Keturunan The Indigo

Keturunan The Indigo
Episode 31


__ADS_3

Mendengar suara Nissa dan Risa makhluk itu langsung menengok ke arah mereka berdua.


" Siapa kalian, mau apa kalian disini ?" tanya makhluk itu yang masih kesal.


" Maaf kalau kami mengganggu, kami datang kesini hanya untuk minta maaf padamu " sahut Nissa hati - hati, sedangkan Risa hanya diam saja di belakang ibunya.


" Memangnya apa urusanmu dengan ku ?" tanya makhluk itu lagi.


" Maafkan bapak ku yang sudah menghancurkan rumah mu, sungguh beliau tidak mengetahuinya sama sekali " kata Nissa lagi.


Mendengar itu makhluk itu seketika langsung kelihatan lebih marah lagi.


" Kurang ajar, jadi kalian adalah anak dari manusia tidak tahu diri itu, berani juga kalian datang menemui ku. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan manusia brengsek itu, pergi kalian dari sini. " kata makhluk itu lagi dengan sangat marahnya.


" Saya datang kesini untuk minta maaf, dan jangan pernah mengganggu bapak saya lagi, kalau tidak bukan hanya rumahmu yang hancur tapi juga kamu juga akan ku hancurkan. " kata Risa yang begitu marah karena ibunya di bentak makhluk itu.


" Sabar nak, " kata Nissa sambil mengusap pundak putrinya.


" Kurang ajar kalian, berani kau mengancam ku manusia ingusan, rasakan ini hiiiaaaa " kata makhluk itu dengan sangat kerasnya dan langsung menyerang Risa.


" Berani kau menyakiti putriku, tidak akan ku biarkan hiiiaaaa... " dengan gerakan cepat Nissa langsung menghalau serangan yang hampir saja mengenai Risa.


Buk buk buk...

__ADS_1


Perkelahian Nissa dan makhluk itu tidak terkelakan lagi, sedangkan Risa masih melihat sang ibu menghadapi makhluk itu.


Dengan sekuat tenaga Nissa melawan makhluk itu, tapi makhluk itu tidak terlihat kewalahan sama sekali.


Merasa cukup lama sang ibu menghadapi makhluk itu dan sedikit terlihat kewalahan, Risa langsung bergerak ia juga ikut langsung menyerang makhluk itu secara bersamaan.


BRAAKH...


Dengan sekali tendangan dari kedua ibu dan anak itu, seketika makhluk itu langsung terpelanting.


" Sudah ku katakan, bukan hanya rumah mu, kau pun akan sekalian ku hancurkan rasakan ini hiiiaaaa... " kata Risa dengan marahnya.


Sedangkan makhluk itu tidak tinggal diam, setelah terpelanting ia langsung bangkit lalu mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menyerang Risa.


Melihat itu Nissa pun tidak tinggal diam, ia pun mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk membantu sang putri.


Makhluk itu pun langsung terbakar menjadi abu, setelah itu Nissa dan Risa menormalkan kembali kekuatan mereka.


" Kamu tidak apa-apa nak " tanya Nissa yang langsung mendekati putrinya.


" Risa tidak apa-apa Bu, ibu sendiri bagaimana ?" tanya Risa balik.


" Ibu juga tidak apa-apa, ya sudah ayo kita kembali sekarang. " kata Nissa yang langsung di anggukan oleh Risa.

__ADS_1


Mereka berdua langsung memejamkan mata dan dalam sekejap mereka langsung tiba di rumah kek Agus tepatnya di kamar Bu Nissa dahulu.


Setelah itu mereka langsung masuk kembali ke dalam tubuh mereka masing-masing yang masih duduk bersila di kamar itu.


" Alhamdulillah... " kata mereka berdua setelah membuka mata setelah berada kembali dalam tubuh masing-masing.


Setelah itu mereka berdua langsung kembali ke kamar kakek Agus.


" Alhamdulillah bapak sudah baik - baik saja " kata Nissa.


" Nissa kamu sudah kembali nak, Alhamdulillah bapak mu sudah baik - baik saja " sahut nek Wati dan juga langsung di anggukan yang lainnya.


" Alhamdulillah, kakek sudah lebih baik sekarang " kata Risa juga yang langsung menghampiri kakeknya.


" Bapak / kakek " kata ibu dan anak itu bersamaan dan langsung memeluk kakek Agus bersamaan.


" Alhamdulillah nak, kakek sudah baik - baik saja, terimakasih sudah mengobati kakek. Kalau boleh kakek tahu, memangnya apa yang sudah terjadi padaku sehingga kakek bisa sampai seperti ini " tanya kek Agus sambil memeluk putri dan cucu perempuannya.


" Sebenarnya kakek... " Risa pun menceritakan semuanya dari sekelabat bayang kejadian yang ada di kepalanya tadi, dan langsung di anggukan oleh Nissa.


" Syukurlah sekarang sudah baik - baik saja, lain kali hati - hati pak " kata nek Wati yang baru mendengar yang sebenarnya.


" Kakek sungguh menyesal, kakek sungguh tidak mengetahui sama sekali hal itu, kalau kakek tahu kakek tidak akan menebang pohon itu. " kata kakek Agus dengan sangat menyesalnya.

__ADS_1


" Ya sudah pak, yang sudah terjadi biarlah terjadi, yang penting sekarang bapak sudah tidak apa-apa, dan untuk kedepannya harus lebih hati - hati lagi. " kata Aditia dan langsung di anggukan oleh yang lainnya.


Mereka semua merasa lega karena kakek Agus sudah baik - baik saja, dan baru saja mereka merasa lega tiba - tiba...?


__ADS_2