Ketua Osis Dingin Itu Suamiku

Ketua Osis Dingin Itu Suamiku
Mimpi Buruk


__ADS_3

Dengan semangatnya Kenzo memasuki ruangan sang istri yang tengah ditemani oleh kedua kakak iparnya agar tidak merasa bosan. Ketiganya menoleh kearah pintu saat dibuka oleh Kenzo sambil menenteng makan siang mereka siang itu.


Secepat mungkin Kenzo menata makan siang yang sebelumnya ia beli tadi. Yang pertama kali ia berikan adalah untuk sang istri terlebih dahulu, karena ia melihat betapa sang istri mendambakan makanan yang ada di depan matanya dan itu membuat Kenzo hanya tertawa kecil dengan tingkahnya tanpa disadari sang empu.


Kini mereka berempat sedang menikmati makan siang mereka tanpa adanya obrolan apapun selain heningnya ruangan itu. Selesai makan Kenzo dengan sigapnya menuangkan air minum untuk sang istri dan memberikannya. Sedangkan si kembar masih asik dengan makan siangnya.


Dirasa perutnya sudah kenyang Rara pun kini meraih buku yang sebelumnya ia baca. Rara membuka kembali halaman yang tadinya ia baca, dengan perhalan ia mencari halaman buku tersebut. Buku yang Rara baca adalah sebuah novel romantis yang dibawakan oleh sang kakak tercinta, yaitu Jayden tentunya. Karena Jayden tau kalau sang adik merasa bosan di ruangan tersebut walau dalam keadaan ramai, jadi Jayden berinisiatif membawakan novel itu agar adik bungsunya tidak bosan selama masih dalam tahap pemulihan di rumah sakit.


Nampak Rara menguap beberapa kali dan itu disadari oleh Kenzo saat melihat sang istri terus menguap tiada henti. Kenzo pun bangkit dari duduknya mendekati sang istri tercinta.


"Sayang, kamu tidur aja kalo ngantuk. Dari tadi kakak liat kamu menguap terus dan sekarang kamu tidur aja ya", ucap Kenzo dengan lembut seraya mengelus pucuk kepala istrinya.


"Emm... Iya kak", jawab Rara menganggukan kepalanya.


Kenzo membaringkan Rara dengan perlahan dan membenarkan selimutnya. Kemudian Kenzo mengambil novel dari tangan istrinya untuk diletakkan di nakas samping ranjang Rara. Tak sampai dua menit, Rara telah pulas dalam tidurnya bersama mimpi indahnya. Kenzo masih setia duduk disamping sang istri sambik merapikan rambut yang sedikit berantakan dari perempuan yang dicintainya itu.


Jayden dan Jordan kompak bangkit dari sofa mendekati adik ipar mereka. Keduanya bermaksud ingin pamit untuk ke kampus mereka, karena ada hal yang harus mereka tangani.


"Ken, hyung pamit dulu. Kami berdua mau ke kampus, karena ada satu hal yang harus kami lakukan", ucap Jayden menepuk pelan pundak Kenzo.


"Oh iya hyung. Kalian hati-hati ya di jalan, biar disini Ken yang jagain Rara", kata Kenzo


"iya Ken. Kami pergi dulu", ucap keduanya berlalu meninggalkan ruangan adik bungsu mereka.


Setelah kepergian kedua kakak iparnya. Kini Kenzo masih sama duduk disamping istrinya yang sedang terlelap dalam indahnya alam mimpi. Kenzo menggenggam lembut tangan Rara seraya diusap pelan agar sang pemilik tidak terbangun.


"Sampai kapan Ra, kamu akan lupa sama kakak? Kenapa cuma kakak yang kamu lupain sedangkan yang lain kamu mengingatnya. Apa ada rasa benci didalam hati kamu yang disimpan sampai menyebabkan kamu melupakan kakak? Tapi harus berapa lama kamu melupakannya? Jujur sayang, kakak benar-benar menyesal dan minta maaf sama kamu. Karena kakak kamu harus mengalami kecelakaan waktu itu, kakak nggak bermaksud untuk membuat kamu celaka. Kakak terima kalo kamu lupa sama kakak, asalkan kamu tidak pergi meninggalkan kakak sendirian didunia ini seperti kemarin", ucap Kenzo mencurahkan isi hatinya didepan sang istri yang tengah terlelap tidur dan tanpa sadar air matanya mengalir dipipinya. Namun dengan cepat Kenzo menyeka air matanya.


"Aku mencintaimu, sayang. Benar-benar mencintaimu", gumam Kenzo masih erat menggenggam tangan mungil sang istri.


•^•^•


Di sisi lain


Ada seorang gadis di sebuah bangunan yang menurutnya cukup asing dan tidak mengenali setiap ruang bangunan tersebut. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berkeliling dan mencari tahu bangunan apa yang sedang ia datangi ini.

__ADS_1


Namun tiba-tiba bangunan tersebut berubah menjadi ruang kosong yang begitu gelap gulita. Dengan sedikit panik gadis tersebut berusaha mencari saklar lampu dan sumber cahaya yang lainnya. Namun sayang ia tak menemukan apapun disekitarnya. Akan tetapi ada satu harapan cahayanya yaitu cahaya senter dari ponsel miliknya. Dengan cepat si gadis meraih ponselnya dan menyalakan senter yang ada di ponsel tersebut.


"Ayo Ra, kamu pasti berani. Semangat! Jangan takut ini hanya ruang kosong yang gelap", ucap sang gadis yang tak lain adalah Rara. Ia berusaha menyemangatkan dirinya sendiri agar tidak diselimuti rasa takut.


"Apa gue sedang bermimpi? Kenapa gue bisa ada disini, mana sendirian lagi kan gue takut", batin Rara yang masih berusaha menyalakan cahaya.


Disaat Rara berhasil menyalakan cahaya tersebut, ia menyinari keseluruhan ruangan tersebut tapi tak menunjukan apa-apa. Tetapi saat Rara hendak melangkahkan kakinya, Rara langsung terjatuh seperti ada tangan seseorang yang memegang kakinya untuk menghalanginya melangkah. Dan itu tentunya membuat Rara langsung terjatuh ke lantai hingga rasa sakit ia rasakan.


Ketika ia ingin berdiri, tiba-tiba saja Rara kembali terjatuh ke lantai dan ia juga merasakan sakit kedua kalianya dipinggulnya hingga ponsel digenggamannya pun terlepas. Rara merasa aneh, karena tak ada seorang pun kecuali dirinya sendiri diruang gelap itu. Lantas siapa yang menarik dirinya hingga terjatuh ke lantai seperti itu, pikirnya.


"Hai Rara sayang. Kita ketemu lagi akhirnya hahahaha", ucap seorang perempuan dengan ketawa jahatnya.


"Si...siapa lo? A...apa kita saling kenal sampe-sampe lo tau nama gue?", tanya Rara dengan terbata-bata karena merasa asing dengan orang yang ada di depannya itu.


"Jelas gue tau nama lo. Karena lo adalah orang yang sudah merusak kebahagiaan dan masa depan gue. Lo tau apa yang gue maksud?", tanya perempuan itu sambil mencengkram erat rahang Rara.


"Gue nggak tau apa yang lo maksud itu apa dan siapa lo sebenarnya? Karena gue ngerasa gak kenal lo sama sekali dalam hidup gue", ucap Rara yang mana menahan sakit dari cengkraman dari orang yang asing baginya.


"Lo gak tau dan lo nanya siapa gue? Oke biar gue kasih tau lo semuanya. Gue Puspa Irlanda, gue dulu waktu SMP adalah temannya Kenzo dan Olivia. Gue suka sama Kenzo sejak SMP tapi dia dulu jadian sama cewek j*lang yang bernama Ivana Wibowo. Gue marah dan benci banget sama itu cewek j*lang, sampe akhirnya mereka putus saat kami kelulusan SMP karena Ivana harus pergi mengikuti orangtuanya pindah ke luar negeri dan disaat itu pula mereka harus putus. Gue bahagia saat dengar bahwa Kenzo putus sama si j*lang Ivana itu. Dan saat kami masuk SMA, Kenzo sama sekali belum pacaran dengan siapa pun tapi selalu ada Olivia didekatnya. Kenzo sangat populer dikalangan sekolah maupun cewek-cewek sekolah, karena banyak sekali yang mau jadi pacarnya Kenzo. Tapi dengan sikap dingin, cuek dan datarnya membuat cewek mana pun akan takut. Jangankan untuk ngungkapin perasaan, mencoba untuk mendekatinya pun cewek-cewek takut. Sampe di mana kami sekarang sudah kelas 3 SMA, gue pengen mengungkapkan perasaan gue yang sempat tertunda sewaktu kami SMP. Namun sayang gue gagal, apa lo tau penyebab gue gagal mengungkapkan perasaan gue yang kedua kalinya?", tanya Puspa yang masih mencengkram erat rahang Rara dan dengan sorot mata yang penuh kebencian. Disitu Rara hanya bisa menggelengkan kepalanya dan sekarang ia dilanda rasa takut.


"Jangan-jangan....lo yang penyebab kecelakaan gue dan lo orang yang sama saat lo mau nabrak gue", tebak Rara ragu


"seratus buat lo. Tebakan lo bener banget dan tepat sasaran. Gara-gara lo, sekarang gue harus merasakan dinginnya lantai dan jeruji besi penjara. Itu semua karena seluruh keluarga lo yang jeblosin gue ke penjara, padahal gue ngerasa nggak salah apa-apa. Gue cuma mau perjuangin cinta gue yang lo rebut. Apa gue salah? Semua itu salah lo yang masuk dalam hidup Kenzo. Gue nggak akan pernah maafin lo untuk selamanya dan sekarang lo harus bener-bener mati ditangan gue sendiri", seru Puspa dengan penuh amarah dengan tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau yang tajam dari belakang tubuhnya.


Seketika Rara bangkit dari lantai dan langsung melangkah mundur untuk menjauh dari Puspa yang kini tengah memegang pisau.


"Tidak... Ja...jangan bunuh gue. Gue ada salah apa sama lo sampe-sampe lo mau ngebunuh gue?", tanya Rara dengan berteriak seraya menghindar dari pisau yang diarahkan kepadanya.


"Salah lo itu ialah lo hidup di dunia ini dan lo merebut Kenzo suami masa depan gue yang sangat gue cintai, ngerti lo dasar j*lang", bentak Puspa


"Dan sekarang lo harus lenyap untuk selama-lamanya Rara sayang. Dengan pisau ini lo bakal mati dengan cepat dan gak bakal tersiksa dengan rasa sakitnya hahahaha", Puspa berjalan dengan cepat mendekat ke arah Rara sambil terus menggenggam erat pisau ditangannya.


"Jangan gue mohon...", teriak Rara namun tak dihiraukan oleh Puspa yang terus mendekat ke arah Rara.


"Ng...gak gue mohon jangan bunuh gue", sekali lagi Rara berteriak memohon agar Puspa melepaskan dirinya.

__ADS_1


"Jangan...jangan..........", teriak Rara dengan begitu kencangnya.


•^•^•


"Jangan bunuh gue. Gue mohon", ucap Rara


"Jangan gue mohon sama lo. Jangan...jangan........", teriak Rara dengan kencang membuat Kenzo terkejut mendengarnya.


"Sayang, kamu kenapa. Hey...bangun sayang, kenapa kamu teriak terus dari tadi", ucap Kenzo yang cemas melihat sang istri yang terus mengigau seperti orang yang sedang memohon ampunan.


"Gue mohon sama lo jangan bunuh gue. Jangan........", ucap Rara yang sudah dipenuhi keringat dingin.


"Jangan.....aaaaaaahhhhhhhh", untuk ke sekian kalinya Rara berteriak tapi kali ini Rara langsung terbangun dari mimpinya buruknya itu.


"Kenapa sayang?", tanya Kenzo mengelus lembut kepala istri tercintanya.


"Kak...", teriak Rara langsung memeluk erat tubuh sang suami, disaat Kenzo mendekat.


"Kamu kenapa sayang, cerita sama kakak", ujar Kenzo menenangkan gadis cantik yang ada dihadapannya. Namun tak ada jawaban dari sang gadis.


"Kenapa? Apa kamu mimpi buruk yang mengerikan barusan?", tanya Kenzo yang masih mengelus lembut kepala Rara. Dan hanya anggukan kepala sebagai jawabannya.


Kenzo meraih gelas yang ada di nakas samping ranjang pasien Rara untuk menuangkan air minum untuk istrinya. Lantas Kenzo langsung memberikan air minum tersebut kepada Rara agar gadis itu lebih tenang.


••••••••••••••••••••••••••••


Hai readers kesayangan


Maaf kalau aku sudah berminggu-minggu ini tidak up. Dikarenakan kondisi tubuhku yang drop dan aku kehilangan ide untuk meneruskan novel ini.


Tapi kali ini aku akan berusaha untuk terus up terus walau tak setiap hari. Aku harap kalian semua memaklumi kondisi ku.


Jangan lupa untuk like...komen dan terus vote ya


Happy Reading Kesayangan 🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2