
Dengan tangan yang gemetar Rara mencoba untuk memberanikan diri untuk membukanya, tapi ia tetap menjulurkan tangannya pada kotak itu. Dengan perlahan ia membukanya dan terlihat lah isi kotak misteri itu yang sontak membuat Rara maupun Dea terperanjat kaget dengan isinya.
Bagaimana tidak kaget melihat isi kotak itu. Karena isi dari kotak itu adalah sebuah boneka dengan kepala terlepas yang berlumuran darah hingga tercium bau amis. Serta ada kertas dibawahnya yang bertuliskan kata 'MATI KAMU RARA' yang seolah ditujukan untuk Rara. Dan di kertas itu terdapat sebuah inisial huruf, yaitu huruf O yang tak disadari oleh keduanya.
Rara tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kini Rara sudah kehilangan kata-kata untuk hal yang tengah dialaminya.
"Dea aku harus apa sekarang? Seseorang menginginkan nyawa ku, aku harus apa?", tangis Rara sudah tidak terbendung lagi. Dea memeluk kakak iparnya yang terlihat rapuh saat ini.
"Sudah kakak ipar jangan nangis, Dea percaya kok kalo kita bisa melewati ini semua", ucap Dea yang masih memeluk Rara. Rara pun menghapus airmatanya.
"Eh tunggu bentar kak. Di kertas ini ada inisial ' O ' apa jangan-jangan pengirim dan peneror kita selama ini yang berinisial ini ya kak tapi siapa orangnya", Dea merasa bingung dengan ini semua seperti memecahkan teka-teki yang sangat sulit.
"Bentar-bentar kayaknya aku tadi liat ada benda kecil lain yang ada di kotak itu. Ini ada cincin di dalam kotak ini", kata Rara menunjukan sebuah cincin yang terdapat di dalam kotak.
"Kak ini punya nya kak Olivia. Aku pernah liat dia pakai cincin ini di jarinya. Jadi selama ini yang meneror kita dan kasih kotak ini adalah kak Olivia? Untuk apa dia lakuin ini semua", Dea geram dengan orang yang selama ini telah mengganggu kehidupan kakak iparnya dan dirinya. Dea menebak jika orang itu adalah Olivia.
"Sudah kak, lebih baik kita simpan saja dulu kotak ini dan nanti pulang sekolah kita akan ajak kak Olivia untuk bertemu menyelesaikan masalah ini semua", lanjut Dea
"Iya kamu benar. Nanti pulang sekolah kita akan menyelesaikan masalah ini tapi tanpa sepengetahuannya kak Kenzo", ucap Rara diangguki Dea.
Tak lama kemudian semua anak-anak kelas satu per satu berdatangan termasuk kelima sahabat Rara. Hingga pelajaran pun dimulai sampai pada jam istirahat.
•^•^•
Di sisi lain Jayden tengah mengkhawatirkan adik bungsunya yang tak kunjung pulang ke rumah mereka.
"Hari ini gue harus bawa Rara pulang lagi ke rumah ini apapun caranya. Gue gak bisa jauh dari adik kesayangan gue yang satu itu. Gue harus bisa bujuk Rara dan Kenzo untuk kembali ke rumah keluarga Kim dan kenapa sekarang gue punya firasat buruk. Apa akan terjadi sesuatu? Ah sudah lah mungkin itu hanya firasat gue aja", batin Jayden
Saat ini Jayden berada di area kampus tempat ia berkuliah bersama Jordan. Jayden merasa gelisah merasakan firasat buruk akan datang kepadanya atau mungkin pada keluarganya, tapi Jayden tak ambil pusing dengan firasatnya. Ia tetap menjalankan aktivitas seperti biasa dan mengabaikan rasa itu.
•^•^•
Jam Istirahat
Setelah guru keluar dari kelas, tiba-tiba ada bunyi dering handphone yang begitu nyaring membuat satu kelas kaget bukan main dengan suaranya. Ternyata sumber suara tersebut berasal dari handphone Rara dan Dea yang mendapatkan pesan masuk di masing-masing handphone mereka. Dengan segera keduanya membuka isi pesan masuk itu yang membuat Rara dan Dea bertanya-tanya apa maksud dari pesan itu.
"BAGAIMANA? APA KALIAN SUKA DENGAN HADIAH YANG GUE KASIH BUAT KALIAN? KALO KALIAN SUKA SEHARUSNYA KALIAN BERDUA BERTERIMA KASIH DONG SAMA GUE ATAS HADIAHNYA. GUE TAU KOK KALO KALIAN AKAN SUKA JADI GUE GAK SIA-SIA KASIH ITU HADIAH. INGAT SALAH SATU DIANTARA KALIAN AKAN ADA YANG MATI. TETAPI YANG GUE MAU ITU RARA YANG MATI DAN ITU HARUS DITANGAN GUE SENDIRI", isi pesan yang sama dikirimkan oleh seseorang untuk Rara dan Dea.
Dea mencoba untuk menelpon nomor itu, namun sayangnya nomor tersebut tidak dapat menerima panggilan atau tidak aktif. Berulang kali Dea menelpon ke nomor itu tapi tetap sama saja jawabannya, yaitu tidak aktif.
"Tadi itu bunyi hp kalian berdua ya. Emang ada apa kok kalian keliatan bingung gitu?", tanya Laura
"Iya apa isi pesan itu, gue jadi penasaran deh", ujar Dinda
"Gak ada apa-apa kok. Biasa kak Kenzo yang kirim pesan sama kita berdua untuk pulangnya sama-sama, benarkan Dea?", ucap Rara berbohong dengan sahabatnya agar tidak mengetahui isi dari pesan yang masuk itu.
"I...iya biasa kak Ken mau ngajak pulang nanti harus sama-sama gak boleh pisah gitu loh", timpal Dea menyembunyikan kebenarannya. Dan itu membuat kelimanya 'oh' saja.
"Ya udah mending kita buruan ke kantin sebelum jam nya habis, yuk", ajak Dina langsung disetujui semuanya.
•^•^•
__ADS_1
Waktu pulang sekolah pun akhirnya tiba. Rara dan Dea berencana untuk menyelesaikan masalah teror yang terus saja menghantui mereka selama ini. Dan kebetulan keduanya kembali menerima pesan masuk dari si pelaku teror yang menggunakan langsung nomor milik Olivia untuk bertemu di taman yang ada di dekat sekolah.
Flashback On
Ketika jam istirahat tiba seorang perempuan mendekati Olivia yang berpura-pura untuk meminjam handphone milik Olivia, yang beralaskan jika handphone miliknya tengah habis baterai.
"Liv, gue boleh pinjam hp lo gak buat sms nyokap gue kalo gue bakal pulang telat hari ini", tanya perempuan tersebut.
"Iya boleh kok. Nih hp gue, emang hp lo kenapa?", ucap Olivia
"Hp gue lowbat tuh lagi gue charge disana", tunjuk perempuan itu dimana handphone milik lagi di charge. Dan Olivia hanya manggut-manggut kan saja kepalanya.
Perempuan ini mencari nomor Rara terlebih dulu baru lah ia mengirimkan pesan yang ingin ia kirimkan.
"Pulang sekolah nanti temui gue di taman dekat sekolah", lalu ia kirim pesan tersebut ke nomor Rara dan kemudian ia hapus pesan itu dari kotak pesan di handphone Olivia setelah mendapatkan balasan dari Rara.
"Thanks ya Liv", perempuan itu mengembalikan handphone Olivia setelah selesai.
"Oke sama-sama", jawab Olivia
"Oh ya Liv nanti pulang sekolah lo bisa gak ke taman yang ada di dekat sekolah", tanyanya
"Mau ngapain ke taman itu", ujar Olivia
"Temani gue duduk aja ke sana. Gue mau curhat sama lo Liv", jawab perempuan itu.
"Oke deh gue temani lo", kata Olivia
"Iya udah gak apa-apa kok", balas Olivia
"Hari ini bakal jadi hari terakhir lo cewek j*lang. Liat aja nanti gimana gue bakal buat lo merasakan yang namanya mati", ucapnya dalam hati dan berlalu meninggalkan Olivia.
Flashback Off
Kini Rara maupun Dea telah tiba di taman dekat sekolah sesuai perjanjian mereka sebelumnya. Di taman masih belum ada siapa-siapa hanya ada mereka berdua dan suara bising dari kendaraan yang berlalu lalang di jalan. Keduanya masih menunggu kedatangan Olivia sambil duduk di sebuah bangku taman yang ada di pinggir jalan.
Tak berselang lama Olivia pun sampai di taman yang dimaksud teman perempuan nya. Di ujung jalan sudah ada orang yang akan memperhatikan pertikai diantara Rara, Dea dan Olivia di dalam mobilnya. Rara dan Dea yang semula duduk, kini serentak berdiri ketika melihat Olivia yang seperti berjalan mendekat ke arah keduanya.
"Hai Rara, Dea. Kalian sedang apa disini?", tanya Olivia ramah
"Kami berdua lagi nunggu orang yang selama ini meneror kami dan sekarang orangnya ada di depan mata kami", jawab Dea sinis dan penuh penekanan.
"Maksud kamu apa Dea? Siapa yang meneror kalian berdua?", Olivia bingung dengan ucapan Dea.
"Maksud gue itu kita lagi nunggu orang yang meneror kami selama ini dan sekarang orangnya lagi berdiri tepat dihadapan mata kami. Apalagi sudah mengganggu hubungan kak Kenzo dan Rara", ucap Dea menatap tajam seraya menunjuk Olivia.
"Jadi maksud kamu aku yang meneror kalian? Aku aja nggak pernah menghubungi kalian apalagi untuk meneror. Buat apa juga aku meneror dan mengganggu hubungan Kenzo dan Rara", ucap Olivia membela diri.
"Tapi kenyataan nya emang begitu kali. Udah deh kak, lo nggak usah ngeles lagi kita berdua ada buktinya kok. Jadi kalo kami mau menuntut kakak, itu akan mudah bagi kami dan juga yang menyuruh kami ke taman ini kan kak Olivia yang kirim pesan ke Rara untuk ketemuan disini", kata Dea
•^•^•
__ADS_1
Di dalam mobilnya seorang perempuan melihat semua yang terjadi diantara tiga perempuan yang ada di taman sedang berdebat. Dan kemudian ia menelpon seseorang yang tak lain ia Kenzo.
"Halo Ken, lo dimana?"
"Gue masih di kelas kenapa?", tanya Kenzo dingin
"Lo bisa ke taman yang ada di dekat sekolah gak? Gue liat adik lo lagi dalam bahaya dan sekarang kayaknya adik lo bakalan didorong oleh pacar lo ke jalan biar ke tabrak mobil yang lewat. Dan ada Olivia juga yang akan dicelakainya
"Apa? Gak mungkin Rara akan celakai adik gue apalagi Olivia"
"Ya udah kalo lo gak percaya sama omongan gue. Gue akan kasih bukti ke lo", ucap perempuan itu dan mengakhiri sambungan telponnya. Kemudian ia mengambil beberapa foto yang dimana ketiga perempuan sedang bertikai dan akan ia kirim pada Kenzo sebagai bukti.
"Hmph.. ****** lo hari ini", batin perempuan itu
Kenzo yang mendapat kiriman foto dari perempuan yang tadi menelponnya pun langsung bergegas meninggalkan ketiga sahabatnya menuju taman yang disebutkan. Melihat Kenzo yang berlari kencang seperti dikejar anjing itu membuat Reza, Azka dan Tama kebingungan dan ikut bergegas menyusul Kenzo.
Sesampainya di taman, benar saja apa yang dikatakan perempuan tadi jika Rara, Dea dan Olivia sedang bertikai di taman tersebut. Kenzo pun termakan omongan jika adik sepupunya dalam bahaya setelah melihat adiknya terjatuh. Jadi ia langsung menghampiri ketiga perempuan tersebut.
•^•^•
Rara, Dea dan Olivia masih saja berdebat dan seakan tak ada yang mau mengalah. Saat sedang panasnya mereka beradu mulut tiba-tiba Dea tidak sengaja jatuh karena menginjak batu yang ada dibelakangnya hingga membuatnya hilang keseimbangan. Kemudian mereka bertiga dikejutkan dengan kedatangan Kenzo dengan suara lantangnya.
"STOP", teriak Kenzo membuat ketiganya menoleh.
"Kalian ngapain ke taman ini dan kenapa kalian berdebat dari tadi", lanjut Kenzo
"Kami lagi mau tangkap orang yang selama ini jahat sama kami kak", ucap Rara menunjuk Olivia
"Orang jahat gimana, Olivia itu orangnya baik kakak kenal banget Olivia itu seperti apa", kata Kenzo membela Olivia
"Kenapa kakak malah membela dia? Apa kakak gak percaya sama aku. Aku ada buktinya kak", ujar Rara kesal mendengar Kenzo membela Olivia.
"Iya kakak gak percaya. Yang ada itu kamu yang jahat, kenapa kamu tadi mendorong Dea sampai jatuh dan sekarang kamu bilang kalo Olivia itu orang jahat! Apa maksud kamu seperti itu kenapa Dea kamu dorong tadi", Rara membulatkan matanya tak percaya jika suaminya lebih membela perempuan lain daripada dirinya yang sebagai istrinya dan ia dituduh kalau dia sengaja mendorong adik iparnya. Dea yang mendengar itu pun tak percaya jika kakak sepupunya lebih membela perempuan lain dan menuduh istrinya yang mendorong dia sampai jatuh tadi padahal ia jatuh karena hilang keseimbangan.
Dea mencoba untuk menjelaskan yang sebenarnya namun dengan cepat Kenzo memotongnya.
"Kak Ken, bukan itu yang sebenarnya. Kakak ipar gak salah dan yang salah itu...", belum selesai menjelaskan Kenzo langsung memotong.
"Sudah kamu diam aja", tegas Kenzo
"Kak yang salah itu perempuan ini. Kenapa kakak membela dia daripada aku dan malah menuduh aku yang jahat disini", ucap Rara meninggi
"Tapi bukan aku yang jahat sama kalian", Olivia berusaha membela dirinya.
"Kamu itu gak kenal bahkan nggak dekat sama Olivia tapi kenapa kamu bilang kalo dia jahat padahal nyatanya kamu yang jahat disini, kamu dengarkan kao bukan dia yang jahatin kamu. Dan kamu tadi juga sudah sengaja dorong Dea sampe jatuh ke tanah", Kenzo tak kalah tinggi suara bahkan terdengar seperti membentak. Rara terpaku mendengar suaminya berkata seperti itu.
"Tapi emang dia yang sudah jahat sama aku kak. Sini lo dasar licik lo. Sini lo gue jambak juga tuh muka jahat lo", Rara berjalan mendekat ke arah Olivia untuk menjambak rambut Olivia namun didorong Kenzo cukup kuat yang membuat Rara terdorong ke jalan yang ramai akan kendaraan. Belum sempat untuk melangkah tiba-tiba ada mobil melaju kencang ke arahnya dan...
Brugh..
Mobil tersebut menabrak Rara dengan cukup kuat sehingga membuat Rara terpental jauh dan kepala Rara terbentur keras mengenai tiang rambu yang ada disana.
__ADS_1