Ketua Osis Dingin Itu Suamiku

Ketua Osis Dingin Itu Suamiku
Kabar Duka


__ADS_3

Tak berselang lama dokter Irvan tiba di ruang rawat Rara untuk memeriksa kondisi Rara saat ini. Dengan segera dokter Irvan masuk ke dalam ruangan sedikit tergesa-gesa mengingat kondisi Rara yang kini sedang memburuk. Sedangkan yang lainnya menunggu di luar ruangan. Terlihat guratan wajah yang menyisaratkan kesedihan pada setiap wajah para wanita berbeda umur tersebut.


Dokter Irvan dan beberapa orang suster tengah mengupayakan usaha terbaik mereka dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan Rara. Sementara yang lain harap-harap cemas akan Rara.


"Ly, kenapa Rara bisa memburuk seperti itu?", tanya Jayden


"Oppa, sebenarnya kami hanya mengajak Rara mengobrol saja untuk menyemangati Rara supaya dia cepat bangun dari tidur panjangnya hiks..hiks.. Awalnya kami pikir Rara tidak akan merespon apa yang kami ucapkan, tapi...ta..tadi Rara juga ikut menangis bersama kami setelah kami menyuruhnya untuk sadar karena banyak orang sayang dengannya yang merindukannya oppa hiks..hiks..", jawab Lily seraya menangis.


"I..iya oppa. Kami ng..nggak percaya kalo Rara bakalan merespon kami dan mengeluarkan airmata, tapi setelah itu tu..tubuhnya bergetar yang me..menyebabkan Rara seperti ini hiks...hiks..", timpal Dinda terbata-bata karena tangisannya.


"Ya sudah kita hanya bisa berdo'a untuk Rara di dalam sana. Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya agar dia bisa cepat sadar dan bisa berkumpul lagi dengan kita", ucap daddy Woo Joon dan semuanya mengangguk walau masih saja airmata mengalir deras bagai hujan.


•^•^•


Ruang Rawat Rara


Tubuh Rara masih saja bergetar seperti kejang-kejang dengan detak jantung yang tidak stabil. Dokter Irvan segera memeriksa Rara dengan teliti agar tidak ada yang terlewati satu pun.


"Sus, tolong cek infus nona Aira, apakah normal", perintah dokter Irvan pada salah satu suster.


"Baik dok", balas suster tersebut.


"Suster Dila tolong pantau monitor detak jantung nona Aira", ucapnya


"Baik dokter", jawab suster Dila


"Bagaimana sus?", tanya dokter Irvan


"Infusnya mengalir normal dan tidak ada yang salah dengan infus nona Aira, dok", jawab suster

__ADS_1


"Dokter! Detak jantung nona Aira menurun, dok!", ucap suster Dila yang membuat semua kaget.


Segera dokter Irvan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada tubuh Rara, mulai dari mata hingga jantungnya. Namun lagi-lagi mereka dibuat kaget lantaran kembali menurun drastis detak jantung Rara yang secara tiba-tiba. Dokter Irvan pun langsung menyuruh suster Dila untuk menyiapkan alat kejut jantung agar kembali normalnya jantung Rara.


"Mana gelnya sus", tanya dokter Irvan


"I..ini dokter", dengan sedikit panik suster Dila mengoleskan gel khusus sebelum menggunakan alat kejut jantungnya.


"Baik sus, bersiap dalam hitungan ketiga saya akan berikan kejutan pada nona Aira dan salah satu dari kalian tolong pantau monitornya", ujar dokter Irvan langsung diangguki dua orang suster tersebut.


"Oke saya mulai. 1...2...3...", ucap dokter Irvan seraya menempelkan alat kejut itu pada dada Rara. Mata dokter Irvan pun tak lepas dari monitor.


"Bersiap 1...2...3...", kembali alat kejut itu mendarat ditubuh Rara.


"Detak jantungnya semakin menurun dokter", kata suster Dila.


"Sekali lagi kita lakukan 1...2...3...", ucap dokter Irvan mendaratkan alat kejut jantung itu pada dada Rara berharap akan ada perubahan namun sayang.


"Innalillahi wa'inaillahi ro'jiun", ucap dokter Irvan dan kedua suster itu bersamaan.


"Tolong kalian berdua lepas semua alat yang ada ditubuh nona Aira dan tutup seluruh tubuhnya dengan kain. Saya yang akan memberitahukan kabar duka ini pada seluruh keluarga", ucap dokter Irvan


"Baik dokter", jawab keduanya seraya mengganggukan kepala.


•^•^•


Semua terlihat cemas menanti kabar Rara dari dokter Irvan. Para wanita masih menangis seraya berdo'a akan kondisi Rara saat ini, bagi mereka yang terpenting sekarang ialah Rara kembali normal. Selama satu jam menunggu kabar namun belum juga ada yang keluar dari ruangan rawat Rara.


Hingga 10 menit kemudian dokter Irvan berjalan keluar dari pintu ruang rawat Rara dengan raut wajah yang sulit diartikan oleh semuanya. Tapi semuanya masih berpikir positif dengan sikap dokter Irvan sekarang.

__ADS_1


"Ba..bagaimana dokter keadaan anak saya?", tanya mommy Indira


"Dokter bagaimana keadaan menantu kesayangan saya? Apa dia baik-baik saja, dok?", tanya papa Nathan


"Tolong jawab dokter! Gimana keadaan adik saya, jangan hanya diam dok", geram Jordan kesal melihat dokter Irvan yang sedari tadi diam membisu.


"Iya dok, tolong jawab pertanyaan kami dok. Sekarang bagaimana keadaan Rara di dalam sana? Dia baik-baik aja kan? Rara gak kenapa-kenapa kan, dok! Jawab! Dokter jawab", teriak Kenzo sambil mencengkram erat kerah kemeja dokter Irvan.


"Ken, tolong tenangkan dulu emosi kamu. Ini bukan saatnya untuk mengeluarkan emosi kamu disini, jadi kamu lepaskan bajunya dokter Irvan", ucap papa Nathan menenangkan anak sulungnya.


"Baiklah saya akan memberitahukan kabar tentang nona Aira pada kalian semua yang ada disini", ucap dokter Irvan yang seakan penuh teka-teki bagi semua orang.


"Langsung pada intinya dok!", tegas Jayden yang menyela pembicaraan.


Terlihat sekali dokter Irvan menghela nafas panjang sebelum memberitahukan berita duka pada keluarga nona mudanya. Entah siap tidak siap, ia harus bicara pada semua orang yang telah berharap kabar darinya.


"Dengan berat hati saya beritahukan pada kalian semua, terutama pada keluarga tuan Kim. Bahwa tepat pukul 15.15 nona Aira telah dipanggil yang Maha Kuasa. Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan nona Aira, namun tuhan berkehendak lain. Tadi tiba-tiba saja detak jantungnya menurun drastis hingga akhirnya hilang sepenuhnya. Maaf tuan, nyonya dan semuanya saya harus memberitahukan kabar duka ini pada kalian semua, dan saya turut berduka cita atas meninggalnya nona Aira", ucap dokter Irvan


Nampak sekali wajah mereka yang syok mendengar apa yang disampaikan oleh dokter Irvan. Rasanya mereka seperti terkena pukulan yang sangat dashyat saat ini. Mommy Indira yang mendengar itu pun langsung jatuh pingsan dipelukan sang suami, ibu mana yang tidak terpukul jika anak perempuan satu-satunya meninggal terlebih usianya yang masih sangat muda.


"Itu bohong kan dok! Rara gak mungkin meninggalkan? Pasti Rara cuma tidurkan bukannya meninggal. Rara pasti masih hidup, jangan bohong dok!", ucap Kenzo meninggi sambil mencengkram jas putih yang melekat pada dokter Irvan.


"Adik saya gak mungkin meninggal kan dok? Pasti dokter bohong sama kami semuakan! Jangan main-main dengan nyawa orang dok, itu adik saya. Jawab dokter!", kini Jayden tak bisa lagi menahan amarahnya.


Dea, Lily, Bella, Dina, Laura, Dinda, dan Kartika hanya bisa menangis setelah mendengar kabar duka yang disampaikan dokter Irvan tentang meninggalnya Rara.


••••••••••••••••••••••••


Happy Reading Semua

__ADS_1


Salam manis dari Author 🤗🤗🤗


__ADS_2