangan pernah kamu tinggali kakak, kakak mohon sayang bukalah mata kamu", masih menggenggam erat tangan sang istri, Kenzo tak ingin melepaskannya barang sedetik pun.


Ceklek....


Pintu ruang rawat Rara terbuka, namun tak terdengar oleh Kenzo. Karena disaat bersamaan terlihat Kenzo tertidur dengan bersimpuh pada tangannya sebagai bantal di brangkar sang istri. Semua memasuki ruangan dan Lydia menenteng sebuah kotak yang berisi makanan sang putra tercinta, karena ia tahu jika anaknya belum makan apapun kala siang itu dan saat jamnya makan siang Kenzo menolak untuk ikut. Ia tak ingin meninggalkan sang istri sendirian, jika mereka semua ke kantin maka tidak ada yang menjaga istri tercintanya. Oleh karena itu Kenzo menolak keras ajakan keluarganya untuk ikut makan bersama dan itu dimaklumi oleh semua.


"Kak, bangun makan dulu. Kak", mama Lydia membangunkan anak sulungnya itu untuk makan.


Kenzo mengerjabkan matanya disaat ada sesesorang yang mengganggu tidurnya. Saat pandangannya mulai fokus, ia melihat semua telah kembali dari kantin rumah sakit.


"Kak, bangun. Sana kakak makan dulu. Ini mama bawa makanan buat kamu", ucap mama Lydia


"Iya Ken, kamu makan dulu gih sana", kata mommy Indira


"Iya ma, mom", jawab Kenzo


Kini Kenzo telah selesai dengan makan siangnya, ia kembali duduk disamping Rara sambil memegang erat tangan istri kecilnya itu.


"Kak Ken. Kakak jangan sedih terus dong. Dea ngerti kok apa yang kakak rasakan, karena Dea juga merasakan hal yang sama kayak kakak apalagi seluruh keluarga kita juga kak. Kita berdo'a aja terus untuk kesembuhan Rara", ucap Dea pada kakak sepupunya.

__ADS_1


Tiba-tiba pintu ruang rawat Rara terbuka dengan tampaknya kehadiran kelima sahabat karib Rara yang setiap harinya selalu berkunjung.


"Assalamu'alaikum om, tante, semuanya", ucap kelimanya bersamaan dengan nada yang pelan agar tidak mengganggu Rara.


Disaat bersamaan ada seorang gadis cantik berhijab berdiri tepat dibelakang mereka, namun tak disadari kedatangannya.


"Assalamu'alaikum semuanya", sapa gadis berhijab yang tak lain adalah Lily kakak kelas yang sangat dekat dengan Rara.


"Wa'alaikumsalam", serentak semua menoleh dan menjawab salam para gadis cantik itu.


"Kalau sudah ramai begini, daddy, mommy, dan yang lainnya tunggu di luar ya. Biar kalian gadis-gadis lebih leluasa menjenguk Rara. Ayo kita keluar dulu Arvin, Kenzo, twins kalian juga keluar", ucap daddy Woo Joon diangguki keempatnya.


"Ingat kalo ada apa-apa langsung kabari kami semua mengerti", lanjutnya pada gadis-gadis.


"Jangan panggil om. Panggil daddy aja gak apa-apa", ujar daddy Woo Joon


"Oke daddy", balas mereka


Tinggal lah para gadis yang ada di ruangan. Mereka semua langsung mengelilingi brangkar Rara dan menatap sahabat mereka yang sedang terbaring tak berdaya dalam tidur panjangnya. Dengan tatapan sendu mereka memandangi wajah pucat Rara yang selama hampir satu bulan belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Ra, kapan sih lo bangunnya gue kangen sama lo. Begitu juga dengan yang lain, Ra. Saat lo gak pernah masuk sekolah lagi, kelas kita jadi kehilangan semangat karena nggak ada lo disana termasuk Arvin yang selalu melamun mikirin lo. Sejak lo gak ada dia jadi ketua kelas yang dingin pada siapapun anak kelas terutama kami berlima. Gue mohon Ra, lo buka mata lo hari ini juga banyak orang yang merindukan lo hampir satu bulan lo tidur disini, Ra. Gue mohon Ra bangun sekarang, bangun! Kalo lo gak bangun gue bakal marah sama lo hiks..hiks..", ucap Laura yang sudah menangis seraya mengguncang pelan tangan Rara. Dea, Lily, Bella, Dina, Dinda, dan Kartika pun kini sudah menangis seperti Laura.


"Iya Ra, kami mohon sama lo untuk bangun sekarang juga. Apa lo gak kangen sama kita-kita, sama orangtua lo, sama kak Kenzo dan yang lainnya. Kita gak tega Ra liat lo begini, gak ada senyum dan tingkah konyol yang biasa kita lakuin. Gue kangen saat lo marahin gue, saat kita berantem hiks...", ujar Dina seraya menyeka airmatanya


"Ra, ini eonni. Kamu apa kabar? Jangan lama-lama dong tidurnya nanti eonni nggak ada temannya kalo mau curhat atau mau pergi sama Jayden oppa. Eonni sedih tau liat kamu begini, apa kamu gak mau ketemu sama semua orang yang sayang sama kamu apalagi Kenzo yang setiap hari udah kayak zombie es yang dingin, datar walau sedang rapuh. Jangan pernah meninggalkan kami Ra", kata Lily lirih dengan sedihnya sambil mengelus pelan rambut panjang Rara.


Tak disangka-sangka Rara mengeluarkan cairan bening yang mengalir dipipinya. Seakan ia bisa merasakan apa yang orang disekitarnya rasakan lewat ucapan mereka. Lily yang sadar dengan adanya airmata yang keluar dari mata Rara itu sontak kaget tak percaya apa yang dilihatnya.


"Ra, kamu bisa dengar eonni kan Ra. Kenapa kamu ikut menangis kalo kamu gak bisa dengar ucapan kami, itu artinya dari tadi kamu dengar dan merasakan apa yang kami rasakan Ra. Rara, eonni mohon sama kamu untuk sadar sekarang Ra. Eonni mohon sama kamu...eonni mohon hiks...hiks...", ucapan Lily membuat kelima sahabat Rara langsung kompak menoleh ke arah Rara dan menatapnya lekat-lekat, dan benar saja ada sedikit airmata yang mengalir.


Namun tiba-tiba tubuh Rara bergetar disertai bunyi monitor detak jantung yang menghubungkan langsung dengan jantung Rara itu pun berbunyi keras dan pergerakan detak jantung yang tak stabil. Membuat ketujuh gadis itu ketakutan langsung saja Dea berlari keluar untuk memanggil dokter.


"Dokter...dokter tolong Rara dokter", teriak Dea keluar ruangan hingga semua kaget bertanya pada gadis itu.


"Dea, ada apa nak. Kenapa kamu panik dan teriak-teriak begitu?", tanya daddy Woo Joon


"Dea, kenapa teriak begitu. Ada apa sebenarnya?", Kenzo kini bertanya pada adik sepupunya.


"Itu kak... Itu Rara sekarang keadaannya memburuk. Tiba-tiba aja tubuhnya bergetar, juga detak jantungnya gak stabil kak. Hiks... Dea takut kak, makanya Dea keluar manggil dokter biar cepat kesini", ucap Dea kembali menangis histeris disusul dengan para wanita yang usianya tak muda lagi. Ya mommy Indira, mama Lydia dan aunty Alice yang ikut menangis setelah mendengar ucapan Dea.

__ADS_1


"Dad, Rara daddy... Mommy gak mau kehilangan anak perempuan mommy satu-satunya. Tolong selamatin Rara dad, bagaimanapun caranya mommy mau Rara sadar lagi. Mommy mohon hiks..hiks..", mommy Indira sangat histeris saat mengetahui jika kondisi anaknya memburuk.


Tak berselang lama dokter Irvan tiba di ruang rawat Rara untuk memeriksa kondisi Rara saat ini.


__ADS_2