Kisah Remaja Kita

Kisah Remaja Kita
Tak ada kebohongan


__ADS_3

Semakin acara berlanjut, semakin Ali melihat semuanya dengan jelas. Ali berada di samping Dewi semenjak tahu ada Baskara disini, bagaimanapun tetap saja Ali takut masa lalu akan hadir kembali dan merusak semuanya. "Al, bentar ya, gue ganti baju dulu," ujar Mas Bagus yang menghampiri mereka. "Dew, kata Ira nanti jangan pulang dulu ya, nunggu foto pake baju resepsi," lanjut Mas Bagus pada Dewi juga.


Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya dengan patuh, sambil menunggu mereka pun berjalan menuju stall makanan. "Es krim kayaknya seger, mau?" tawar Dewi dengan ceria.


Perlahan kecemasan Ali pun mulai pudar, ia memperhatikan Dewi sedari tadi seakan hanya fokus padanya, tak mencari seseorang ataupun gelisah dan itu artinya Dewi memang datang kemari untuk Ira, bukan bertemu dengan Baskara. "Boleh, yuk ke sana," ucap Ali.


Ketika mereka sedang mengantri, tanpa sengaja Ali melihat Baskara yang sedang mengambil makanan di stall lain, beberapa mata Baskara melirik ke arah Dewi dan itu membuat Ali merasa tak nyaman. "Nanti bilangin, aku nggak pake strawberry ya," bisik Ali sambil merangkul Dewi dan membuat tatapannya bertemu dengan Baskara. Ali menatap Baskara seolah penuh dengan peringatan, sedangkan Baskara terlihat hanya menarik nafasnya dengan perlahan dan pergi dari sana.


"Padahal rasa strawberry enak loh," ujar Dewi yang sepertinya tak menyadari Ali yang sedang berperang tatapan tadi.

__ADS_1


"Kamu juga nggak suka rasa coklat padahal coklat kan enak," ejek Ali kembali membuat Dewi hanya tersenyum.


Saat mereka akan kembali ke tempat duduk, seorang perempuan paruh baya mengenakan kebaya tampak seperti itu dari pengantin datang menghampiri mereka, ibu itu terlihat sedikit berkaca saat tiba di hadapan mereka. "Dewi, maaf ibu baru bisa nyamperin ke sini. Ibu kangen Dew," ujarnya seraya memeluk Dewi dengan erat.


Dewi membalas pelukannya, sedikit mengusap punggung seakan menenangkan ibu tersebut. "Dewi juga kangen sama ibu, maaf ya Bu Dewi sekarang jarang bales pesan ibu, soalnya kerjaan Dewi lagi banyak Bu."


Ibu itu mengangguk dengan cepat, masih dengan ekspresi haru menatap wajah Dewi. "Iya ibu tahu kok, Ira bilang ke ibu Dewi sekarang lagi sibuk. Jangan lupain ibu ya Dew, tetep jadi anak kesayangan ibu. Ini pacar Dewi yang sekarang?" tanya Ibu tersebut melihat pada Ali.


"Ibu doakan kalian berjodoh ya, Dewi anak yang baik, semoga nak Ali bisa terus bersama Dewi ya."

__ADS_1


"Aamiin Bu," jawab keduanya dengan serempak.


Usai berbincang dan ibu tadi mulai kedatangan tamu baru, Ali dan Dewi pun kembali melanjutkan niat mereka untuk duduk. "Keluarga kak Ira baik-baik ya sama kamu, kayak udah anggap kamu anak sendiri," ujar Ali saat mereka sudah duduk. Ali sengaja pura-pura untuk tidak tahu dulu, ia ingin mendengar cerita Dewi yang sebenarnya, apakah Dewi akan menutupi semuanya atau akan berkata jujur pada Ali.


Dewi pun menoleh dan tersenyum kecil. "Sebenernya aku males ceritain ini, tapi gimanapun juga kamu harus tahu Al. Kak Ira itu kakaknya mantan aku, tapi aku benar-benar udah nggak kontakan lagi sama dia, udah nggak tegur sapa lagi dan aku dateng ke sini juga buat ngehargain kak Ira dan keluarganya yang masih baik sama aku. Kamu nggak marah kan aku nggak ceritain ini sama kamu?"


Rasa yang awalnya sesak dan tak nyaman dengan perlahan menghilang saat mendengar ucapan Dewi, rasanya ia semakin yakin untuk serius dengan hubungan ini, tak ada rahasia yang Dewi sembunyikan darinya. "Enggak dong, aku marah kalo kamu ngebohong, jangan pernah sembunyikan apapun ya Dew," ujar Ali dengan lembut.


**

__ADS_1


Sampe sini dulu ya guys, besok aku lanjut lagi 🥰


__ADS_2