Ketua Osis Dingin Itu Suamiku

Ketua Osis Dingin Itu Suamiku
Kami Merindukan Mu


__ADS_3

Dan orangtua Arvin berjalan menuju pintu dan detik berikutnya mereka telah pergi meninggalkan ruang rawat Rara. Dan kini Rara kembali sendirian di ruangannya, hingga ia berbaring lagi di ranjangnya untuk beristirahat lagi.


Ceklek....


Pintu terbuka bersamaan dengan keluarnya orangtua Arvin setelah melihat Rara. Keduanya merasa lega saat gadis cantik itu tidak lupa akan keduanya. Semua orang menoleh ke arah pintu yang terbuka tersebut, terutama Arvin.


"Ma, gimana Rara di dalam sana? Dia baik-baik aja kan? Rara ingat gak sama mama dan papa?", tanya Arvin beruntun membuat Calista pusing menjawabnya.


"Tanya nya satu-satu kali kak. Mama pusing jawabnya", ucap Calista pada sang putra membuat pemuda itu menyengir seraya menggaruk kepala yang tak gatal.


"Rara baik-baik aja kak di dalam, jangan khawatir. Biasa aja segitu banget khawatirnya ya sama Rara dan satu lagi Rara masih ingat kok sama mama dan papa", jawab Calista membuat Arvin lega walau sempat menggoda anak laki-lakinya itu.


"Bagus deh kalo gitu. Arvin kira Rara bakal lupa sama mama papa", kata Arvin


"Gak kak, Rara masih ingat. Mama juga tadi sempat cemas gimana kalo Rara lupa sama kami berdua, eh ternyata Rara kesayangan mama itu masih ingat. Oh ya Vin, nanti kamu jangan lupa jemput adik kamu di rumah nenek ya. Mama sama papa gak bisa jemput Raka, karena ada kami berdua akan ke luar kota untuk mengurusi kerjasama perusahaan dan bentar lagi kami berangkat", Arvin hanya menganggukan kepalanya dengan ucapan sang mama.


"Ya udah Joon kalo gitu, gue pamit sama istri gue. Gue mau ke luar kota untuk kerjaan selama beberapa hari, gue minta tolong sama lo untuk awasin Arvin dan Raka ya", ucap Harry seraya menepuk pundak Woo Joon


"Tentu. Gue bakalan jagain kedua anak lo, jadi gak usah khawatir. Kalian hati-hati di perjalanan", balas Woo Joon diangguki oleh Harry.


"Mbak Dira, aku pamit ya. Aku titip Arvin sama Raka sama kalian untuk di awasin", kata Calista memeluk Indira layaknya kakak dan adik yang ingin berpisah.


"Iya kamu tenang aja. Biar Arvin dan Raka mbak yang awasin supaya mereka berdua gak nakal", sahut Indira tertawa kecil


"Mommy kira Arvin itu anak nakal apa! Kan mommy udah kenal Arvin dari kecil, jadi mommy tau dong kalo Arvin gak pernah nakal", ucap Arvin kesal sambil menyilangkan kedua tangannya agar terlihat meyakinkan. Kenzo yang melihat kedekatan Arvin dan ibu mertuanya itu pun hanya tersenyum getir.


"Iya...iya kamu gak nakal tapi jahil ya kan?", goda mommy Indira. Arvin pun langsung salah tingkah dan wajahnya memerah dengan ucapan ibu dari sahabatnya itu, seketika membuat yang lainnya tertawa.

__ADS_1


"Ya sudah, papa sama mama berangkat dulu ya. Kamu baik-baik disini jagain Raka dan Rara, jangan buat mereka susah", ucap Harry


"Iya pa. Hati-hati di jalan", ucap Arvin


"Joon, Dira gue titip anak gue ya. Dan untuk kalian si J twins juga awasin Arvin dan Raka ya, om percaya sama kalian. Dan untuk semuanya saya dan istri saya pamit dulu", ujar Harry diangguki semua orang.


Kini kedua orangtua Arvin berlalu meninggalkan rumah sakit dan bersiap berangkat ke kota yang mereka tuju untuk urusan pekerjaan.


"Oh iya, kalian semua sudah sarapan belum? Kebetulan kami belum sarapan jadi kita ke kantin rumah sakit aja untuk sarapan di sana", ucap daddy Woo Joon mengajak semua untuk sarapan.


"Tapi dad, kami mau liat Rara", ucap Bella


"Nanti aja. Kita sarapan dulu, daddy tau kalian belum pada sarapan karena buru-buru kesini kan? Kita biarin Rara istirahat dulu sebentar, setelah sarapan kalian mau lihat Rara gak apa-apa", kata daddy Woo Joon


"Oke daddy, tapi boleh ya setelah sarapan kami liat Rara. Kami kangen sama dia", seru Dina diangguki daddy Woo Joon. Sehingga kelimanya bersorak senang membuat yang lain menggelengkan kepala akan tingkah mereka.


"Kak, kamu sarapan aja dulu ya", ucap papa Nathan yang seolah tak mau dibantah. Dan Kenzo pun menurut dengan ucapan sang papa.


Semua meninggalkan ruangan Rara menuju kantin rumah sakit untuk sarapan pagi yang terlewatkan. Kenzo masih bergelut dengan pikirannya yang kemana-mana, karena mendengar sang istri tak mengenal dirinya sebagai suaminya sendiri. Apa ini hukuman untuk dirinya atas apa yang dilakukannya terhadap sang istri, pikirnya. Dengan tatapan mata yang kosong, Kenzo terus berjalan dengan yang lain meski jiwanya tak bersama yang lain. Dari masuk lift hingga tiba di kantin pun Kenzo masih sibuk dengan pikirannya sendiri.


Sesampainya di kantin mereka langsung disambut oleh para karyawan, dokter hingga perawat setelah melihat sang pemilik rumah sakit. Dan disana mereka dilayani layaknya di restoran. Dengan cekatan pegawai kantin langsung mencatat menu apa saja yang dipesan oleh keluarga bosnya.


•^•^•


Kini mereka telah selesai sarapan pagi, dan langsung menuju kembali ke ruang VVIP milik Rara yang berada di lantai 3 rumah sakit.


"Dad, kami bolehkan masuk ke dalam. Kami mau liat Rara sekarang juga", ucap Dinda memohon dengan tangan yang menyatu.

__ADS_1


"Iya. Kalian masuk aja sana, tapi ingat kalo Rara lupa dengan kalian jangan dipaksakan. Ingatkan dengan perkataan dokter sebelumnya", ucap daddy Woo Joon mengingatkan kelima sahabat dari anak perempuannya itu.


"Oke daddy", sahut kelimanya


Semuanya berjalan masuk ke dalam ruangan Rara. Nampak Rara sedang duduk sambil memakan buah apel yang sebelumnya dibawakan oleh orangtua Arvin. Ada rasa takut pada diri mereka, karena Rara akan melupakan kelimanya.


"Rara...", teriak para sahabat Rara dan sontak saja membuat Rara kaget dan menoleh ke arah pintu yang sudah ada lima perempuan cantik berdiri disana.


"Aahhh....kenapa kalian baru muncul sih. Kan gue bosen dari tadi gak ada teman ngobrol, sini jangan bengong aja di sana", ucap Rara sambil merentangkan tangannya siap untuk menyambut pelukan sahabat-sahabatnya.


Dengan rasa tak percaya Bella, Dina, Dinda, Laura dan Kartika seketika berlari dan dengan cepat memeluk erat tubuh mungil Rara saat itu. Sungguh kebahagian bagi mereka, karena gadis itu masih mengingat mereka berlima. Air mata telah membanjiri semua mata mereka seraya berpelukan erat dan tak ingin dilepaskan sedetik pun.


"Ra, kami merindukan mu hiks...hiks", seru kelimanya


"Gue juga merindukan kalian", jawab Rara berlinang air mata


"Lo gak lupa kan sama kami semua?", tanya Laura


"Ya enggak lah. Mana mungkin gue lupa sama sahabat-sahabat terbaik gue ini", jawab Rara


Mereka masih saja berpelukan dan masih enggan untuk melepaskannya sambil berlinang air mata yang tak ingin berheti mengalir.


Raka Stein



•••••••••••••••••••••••••••••

__ADS_1


Happy reading semuanya 🤗🤗🤗


__ADS_2