
"Mas reyhan" panggil yara
"Iya ra, bagaimana apa kamu mau menunggu saya kembali, saya janji setelah saya kembali dari kota B saya akan menemui ayah dan ibu kamu" ucap reyhan meyakinkan
"Apa mas reyhan sudah yakin?" tanya yara memastikan
"Ra, kamu tau. Saya belum pernah seyakin ini dengan perkataan saya" jawab reyhan jujur
"Syukurlah kalau mas reyhan sudah yakin" ucap yara
"Yara akan menunggu mas reyhan pulang" jawab yara malu-malu karena sebenarnya yara juga sudah menyukai reyhan sejak awal mereka bertemu.
Reyhan senang bukan kepalang, dia lalu menepuk-nepuk pipinya memastikan kalau dia sedang tidak bermimpi.
"Awww..." pekik reyhan
"Mas reyhan kenapa?" tanya yara panik
"Saya tidak sedang bermimpi kan ra?" tanya reyhan
"Mas reyhan nggak mimpi kok" jawab yara
"Jadi kamu mau menunggu saya ra?" tanya reyhan
"Iya mas, yara mau menunggu mas reyhan pulang" jawabnya
"Terima kasih ra"
"Sama-sama mas, Iya sudah mas reyhan tidur gih udah malam juga katanya besok mau berangkat ke kota B" ucap yara
__ADS_1
"Iya ra, kamu juga ikut tidur" jawab reyhan
"Ra, kamu kapan melaksanakan ujian akhir" tanya reyhan sebelum memutuskan panggilan
"Satu minggu lagi mas" jawab yara
"Kalau begitu kamu harus lebih giat lagi belajarnya" ucap reyhan
"Semangat iya ra" imbuhnya
"Iya mas terima kasih"
"Kalau begitu saya matikan dulu telfonnya ra" ucap reyhan
"Iya mas" jawab yara. Setelah beberapa saat akhirnya panggilan terputus.
. . . . . .
Reyhan bisa bernafas lega setelah panggilan berakhir. Hati reyhan saat ini berbunga-bunga dengan jawaban yara.
"Akhirnya, tunggu aku pulang ra" gumam reyhan
. . . . . .
Di kamar yara
Yara masih tidak percaya dengan apa yang sudah di katakan reyhan. Lalu menepuk-nepuk pipinya pelan guna menyadarkannya siapa tau ini hanya mimpi.
"Sakit, ternyata bukan mimpi" gumam yara
__ADS_1
Setelah lama berdiam dengan pikiran yang entah apa yang di pikirkan, yara lalu menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Setelah selesai yara bergegas mengistirahatkan tubuhnya di kasur. Tak berapa lama terdengar nafas yara yang beraturan menandakan bahwa yara sudah tertidur.
. . . . . .
Pagi hari reyhan sudah siap dengan pakaian casualnya karena hari ini reyhan akan melakukan penerbangan ke kota B bersama aldo. Reyhan tak henti-hentinya menyuingkan senyuman kepada semua yang menyapanya tidak terkecuali pelayan di rumah itu.
"Loh kak rey mau kemana kok bawa-bawa koper?" tanya lisa menatap reyhan bingung
"Kakak mau ke kota B, dan menetap selama satu bulan disana jadi kamu di rumah jangan nakal iya" mentoel hidung lisa
"Kok perginya dadakan sih kak" keluh lisa
"Iya lisa, ini menyangkut masa depan kakak jadi kakak harus menyelesaikannya sesegera mungkin, iya kan pah, mah" ucap reyhan meminta persetujuan dari kedua orang tuanya.
"Iya sayang" jawab mamah tersenyum
Mereka semua memulai sapan pagi penuh dengan canda tawa, lisa yang bersikap sangat manja ketika mengetahui kalau kakaknya akan pergi selama satu bulan pun meminta kakaknya untuk menyuapinya makan dan reyhan pun dengan senang hati menyuapi adiknya yang manja ini.
Mamah dan papah merasa sangat bahagia melihat kelakuan reyhan dan lisa yang membuat mereka tak hentinya tertawa melihat tingkah keduanya.
Setelah selesai sarapan reyhan bergegas menuju teras, disana sudah ada aldo yang sedang menunggunya. Reyhan lalu perpamitan kepada papah, mamah dan juga lisa.
"Pah, mah, lisa, reyhan berangkat dulu iya" pamit reyhan
"Iya rey, ingat iya kamu harus berhasil" jawab mamah
"Papah percaya sama kamu rey" ucap papah lalu memeluk putra kesayangannya.
Setelah berpamitan reyhan dan aldo masuk ke dalam mobil. Hari ini mereka di antar supir menuju bandara.
__ADS_1