
Sore hari pun tiba, Ali bergegas mengeluarkan motornya yang sudah bersih dan mengkilap. "Mau ke mana Al?" tanya Ramdan yang sedang duduk di depan teras.
"Biasa, Dan. Kumpul sama anak-anak di kue balok, mau ikut kumpul nggak? suka ditanyain sama anak-anak," ucap Ali sambil mengenakan helmnya dan menanti jawaban Ramdan, kakaknya yang paling tua. Ramdan sudah 3 tahun ini sakit dan mengharuskan dirinya untuk istirahat, ia tidak bisa bekerja dan memutuskan untuk berjualan minuman Thai tea yang sedang viral akhir-akhir ini untuk menghilangkan rasa jenuh seharian di dalam rumah.
Ramdan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, wajah tenang itu memang selalu memancarkan senyum setiap kali berbincang. “Titip saja aja Al, jangan lupa main ke sini kalo ada waktu luang,” jawab Ramdan.
“Siap, Dan, nanti di sampai-in ya, berangkat dulu,” pamit Ali seraya menyalakan mesin motor untuk memanaskannya terlebih dahulu.
“Hati-hati Al.” Ali memberikan ibu jarinya sebagai tanda siap atas ucapan Ramdan, lalu ia mulai menutup kata helm dan motornya pun melaju dalam kecepatan yang tidak terlalu kencang. Maklum saja, ini masih di daerahnya, masih banyak anak-anak kecil yang bermain di pinggir jalan dan tak jarang menyebrang tanpa melihat keadaan jalan rumah terlebih dahulu. Berbeda hal jika motor Ali sudah berada di jalan raya, ia tak akan segan-segan untuk melajukan motornya dengan sangat kencang.
**
Sesampainya di tempat kue balok yang cukup ramai ini, Ali mulai memarkirkan motornya dan melihat beberapa meja yang biasa ia tempati, ia mencari teman-temannya yang sudah datang terlebih dahulu. “Mal!” panggil Ali sambil mengangkat sebelah tangannya pada Mala yang rumah baru seorang diri menunggu dengan hanya bermain ponsel. Melihat kedatangan Ali, wajah Mala yang awalnya tampak bosan menjadi ceria, ia melambaikan tangannya pada Ali sebagai tanda untuk mempercepat langkahnya untuk segera bergabung ke meja.
__ADS_1
“Gue kira udah pada kumpul,” ujar Ali saat sudah duduk di meja.
Mala hanya menghembuskan nafasnya dalam, raut wajahnya kembali tampak malas. “Gue kira lo semua udah pada nggak ngaret lagi, eh taunya masih sama aja,” gerutu Mala. “Gue udah nyampe dari 30 menit yang lalu, udah pesen minum duluan soalnya nggak enak di liatin sama Mas-masnya karena nggak mesen-mesen,” lanjut Mala mengeluarkan semua keluh kesahnya.
Ali yang mendengar itu hanya tertawa, akan aneh jika mereka semua berkumpul tepat waktu, makannya dari itu Ali bersiap-siap dengan sangat santai untuk acara kumpul ini. “Eh iya Mal, nanti beres ngumpul ada anak komunitas mau dateng juga ke sini, lo nggak apa-apa kan kalo gabung, masih 2 jam-an lagi sih.”
“Ya elah nggak apa-apa lah, bagus juga nambah-nambah temen, kali aja ada yang nyantol satu,” kekeh Mala.
“Dasar cewek, istigfar Mal, cowok lo dengen bisa berabe,” jawab Ali membuat Mala langsung mencibir pelan.
“Cie, yang mau ketemu saja pacarnya langsung bagusin motor,” ejek Bebek.
Ali hanya bisa menarik nafasnya dalam, mendengarkan setiap ejekan yang keluar dari satu persatu mulut mereka semua, lalu selintas pikiran Ali mulai teringat sesuatu. “Fina tuh bukan cewek baru gue, sebenernya ada kok, tapi nggak mau spil dulu,” jawab Ali dengan penuh percaya diri jika ia akan menghentikan nama panggilan aneh itu.
__ADS_1
“Jangan percaya itu, pasti akal-akalan si Jahe aja biar nggak ada yang tahu hubungannya sama Fina,” timpa Adin dengan cepat.
“Udah lah He, jangan ditutupin.” Kini, Om pun ikut mengejek Ali.
Ali menatap semua teman-temannya dengan wajah yang tenang. “Gimana kalo gini, gue kenalin dia sama kalian 2 minggu lagi, kalo gue nggak berhasil bawa dia kalian bebas panggil gue apa aja, tapi kalo gue udah nunjukkin siapa orangnya, kalian harus berenti ejekin gue,” tantang Ali.
Semuanya saling bertatapan tak yakin, lalu Bebek mulai mencondongkan tubuhnya. “Kenapa harus nunggu 2 minggu lagi, kenapa nggak sekarang atau minggu depan aja?” tanya Bebek membuat semuanya langsung menatap Ali kembali.
“Ya kasih waktu lah Bek, baru juga PDKT, baru sekali nganterin ke rumahnya, masa udah ngajak main ke tongkrongan. Gue kan di tanyain terus nih sama Mamanya, gue mau coba cari tahu dulu Mama nya suka type cowok yang buat si De- eh si cewek ini tuh kayak gimana,” jawab Ali.
“Oke, gue terima tantangan lo, tapi status lo harus pacaran ya,” tantang Adin.
Ali tak mengiyakan ucapan tersebut, ia hanya bersikap seakan menerima tantangan itu saja. “Liat aja ntar,” jawan Ali.
__ADS_1
***
Temen-temen selagi nunggu cerita ini up kalian bisa baca karya-karya aku yang udah tamat lainnya ya😍 jangan lupa dan komen biar author semangat.