Ketua Osis Dingin Itu Suamiku

Ketua Osis Dingin Itu Suamiku
Pulang


__ADS_3

Dua Minggu Kemudian


Setelah hampir dua minggu lamanya menginap di rumah sakit, kini Rara telah diperbolehkan pulang oleh dokter Irvan. Selama di rumah sakit Rara mencoba untuk memulihkan ingatannya yang hilang, namun usahanya gagal. Ia tidak bisa mengingat apapun dan malah rasa sakit yang luar biasa ia dapatkan.


Kenzo yang melihat istrinya berusaha keras untuk mengembalikan ingatan yang hilang pun tak tega, karena rasa sakitlah yang istrinya dapatkan bukan ingatannya. Walaupun sebenarnya pria itu juga berharap sang istri sembuh dari amnesianya, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika sang istri kesakitan dibagian kepalanya dan sewaktu-waktu bisa menyebabkan Rara tak sadarkan diri. Kenzo telah menasehati Rara agar tidak terlalu memaksakan diri untuk mengingat semua kenangan mereka berdua, biarkan mengalir hari demi hari layaknya air dan biarkan waktu yang akan memulihkan ingatan sang istri tercinta. Dan Rara pun hanya bisa mengangguk pasrah mendengar ucapan Kenzo.


Tepat hari ini Rara diizinkan pulang oleh dokter Irvan sore hari nanti. Pada sore nanti baik kedua orangtua Rara, mertuanya, suami, kakak kembar dan semua sahabat-sahabatnya akan datang menjemput kepulangan Rara dari rumah sakit.


Sementara di kediaman keluarga Kim, para pelayan rumah telah menyiapkan dekorasi penyambutan untuk nona muda mereka. Semua pelayan begitu antusias menyambut kepulangan Rara, karena nona muda mereka telah lama menginap di rumah sakit akibat kecelakaan yang dialami oleh Rara.



Namun sebelum pulang, Rara kembali diperingati oleh dokter Irvan agar tidak memaksakan dirinya. Rara saat ini sedang ditemani oleh sang mommy.



"Baik nona Rara, saya selaku dokter nona. Saya harap nona untuk tidak memaksakan diri untuk mengingat segala sesuatu memori Anda yang hilang akibat amnesia ini. Jika Anda tetap memaksakan diri, maka akibatnya akan fatal dan menyebabkan nona akan pingsan sewaktu\-waktu, bisa jadi juga seluruh ingatan nona hilang secara permanen. Bila nona memang ingin mengingat kembali lakukan lah secara perlahan tanpa memaksakan diri. Pada saat nona merasakan sakit di kepala, maka cukup untuk untuk mengingatnya", jelas dokter Irvan



"Baik dokter, Rara akan mengingatnya", jawab Rara sambil mengangguk



"Baiklah kalau begitu, Nyonya dan nona muda saya pamit ke ruangan saya", ucap dokter Irvan seraya sedikit membungkuk.



"Iya, terima kasih dokter", sahut mommy Indira



"Sama\-sama Nyonya", jawab dokter Irvan dan berlalu meninggalkan ruang rawat Rara.



Di Sekolah


Bella, Dina, Dinda, kartika dan Laura sedang duduk di kantin menikmati makanan mereka sambil mengobrol. Wajah mereka berlima terlihat berbinar-binar, seakan ada hal yang tak sabar mereka nantikan.


"Girls! Kalian nggak lupakan hari ini kita mesti kemana dan ngapain? ",tanya Bella memperingati sahabatnya yang lain dengan hebohnya.


"Emang hari ini kita ngapain sih, kayaknya lo kok heboh banget sama hari ini", ucap Dinda seraya berpikir, begitu juga dengan Kartika yang mendukung Dinda.


"Iya, emang ada acara apa sih hari ini. Sampe-sampe lo hebohnya minta ampun", Kartika merasa heran akan tingkah Bella yang heboh akan hari ini.


Dengan tatapan mata yang tajam Bella, Laura dan Dina menatap dua diatara mereka yang lupa dengan agenda mereka hari ini yaitu bersama-sama menjemput Rara pulang dari rumah sakit. Dengan tatapan yang tajam dari ketiga sahabat mereka, membuat Dinda dan Kartika merasa takut dengan tatapan ketiganya.


"kenapa kalian bertiga gitu amat sih natap gue ama Dinda, kayak mau terkam mangsa kalian aja", ucap Kartika

__ADS_1


"Duh! Masa kalian lupa sih hari ini kan kita bakalan jemput Rara keluar dari rumah sakit sore nanti. Gitu aja kok lupa, atau jangan-jangan kalian gak pasang alarm di kalender kalian ya, huh! ",seru Laura dengan tatapan tajamnya, membuat Dinda dan Kartika bergidik ngeri.


"Astaga! Demi apa? Oh iya gue lupa kalo hari ini Rara keluar dari rumah sakit. Duh, kok gue lupa sih. Maaf ya hehehe", ucap Dinda cengengesan seraya menghindari tatapan tajam dari sahabatnya, Bella.


"Oh iya gue juga lupa, sorry-sorry. Padahal gue udah buat agenda di kalender hp gue, sorry girls", kata Kartika mengecek hp nya.


"Kalian ini bener-bener ya kelewat pikunnya dari nenek-nenek tau gak! Sahabat kita mau keluar dari rumah sakit aja bisa dilupain apalagi pacar lo pada ntar hahaha", ucap Dina mengejek Dinda maupun Kartika sambil tertawa.


"Yaelah, kalo pacar mah mana bisa gue lupain yang ada tuh ya gue bakalan selalu ingat dia setiap hari", kata Dinda dengan hebohnya.


"Huuuuuuhhhhhh", mereka berempat menyoraki Dinda


"Lo belum ada pacar aja udah bucin gitu, apalagi ntar lo punya pacar. Bukannya jadi bucin, yang ada lo bakal jadi BUCINLA!", seru Laura


"Bucinla? Apaan tuh?", tanya Dinda heran


"Kalo bucin itukan "budak cinta", sedangkan bucinla itu "budak cinta gila" yang sama persis kayak lo, kayak orang gila hahahaha", ucap Dina mengejek Dinda seraya tertawa, begitu pula dengan Bella, Laura, Kartika yang ikut tertawa.


Dinda yang ditertawakan oleh sahabat hanya bisa menutupi wajahnya yang merah karena merasa malu akan ucapannya sendiri tadi.


Setelah puas menertawakan Dinda, mereka berlima menenangkan diri mereka terlebih dahulu. Kemudian Bella bertanya ke semua sahabatnya.


"Oh iya, hari ini kan kita mau jemput Rara di rumah sakit. By the way Arvin sudah tau apa belum ya kalo hari ini Rara keluar dari rumah sakit, Arvin bakalan jemput Rara gak menurut kalian?", tanya Bella pada mereka berempat.


"Mana kita tau Bel. Mending kita langsung tanya aja ke orangnya, biasanya kalo jam segini Arvin duduk di pinggir lapangan sambil baca buku. Jadi mending kita samperin aja sekarang", ucap Kartika


"Emm boleh juga tuh. Ayo kita samperin Arvin sekarang", kata Dinda seraya bangkit dari duduknya.


"Iya gue gak lupa kok tenang aja, udah ayo buruan ntar bel bunyi", ucap Dinda


Sebelum mereka berlima ke lapangan, dimana Arvin biasa menghabiskan waktu istirahatnya dengan duduk di lapangan sambil membaca buku apapun. Mereka berlima membayar terlebih dahulu makanan yang telah mereka makan sebelumnya, yang kemudian mereka berjalan dengan serempak menuju lapangan.



Di Lapangan Sekolah



Terlihat seorang pemuda yang tengah duduk di pinggir lapangan dengan buku yang ada di tanganya.



"Arvin!", panggil Bella dari kejauhan. Ya pemuda yang duduk tersebut ialah Arvin.



Bella, Dinda, Dina, Kartika dan Laura datang menghampiri Arvin yang duduk sendiri di lapangan.


__ADS_1


"Arvin", panggil Bella



"Hmm", sahut Arvin berdehem



"Vin, lo udah tau belum kalo hari ini Rara bakal keluar dari rumah sakit?", tanya Bella



"Iya gue udah tau. Gue dikasih tau sama Jayden hyung kalo ntar sore Rara keluar dari rumah sakit", jawab Arvin



"Emang kenapa? ", tanya Arvin



"Gak kenapa\-kenapa. Kita cuma mau kasih tau sama lo kalo Rara bakal keluar dari rumah sakit hari ini kalo gak tau. Berhubung lo udah tau dari Jayden oppa, gimana ntar sore kita barengan aja ke rumah sakitnya buat jemput Rara. Lo mau gak?", tanya Dina



"Ya udah ntar sore kita barengan aja ke sana", kata Arvin



"Oh iya, nanti kita ajak juga kak Lily untuk jemput Rara. Vin, lo gak keberatankan kalo kak Lily ikut mobil lo? ", ucap Kartika



"Oke", sahut Arvin singkat.



"Oke deh kalo gitu, kita duluan ya ke kelas Vin", kata Bella



"Hmm", Arvin berdehem.



Hai readers semua kita jumpa lagiπŸ™‹


Sekian lama saya hiatus menulis novel ini dikarenakan kesibukan yang saya alami, membuat saya melupakan novel ini.


Tapi sekarang kita jumpa lagi

__ADS_1


Jangan pernah bosan untuk membaca novel ini ya


Happy reading kesayangan πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2