
Siska yang baru saja mendengar pengakuan dari orang yang di cintainya terlihat begitu hancur. Kecewa sudah pasti, Air mata sudah tak bisa di bendung lagi.
Siska terus saja berlari tanpa arah tujuan. Hingga akhirnya dia sampai di taman kota, tak berapa lama hujan turun dengan sangat derasnya membasahi bumi.
Seolah tau apa yang sekarang di rasakan, sepertinya semesta sedang berpihak padanya. Semua orang yang ada di taman berlarian kesana kemari untuk berteduh. Tapi tidak dengan siska, dia memilih duduk di bangku yang berada di tengah taman kota.
Siska menangis sejadi-jadinya, bagaimana tidak cintanya bertepuk sebelah tangan dan yang lebih menyakitkan adalah kenapa dika harus mencintai yara yang notabennya adalah sahabatnya sendiri.
"Kenapa tuhan, kenapa harus yara"
"Akhhhhhh aku benci semua ini, dulu papahku pergi meninggalkan aku dan sekarang orang yang aku cintai selama ini malah mencintai orang lain. Ini semua nggak adil, nggak adil"
hiks. hiks. hiks.
. . . . .
Yara terus saja berlari mengejar siska tapi hasilnya nihil, dia tidak bisa menemukan siska. Berkali-kali dia mencoba menghubungi siska tapi tetap saja tidak satu pun panggilan darinya di angkat.
Yara semakin di buat khawatir karena tiba-tiba saja turun hujan yang sangat deras. Akhirnya dia memilih berteduh terlebih dulu sambil menunggu hujan reda, baru akan melanjutkan mencari siska.
"Siska kamu kemana sih, maafin aku sis. hiks hiks hiks, aku fikir dika akan mengungkapkan perasaannya sama kamu tapi, tapi kenapa harus aku"
"Semoga kamu baik-baik saja sis, aku akan segera menemukan mu" ucap yara disela tangisnya.
Tiba-tiba seseorang memberikan sapu tangannya untuk yara. Yara yang melihat langsung mendongakkan kepalanya.
"Hapus air matamu, saya tidak suka melihat kamu menangis" ucap laki-laki itu
"Mas reyhan" panggil yara. Yara langsung berdiri dari duduknya tanpa sadar dia langsung memeluk reyhan, orang yang selama satu bulan ini selalu dia rindukan.
Reyhan yang awalnya kaget melihat perlakuan yara akhirnya membiarkan yara memeluknya begitu saja tanpa ada niatan untuk membalas pelukan yara.
"Mas, hiks hiks hiks"
"Sudah, sudah jangan menangis lagi, saya ada disini semua akan baik-baik saja" ucap reyhan menenangkan
__ADS_1
Reyhan yang awalnya mau berkunjung ke rumah yara tiba-tiba menghentikan mobilnya tepat di depan halte tempat yara berteduh. Awalnya dia diam di dalam mobil tapi ketika mendengar suara tangisan yara dia tidak tega dan langsung menghampiri yara.
Setelah merasa cukup tenang, yara tersadar kalau tadi dia memeluk reyhan, seketika dia langsung melepaskan pelukannya.
"Maaf mas, saya nggak sengaja, tadi" ucap yara terpotong
"Nggak apa-apa kok ra" jawab reyhan
"Bagaimana apa sudah menangisnya" ledek reyhan
"Apa an sih mas reyhan" kesal yara sambil memukul lengan reyhan
"Kamu ngapain sih disini malam-malam sendirian, nangis lagi" tanya reyhan
"Saya, emm saya..." seketika yara langsung teringat siska
"Siska" ucapnya
"Kenapa dengan temanmu?" tanya reyhan
Reyhan menyernyitkan keningnya bingung.
"Kecewa, memang apa yang sudah di lakukan yara" batin reyhan
"Kamu tenang dulu dong ra, kenapa, coba kamu cerita siapa tau saya bisa bantu kamu" ucap reyhan menenangkan
"Nanti aja ceritanya iya mas, saya harus mencari siska sekarang" ucap yara
"Iya udah biar saya bantu mencari teman kamu" tawarnya
"Iya mas" jawab yara
Setelah mereka masuk mobil reyhan langsung melajukan mobilnya.
"Ra, kita mau cari kemana?" tanya reyhan
__ADS_1
"Aku juga tidak tau mas" jawab yara menunduk
Reyhan yang bingung hanya bisa menghela nafasnya kasar.
"Sebenarnya apa yang terjadi ra?" tanya reyhan
Yara menarik nafasnya dalam-dalam lalu menceritakan kejadian beberapa jam yang lalu kepada reyhan.
"Kamu tenang iya ra, semua ini bukan salah kamu" ucap reyhan menenangkan yara
"Tapi mas, siska pasti kecewa sama saya. Kalau dia tidak mau lagi berteman sama saya bagaimana"
"Kalian kan sudah dewasa jadi nggak munhkin kan hanya karena satu laki-laki persahabatan kalian hancur"
"Atau jangan-jangan kamu juga mencintai teman kamu?" tanya reyhan menyelidik. Jangan ditanya hatinya saat ini, setelah menanyakan hal itu dia merasa sangat cemburu.
"Aku. aku." ucap yara terpotong
"Udah lah ra kamu jujur saja, saya tidak apa-apa kalau kamu mencintai dia. Kalau itu membuat kamu bahagia saya juga pasti akan bahagia" ucap reyhan murung
Yara yang kesal langsung memukul lengan reyhan dengan keras
"Awww" pekik reyhan kesakitan
"Kamu itu apa-apa sih mas, aku tuh nggak cinta sama dika. Dari dulu sampai sekarang aku cuma anggap dia sebagai kakak ku" ketus yara
Setelah mendengar ucapan yara reyhan menghela nafasnya lega,
"Kalau kamu tidak mencintai dika, lalu siapa orang yang kamu cintai" tanya reyhan
"Iya mas reyhan lah" jawab yara, setelah sadar dengan apa yang tadi dia ucapkan yara langsung membekam mulutnya dengan tangannya.
Reyhan yang mendengar pengakuan yara senang bukan kepalang.
"Akhirnya cintaku tidak bertepuk sebelah tangan" batinnya
__ADS_1