
"Puas lo buat adek gue kecelakaan dan masuk rumah sakit hah! Gue udah percayakan Rara sama lo tapi kenapa lo buat dia begini, lo lebih percaya sama cewek lain daripada adek gue dan lo nuduh dia yang sudah dorong adek sepupu lo sampe jatuh!", kini Jayden tengah dikuasai amarahnya sampai Jordan harus menahan kakak kembarnya agar tidak kembali memukuli Kenzo.
"Hyung, sabar ini rumah sakit. Bukan waktunya untuk kita ribut, di dalam sana Rara lagi berjuang hidup matinya dan disini kalian malah mau bertengkar. Sekarang kita harus mencari dan menangkap pelaku yang sudah buat adik kita kayak ini", ucap Jordan yang masih menahan Jayden.
"Iya Jay, benar apa yang dikatakan adik kamu. Bukan saatnya kita untuk ribut", kata daddy Woo Joon
"Tapi dia yang sudah menyebabkan Rara kecelakaan, dad. Kenapa dia mesti membela cewek lain daripada Rara dan mendorong Rara. Jay nggak terima liat adik Jay disakiti, apalagi sampe harus masuk rumah sakit", tegas Jayden
"Kenzo minta maaf, hyung", kata itu keluar dari mulut Kenzo dan masih terdengar ditelinga Jayden walau pelan.
"Maaf? Mudah banget lo bilang maaf setelah apa yang lo lakuin sama Rara. Kalo sampe Rara kenapa-kenapa, gue gak bakalan maafin lo meskipun lo anaknya om Nathan sahabat daddy sekalipun gue gak takut buat habisin lo. Ingat itu!", Nathan tidak bisa berkata-kata lagi setelah mendengar ucapan Jayden dan ia mengakui jika anaknya bersalah dalam hal ini.
"Tapi disini kita belum dengar penjelasan dari gadis yang dibela Kenzo. Lebih baik kita dengarkan cerita gadis itu", ujar daddy Woo Joon
"Kamu ceritakan semua yang kamu tau tentang masalah ini", lanjutnya
"Baik om. Aku Olivia teman satu kelas Kenzo. Aku bukan pelaku dari ini semua, aku pun gak mengetahui masalah teror yang terjadi pada Rara dan Dea. Memang benar gelang dan cincin itu punya ku tapi bukan berarti aku sengaja meletakannya di dalam kotak dan surat itu. Apalagi pesan yang mengajak Rara itu betul dari nomor aku tapi bukan aku yang mengirimnya. Gelang dan cincin itu aku kira sudah hilang, karena beberapa hari terakhir ini aku terus mencari kemana-mana tapi gak ketemu dan untuk pesan itu saya jujur bukan aku yang mengirimnya melaikan orang lain", Olivia berusaha menjelaskan semua yang diketahuinya, namun dipotong oleh Arvin.
"Gimana lo bisa tau kalo pesan itu dikirim oleh orang lain? Apa lo liat sendiri ada orang yang ngirim pesan itu pake nomor lo!", sarkas Arvin memotong pembicaraan kakak kelasnya.
"Karena pesan itu dikirim hari ini, dan ada satu orang yang pinjam hp aku hari ini namanya Puspa, dia bilang kalo hp nya lowbat sedangkan dia mau mengirim pesan ke mamanya kalo dia itu pulang terlambat . Dan sebenarnya dia yang bilang sama aku untuk temani dia ke taman yang ada di dekat sekolah selesai pulang sekolah. Dia bilang mau curhat sama aku dan dia menyuruh aku pergi duluan karena dia masih ada piket. Aku gak curiga sama sekali, jadi aku ke taman duluan. Ternyata di taman ada Rara dan Dea, mereka langsung bilang mau menemui orang yang selama ini jahat dan meneror mereka dan orang yang dimaksud mereka itu aku padahal aku sama sekali nggak tau mengenai permasalahan mereka yang di teror. Satu hal lagi mobil yang menabrak Rara itu sepertinya aku tau siapa orangnya, karena aku sekilas melihat wajahnya. Kalo kalian gak percaya, lebih baik kalian periksa cctv yang ada ditaman itu", ujar Olivia
"Siapa orangnya?", tanya papa Nathan dan daddy Woo Joon bersama.
"Puspa. Puspa Irlanda anak dari om Leo Irlanda yang merupakan seorang pengusaha dan pemilik dari Irlanda Group, om. Dia juga teman kami dari SMP dulu, aku tau kalo dia suka sama Kenzo dan sampai sekarang pun ia masih menyukai dan terobsesi sama Kenzo hingga dia melakukan ini semua", jawab Olivia
"Puspa?", ucap Kenzo kaget
"Iya Puspa", singkat Olivia
"Leo Irlanda? Irlanda Group? Seperti tidak sing mendengarnya", ucap daddy Woo Joon dan tiba-tiba ia mengambil ponselnya dari saku dan menelpon Bagas asisten pribadinya.
"Halo, Gas"
"Iya tuan, ada apa menelpon saya?"
"Apa kita punya kerjasama Irlanda Group"
"Sebentar, tuan. Saya periksa terlebih dahulu"
"Baik"
Setelah 5 menit menunggu akhirnya Bagas kembali berbicara.
"Iya, tuan. Kita ada kerjasama Irlanda Group sudah sejak satu tahun belakang. Ada apa tuan?"
__ADS_1
"Sekarang kamu kumpulkan semua berkas kontrak dan kerjasama kita sama Irlanda Group ke rumah sakit tempat Rara dirawat. Kita akan musnahkan orang yang telah menyakiti Rara. Saya tunggu kamu di rumah sakit"
"Baik tuan. Secepernya saya akan ke rumah sakit membawa apa yang tuan inginkan"
"Bagus kalau begitu. Jangan sampai ada yang tertinggal"
"Iya, baik tuan"
Daddy Woo Joon mematikan panggilan dan memasukan kembali ponselnya. Ia sudah tau apa yang harus dilakukannya pada orang yang telah menyakiti bahkan mencelakai anak perempuan kesayangannya.
Tunggu-tunggu Joon lo mau apa? Jangan-jangan lo mau..." belum sempat mengakhiri kalimatnya papa Nathan sudah bisa menebak apa yang dilakukan besannya tersebut.
"Iya lo benar. Seperti yang lo tau, gue akan hancurin bahkan memusnahkan orang-orang yang sudah berani mencelakai keluarga gue terutama anak perempuan kesayangan gue", jawab daddy Woo Joon. Papa Nathan tau betul akan sifat sahabatnya jika ada orang berusaha mencelakai keluarganya dan itu tidak ada yang bisa mencegahnya.
Hingga tak lama kemudian Bagas tiba di rumah sakit dengan membawa semua berkas yang diperlukan daddy Woo Joon di tangannya.
"Tuan, ini yang Anda perlukan. Saya sudah membawa semua berkas yang dibutuhkan", ucap Bagas
"Bagus. Terima kasih Bagas" kata daddy Woo Joon
"Sama-sama Tuan", jawab Bagas
"Karena semua berkas sudah ada, sekarang kita akan membereskan ini semua. Jayden, kamu ikut daddy dan Bagas kamu juga ikut ke rumah tuan Irlanda sekarang kita kesana", ucap daddy Woo Joon
"Iya dad"jawab Jayden
"Tunggu Joon. Gue ikut sama lo, gue juga mau memberekan orang yang mencelakai menantu gue. Nanti biar gue suruh asisten gue nyusul ke sana dan gue akan kirim orang-orang gue untuk mengecek cctv yang ada ditaman dekat sekolah mereka untuk sebagai bukti kuat kita", ucap papa Nathan yang ingin ikut menemui orang yang telah berusaha mencelakakan menatunya.
•^•^•
Di sisi lain
Di kamarnya kini Puspa merasa begitu bahagia setelah apa yang ia lakukan hari ini. Ia berhasil membuat celaka orang yang dibencinya, namun ia tidak memikirkan akibat selajutnya dengan apa yang telah dilakukannya.
"Akhirnya gue bisa buat cewek j*lang itu mati hari ini hahahaha", ucapnya sambil tertawa
"Setelah ini gue bisa merebut hati Kenzo dan buat dia jadi milik gue seutuhnya. Gue lega akhirnya cewek j*lang itu menyingkir dari hidup gue dan Kenzo, jadi gak ada penghalang untuk gue mendapatkan Kenzo. Gue terlalu sayang dan cinta sama lo Kenzo. Gak bakal gue biarin ada orang yang merebut lo lagi dari gue, cukup Ivana dulu yang merebut lo tapi sekarang tidak", ia bermonolog pada dirinya sendiri.
•^•^•
Kini Woo Joon, Nathan, Jayden, Bagas, asisten Nathan serta beberapa orang-orangnya dan anggota polisi tiba di kediaman keluarga Irlanda. Namun sebelum masuk Woo Joon menginstruksikan pada polisi untuk sementara tidak ikut ke dalam sebelum mereka di panggil dan itu membuat tim polisi mengerti langsung berjaga-jaga di sekitar rumah keluarga Irlanda.
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, mereka semua bergegas menuju pintu utama rumah keluarga Irlanda dan Jayden langsung mengetuk pintu berulang kali dan terus membunyikan bel rumah yang ada didekat pintu. Hingga akhirnya seorang pemuda membukakan pintu.
"Selamat malam. Apakah tuan Irlanda dan nona Irlanda ada di rumah?", ucap Woo Joon
__ADS_1
"Malam. Untuk apa kalian semua mencari papa dan adik saya?", tanyanya
"Kami disini ingin menyelesaikan masalah sama papa dan adik kamu", ujar Nathan
"Silahkan kalian masuk terlebih dulu jika memang kalian ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan", pemuda itu mempersilahkan mereka semua untuk masuk ke dalam rumah.
"Kalian duduk dulu. Saya akan panggil papa dan adik saya", ucapnya
Tak lama kemudian tampak seorang pria yang seumuran dengan Woo Joon dan Nathan tak lain ialah Leo Irlanda, juga seorang gadis di belakangnya mengikuti langkah sang ayah, Puspa Irlanda. Pria paruh baya itu terkejut ketika melihat Woo Joon dan Nathan ada di rumahnya malam ini.
"Selamat malam tuan Kim dan tuan Aditama. Ada keperluan apa kalian berdua mendatangi rumah saya?", tanya Leo
"Selamat malam tuan Irlanda. Maksud kedatangan kami semua ke rumah Anda malam ini untuk menyelesaikan masalah yang menimpa keluarga saya yang disebabkan salah satu keluarga Anda", ucap Woo Joon datar
"Masalah apa tuan Kim? Siapa yang berani membuat masalah kepada keluarga Anda", tanya Leo bingung tidak mengerti apa yang dibicarakan Woo Joon kepadanya.
"Coba Anda lihat rekaman cctv ini. Apakah Anda mengenali nomor plat dan mobil yang menabrak orang itu", ucap Woo Joon menyerahkan sebuah ponsel yang berisikan rekaman cctv taman yang telah mereka dapatkan. Mendengar apa yang diucapkan Woo Joon membuat Puspa gelisah dengan sendirinya.
Setelah melihat isi rekaman cctv itu. Leo pun langsung mengenali plat dan mobil yang terlihat menabrak seseorang dengan laju yang cukup kencang.
"Dilihat dari ekspresi Anda, sepertinya Anda telah mengerti maksud saya. Dan benar plat dan mobil itu adalah milik putri Anda, nona muda Irlanda yang saat ini duduk tepat disamping Anda, tuan Irlanda", ujar Woo Joon dengan nada dingin dan tatapan tajam miliknya yang bisa membuat lawan tak berkutik.
"Tidak mungkin anak saya melakukan itu semua, tuan Kim", ucap Leo tak menyangka jika anaknya bisa berbuat keji seperti itu.
"Tapi itulah faktanya. Plat dan mobil itu jelas-jelas punya putri Anda, tuan Irlanda dan mobil itu terparkir jelas di halaman rumah Anda", geram Jayden mulai terpancing emosi.
"Gara-gara putri Anda, nona Irlanda ini adik saya harus masuk rumah sakit karena ia sengaja menabraknya seperti yang ada di video itu. Dan sekarang dia lagi berjuang antara hidup dan mati. Kalian semua harus merasakan akibatnya karena telah mencelakai keluarga Kim dan ini kotak beserta isinya yang anak Anda kirim untuk meneror adik saya ", lanjut Jayden sedikit meninggi dan meletakan kotak dan beberapa lembar surat yang mereka bawa sebagai bukti lain dan membuat semua terdiam termasuk istri dan anak pertama Leo Irlanda saat hendak bergabung.
"Puspa, kamu jawab papa. Apa benar kamu yang sudah menabrak nona Kim, di video itu memang betul mobil kamu dan apa semua surat ini. Jawab papa, Puspa!", tanya Leo pada anaknya, namun Puspa hanya diam tak bersuara dan sudah berkeringat dingin.
"Puspa! Jawab pertanyaan papa. Apa benar kamu yang menabrak dan meneror nona Kim?" tegas Leo yang sudah emosi akan kebisuan sang anak.
"Jangan membuang waktu lagi cukup sampai disini keributan keluarga kalian. Pak silahkan masuk dan tangkap nona muda Irlanda sekarang juga", teriak Nathan, langsung semua polisi yang berada diluar masuk ke dalam rumah dan dengan cepat memborgol kedua tangan Puspa.
"Jangan bawa anak saya tuan. Saya mohon jangan penjarakan anak saya, biar saya saja yang menggantikannya", ucap Wenti, mama Puspa. Ia tidak ingin jika anaknya dipenjara.
"Tuan, saya mohon jangan tangkap adik saya. Dia masih anak sekolah", sang kakak ikut membela Puspa agar tidak dibawa polisi.
"Maaf tapi itu semua sudah terlambat untuk menyesali perbuatannya. Ini adalah kontrak kerjasama kita dan beberapa berkas yang Anda ajukan akan saya batalkan semuanya. Mulai sekarang kita sudah tidak ada kerjasama lagi untuk sekarang dan selamanya", ucap Woo Joon dingin dan tetap dengan tatapan mautnya.
"Dan ini berkas yang Anda ajukan pada perusahan ku, akan aku tolak kerjasama ini. Karena putri Anda telah berani menyakiti menantu kesayanganku", ucap Nathan seraya merobek semua berkas yang ada, termasuk berkas yang dipegang oleh sahabatnya.
"Saya mohon tuan jangan batalkan kerjasama kita. Saya tidak tau lagi untuk mencari kerjasama dengan siapa lagi selain dengan perusahaan kalian berdua, tuan", kata Leo memohon pada Woo Joon dan Nathan
"Sudah dad, lebih baik kita pulang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Rara. Masalah ini sudah selesai dan bawa nona ini ke kantor polisi dan kasih hukuman yang berat akibat perbuatannya", tegas Jayden dan mereka semua berlalu menyisakan Leo bersama istri dan anak laki-laki mereka yang masih memohon tapi tak dihiraukan.
__ADS_1
Kini polisi membawa Puspa ke kantor polisi untuk dihukum sesuai perbuatannya. Sementara yang lainnya kembali ke rumah sakit.